Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tidak Bisa Tidur Bersama


Amara menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan sang ayah. "Atas izin Allah dan restu Ayah dan Ibu, Mara menerima lamaran Kak Aga." Jawab Amara lantang dan tegas.


"Alhamdulillah..." semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut mengucap syukur. Raut wajah semuanya nampak lega dan bahagia. Terlebih Ibu Fatma dan Naina yang kini sudah meneteskan air mata melihat Amara menerima lamaran Aga dan berarti sebentar lagi Amara akan menjadi istri Aga.


Aga yang mendengar sang pujaan hati menerima lamarannya pun menatap Amara dengan kedua bola mata berkilat. Amara membalas tatapan mata Aga kepadanya, tak berbeda dengan Aga, kedua bola mata Amara yang putih pun kini sudah berkilat bening.


Dengan diterimanya lamaran Aga oleh Amara, pembaca acara pun melanjutkan acara mereka dengan sesi tukar cincin.


Mama Hasna yang bertugas sebagai perwakilan dari keluarga Aga pun segera maju ke tengah ruangan untuk memasangkan cincin di jari Amara. Sementara Ibu Fatma memasangkan cincin di jari manis Aga.


Senyuman bahagia terkembang di wajah keluarga Amara dan Aga karena kini Amara dan Aga sudah terikat dalam ikatan pertunangan.


Fotografer yang bertugas pun meminta Amara dan Aga melakukan foto bersama sebelum akhirnya para keluarga diminta bergabung untuk foto bersama.


"Terima kasih karena telah memilihku menjadi calon suamimu, Amara." Aga tersenyum menatap wajah cantik Amara yang kini dekat dengan wajahnya.


Amara tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih juga karena sudah membalas cintaku, Kak." Jawabnya pelan.


Aga mengangguk dan menahan diri agar tangannya tak terulur mengusap kepala Amara mengingat saat ini ada banyak anggota keluarga mereka yang melihat ke arah mereka.


**


Serangkaian acara lamaran siang itu akhirnya berakhir dengan bahagia. Satu persatu keluarga besar Aga dan Amara berpamitan untuk pulang dan meninggalkan keluarga inti saja.


"Loh, centil, ada apa ini?" Tanya Amara sambil mengusap kepala keponakannya.


"Zel sedih Anty tuh." Adunya sambil menyeratkan pelukan tangan mungilnya di kaki Amara.


Amara merasa bingung mendengarnya. "Kenapa sedih? Bukannya tadi kau senang karena Anty akan menikah?" Tanyanya bingung.


Zeline mengangguk kemudian menggeleng hingga membuat Amara bingung dengan keponakannya itu.


Naina yang berada di dekat Amara bersama Aga dan Daniel pun ikut bingung melihat sikap Zeline saat ini.


"Zel senang tapi sedih juga karena sebentar lagi Zel gak bisa tidur bareng Anty kalau nginap di rumah Nenek." Ungkapnya mengeluarkan isi hati.


Amara terperangah mendengar ungkapan hati keponakan kecilnya itu. Tak ia sangka jika Zeline memikirkan hal kecil seperti itu. Ya, memang benar selama ini Zeline sering tidur bersamanya jika menginap di rumahnya. Bahkan jika sedang menginap dengan Daniel dan Naina juga, Zeline tetap memilih tidur di dalam kamarnya.


Tangan Amara pun kembali mengusap kepala keponakannya dengan sayang. "Zeline sayang..." Amara berucap lembut hingga membuat Zeline mendongak menatap wajahnya. "Walau pun Anty sudah menikah nanti, Zel boleh kok tidur bareng Anty." Ucapnya menenangkan Zeline.


Si centil Zeline menggelengkan kepala. "Gak boleh itu. Mamah dan Papah saja gak mau Zel tidur sama mereka kalau Papah mau mesra-mesraan sama Mamah." Adu Zeline kemudian menangis semakin keras.


***