Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Sembilan Bulan


Halbert tidak ingin melakukan kesalahan serupa di masa depan. Merasa bahwa hari mulai malam, Halbert memutuskan untuk makan malam di rumah sakit.


"Apa yang ingin kamu makan malam ini?" tanyanya.


"Makan saja bubur ayam. Tambah sambal yang banyak." Nola masih suka makanan pedas akhir-akhir ini. "Jangan lupa acar mentimun."


Halbert terkekeh. Ini benar-benar kebiassan istrinya. Halbert menelepon Butler Cello untuk membuatkan bubur ayam dan membawa mentimun ke runah sakit.


Tentu saja jika Butler Cello tahu di mana mereka berada, Kakek Jefford juga pasti akan mengetahuinya.


Butuh satu jam lebih bagi Butler Cello untuk memasak bubur hingga menyiapkan segalanya. Dan kemudian tiba di rumah sakit.


Nola sudah makan buah lebih dulu untuk mengisi perutnya yang mulai lapar.


"Nyonya Muda, apakah baik-baik saja? Bagaimana kata dokter?" tanya Butler Cello. Ini jelas mewakili pertanyaan Kakek Jefford.


"Tidak apa-apa? Aku baik-baik saja. Besok juga pulang."


"Ini makan malamnya. Ada susu yang sudah disiapkan di termos."


"Terim kasih, Butler." Halbert mengambil alih semuanya.


Setelah Butler Cello menyerahkan semuanya, dia pulang ketika dirasa urusannya selesai.


Halbert membuka kotak makan kedap udara. Bubur ayam di dalamnya masih panas. Ada sambal terpisah di dalamnya. Makan bubur dengan acar mentimun mungkin aneh bagi Halbert. Tapi Nola menyukainya


Kesukaan ibu hamil memang berbeda. Belum lagi indera perasa Nola sedikit bermasalah sejak hari itu. Segala jenis rasa, takarannya harus dikurangi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat usia kandungan Nola menginjak sembilan bulan, Halbert memutuskan untuk membiarkan gadis itu menginap di rumah sakit. Setidaknya sampai bayi itu lahir.


Halbert tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan Nola. Belum lagi Halbert masih bertarung dalam kegelapan dengan Geng Kalajengking Hitam. Ia sering pulang tengah malam atau dini hari. Bahkan tubuhnya berbau darah.


Jika Nola tahu, pikirannya pasti akan berantakan. Akan lebih baik bagi gadis itu untuk tinggal di rumah sakit.


Halbert menyewa bangsal single VIP. Fasilitasnya lengkap dan perawat akan selalu datang untuk mengecek atau mengobrol dengannya.


Nola akhir merasakan bahwa kehamilan ini sulit. Semakin besar perutnya, dia merasa dadanya sedikit sesak.


Sekretaris Eli datang berkunjung tapi tidak bersama anaknya.


"Nyonya Muda, bagaimana keadaanmu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya.


"Hai, Sekretaris Eli. Kenapa tidak membawa Jiyan?" Nola melihatnya datang sambil membawa sekeranjang buah-buahan.


Sekretaris Eli memutar bola matanya saat memikirkan anak itu. "Dia bersama ayahnya saat ini."


Jika anak itu dibawa, bukankah akan merengek minta digendong Nola? Gadis itu sedang hamil besar saat ini.


Tentu saja Asisten Jae bukan seorang ayah yang bisa mengurus anak. Sudah berulang kali mencoba, tapi anak itu sering membencinya. Tidak tahu apa salahnya dia di masa lalu, tampaknya Jiyan merasa ayahnya tidak kompeten.


"Apakah kamu takut?" Sekretaris Eli duduk di kursi yang ada di samping ranjang Nola.


"Tentu saja. Aku selalu gugup dan takut jika nanti anak ini akan lahir. Aku bahkan tidak tahu apakah ini laki-laki atau perempuan," jawabnya.


Sekretaris Eli menghela napas panjang. Dia menyentuh perut Nola. Ada tendangan di dalam perutnya.


"Anak ini menendang. Tampaknya tidak lama lagi akan melahirkan." Sekretaris Eli menggodanya. "Jika cuaca di luar tidak dingin, kita bisa jalan-jalan di halaman. Sayangnya ini musim dingin," imbuhnya.


Nola akan melahirkan di musim dingin. Sedikit tidak terduga. Cuaca di luar sangat dingin. Sekretaris Eli saja memakai baju berlapis-lapis.


