
Aga terdiam beberapa saat setelah mendengar pendapat dari Amara.
"Jadi bagaimana, Tuan?" Amara yang sudah malas berlama-lama di ruangan Aga pun bersuara kembali.
"Keluarlah. Lain kali jika saya memintamu yang membuatkan kopi maka kau juga yang harus mengantarkannya ke ruangan saya."
Tidak ada tanggapan dari Amara. Wanita itu hanya mengangguk lalu berpamitan keluar dari dalam ruangan kerja Aga.
"Kak Aga itu benar-benar aneh." Amara yang sudah keluar dari ruangan kerja Aga menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
*
Hampir seharian bekerja di perusahaan, Aga nampak tak menunjukkan ekspresi ramah pada siapa saja yang dijumpainya. Entah apa yang ada di dalam pemikiran Aga saat ini, Amara yang ikut kena imbasnya pun dibuat bingung dengan sikap Aga.
Saat waktu sudah menunjukkan jam pulang bekerja, Amara langsung saja membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
Aga yang sudah selesai bersiap lebih dulu langsung saja keluar dari dalam ruangan kerjanya.
"Apa Tuan Aga sudah mau pulang?" Tanya Amara sekedar berbasa-basi karena Aga kini berhenti di sampiny meja kerjanya.
Aga hanya berdehem sambil menatap wajah Amara.
"Kalau begitu hati-hati di jalan, Tuan." Ucap Amara lagi.
Kali ini Aga mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan meja kerja Amara.
"Ada apa sih dengan Tuan Aga. Kenapa sikapnya aneh sekali?" Amara sampai dibuat menggeleng melihat sikap Aga yang sangat aneh akhir-akhir ini.
Mengingat jika malam ini ada pertemuan di rumah Papa Alexander dan mengharuskannya untuk datang, Amara lantas saja bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya.
*
"Mara, Ibu dan Ayah berangkat duluan ya ke rumah Paman Alex." Ucap Bu Fatma setelah menyalimi Amara.
Amara menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan, Bu, Yah. Mara akan menyusul nanti."
Bu Fatma dan Ayah Arif mengangguk. Keduanya pun melangkah meninggalkan Amara setelah menitipkan pesan agar Amara berhati-hati dalam berkendara.
"Hm, kenapa pertemuan kali ini aku merasa malas untuk datang, ya. Apa karena aku sudah tidak mengharapkan Kak Aga lagi?" Amara beropini sendiri.
Tak ingin membuang waktu lama, Amara langsung saja masuk ke dalam rumahnya dan tak lupa mengunci pintu. Setelahnya ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung membersihkan tubuh di kamar mandi. Amara tidak ingin terlalu lama terlambat datang di kediaman Papa Alexander nantinya.
*
Kedatangan Amara malam itu ke kediaman Papa Alexander di sambut dengan senyuman gembira di wajah mungil Zeline. Amara yang melihat senyuman Zeline pun ikut tersenyum lalu memberikan kecupan di kedua pipi Zeline.
"Dimana Papa dan Mamamu centil?" Tanya Amara karena tidak melihat keberadaan kakak dan iparnya.
"Dalam rumah Anty. Ayo masuk Anty. Ada Om Aga juga loh di dalam." Beri tahu Zeline.
Wajah Amara berubah datar setelah mendengar nama Aga disebutkan oleh Zeline.
"Anty, ayo masuk!" Zeline memegang sebelah tangan Amara lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.
Masuk ke dalam rumah, pandangan Amara langsung saja tertuju pada Aga yang kini tengah berdiri di tengah rumah sambil berbicara dengan Daniel.
"Anty dan Om Aga janjian, ya? Kenapa warna baju dan celananya bisa sama?" Goda Zeline dengan mata memicing lucu.
***
Teman teman bantu rate bintang 5 dulu yuk. Ini ada tangan nakal yang kasih rate gak pake mikir😮💨