Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Pulau Rahasia OSD (2)


Kelompok Du Lin segera mengikuti jejak macan tutul yang meninggalkan sarang bersama anaknya. Kedua macan itu jelas pergi ke sebuah rawa yang terdapat banyak ikan predator aneh. Anak buah Du Lin enggan untuk pergi ke sana.


Tapi karena Du Lin harus mendapatkan anak macan tutul itu, mereka mau tidak mau memberanikan diri untuk pergi.


Sayangnya saat tiba di sana, Du Lin bukan hanya tidak mendapatkan keberadaan anak macan tutul, tapi juga terjebak di sekitar rawa. Induk macan tutul dan macan tutul jantan supernatural menyerang mereka gila-gilaan.


"Sial!! Ini jebakan! Ternyata anak macan tutul tidak ada di sini!" Du Lin sangat marah hingga dia menyadari telah ditipu oleh induk macan tutul.


Dengan kata lain, anak macan tutul mungkin ada di arah yang berlawanan. Atau mungkin disembunyikan di tempat lain. Ia tidak tahu apakah ada manusia yang pernah datang ke sini sebelumnya.


"Bos! Beberapa dari kita telah jatuh ke rawa. Kita tidak bisa terus seperti ini. Satu-satunya cara hanya dengan membunuh mereka." Salah satu anak buahnya menyarankan. Wajahnya sudah pucat. Dan kekuatan mereka tidak sebaik Du Lin.


"Brengs*k! Tidak berguna!"


Du Lin yang telah berusia setengah baya masih terlihat seperti pria paruh baya. Tubuhnya terawat dengan baik berkat kultivasi supernatural nya.


Mau tidak mau, dia memang hanya bisa membunuh kedua macan tutul supernatural yang telah lelah dia besarkan. Jika tidak, keberadaannya hanya akan mengancam binatang lainnya.


Dengan kepintaran mereka, berkomentar satu sama lain tidak akan menjadi hambatan. Bagaimana jika suatu hari nanti para binatang supernatural di pulau ini bekerja sama untuk menghancurkan perbatasan? Bukankah itu merupakan bencana yang diundang sendiri ke rumah?


Pada akhirnya, kedua macan tutul itu tahu akan mati dan tidak mengurangi keganasan serangannya sama sekali. Keduanya hanya berharap jika anak mereka akan dengan Nola sampai keluar pulau.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola serta keempatnya sudah pergi jauh dan tidak tahu tentang kedatangan mereka sama sekali. Namun kedua anak macan tutul sesekali mengeong seperti sedih akan sesuatu.


Orange mengerti kesedihan mereka dan ingin berkata jika orangtua anak macan tutul itu telah mati. Sayangnya dia tidak bisa bicara dengan Nola kecuali berkontrak dengannya.


Sayangnya Nola dan kucing jingga itu tidak bisa berkontrak roh terlalu awal karena belum tahu apakah keduanya memiliki kecocokan.


"Sepertinya orang-orang itu sudah menemukan sarang macan tutul dan mungkin berhasil membunuhnya." Jaley Scott menghela napas tak berdaya.


"Kenapa mereka membunuhnya?" Nola merasa kasihan dengan dua anak macan tutul yang kehilangan induknya di usia yang begitu muda.


Kedua anak macan tutul mungkin tidak terlalu membunuh susu. Tapi setidaknya mereka membutuhkan asupan nutrisi. Jika tidak, anak macan tutul yang baru berusia beberapa bulan itu tidak akan tumbuh begitu gemuk dan sehat.


"Kemungkinan besar karena tidak berguna lagi atau karena keselamatan orang-orang itu terancam," jelasnya.


"Sepertinya keselamatan orang-orang itu terancam, jika tidak, mereka tidak akan membunuhnya begitu saja. Apa lagi jika ingin mencari anaknya, orang-orang itu harus memanfaatkan induk macan tutul." Takahiro Ren menebak sesuatu.


"Ya, ini hanya bisa menjadi penyebab utamanya." Jaley Scott mengangguk setuju.


Mereka akhirnya tiba di lingkungan bambu yang tumbuh subur. Nola merasa kedua kakinya sedikit sakit setelah berjalan cukup lama. Jadi dia beristirahat sambil meluruskan kedua kakinya agar lebih baik.


