Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Cinta yang Telah Tumbuh


Setelah mandi, Halbert mengeringkan rambut Nola dengan hair dryer. Gadis itu tidak lagi kelelahan seperti sebelumnya. Namun dia sangat enggan untuk memakai gaun dan hanya memakai salah satu kemeja pria itu.


Setelah mengeringkan rambut, Halbert juga menyisir rambut bergelombang Nola yang terlihat indah dan halus.


"Aku ingin mencatok rambut menjadi lurus," ujar gadis itu.


Gerakan Halbert saat menyisir terhenti. Dia mengerutkan kening dan melihat rambut Nola yang terawat dengan baik.


"Tidak. Ini cantik. Kenapa kamu ingin merusaknya?"


"Aku ingin punya rambut lurus yang mudah untuk diikat ekor kuda."


"Tidak! Apapun yang terjadi, kamu tidak bisa merusak rambutmu. Aku suka rambutmu yang seperti ini. Sama sekali tidak ada yang salah." Halbert dengan tegas melarangnya. "Rambutmu yang dikepang juga cantik. Aku akan mengepangnya untukmu."


"Bisakah kamu mengepang rambut?"


"Tentu saja. Aku sering melihat ayahku mengepang rambut ibuku di masa lalu. Kemudian aku mengingatnya dengan baik."


Walaupun Halbert masih kecil saat itu, ayahnya mengajarkan beberapa hal untuk menyenangkan wanita. Ibunya suka mengepang rambut sehingga ayahnya belajar juga. Lambat laun, Halbert mengingat semua langkahnya.


Daripada membiarkan gadis itu merusak rambutnya dengan catokan dan bahan kimia, lebih baik dia membantu untuk merawatnya.


Nola hanya bisa setuju saat ini. Jika dia mencatoknya diam-diam, Halbert mungkin akan marah. Saat ini, Halbert sudah membagi rambutnya menjadi tiga bagian yang sama rata lalu mulai mengepang.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Halbert untuk mengepang rambutnya dengan baik. Setah selesai, pria itu merapikan anak rambut yang ada di dekat daun telinga. Dia melihat sosok Nola di cermin rias, terlihat lebih berbeda daripada hari-hari sebelumnya.


"Ini cocok." Halbert seperti melihat bayangan ibunya dengan rambut dikepang saat memandang Nola. Tanpa sadar, hatinya lebih menjadi lebih lembut.


Nola menatap dirinya sendiri sendiri di cermin melalu mata batin. Tampaknya tidak buruk. Lalu dia mulai merias wajahnya dengan serangkaian produk rutin yang dipilih Halbert sesuai jenis kulitnya yang agak kering.


Terakhir, Nola mengaplikasikan lipstik berwarna peach.


Setelah menikah dengan Halbert dan dirawat dengan sangat baik, sosok Nola yang kurus dan sakit-sakitan sudah tergantikan dengan dirinya yang jauh lebih sehat dan berisi. Semua bekas luka di tubuhnya juga memudar perlahan dan kini hampir semuanya hilang.


"Pakai gaunmu lalu turun untuk sarapan," kata Halbert seraya memilih gaun selutut berwarna cerah untuknya.


Keluarga Jefford masih sedikit memegang tradisi lama di mana wanita harus memakai gaun. Hampir semua pakaian Nola di lemari berisi gaun khusus yang dibuat oh desainer pribadi. Sehingga sebagian pakaiannya tidak mungkin ada di pasaran lagi.


Nola melihat gaun itu dan mengerutkan kening. "Apakah kamu ingin mengajakku ke suatu tempat?"


"Ya. Jadi ubah bajumu sekarang. Setelah sarapan kita bisa pergi."


"Tidakkah kamu pergi ke kantor untuk melihat situasi di sana? Para karyawan yang keracunan makanan mungkin masih dirawat bukan?"


"Jangan khawatir, asisten Jae dan sekretaris Eli akan melakukannya. Mereka dibayar untuk bekerja."


Nola mengerucutkan bibirnya. "Kapitalis!" gumamnya.


Halbert hanya tersenyum. Melihat sosok Nola dengan kemeja besarnya, membuat dia sedikit berpikiran jahat. Dia ingin mencium bibirnya tapi gadis itu menolak.


"Jangan merusak riasanku," bisiknya.


