Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Ketulusan Amara


Amara melangkah mendekat dengan senyuman terkembang di wajah cantiknya. Agatha yang mengikutinya dari belakang pun dibuat bertanya-tanya tentang siapakah sosok yang dikunjungi Amara saat ini mengingat dirinya tak mengenali dua orang wanita yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Sisil, apa kabar?" Amara tersenyum seraya menjabat tangan Sisil.


"Aku baik, Amara." Jawab Sisil sedikit ragu. Ia masih bingung dengan tujuan Amara datang ke ruangan perawatan ibunya saat ini.


Pandangan Amara lantas beralih pada seorang wanita paruh baya yang tengah berbaring di atas ranjang pasien. 


"Hai, Ibu. Perkenalkan saya Amara teman kerja Sisil." Amara memperkenalkan diri pada Ibu Sisil yang nampak lemah dan sedikit pucat saat ini.


"Nak Amara..." Ibu Sisil tersenyum seraya berucap pelan.


Hati Amara terasa teriris melihat ibu dari Sisil yang kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. 


Agatha yang mendengarkan nama Sisil disebut oleh Amara pun dibuat sebal karena mengingat nama wanita yang sudah menghina Amara sama dengan nama wanita yang Amara sebutkan baru saja.


"Jangan bilang jika wanita ini yang menghina Amara kemarin!" Gerutu Gatha dalam hati. 


Amara yang kini duduk di sebelah ranjang Ibu Sisil mengajak Sisil berbicara mempertanyakan penyakit yang diderita Ibu Sisil saat ini. Mendengar penyakit yang sedang diidap ibu Sisil membuat hati Amara terasa semakin teriris. Terlebih melihat air mata meleleh di kedua pipi Sisil saat menceritakannya.


Amara mencoba menenangkan Sisil dengan mengusap lengannya. "Semoga Ibumu cepat sembuh kembali ya, Sisil." Ucap Amara lembut.


Sisil mengangguk dan sedetik kemudian memeluk tubuh Amara.


"Mara, aku ingin minta maaf kepadamu atas kesalahan yang sudah aku lakukan kepadamu saat itu. Aku sadar jika apa yang aku lakukan itu salah dan aku menerima konsekuensinya saat ini."


Amara membalas pelukan Sisil. Ia dapat merasakan ketulusan Sisil saat meminta maaf kepadanya.


Sisil merasa lega mendengarnya. Rasa bersalahnya yang teramat besar pada Amara kini berangsur berkurang karena Amara mau memaafkannya.


Agatha yang melihat interaksi keduanya pun dibuat menghela napas. "Aku tahu Amara adalah wanita yang sangat baik seperti Kak Naina. Dan kini aku semakin bersyukur karena pada akhirnya Amara lah yang akan menjadi pendamping Kakakku." Gumamnya dalam hati.


**


"Ini." Amara menyerahkan sebuah amplop berisi uang hasil kerjanya selama satu bulan pada Sisil sebelum pergi meninggalkan ruangan perawatan.


"Apa ini, Mara?" Tanya Sisil sambil menatap amplop di tangannya.


"Ini ada sedikit uang dariku, Sisil. Semoga saja dengan uang ini bisa membantu biaya pengobatan ibumu." Ucap Amara.


"Mara..." kedua bola mata Sisil berkaca-kaca. Setelah apa yang ia buat pada Amara namun Amara masih saja baik kepadanya. Merasa sangat haru, Sisil memeluk tubuh Amara dan menangis. 


"Terima kasih, Amara. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini semua karena aku sudah sangat jahat kepadamu." Isak Sisil.


"Jangan mengingat kejadian kemarin lagi. Aku sudah bilang kan kalau aku sudah memaafkanmu." Amara mengusap punggung Sisil. "Sekarang fokuslah pada kesehatan ibumu. Semoga kondisi kesehatan ibumu semakin membaik setelah ini."


Sisil mengangguk kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Amara. "Sekali lagi terima kasih, Amara." Ucapnya tulus.


Amara mengangguk mengiyakannya. Tak ingin terlalu lama berada di ruangan perawatan dan mengganggu istirahat Ibu Sisil, Amara pun berpamitan pergi bersama dengan Agatha.


"Jika Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan umatnya yang sangat besar, lantas kenapa kita yang hanya berstatus sebagai hambanya sulit untuk memberi maaf pada sesama manusia?" Ucap Amara pada Agatha saat Agatha mempertanyakan alasannya mau memaafkan Sisil begitu saja.


***