Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Kematian Juliana (1)


Ketua Geng Kalajengking Hitam menggelengkan kepala. Dulu ia bisa memerintahkan orang untuk mengambil informasi pribadi atau melakukan tindakan ilegal. Tapi kali ini tidak bisa. Negara A mungkin cukup bebas tapi hukumannya tidak ringan. Ia harus berhati-hati di setiap tindakannya.


Kematian Sin cukup membuatnya waspada dengan dunia luar saat ini. geng Kalajengking Hitam yang dia dirikan sebelumnya tidak terlalu kuat. Tapi semenjak kedatangan bos misterius itu, ia semakin yakin dan percaya diri. Bahkan berhasil membunuh orang tua Halbert.


Sayangnya, ia tidak memiliki nyali untuk menghadapi Halbert secara langsung. Siapa yang tahu bahwa di dunia ini ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan nalar. Segala hal ajaib di dunia ini bisa dicoba dan dirasakan.


“Raja kalajengking hitam mati dan kini Sin juga mati. Lain kali tidak tahu apa lagi yang akan menunggu kita.” Ketua geng Kalajengking Hitam menyipitkan mata. “Kirim pada bos besar tentang ini, lalu cari tahu apa yang terjadi,” katanya.


Bawahannya yang lain mengangguk lalu segera meninggalkan tempat tersebut tanpa ragu.


Ketua Geng Kalajengking Hitam mengambil gelas lain dan menuangkan anggur ke dalamnya. “Kali ini, aku tidak tahu apakah bos besar akan marah atau tidak. Meski Sin bukan anggota penting tapi dia adalah pengendali kalajengking hitam supernatural yang lebih baik dari yang lain ….”


Sin bisa dianggap sebagai senjata yang cocok untuk mengintai Halbert. Dengan kematiannya saja sudah dipastikan seperti raja yang kehilangan satu penjaga kecil di depannya.


Anggota yang lainnya tidak berani bicara dan hanya saling menatap satu sama lain. Sin mati, tentu saja mereka berharap untuk tidak menjadi yang berikutnya. Kekuatan Sin, mereka tahu. Tapi masih mati di tangan musuh, bukankah berarti pihak lain lebih unggul?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Juliana berada di apartemen, menunggu kedatangan Sin dengan perasaan cemas. Ia diminta untuk menunggu dan tidak bisa pergi sebelum ada perintah. Tapi sampai tengah malam, Sin masih belum datang. Juliana merasa tidak nyaman untuk sementara waktu lalu berubah kesal.


“Ke mana pria itu, bukankah dia bilang akan segera menghubungiku?”


Juliana tidak sabar untuk melihat Nola dan Halbert mati. Tapi sampai sekarang, Sin tidak ad kabar sama sekali. Bahkan handphone nya tidak bisa dihubungi.


Namun tak berselang lama kemudian, sebuah panggilan masuk. Juliana melihat jika itu adalah panggilan dari Sin. Ia segera menenangkan hatinya dan menerima panggilan telepon.


"Sin, bagaimana kabarnya? Apakah semuanya sudah selesai?" tanyanya agak terburu-buru.


Di seberang telepon, suara Sin terdengar. "Datanglah ke tepi hutan sekarang. Aku akan kirim lokasinya. Ingatlah untuk berhati-hati saat pergi," jawabnya.


Juliana mengerutkan kening. Di tengah malam seperti ini, tidak tahu apa yang dilakukan Sin di hutan? Membuang mayat keduanya?


Walaupun penuh dengan keraguan dan tanda tanya, Juliana segera mengiyakan permintaannya dan pergi tanpa berpikir dua kali.


......................


Frangky merasa jika pekerjaan nya akan segera selesai sebelum pagi.


"Apakah dia tidak curiga?" tanya Frangky merasa ini terlalu mudah.


"Tidak." Anak buah yang tadi menelpon Juliana menggelengkan kepala. "Sepertinya dia telah menunggu sejak lama."


Frangky mencibir. "Benar-benar seorang wanita," gumamnya.


Mayat Sin sudah merasa urus sejak lama. Kali ini Halbert memintanya untuk mengatasi Juliana sekalian. Ia tidak suka menunda waktu, jadi kerjakan saja malam ini. Siapa tahu Julian bahkan lebih cemas ketimbang dirinya sendiri.


"Kalau begitu bersiap. Pastikan jika kecelakaan Juliana malam ini terlihat alami dan tidak dicurigai polisi."


"Ya, jangan khawatir tentang ini." Anak buah Frangky mengangguk santai kemudian pergi dengan mobil hitam mahal.


Sementara itu, Juliana yang berada di perjalanan menuju hutan yang ditentukan Sin tidak tahu jika hidupnya dalam bahaya. Ia menyetir dengan santai, sesekali akan melihat satu atau dua kendaraan yang lewat.


Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Apakah dia salah menebak hati ini?


Ketika Juliana hendak mengambil tikungan menuju hutan yang ditentukan Sin, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam muncul dari awah berlawanan. Kecepatan mobil di depannya cukup ekstrem hingga membuat Juliana harus banting stir.


"Apa-apaan ini?!!" pekiknya kesal.


Juliana tak bisa mengontrol mobilnya saat ini. Mereka telah menyiapkan banyak jebakan. Tapi siapa yang tahu bahwa dalam satu kali tabrakan saja, Juliana langsung banting stir begitu saja. Belum lagi di kiri dan kanan hanyalah rumput tinggi dan ilalang. Jarang ada kendaraan lewat.


Ketika Juliana banting stir, mobilnya langsung tak terkendali, mengambil jalur yang salah dan menabrak pohon.


"Ahhh!!"


Tabrakan itu cukup keras. Bodi depan mobil juga rusak agak parah hingga Juliana sendiri kesakitan hampir pingsan. Tapi bukan ini masalahnya. Juliana mendengar beberapa langkah mendekat. Ia pikir bisa meminta bantuan, namun siapa tahu, pihak lain justru menyalakan api.


Juliana yang melihat api tiba-tiba muncul di di mobilnya, seketika langsung pucat.


"Tolong! Tolong aku!" teriaknya.