
Halbert dan Matsuyama Kei baru saja mendiskusikan sesuatu. Tapi tampaknya tidak berjalan dengan baik. Matsuyama Kei lebih tua dari Halbert. Tapi entah kenapa, semenjak mengobrol dengan Halbert, Matsuyama Kei mengalami perasaan takut yang besar untuk pertama kalinya.
Awalnya Matsuyama Kei berniat untuk mencocokkan putrinya dengan Halbert. Tidak apa-apa jika dibesarkan sebagai seorang istri simpanan di luar. Istrinya yang ada di rumah tidak akan tahu kan?
Matsuyama Kei ingin menjual putrinya demi kekuasaan dan kekayaan di masa depan. Jika Miyumi tahu, mungkin akan sangat marah. Matsuyama Kei melihat putrinya seperti linglung di tempat, mau tidak mau mengerutkan kening.
“Putriku, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya lembut. “Kamu mengobrol dengan baik dengan Nyonya Jefford kan?” imbuhnya lagi.
Miyumi yang masih linglung karena semua rahasianya hampir diketahui oleh Nola, mau tidak mau menggelengkan kepala. Ia memaksakan senyum. Tidak mungkin untuk menuduh Nola saat ini, bagaimana jika gadis itu langsung membongkar semuanya di hadapan Matsuyama Kei dan Halbert? Ini tak bisa dibiarkan.
Walaupun hatinya tidak mau, ia masih harus mengucapkan kata-kata yang bisa membuat ayahnya yakin. “Jangan khawatir, Ayah. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya tidak enak badan. Kami berdua bicara dengan baik.”
Matsuyama Kei sedikit enggan. Tidak tahu kenapa putrinya tiba-tiba bicara dengan baik untuk gadis itu. Bukankah berencana untuk menekan pihak lain untuk sadar akan posisi Nyonya Jefford sesungguhnya? Bagaimana situasinya sekarang.
Miyumi tahu ayahnya meminta dia untuk melakukan sesuatu. Tapi ia tak bisa melakukannya saat ini. Nola tahu tentang rahasia besar yang telah dia sembunyikan sejak lama. Dia tidak bodoh untuk menggali lubang dan menjebak dirinya sendiri.
Melihat ayah dan anak itu terdiam, Nola tersenyum lembut dan berjalan ke arah Halbert. “Kami baru saja mengobrol tentang pengalaman Nona Miyumi saat bekerja sama dengan Halbert. Dan kami berbagi nasihat,” ujarnya.
Halbert melihat gadis itu tersenyum. Kemudian melirik Miyumi yang berwajah Negara J terlihat tidak enak dipandang. Sepertinya Nola telah membuat pihak lain kehilangan kata-kata untuk membingkainya.
Setelah Nola mencari alasan, di mana Miyumi bisa membantahnya. Ia dengan cepat mengangguk dan meyakinkan ayahnya. Walaupun Matsuyama Kei tidak puas dengan putrinya saat ini, ia juga tak bisa membuat Halbert marah.
Kerja sama yang dia ajukan masih digantung oleh pihak Halbert. Setidaknya ia masih memiliki waktu untuk membuat rencana lainnya.
Matsuyama Kei tak bisa menahan Halbert dan hanya mengangguk ringan dengan senyum lembut. Halbert dan Nola baru saja melangkah untuk meninggalkan mereka, tiba-tiba saja Miyumi berteriak karena terkejut.
Seorang pelayan yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas di belakangnya. Pelayan wanita itu tak sengaja terpeleset dan terhuyung ke samping, tempat di mana Miyumi berada. Nampan berisi dua cangkir kopi panas itu langsung tumpah punggungnya.
Miyumi berteriak karena rasa panas yang langsung tembus ke kimono nya. Wajahnya menjadi lebih pucat. Matsuyama Kei jelas terkejut saat melihat putrinya tak sengaja ditabrak oleh seorang pelayan wanita berambut pirang.
“Apakah kamu tidak hati-hati saat bekerja? Berani menumpahkan kopi panas pada putriku?!” teriak Matsuyama Kei pada pelayan wanita yang berusaha bangkit setelah jatuh.
Pelayan wanita itu berulang kali meminta maaf seraya setengah membungkuk. Ia juga merasa bersalah tapi tidak tahu kenapa, kakinya tampak menginjak sesuatu yang licin hingga kehilangan keseimbangan. Matsuyama Kei jelas tidak akan membiarkan pelayan wanita itu lolos begitu saja dan segera memanggil manajer yang bertanggung jawab di tempat tersebut.
Sementara itu, Nola dan Halbert sama sekali tidak peduli dengan mereka dan pergi. Sedangkan Miyumi yang merasa punggungnya panas berniat untuk pergi dan mengganti pakaiannya. Punggungnya pasti terluka saat ini. Namun baru saja melangkah, ia terpeleset oleh air kopi yang berceceran di lantai.
Kali ini giliran Miyumi yang terpeleset. Matsuyama Kei berniat untuk menahan tubuh putrinya. Tapi ia juga ikut terjatuh. Belum lagi, tangan Miyumi tergores pecahan cangkir kopi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Miyumi tidak bisa membayangkan jika malam ini dirinya akan begitu sial.
Semua mata yang ada di sana langsung menatap kebisingan itu. Matsuyama Kei dan Miyumi merasa malu di depan umum untuk pertama kalinya. Miyumi tidak percaya dengan nasib sial yang disebabkan oleh seseorang. Tapi … bisakah Nola mengutuknya ditimpa kesialan saat ini?
“Apakah orang-orang Negara A ini juga percaya dengan takhayul?” gumamnya.
Miyumi menahan rasa sakitnya. Dia tak memedulikan ayahnya yang berteriak dan sesekali mengucapkan beberapa patah kata yang kasar saat pelayan lain datang untuk membantunya berdiri. Ia segera mengirim putrinya ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka-lukanya.