
Leon tahu persis seperti apa kekuatannya sendiri. Semua hewan atau binatang dalam kendalinya tak bisa lepas sama sekali. Kecuali mereka menceburkan diri ke air selama lebih dari satu menit.
Tampak sederhana tapi tentu saja ada alasannya. Ketika otak dalam keadaan dingin di dalam air, mantranya akan lepas karena korbannya tak memikirkan apapun.
Kucing itu mampu melakukannya?! Ini benar-benar kucing supernatural! Leon sangat yakin dan memang sudah sangat yakin.
"Meow!!" Orange mengibaskan tubuhnya yang penuh air dan sedikit menggigil.
"Orange, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menceburkan diri ke air?" Nola sangat bingung.
Meow! Meow! Dia jahat, meow! Orange tak bisa mengatakannya di depan Leon. Mari bicarakan saja di rumah.
Nola lega karena kucing itu baik-baik saja. Butler Cello melihat jam tangannya. Ini sudah waktunya kembali.
"Nyonya, kita sudah terlambat. Kita harus pulang."
Nola juga tahu dia sudah terlalu lama di luar. Halbert pasti akan menelpon orang rumah untuk menanyakan keberadaannya. Ia mengangguk pada Butler Cello lalu menatap Leon.
"Tuan Leon, aku harus kembali. Terima kasih atas perbincangannya hari ini," katanya agak linglung sedikit.
Ia masih memikirkan, bagaimana Leon memiliki aroma yang sama dengan Halbert.
Leon tersenyum sopan, sangat ramah dan mudah didekati. "Silakan. Aku juga harus kembali. Aku membuka toko bunga tak jauh dari sini. Jika Nyonya Muda Jefford menginginkannya, datanglah untuk memilih."
"Ya, pasti." Nola tersenyum dan pergi dengan Butler yang menggendong Orange. Ia bermaksud untuk pergi ke salon hewan peliharaan untuk mengeringkan Orange.
Sebelum pergi jauh, Orange menatap ke arah Leon dan menggeram. Aku belum selesai denganmu, meow!! Pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halbert berada di kantornya saat ini. Hari sudah mulai sore tapi pekerjaannya masih belum selesai. Sesekali dia akan menyentuh pelipisnya, pusing dengan data yang sedang dianalisisnya.
"Bos, ada paket barang untukmu," kata Asisten Jae saat masuk ke ruangannya.
Halbert tidak melihatnya, hanya mengerutkan kening. "Aku tidak memesan paket apapun," katanya.
"Ini paket tanpa nama pengirim. Katanya Bos harus melihatnya sendiri."
Halbert meletakkan dokumennya, melihat paket tipis yang sebenarnya tidak berat sama sekali. Apakah isinya hanya sebuah surat?
Namun Asisten Jae sudah memastikan tidak ada yang salah dengan paket itu jadi memberikannya pada Halbert.
"Kamu tunggu di luar," katanya.
"Ya." Asisten Jae meninggalkan ruangan.
Halbert membuka isi paket itu dan ternyata ada amplop lagi di dalamnya. Tak ada tulisan apapun di amplop itu. Tapi ketika Halbert mengeluarkan isi amplop, matanya sedikit terbuka lebar.
Ada beberapa foto yang memotret Nola dengan seorang pria di restoran. Keduanya tengah makan bersama dan saling melempar senyum. Yang membuat Halbert lebih marah, adalah satu foto justru menangkap istrinya jatuh ke pelukan pria itu.
Heh! Pria itu memang tampan. Tapi istrinya tak mungkin berbuat curang di belakangnya. Ia tahu seperti apa Nola. Yang paling ditakuti gadis itu adalah kehilangan dirinya.
Meremas foto-foto itu, Halbert berpikir dalam. Tidak ada asap jika tak ada api. Tidak ada badai jika tak ada angin.
"Siapa yang mengambil foto-foto ini?" gumamnya. "Tujuannya jelas, memprovokasi hubungan."
Halbert tersenyum mengejek. Dia dalam foto itu, ia ingin membunuhnya. Berani mendekati istrinya.
Nola harusnya pergi ke restoran setelah berbelanja. Ini kebiasaan Nola jika ingin pergi berbelanja. Halbert tahu Nola tak memiliki kontak dengan pria mana pun.