Untuk menghilangkan kebosanan mereka berdua, Sekretaris Eli menghidupkan televisi.


"Apakah kamu tidak sibuk?" Nola khawatir mengganggu aktivitasnya.


"Apa yang sibuk? Tidak sama sekali. Aku sudah kembali bekerja di perusahaan. Ada sekretaris pria di perusahaan yang menggantikan ku hari ini, jangan khawatir. Bos khawatir kamu bosan, jadi memintaku datang."


"Seandainya kamu membawa Jiyan, aku tidak akan bosan," candanya.


Sekretaris Eli tertawa ringan. "Jangan, anak itu manja meski masih bayi sekarang."


Keduanya menonton televisi, melihat berita apa yang sedang panas akhir-akhir ini. Nola terkejut karena berita juga mengangkat tentang penangkapan para wanita malam dia sebuah bar.


"Bar menjual obat-obatan terlarang? Kenapa aku merasa seseorang familiar di sana?" Nola menyipitkan mata.


Sekretaris Eli mengangguk. "Obat-obat terlarang diselundupkan dari negara lain. Masih jenis obat-obatan berbahaya. Kamu memang tidak salah. Ada Chelsea yang ditangkap bersama para wanita lainnya karena mengonsumsi obat tersebut."


"Chelsea? Ternyata itu dia? Bukankah dia dipenjara sebelumnya?"


"Ya, tapi Clive Neilson menebusnya hingga dia keluar penjara. Aku dengar dari bos jika hubungan kakak-adik mereka berakhir sejak saat itu. Ada yang lebih parah lagi."


"Apa itu?"


"Keduanya masih memiliki hubungan di atas tempat tidur hingga Chelsea hamil. Jelas Clive tidak akan bertanggung jawab. Dia tidak percaya jika anak itu miliknya."


"Meski mereka beda ayah tapi masih memiliki ibu yang sama. Bukankah tidak bisa menikah?" Nola bahkan lebih terkejut daripada menonton berita itu.


"Ya, memang. Ini saudara tiri tapi memiliki darah ibu yang sama." Sekretaris Eli mengangguk.


Kenapa Clive dan Chelsea begitu berani melakukannya?


Keduanya adalah kakak-adik yang saling membantu di masa lalu. Bahkan jika Nola tahu Clive suka melecehkannya, ia tidak berpikir jika laki-laki itu menyentuh adiknya sendiri.


"Kenapa Chelsea berakhir di tempat itu? Apakah karena ayah kandungnya?"


"Tidak, kali ini karena Clive memintanya untuk pergi ke bar itu dan menguji obat. Mungkin tahu Chelsea mengancamnya dengan anak di perut, Clive menyesal mengeluarkannya dari penjara."


Karena obat-obatan terlarang ini saja sudah cukup bagi Chelsea mendekam di penjara dan menikmati sisa masa mudanya di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Organisasi Supernatural Dunia masih dalam pengawasan ketat orang-orang dari dunia supernatural. Sudah cukup lama tapi Mo Shige hampir tidak sabar lagi. Dia ingin tahu siapa yang membuatnya menjadi terkurung seperti ini.


"Kamu bilang Leon sudah mati! Lalu apa yang terjadi sekarang? Dia masih hidup!" Mo Shige memandang urusan yang sebelumnya disuruh untuk menyelesaikan misi.


Leon harus mati karena gagal menjalankan misi. Mo Shige selalu khawatir orang itu akan berkhianat dari organisasi. Lebih baik menutup mulutnya lebih dulu agar tidak ada yang terjadi di masa mendatang.


Tapi dia mendapatkan kabar jika Leon masih hidup.


Dua utusan yang ditugaskan sebelumnya kini menunduk takut. "Ampun, Tuanku! Ini semua kelalaian kami."


"Huh! Sampah! Bukankah kamu memastikan jika dia mati sebelumnya?"


Kedua utusan itu saling melirik dan mengatakan yang sebenarnya. Karena lampu jiwa Leon sudah pecah, mereka yakin pasti sudah mati. Tapi tak ada yang tahu lebih baik daripada Mo Shige.


Lampu jiwa yang hancur bukan berarti orangnya juga mati!


Leon masih hidup. Mo Shige khawatir urusan Organisasi Supernatural Dunia sudah dibocorkan olehnya.


Siapa yang membantu pria itu? Apakah ini masih orang sama yang melaporkannya ke dunia supernatural?