Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Dia Pasti Kembali


Cairan bening terus meleleh di kedua pipi Amara menatap sosok Aga yang berjalan semakin jauh darinya. Walau Aga sudah berjanji akan kembali, namun tetap saja Amara sedih karena harus berjauhan dengan Aga.


"Sudah, sudah, jangan bersedih." Naina mengusap sayang rambut adiknya.


"Iya, jangan sedih Anty tuh. Om kan sudah janji mau pulang." Timpal Zeline.


Bukannya berhenti menangis, Amara justru semakin melelehkan cairan bening dari sudut matanya. Entah mengapa ia tak dapat menahan kesedihannya karena harus berjauhan dengan Aga.


Papa Andrew yang melihat calon menantunya terus menangis pun tersenyum. "Aga pasti kembali dalam waktu dekat. Dia adalah orang yang bisa diandalkan dan menyelesaikan masalah dengan mudah." Ucap Papa Andrew seakan ingin ikut menenangkan Amara.


Amara terkesiap. Hampir saja ia melupakan jika Papa Andrew masih ada berada di dekatnya. Sambil menahan rasa malu, Amara menatap Papa Andrew. "Iya, Paman..." ucapnya lirih seakan berbisik.


Agatha menahan senyum. Entah mengapa ia melihat sikap Amara saat ini seperti seorang anak kecil yang ditinggal pergi oleh ibunya.


"Mamah, mau pulang..." suara rengekan Ziko mengalihkan pandangan Amara pada ponakan kecilnya yang nampak masih mengantuk.


Naina mengusap sayang kepala anaknya itu. "Iya. Kita pulang ke rumah Nenek, ya." Jawabnya.


Ziko mengangguk saja. Kedua tangan mungilnya pun terulur meminta gendong pada Naina.


Walau merasa tubuh putranya tak lagi ringan, namun Naina tetap menggendong Ziko dari pada putranya itu menangis.


"Kak Naina mau nginap di rumah kita hari ini?" Tanya Amara sambil mengusap pipinya yang basah.


"Iya. Kakak juga sudah bawa barang-barang keperluan Zel dan Ziko di dalam mobil."


Amara mengangguk paham.


"Kau mau langsung pulang juga atau bagaimana?" Tanya Naina pada Amara sebelum pergi meninggalkan Amara.


"Aku masih tetap ingin di sini, Kak. Aku ingin membuat perhitungan dengan Agatha." Setelah berucap, Amara mengalihkan pandangan pada Agatha yang nampak menahan senyum kepadanya.


Papa Andrew yang mengerti jika putrinya masih memiliki kepentingan dengan Amara pun memilih berpamitan pulang lebih dulu.


"Eh, Amara." Agatha tersenyum kaku saat Naina dan Papa Andrew telah pergi meninggalkan mereka.


"Agatha..." kedua pipi Amara merah padam. Menahan rasa malu dan sebal secara bersamaan. "Berani sekali kau menipuku hingga membuatku jadi malu!" Kedua tangan Amara kini sudah berada di pipi Agatha. Menariknya kuat hingga membuat Agatha meringis.


"Aw... lepaskan pipiku! Kau bisa membuat pipiku jadi copot jika seperti ini!" Gerutu Agatha.


Bukannya menghentikannya, Amara justru semakin kuat menarik pipi Agatha. "Apa yang kau rasakan ini tidak sebanding dengan rasa maluku, Gatha!" Amara yang geram pun kini menekan kedua pipi Agatha dengan kedua telapak tangannya.


"Kau..." Agatha tak tinggal diam, ia pun ikut menekan pipi Amara yang masih terjangkau dengan kedua tangannya.


Tingkah konyol keduanya pun disambut gelak tawa oleh orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Beberapa dari mereka pun kembali terdengar berbisik-bisik.


"Ngeprank rupanya. Aku kira wanita itu benar mau ditinggal pergi calon suaminya!" Perkataan seseorang yang terdengar oleh telinga Amara disambut gelak tawa oleh orang-orang di sekitarnya.


Tak ingin semakin lama dijadikan bahan candaan banyak orang, Amara menghentikan kegiatannya yang sedang menekan pipi Agatha kemudian membawa Agatha pergi keluar dari bandara.


"Sakit tahu!" Gerutu Agatha sambil melangkah mengikuti Amara.


***