
Halbert melihat jika dokter itu merupakan yang terbaik di Negara S. Jadi dia mengundang nya. Siapa tahu jika pihak lain justru tidak memuaskan nya sama sekali.
Dilihat dari respons tubuh Nola saat disentuh, kelihatannya seperti orang yang kesakitan. Jadi dia ingin memastikan apa yang terjadi.
"Lalu bagaimana dengan mata kirinya?"
"Mata kiri?" Dokter itu mengerutkan kening lalu memeriksa iris mata Nola sebentar. "Tidak ada yang salah dengan mata gadis itu."
Halbert tidak mau banyak bicara dan membiarkan dokter itu pergi. Sebelum pergi, dokter paruh baya itu menghela napas dan menyampaikan sesuatu pada Halbert.
"Meski gadis itu hanya terlihat seperti anemia, tapi sepertinya ada yang salah dengan jiwanya." Takut Halbert salah paham, dokter itu segera menjelaskannya lagi. "Maksud saya, jiwa dan hatinya saling terpisah satu sama lain. Mungkin lebih tepat jika memanggil seorang biksu dari Negara C. Mereka sangat pandai untuk mengobati masalah penyakit spiritual."
Setelah itu, dokter segera pamit.
Halbert mengerutkan kening. Dia tidak peduli dengan masalah tersebut. Biksu juga manusia. Apakah bisa seorang biksu menyembuhkan jiwa yang bermasalah. Melihat kembali Nola yang kini pingsan tapi terlihat kesakitan, dia terlihat kesal.
Sebelum Halbert memikirkan keputusan yang tepat, ponselnya berdering. Ternyata nomor seorang ahli fengsui yang pernah dikatakan oleh Nola sebelumnya.
Halbert menerima panggilan telepon itu. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Nak, kamu begitu tidak sopan pada orang yang lebih tua. Tidakkah kakekmu mengajarimu sopan santun?" Suara pihak lain sedikit lebih tua.
"..." Halbert tidak mengatakan apa-apa. Selain kakeknya, dia tak bisa menghormati orang lain.
"Aku ada di Negara S." Pihak lain berkata lagi.
"Jadi apa?" Halbert acuh tak acuh padanya. Dia tak lagi mengharapkan bantuan pihak lain.
"Aku tahu kondisi istrimu sekarang. Mau aku bantu atau tidak?"
"Apakah kamu dokter?"
"... Aku dokter spiritual."
"..." Apakah dukun begitu eksis sekarang? Halbert tidak percaya.
Sebelum Halbert menutup panggilan telepon, pihak lain berkata lebih banyak lagi. Kali ini Halbert tidak lagi menganggap enteng masalah tersebut dan segera melaporkan alamat hotel yang ditempatinya saat ini.
Setelah menutup panggilan telepon, Halbert duduk di tepi ranjang dan mengelap keringat di dahi gadis itu.
"Apakah jiwa dan hatimu tidak benar-benar menyatu dengan tubuh sehingga mudah jatuh sakit?" gumamnya.
Apapun alasannya, dia hanya akan tahu setelah diperiksa lebih dalam.
......................
Saat ini, Nola yang terlihat pingsan sebenarnya sedang jatuh dalam mimpi ....
Dalam mimpi itu, Nola berada di tempat yang remang-remang. Suhu di sekitarnya terasa dingin dan tidak menyenangkan. Tubuhnya tidak lagi kesakitan. Tampaknya dia sangat sehat kali ini.
"Di mana ini?" gumamnya.
Setelah memastikan jika dirinya berada di tempat yang tidak dikenal, Nola tidak lagi berjuang untuk mencari jalan keluar. Tiba-tiba saja terdengar suara tawa mengejek menggema di sekitarnya.
Nola mencari asal suara itu namun tidak menemukannya.
"Siapa itu?!" tanyanya sedikit berteriak. Suaranya juga sedikit menggema.
Akhirnya seseorang berbicara tepat di belakangnya.
"Kamu terlalu lemah!" ejeknya.
Melihat dirinya sendiri seperti ada dua, Nola kebingungan dan waspada.
"Siapa kamu?" tanyanya.
Gadis yang mirip dengan Nola tersenyum lebih dalam. "Aku adalah kamu," jawabnya. "Tapi aku adalah sisi gelapmu."
