
Amara nampak fokus melihat akun media sosialnya yang memperlihatkan story dari teman-temannya sambil menunggu Rendra kembali. Keributan yang terdengar di sekitarnya tidak dipedulikan oleh Amara. Ia hanya fokus menatap layar ponsel dengan posisi menunduk.
"Nona Amara?" Suara seorang wanita yang terdengar tidak asing di telinganya membuat kepala Amara mendongak melihat sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Nona Anjani?" Wajah Amara nampak terkejut melihat sosok Anjani.
"Dunia terasa seperti sempit sekali, ya. Dimana anda berada di situ pula saya berada." Anjani mengulas senyum seraya berbicara.
"Benarkah?" Amara ikut mengulas senyum.
"Ya. Beberapa waktu lalu kita berada di klub yang sama dan sekarang berada di pasar malam yang sama."
Senyuman di wajah Amara perlahan luntur setelah mendengar perkataan Anjani.
"Berarti saat itu Kak Aga berada di dalam klub Noah bersama dengan Nona Anjani?" ucap Amara dalam hati mengingat beberapa waktu yang lalu ia mengetahui dari Agatha jika Aga juga berada di klub Noah.
"Nona Amara?" Anjani menyebut nama Amara karena wanita itu hanya diam saja.
"Ya?" lamunan Amara buyar.
"Anda termenung?" Anjani tertawa kecil setelah bertanya.
"Tidak begitu. Saya hanya sedang berpikir saja sudah berapa kali kita bertemu di luar perusahaan."
"Oh, begitu." Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya baru dua kali dengan saat ini. Namun saat berada di klub anda sepertinya tidak sadar jika saya juga berada di sana."
"Sepertinya begitu soalnya saya tidak melihat keberadaan anda di sana."
"Oh ya Nona Amara. Apakah pria yang di sana adalah kekasih anda?" Anjani menunjuk dimana Rendra berada.
"Bukan kekasih. Hanya teman dekat saya saja." Jawab Amara seadanya.
Kali ini Amara memilih tersenyum saja tanpa menjawab. Menurutnya semakin banyak menjawab maka semakin banyak pula Anjani bertanya tentang privasinya.
"Apa saya boleh duduk di sini. Kebetulan saya sedang menunggu Aga mengantri membeli minum di sana." Ucap Anjani seraya menunjuk dimana keberadaan Aga.
Amara mengikuti arah pandangan Anjani. Sosok Aga terlihat sedang mengantri di tengah padatnya antrian pembeli. Apa yang Aga lakukan saat ini sangat persis seperti apa yang Rendra lakukan saat ini.
"Kak Aga pasti sangat mencintai Nona Anjani seperti Rendra mencintaiku. Buktinya saja dia sampai rela mengantri seperti itu." Lirih Amara dalam hati. Melihat kedekatan Aga dan Anjani saat ini membuat Amara semakin yakin jika Aga menaruh perasaan pada Anjani sehingga selama ini tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita.
"Silahkan duduk Nona Anjani." Amara menggeser bokongnya ke samping memberi ruang untuk Anjani duduk.
Anjani yang masih saja merasa kepo dengan hidup Amara pun memberikan beberapa pertanyaan pada Amara tentang kedekatannya dengan keluarga Aga. Dan Amara yang mendapatkan pertanyaan memilih menjawab seadanya dengan rasa yang sangat malas.
"Kenapa aku merasa Nona Anjani ini kepo sekali sih!" Gerutu Amara dalam hati merasa risih.
Kedatangan Rendra kembali sambil membawa makanan yang diinginkannya menyelamatkan Amara dari pertanyaan Anjani.
"Rendra, kau sudah kembali." Amara mengulas senyum menyambut kedatangan Rendra.
"Sudah. Ini." Rendra menyerahkan bungkus makanan di tangannya pada Amara.
"Terima kasih, Rendra." Amara menerima makanan tersebut dengan wajah berbinar.
Pandangan Amara pun lantas beralih pada Anjani yang menatapnya dan Rendra secara bergantian.
"Nona Anjani, kami pamit pulang dulu ya." Ucap Amara yang sudah malas berlama-lama dengan Anjani yang sangat kepo dengan hidupnya.
***