
Waktu istirahat siang telah tiba namun sosok Aga dan Cakra belum juga kembali ke perusahaan sejak tadi pagi pergi ke perusahana Dharma. Amara yang merasa kesepian untuk makan siang di meja kerjanya seorang diri memilih membawa kotak bekal yang ia bawa menuju kantin. Berniat makan siang di sana sambil menikmati salad buah favoritnya yang dijual di sana.
Saat baru saja masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya menuju lantai kantin perusahaan berada, Amara tiba-tiba saja teringat dengan Sisil dan Ane. Entah mengapa ia tiba-tiba saja ingin mengajak kedua temannya itu untuk makan siang bersamanya.
Tanpa pikir panjang, Amara memilih keluar dari dalam lift saat lift berhenti di lantai khusus ruangan OB berada.
"Ane, Sisil." Amara menyapa kedua orang wanita yang baru saja membuka kotak bekal mereka masing-masing.
"Amara," Sisil dan Ane tersenyum menyambut kedatangan Amara.
"Kalian sudah mau makan siang?" Tanya Amara.
Sisil menganggukkan kepalanya. "Seperti yang kau lihat. Kami sudah bersiap untuk makan."
Amara melirik kotak bekal milik Sisil dan Ane yang sudah terbuka. "Bagaimana kalau siang ini kita makan di kantin saja. Kebetulan aku hanya makan sendiri siang ini dan mau makan di kantin bersama kalian."
Sisil dan Ane saling pandang. Kemudian keduanya mengangguk mengiyakan ajakan Amara.
"Mara, tapi apa kau tidak malu makan siang bersama dengan kami?" Tanya Sisil sebelum beranjak dari posisinya.
"Malu, untuk apa aku malu?" Kening Amara mengkerut. Merasa bingung dengan maksud perkataan Sisil.
"Emh, maksud Sisil itu apa kau tidak malu makan siang bersama dengan cleaning service seperti kami?" Jelas Ane.
Amara menatap wajah Sisil dan Ane secara bergantian. "Untuk apa aku harus malu? Di mata Tuhan kita semua ini sama. Jadi jangan merasa sungkan begitu kepadaku."
Sisil dan Ane kembali saling pandang kemudian tersenyum bersamaan.
Amara mengusap lengan temannya itu. "Kau ini bisa saja. Aku sama saja kok seperti kalian."
Ane dan Sisil kembali tersenyum. Kemudian mereka pun bangkit dari posisi duduk untuk pergi ke kantin bersama dengan Amara.
"Oh ya, Sisil, bagaimana keadaan ibumu saat ini?" Tanya Amara saat mereka sudah berada di dalam kantin dan sedang menunggu makanan pesanan mereka datang.
Mendengar nama ibunya disebut, lantas saja membuat wajah Sisil menjadi murung. "Belum banyak kemajuan. Ibu masih saja lemas dan kadang sesak napas." Jawabnya pelan.
Amara menatap wajah Sisil yang bersedih. "Sisil, percayalah jika suatu saat nanti ibumu pasti akan sembuh."
Sisil mengangguk seraya memaksakan senyum. "Aku juga berharap demikian, Mara. Hanya ibu yang aku punya saat ini. Tanpa ibu, aku tidak tahu bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku lagi."
Amara menggenggam lembut tangan Sisil seakan ingin memberikan kekuatan pada wanita itu.
"Sisil, apa kau sudah mendapatkan informasi bagaimana caranya untuk menyembuhkan ibumu?" Tanya Amara.
Sisil mengangguk. "Cara satu-satunya adalah operasi, Mara. Tapi sampai saat ini aku belum bisa mengumpulkan uang yang banyak untuk biaya operasi ibu. Jangankan untuk biaya operasi, untuk makan saja kadang sulit." Ucap Sisil dengan kepala tertunduk.
Amara menatap Sisil dengan iba. Baru kali ini ia mendengar Sisil mengeluh tentang kondisi keuangannya. Dan hanya mendengarnya saja sudah membuat Amara dapat merasakan bagaimana kesedihan yang Sisil rasakan saat ini.
"Sepertinya aku harus membicarakan hal ini pada Kak Aga. Mungkin saja Kak Aga memiliki solusi untuk bisa membantu Sisil." Ucap Amara dalam hati.
***