"Apa maksudmu?" Nola sama sekali tidak mengerti.
"Aku adalah jiwamu." Sosok yang mirip Nola itu menyentuh posisi jantungnya. "Tapi kamu adalah hatiku."
Nola tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Pihak lain tampaknya tidak tergesa-gesa sama sekali. Sampai akhirnya Nola bicara.
"Jika kamu adalah jiwaku dan aku adalah hatimu, lalu kenapa menemuiku sekarang?"
"Bukankah kamu sakit?" Gadis yang mirip dengannya itu bertanya, menyelanya. "Kamu akan merusak tubuhmu setelah menggunakan kemampuan."
"Ya ..." Nola tidak mengelak. "Tapi ini adalah keturunan. Aku memberikan keberuntungan dan kerugian pada orang lain tapi aku harus membayar harganya."
"Bodoh!" Gadis yang mirip Nola itu tertawa mengejek. "Tidak ada hal seperti itu sebenarnya. Kamu tidak memiliki ini. Alasan kenapa kamu selalu sakit setelah memberikan keberuntungan atau kerugian pada orang lain tentu saja karena tubuhmu tidak lengkap. Aku dan kamu tidak menyatu."
"Tidak menyatu?"
"Ya, tidakkah kamu merasa jika kamu selalu baik pada orang lain tapi sulit untuk merasakan benci pada mereka. Kamu lebih suka menahan diri dan berusaha untuk membuat mereka tidak meninggalkanmu?"
Nola tidak menjawab. Karena itu memang faktanya. Dan akhirnya sosok yang mirip dengannya dirinya itu tertawa lagi.
"Itu karena kamu dan aku tidak lengkap. Ketika jiwa dan hati tidak lengkap, semuanya menjadi cacat. Karena itu, kita harus bersatu untuk menghilangkan kelemahan mu."
"Kenapa aku harus percaya padamu?" Nola jelas tidak terlalu mempercayainya. Lagi pula pihak lain mengaku sebagai sisi jahatnya.
"Hanya karena aku tidak ingin mati lebih awal. Jangan bodoh! Aku tidak mau mati."
"Tapi bukankah aku aku tidak akan mati? Aku telah mencoba bunuh diri tapi gagal dan gagal lagi. Kenapa aku harus mati hanya karena menggunakan kemampuan ku?"
"Bodoh! Kita adalah manusia. Menurutmu, manusia mana yang tidak akan mengalami kematian? Jangan percaya diri," cibirnya.
Benar. Semua manusia pasti akan mati dan memiliki kematiannya sendiri. Jika apa yang dikatakan sisi dirinya yang lain, maka tidak apa-apa untuk menyatu.
"Kamu bilang jika kita menyatu maka kelemahan mu akan hilang?"
"Ya. Ketika kamu memberikan keberuntungan atau kerugian pada orang lain, kamu tidak perlu membayarnya dengan rasa sakit lagi. Kamu hanya cukup untuk tidur dengan Halbert agar memulihkan energi."
"Meniduri Halbert. Apakah ini akan berdampak buruk baginya?"
Jika ini membuat Halbert dirugikan, Nola tidak mau.
"Tidak. Ini bisa dianggap sebagai memberikan keberuntungan satu sama lain. Tubuhnya tidak akan dirugikan sama sekali. Kamu dapat yakin."
"Bagaimana kamu membuatku yakin? Ucapan tidak dapat dipercaya sama sekali."
Sosok yang mirip Nola itu mencibir lagi aku serius menatapnya. "Maka aku akan hancur selamanya. Ini sumpahku." Dia mengangkat tangannya seolah-olah sedang bersumpah di depan buku suci.
Melihatnya seperti itu. Tampaknya tidak ada keraguan lagi untuk bisa menyatu dengan jiwanya yang telah lama kosong. Merasa jika jiwanya harus segera menyatu, Nola mendekat beberapa langkah.
"Baik, aku akan mempercayai kali ini. Katakan, bagaimana caranya agar aku keluar dari sini?"
Pihak yang mirip Nola tampaknya merasa lega dan tidak lagi sedingin sebelumnya. Lagi pula dia masih ingin Nola hidup lebih lama. Banyak rahasia yang belum terungkap.
"Mudah. Mari satukan telapak tangan kita dan kuatkan hatimu. Aku pasti akan menyatu dengan dirimu."