Ciuman itu sedikit lebih dalam dan agak bersemangat sehingga Nola hampir kehabisan napas. Lipstik nya memang sengaja disapu oleh pria itu. Setelah puas berciuman Halbert merasa bibirnya juga dilapisi lipstik saat ini.


Wajah Nola memerah dan dia ingin menjauh dari pelukan Halbert. Pria itu tidak melepaskannya. Tangannya yang berada di pinggang gadis itu sedikit mengencang. Dia menyentuh wajah halus Nola dan memperhatikannya dengan saksama.


"Nola, kamu benar-benar berhasil membuat pikiranku berubah," ujarnya.


Dulu, Halbert tidak terlalu suka dengan wanita. Baginya, wanita sangat merepotkan. Dia sibuk dengan pekerjaannya tapi wanita selalu ingin menempel sepanjang waktu, mengirimi banyak pesan bahkan memintanya jalan-jalan. Halbert merasa terganggu dan akhirnya mulai menjauhi segala jenis tentang wanita.


Jika dirinya tidak bertemu Nola dan menjauh dengannya, mungkin hatinya yang dingin terus membeku. Dia akhirnya memiliki alasan untuk melindungi Nola sepanjang waktu dan memanjakannya. Dan sadar jika semua itu dia lakukan bukan karena menyenangkannya sebagai suami-istri tapi karena cinta.


Ada banyak hal yang Halbert temui selama dia bersama Nola. Entah itu percaya atau jika. Kebenaran tentang kematian orangtuanya juga mulai menemukan titik terang. Semuanya karena gadis ini.


"Halbert, selama kamu tidak meninggalkanku, apapun yang kamu inginkan, aku akan memenuhinya," kata Nola serius.


Walaupun jiwa dan hatinya sudah menyatu kembali dengan baik, Nola masih takut. Rasa takut ditinggalkan orang terdekat masih ada. Dia khawatir Halbert akan pergi dan meninggalkannya seorang diri.


"Tidak akan ada hari seperti itu. Kamu adalah satu-satunya," bisik Halbert.


"Lalu ... Apakah kamu pernah punya kekasih?" tanya Nola tiba-tiba.


Halbert menyipitkan mata. Sepertinya sudah lama sekali. Dia menjawab dengan nada lemah. "Ya, tapi itu hanya kekasih yang tidak penting. Aku hanya merasa bosan saat itu dan mencari pengalaman baru."


Khawatir Nola tidak percaya, Halbert menjelaskannya dengan baik. Tapi tampaknya Nola masih khawatir. Bagaimana jika suatu hari mantan kekasihnya datang dan meminta balikan dengan Halbert? Apa yang harus dia lakukan?


Atau jika Halbert masih memikirkan mantan kekasih itu, Nola mungkin tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun, cinta pertama selalu berkesan.


Nola berpikir banyak tapi Halbert sendiri sudah melupakannya. Pria itu tidak tahu pikiran terdalam wanita sehingga tidak menemukan kelainan apapun di wajah Nola.


Keduanya segera turun ke lantai bawah dan makan sesuatu terlebih dahulu. Butler Flir menyajikan semua hidangan di atas meja makan dan melayani mereka seperti biasanya.


"Ke mana dua orang itu pergi?" tanya Nola. Yang dia maksud adalah Solachen dan Mark.


Butler Flir tersenyum dan menjawab. "Dua tamu itu berada di paviliun untuk beristirahat. Sarapan juga telah diantar ke sana."


"Dia masih di sini?" Nola sedikit tidak nyaman. Meski tidak mau mengakui jika Solachen adalah ayah kandungnya.


"Tuan tua telah meminta keduanya untuk tinggal di sini selama beberapa hari."


"Oh."


Butler Flir segera kembali ke dapur untuk mengurus sisanya. Nola menatap kepergian Butler Flir dan mengerutkan kening. Lalu tatapannya teralihkan pada Halbert yang sepertinya menahan diri untuk tidak marah pada sesuatu.


"Halbert ..." Nola sedikit takut ketika merasakan aura Halbert yang dingin seperti itu.


Halbert menyesuaikan emosinya. Dia tidak berminat lagi untuk sarapan. "Tidak apa-apa. Makan sarapanmu sebelum kita pergi."


Tidak mudah untuk menyelesaikan masalah Geng Kalajengking Hitam. Tapi tidak lama lagi, dia pasti akan menghancurkan mereka.