Dia bangkit dan memakai jasnya, bersiap untuk pulang. Setelah menghancurkan foto-foto itu, dia melangkah lebar meninggal ruangan. Pulanglah dan minta penjelasan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba-tiba saja, Nola mendapatkan panggilan telepon dari Halbert.
"Halbert, apakah ada sesuatu?" tanyanya.
"Kamu di mana?" Suara Halbert sedikit suam-suam kuku.
Nola tertegun. Tidak biasanya Halbert bicara dengan nada seperti itu padanya. "Aku ... Aku di salon hewan peliharaan. Orange sedang dimandikan."
Di seberang, Halbert memang mendengar suara alat pengering berbunyi. "Kembalilah setelah selesai. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata pria itu.
"Ya."
Halbert langsung memutuskan sambungan. Nola semakin bingung. Kenapa pria itu seperti sedang marah padanya? Apa salahnya dia?
Nola tak bisa tenang saat ini dan meminta orang yang mengurus Orange untuk mempercepat. Ia cemas di hatinya hingga memegang ponsel sedikit berkeringat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halbert tak berniat menutup sambungan telepon begitu saja. Tapi dia terlalu kesal dan cemburu. Foto-foto itu masih terpampang jelas di pikirannya. Ia sudah meminta Frangky untuk mencari tahu tentang pria dalam foto, hasilnya akan datang sebentar lagi.
Mencari nama seseorang tidak sulit. Hingga akhirnya Frangky menelepon Halbert dan memberi tahu jika pria itu bernama Leon.
Melihat dari rekaman kamera pengawas yang terpasang di sekitar restoran, Leon masuk tempat itu dan keluar bersama Nola. Sebelumnya, Orange berlari keluar restoran tanpa diketahui apa alasannya.
Raja Kalajengking Hitam supernatural muncul di bahu Halbert. "Bukankah jahat jika kamu menutup telepon begitu saja? Gadis itu mungkin bertanya-tanya, apa yang salah denganmu."
"Tidak apa-apa, setidaknya dia akan pulang lebih cepat." Halbert menyipitkan mata, menunggu di kamar. "Leon? Pria ini bahkan tak diketahui dari mana datangnya dan tiba-tiba muncul di ibu kota. Mengirim foto itu padaku, apa maksudnya?"
"Kenapa kamu yakin dia yang mengirimnya?"
"Tak ada yang berani memprovokasi ku jika itu orang biasa. Orang yang mengambil foto ini saja bahkan tak terlihat di sekitar restoran. Itu artinya di ambil dari tempat lain.
Restoran tempat makan di mana Nola singgahi sebelumnya memang berada di lantai dua. Ada dinding kaca di sana menghadap langsung pemandangan kota.
Nola harusnya duduk di dekat jendela dan Leon datang. Dengan kata lain, orang yang mengambil foto berasal dari gedung lain.
"Sungguh niat sekali," gumamnya.
Tak kama kemudian, Nola pulang bersama Butler Cello. Dia menanyakan keberadaan Halbert saat ini. Pelayan berkata jika tuannya menunggu di kamar.
Gadis itu pergi tanpa memedulikan barang belanjaannya. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Halbert.
"Halbert, apakah kamu di dalam?" Nola membuka kamar.
Baru saja hendak melangkah masuk, dia sudah diseret masuk. Pintu kamar dikunci seketika dan tubuhnya ditekan ke pintu.
"Halbert?" Nola merasakan napas yang dikenalnya.
Halbert tidak berkata apa-apa dan mencium bibir gadis itu dalam-dalam. Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga Nola hampir kehabisan napas.
Sebelum gadis itu mendorongnya menjauh, Halbert sudah mengakhiri ciuman. Dia menyentuh bibir istrinya yang sedikit bengkak oleh ciuman.
"Sayang, katakan padaku, siapa pria yang makan denganmu di restoran?" Suara Halbert pelan tapi penuh ancaman.
Nola tegang. Bagaimana bisa Halbert tahu tentang ini?
Melihat gadis itu tidak menjawab dan justru tampak bingung, Halbert memiliki kemarahan di hatinya. Dia menggendong gadis itu ke tempat tidur dan melepaskan pakaiannya dengan paksa.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Mungkinkah kamu memiliki sesuatu dengan pria itu?" Halbert masih berusaha tidak meninggikan nada bicaranya.