"Karena ini sebuah pulau, maka kita harusnya tidak jauh dari pantai. Sayangnya hutan ini sangat besar sehingga hari mungkin akan sore saat tiba di sana. Mari kita berkemah di sini lebih dulu." Elvada melihat selembar peta dan memasukkannya kembali ke saku jaket.


Mereka sengaja datang ke wilayah hutan bambu tentu untuk membuat keranjang. Elvada dan Nola tidak mungkin harus menggendong kedua anak macan tutul itu sepanjang perjalanan. Kedua tangan mereka pegal. Jadi lebih baik untuk membuat keranjang.


“Aku tidak tahu cara membuatnya,” kata gadis itu.


“Jangan khawatir tentang masalah ini, aku bisa melakukannya. Tapi kedua anak macan tutul itu cukup berat. Kamu tidak mungkin membawanya di punggungmu. Biarkan dia yang membawanya,” jelas Elvada seraya menatap Jaley Scott.


“…” Jaley Scott yang ditatap olehnya tidak bisa berkata-kata.


Membawa dua binatang tutul itu di punggungnya bukan masalah besar. Tapi kenapa harus dia yang melakukannya dan bukan Halbert? Elvada benar-benar tidak mau merepotkan Halbert, tuan mudanya sendiri.


Mereka memutuskan untuk beristirahat di hutan bambu. Halbert dan Takahiro Ren melihat sekeliling dan memastikan tidak ada bahaya apapun. Walaupun mereka tidak membawa tenda karena akan dianggap merepotkan, maka baik hujan atau tidak, mereka hanya bisa bertahan di alam liar.


Menurut Nola, selama tidak kelaparan, dia tidak keberatan dengan kondisi lainnya. Tidur bisa di mana saja asal aman. Tapi jika kelaparan, masalah baru akan muncul.


Nola menurunkan anak macan tutul yang dipeluknya. Beruntungnya kedua anak macan yang masih kecil itu tidak berlarian dan justru bersantai di sekitar mereka. Elvada mulai menebang salah satu bambu yang cocok untuk dibuat anyaman. Lalu mulai melakukan segalanya dengan lancar.


Nola belajar darinya sedikit demi sedikit tentang kerajinan anyaman bambu. Dia tidak tahu jika Elvada sangat pandai melakukan hal tersebut. Dalam waktu kurang dari dua jam, keranjang bambu sudah jadi. Cukup untuk menampung kedua anak macan tutul itu selama di perjalanan.


“Keranjang ini sepertinya sangat bagus,” kata Nola seraya menyentuh permukaan keranjang anyaman bambu.


Elvada tersenyum tidak berdaya. “Setidaknya cukup untuk menampung dua macan tutul itu.”


Setelah masalah keranjang selesai, Elvada memastikan jika tali yang diikat pada keranjang kuat untuk menahan berat badan kedua anak macan tutul itu. Dia menyerahkannya pada Jaley Scott.


“Pak Tua, kamu tidak akan sakit punggung bukan? Cobalah dulu dan apakah talinya kurang pas, aku bisa memperbaikinya lagi,” katanya santai.


Jaley Scott tidak bicara. Bagaimana mungkin dia tidak akan sakit punggung? Setidaknya jika dia menggendong kedua anak macan itu di keranjang seharian penuh, mungkin bukan hanya sakit punggung, tapi bahunya juga pegal.


Tapi dia masih mencoba menggendong keranjang itu dan merasa sudah pas. ‘Tidak perlu, semuanya baik-baik saja.”


“Bagus kalau begitu.”


Elvada mencoba memasukkan kedua anak macan tutul itu ke dalam keranjang. Ruangnya cukup luas sehingga keduanya tidak akan berdesakan dalam keranjang.


“Apakah orang-orang dari organisasi itu tidak akan menemukan jejak kita?” tanya Takahiro Ren.


“Jangan khawatir, aku sudah membuat persiapan sebelum datang ke sini. Aura kita semua tidak akan ditemukan sama sekali. Tidak sulit untuk menyamarkan aura supernatural menyatu dengan alam.” Jaley melihat jika langit mulai menggelap.


Hari sudah senja dan mereka belum mengumpulkan kayu bakar untuk menghangatkan diri di malam hari.