
Nola tampak tidak puas dengan jawabannya yang asal-asalan. “Alasan apa yang kamu katakan?” Dia tidak senang.
Halbert memakai kacamata beningnya dan memeriksa isi dokumen. Ekspresinya masih tidak berubah. “Aku tidak bercanda, keduanya mungkin terlibat dalam urusan ranjang.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Asisten Jae memposting sesuatu di lingkaran pertemanan tentang hubungan dengan Sekretaris Eli. Lalu ..." Halbert menjelaskan secara singkat tentang masalah tersebut.
Tidak heran jika Sekretaris Eli agak tidak bahagia saat ini. Terutama saat melihat Asisten Jae. Ternyata ada cerita di selama hubungan mereka. Ternyata cukup cepat.
Sementara itu di sisi lain. Setelah Sekretaris Eli pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tiba-tiba saja Asisten Jae sudah menunggu. Sektretaris Eli tidak mengatakan apa-apa soal kejadian sebelumnya.
"Eli, apakah kamu kamu masih marah??" tanyanya.
"Bagaimana menurutmu? Kamu memposting sesuatu tanpan izinku, bukankah itu keterlaluan," dengkusnya.
Asisten Jae terkejut. Dia tidak mengira jika Sekretaris Eli akan peduli dengan masalah postingan yang dibuatnya. Dia agak canggung.
"Kupikir kamu akan mempermasalahkan tentang apa yang terjadi semalam," katanya.
Sekretaris Eli menuangkan segelas air untuk diminum. "Apa yang salah semalam. Bukankah itu hanya tidur?"
Mendengar apa yang dikatakannya, Asisten Jae sedikit kesal. Kali ini dia yang marah dalam hatinya. Hanya pergi tidur? Semuanya seperti masalah sepele?
Sekretaris Eli belum menyadari jika dirinya baru saja memprovokasi harimau di gunung. Asisten Jae langsung menatapnya dan menyipitkan mata. Selangkah demi selangkah, biarkan Sekretaris Eli terpojok.
Ketika Sekretaris Eli tidak bisa mundur lagi, Asisten Jae sudah berdiri sangat dekat dengannya sehingga ingin mendorongnya menjauh sedikit.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Bicaralah tentang sesuatu, jangan berpura-pura menjadi orang yang baik." Sekretaris Eli sedikit malu. Seberapa kuatnya dia, tetaplah seorang wanita.
Asisten Jae terkekeh. Dia tidak menunggu Sekretaris Eli untuk mendorongnya lagi dan segera mencium bibirnya. Wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukannya tapi tidak berdaya. Asisten Jae bukan pria yang lemah sejak awal. Jika tidak, dia tidak akan dipercayakan untuk mengurus urusan Halbert yang tersisa.
Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Asisten Jae tidak tahan untuk melepaskannya. Adapun Sekretaris Eli, dia tidak peduli saat ini. Setalah dicium paksa oleh pria itu, wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya agak tidak percaya.
"Bisakah kita memulainya sebagai psnagan kekasih?"
"Apakah kamu gila?" Sekretaris Eli menelitinya.
Lalu keduanya terdiam. Barulah setelah beberapa saat, Sekretaris Eli menghela napas tidak berdaya.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya lebih dulu."
"Tidak masalah." Asisten Jae menghela napas. Lu dia pergi untuk menyelesaikan urusannya. Sementara Sekretaris Eli kembali ke posisi semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor Halbert, jelas Nola menunggu kedatangan Miyumi Kei. Halbert berkata jika dia mungkin akan datang siang nanti. Kali ini Nola melihat sekeliling kantor Halbert untuk memastikan tidak ada benda-benda aneh disimpan. Akhirnya dia lega. Tampaknya obatnya memang ditunjukkan langsung untuk Halbert.
Kedatangan Nola ke perusahaan menjadi perbincangan hangat semua karyawan. Bahkan sampai siang hari sekalipun. Pada saat yang sama, Miyumi Kei datang dengan pakaian elegannya. Dia baru saja melapor ke meja depan untuk bertemu Halbert. Siapa tahu akan ada cerita tentang gadis buta itu.
Memikirkan sebelumnya saat bertemu Nola, Miyumi Kei agak enggan. Gadis itu seperti membawa beberapa jenis kesialan untuk dibagikan ke semua orang.
Tapi Miyumi Kei harus tetap naik untuk melihat Halbert dan mematikannya datang ke pelukannya sedikit demi sedikit. Hanya saja jika Nola ada di sini, urusannya agak merepotkan. Ia berharap jika Nola tidak menemukan kejanggalan pada dirinya nanti.
Miyumi Kei naik ke lantai atas di mana Halbert berada. Kebetulan saat itu Halbert tidak meninggalkan ruangan dan sibuk memeriksa beberapa dokumen.
Dengan memberanikan diri, Miyumi Kei akhirnya mengetuk pintu kantornya. Terdengar suara Halbert dari dalam.
"Masuk!"
Miyumi Kei membuka pintu dan tersenyum saat melihat Halbert. Lalu dia juga melihat Nola yang tengah membolak-balik majalah yang tersedia di kantor Halbert.
"Nona Kei, sebuah kunjungan langka," kata Nola dengan senyum tapi bukan senyum.
Miyumi Kei memiliki kesombongan seperti biasanya dan lebih percaya diri. "Aku datang untuk menjalin kerja sama dengan Halbert. Tentu saja datang. Aku harap itu tidak mengganggu mu," jelasnya.
Nola masih tersenyum baik-baik saja saat ini. "Tidak masalah."
Halbert tidak berkata banyak dsn membiarkan Miyumi Kei menjelaskan poin kerja sama yang diinginkan. Meski keluarga Kei telah pindah ke negara J sebelumnya, tampaknya keluarga Kei masih belum puas untuk mengembangkan bisnisnya semakin jauh lagi.
Saat menjelaskan, Miyumi Kei diam-diam meremas tangannya sendiri beberapa kali sebelum akhirnya kembali normal. Hal ini tidak lepas dari pandangan Nola. Gadis itu menyipitkan mata. Aura di tubuh Miyumi Kei ternyata memang sudah dimanipulasi oleh sesuatu tak terlihat.
Sepertinya Miyumi Kei juga memiliki suatu perjalanan supernatural sebelumnya.