Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Pamit Ke Kampung Halaman


Halbert mengembuskan napas panjang dan mau tidak mau menjawabnya dengan nada ringan. Tapi tidak memintanya untuk masuk.


"Ya, tunggu dan jangan masuk." Suara Halbert sedikit dingin.


Asisten Jae yang berdiri di luar kantor sedikit kebingungan. Apakah bosnya sedang dalam suasana hati yang buruk? Bukankah nyonya rumah ada di dalam? Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Halbert sehingga memintanya untuk menunggu.


Tak lama, Sekretaris Eli datang dengan memegang beberapa dokumen yang cukup tebal. Ia berjalan ringan dan profesional, tidak terburu-buru atau kewalahan.


"Oh, Asisten Jae, kenapa di luar? Bos ada di dalam kan?" tanyanya.


Asisten Jae menoleh dan mengerutkan kening saat Sekretaris Eli datang dengan senyuman menawan. Dia batuk kecil.


"Iya. Tapi bos tidak langsung membiarkanku masuk."


"Ada apa? Apakah bos bicara dengan nada yang buruk?"


"Bagaimana kamu tahu?" Asisten Jae merasa jika Sekretaris Eli ini pandai meramal.


Wanita berkemeja putih itu menaikkan sebelah alisnya. "Nyonya bos ada di dalam juga?"


"Ya."


Akhirnya Sekretaris Eli membelalakkan mata dan tersenyum agak centil. "Asisten Jae, kamu mengganggu kesenangan bos! Hati-hati agar bonusmu tidak hilang bulan ini."


Asisten Jae tidak tahu kenapa bonusnya akan hilang. Tapi mendengar jika dirinya mengganggu kesenangan Halbert, ia justru tambah bingung. Otaknya tak bisa berpikir cepat untuk menemukan jawaban.


"Apa maksudmu?"


"Bos dan nyonya bos mungkin sedang bersenang-senang, kenapa kamu tidak tahu? Sepertinya kamu harus segera mencari seorang wanita untuk dinikahi."


Asisten Jae sedikit tidak senang. "Kamu juga belum pernah punya pacar!"


Sekretaris Eli hampir saja tersandung kakinya sendiri.


Ya, dia akui, tidak ada satu pun pria yang bisa menarik perhatiannya. Dia ingin menemukan pria yang sama seperti bosnya. Tapi pekerjaannya setiap hari sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk mencari pacar. Setiap hari dia hanya bisa melihat Asisten Jae yang menyebalkan.


Tanpa sadar, Sekretaris Eli ingin menggodanya. "Asisten Jae, bagaimana jika kita kencan? Siapa tahu cocok?"


Tatapan Asisten Jae sedikit jijik ketika melihat sosoknya. "Apakah kamu layak?"


"Kenapa tidak? Tubuhku bagus, berisi, seksi, putih, cantik dan bisa memuaskan mu."


"Pernahkah kamu tidur dengan seorang pria?"


"Tidak." Sekretaris Eli menjawab dengan nada agak menyedihkan.


Mungkin tidak rugi jika berkencan dengannya ....


Sekretaris Eli tidak pernah membayangkan jika Asisten Jae sebenarnya akan memikirkan kata-katanya dengan serius.


Tak lama, suara Halbert terdengar lagi. Meminta untuk masuk. Sekretaris Eli juga datang untuk menyerahkan beberapa dokumen yang telah ditanganinya.


"Bos, kerja sama dengan pihak lain tidak ada masalah. Tapi bisnis perusahaan Matsuyama sepertinya memiliki beberapa kendala. Jika pihak lain tidak memperbaiki masalah di perusahaannya, kita juga akan terpengaruh," jelas Sekretaris Eli dengan nada datar dan profesional.


Halbert menaikkan sebelah alisnya. Nola duduk di sampingnya dengan tenang. "Matsuyama?"


Dia dan Nola bertemu dengan mereka malam sebelumnya. Lalu kini perusahaan mereka memiliki masalah?


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Sepertinya perusahaan induk mereka di Negara J diserang oleh pebisnis lainnya. Sehingga mereka sibuk di sana dan hampir tak bisa mengelola pekerjaan yang ada di negara ini."


Halbert mencibir. "Beri tahu mereka. Jika belum bisa mengelola perusahaannya dengan baik, jangan memikirkan kerja sama lebih lanjut dengan perusahaan Jefford. Aku tidak pernah menyimpan benalu."


Kata-kata Halbert agak menyakitkan tapi Sekretaris Eli tahu jika bosnya berkata yang sesungguhnya. Ia mengangguk dan pergi lagi untuk mengurus kesibukannya.


Setelah itu giliran Asisten Jae yang melapor. Ia menyerahkan sepucuk surat pada Halbert dan menaruh beberapa dokumen di atas meja.


"Bos, itu surat dari rumah. Orang rumah baru saja mengantarkannya tadi," ucapnya.


"Surat?" Nola melihat dengan mata abu-abunya, jika apa yang dipegang Halbert memiliki aroma kertas yang biasanya digunakan untuk mengirim surat menyurat.


"Ya." Asisten Jae mengangguk ringan.


Halbert membuka amplop surat dengan tenang dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dengan hati-hati. Ketika isinya dibaca dalam diam, ia mengerutkan kening.


"Ada apa?" Nola merasakan jika Halbert terdiam saat ini. Tidak tahu apakah itu buruk atau bukan.


Halbert melipat kembali surat tersebut. Ada rasa dingin di matanya yang bisa menelan apa saja. Bahkan Asisten Jae sedikit kedinginan saat ini.


"Butler Flir kembali ke kampung halamannya hari ini. Apakah istriku percaya ini?" tanyanya datar.


"Kembali ke kampung halamannya? Apakah butler Flir masih memiliki keluarga?" tanya Nola sedikit terkejut.


Menurut pandangan Nola, Butler Flir tidak memiliki keluarga. Dia telah setia pada keluarga Jefford sejak dulu dan pengabdiannya dipuji oleh Kakek Jefford.


Halbert tidak tahu banyak tentang Butler Flir selama ini. "Dia jarang pulang ke kampung halamannya selama ini. Ini pertama kalinya dia pergi."