
Agatha melewati sisa perjalanan menuju rumah sakit dengan sejuta tanya di dalam benaknya saat ini. Selama ia kenal dengan Rendra, tak sekali pun ia pernah melihat Rendra membawa seorang wanita ke dalam mobilnya selain dirinya dan Amara. Terlebih dari itu, Agatha juga tidak pernah mendengar dan melihat jika Rendra memiliki seorang saudara seorang wanita.
"Siapa sih wanita tadi. Membuatku merasa penasaran saja!" Gerutu Agatha.
Setelah melewati sisa perjalanan kurang dari lima belas menit, akhirnya mobil Papa Andrew telah terparkir di besement rumah sakit.
"Agatha, apa Amara sudah makan?" Tanya Papa Andrew teringat akan sesuatu.
"Gatha tidak tahu, Pah. Sepertinya belum karena tadi Amara belum makan sebelum kita pergi."
Papa Andrew menghela napas. "Kira-kira apa Amara sudah membeli makanan untuknya?" Tanya Papa Andrew.
"Gatha juga tidak tahu, Pah." Cicit Agatha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Papa Andrew pun memerintahkan Agatha menelefon Amara untuk memastikannya. Agatha mengiyakannya lalu melakukan panggilan telefon pada Amara.
"Kak Aga sudah memesankan makanan untuk Amara, Pah." Ucap Agatha setelah panggilan telefon terputus.
Papa Andrew merasa lega lalu mengajak Agatha untuk melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah berada di depan ruangan perawatan Aga, Agatha mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Ayo, Pah." Ajak Agatha setelah membuka pintu ruangan.
Masuk ke dalam ruangan, Papa Andrew dan Agatha disambut dengan senyuman di wajah Amara yang nampak sedang menikmati makan malamnya.
Agatha memilih menghampiri Aga untuk menanyakan keadaan kakaknya saat ini dan membiarkan Amara menghabiskan makanannya lebih dulu.
"Mara, apa Bibi dan Paman tidak akan marah karena kau pulang terlalu malam seperti ini?" Agatha nampak sungkan. Karena idenya yang ingin berlama-lama kembali ke rumah sakit membuat Amara jadi pulang terlalu malam. Bukan hanya itu saja, Amara bahkan belum membersihkan tubuhnya saat ini.
"Syukurlah kalau begitu." Agatha sedikitnya merasa lega.
Amara tersenyum.
Setelah beberapa saat berlalu, Amara pun berpamitan untuk pulang karena sudah ada Agatha dan Papa Andrew yang menjaga Aga saat ini.
Agatha yang kini tengah mengantarkan kepulangan Amara sampai ke depan ruangan rawat Aga tengah bimbang apakah ia harus mengatakan pada Amara tentang apa yang ia lihat tadi atau tidak.
"Gatha, ada apa?" Tanya Amara.
Agatha menggaruk tengkuknya yang tak gatal merasa bingung. "Emh, tidak apa-apa, Mara."
"Yakin?" Amara nampak ragu karena ia dapat melihat gelagat Agatha yang mencurigakan.
Agatha menganggukkan kepalanya.
Tak ingin memaksa Agatha untuk jujur dan mengingat waktu sudah semakin malam, Amara pun berpamitan untuk pulang pada Agatha.
Agatha yang kini tengah menatap punggung Amara semakin menjauh darinya pun bergumam. "Sebaiknya aku cari tahu kebenarannya lebih dulu sebelum aku memberitahukannya pada Amara. Aku harap dugaanku salah jika Rendra sudah mendua hati dengan wanita lain. Aku tidak ingin Amara kembali terluka hanya karena seorang pria." Gumam Agatha.
Amara yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya pun melihat ponselnya lebih dulu sebelum melajukan mobil keluar dari rumah sakit. Saat melihat deretan pesan di ponselnya, Amara tertegun melihat pesan yang ia kirim kepada Rendra sudah terkirim pertanda Rendra sudah mengaktifkan aplikasi pesan di ponselnya.
"Pesannya sudah terkirim. Tapi kenapa Rendra belum membalas bahkan membacanya?"
***