
Acara kumpul keluarga di rumah Papa Alexander hari itu pun selesai. Para keluarga yang hadir ke kediaman Papa Alexander satu persatu berpamitan meninggalkan rumah kecuali Dara, Daniel beserta keluarga kecil mereka yang sudah berjanji akan menginap di rumah orang tuanya.
Agatha berjalan menghampiri Amara yang hendak masuk ke dalam mobilnya. "Mara tunggu!" Ucapnya menghentikan pergerakan Agatha yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, Gatha?" Tanya Amara.
"Apa kau ingin langsung pulang?" Tanya Agatha.
"Tentu saja.Lalu aku mau pergi kemana selain pulang ke rumah kedua orang tuaku?" Amara tertawa kecil di akhir perkataannya karena menurutnya pertanyaan Agatha ada-ada saja.
"Ya, aku pikir kau mau bertemu dengan Rendra dulu. Kalau begitu aku mau ikut denganmu. Sudah lama kita tidak kumpul bertiga."
Amara menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku langsung pulang saja. Lagi pula waktu sudah sangat malam dan aku tidak mungkin bertemu dengan Rendra.
Agatha mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejujurnya ia merasa belum puas bercerita dengan Amara.Terlebih ada suatu hal yang ingin ia ceritakan pada Amara.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi ke mobil Papa dulu." Pamit Agatha.
Amara mengangguk mengiyakannya dan melepas kepergian Agatha dengan senyuman.
"Agatha itu kenapa, sepertinya ada hal yang ingin dia sampaikan kepadaku." Gumam Amara sambil menatap kepergian Agatha.
Tidak jauh dari Amara berada, Aga nampak memperhatikan gerak-gerik Amara dari dalam mobilnya. Ia tak langsung melajukan mobilnya setelah tadi masuk ke dalam mobil. Aga memilih memastikan mobil milik Amara melaju lebih dulu meninggalkan rumah Papa Alex baru melajukan mobilnya.
Amara yang tidak mengira jika Aga sedang memperhatikan gerak-geriknya pun langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Papa Alex.
"Sayang, ayo kita masuk." Ajak Naina karena kini seluruh keluarga mereka sudah pergi meninggalkan rumah.
Daniel mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah bersama Naina.
*
Waktu keberangkatan Amara, Aga dan Anjani ke kota B tinggal menghitung hari. Amara yang sebenarnya malas untuk ikut pun sampai bertanya pada Cakra apakah dirinya di wajibkan untuk ikut atau tidak. Dan setelah mendengar jawaban dari Cakra membuat Amara terdiam mengunci mulut.
"Tentu saja anda diwajibkan untuk ikut karena itu adalah perintah dari Tuan Aga langsung. Lagi pula, saya tidak ikut bersama Tuan Aga karena harus menggantikan kegiatan Tuan Aga di sini selama Tuan Aga pergi ke luar kota. Dan hanya anda yang bisa menemani Tuan Aga selama bekerja di luar kota nanti."
Cakra memandang wajah Amara yang nampak lesu setelah mendengar perkataannya. "Sebenarnya ada apa ini, Amara. Apa anda merasa keberatan jika ikut dengan Tuan Aga? Tapi, bukankah biasanya anda adalah orang yang paling semangat jika diajak pergi ke luar kota?" Cakra jadi bingung sendiri.
"Saya tidak apa-apa Tuan Cakra." Jawab Amara seadanya dan tidak berhasil menjawab pertanyaan Cakra.
"Ehem..." deheman Aga yang terdengar cukup keras mengalihkan perhatian Amara dan Cakra ke sumber suara dimana Aga sudah nampak berdiri tidak jauh dari mereka berada.
"Tuan Aga?" Lirih Amara merasa terkejut melihat keberadaan Aga. Entah sejak kapan Aga berdiri di belakang tubuhnya. Dan apakah Aga mendengar pembicaraannya dan Cakra tadi?
***
Teman-teman baik hati. Bantu kasih bunga dan kopinya yuk untuk Aga dan Amara biar semangat nulisnya ini. Ehe