Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Menemukan Jejak Lainnya


Nola merasa semua pasang mata mengarah kepadanya. Ia sangat bingung. Apa yang salah dengan kata-katanya? Ia tidak berbohong tentang ini.


Mungkin karena dia buta, indera penciuman dan kemampuan merasakan gerakan di sekitar menjadi lebih sensitif. Dia bahkan tahu barang apa saja yang ada di depannya, walaupun kurang yakin dengan warnanya.


Ia juga menatap macan tutul di atas dan ingat jika warna macan tutul itu juga cantik.


"Lupakan saja, ayo lanjutkan perjalanan. Lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini," kata Elvada yang tidak berniat untuk membuat masalah dengan macam tutul.


Anak buah Butler Flir yang tewas di sini jelas memiliki tubuh tidak utuh lagi. Tapi anehnya tidak membusuk. Karena macan tutul sedang kenyang dan tidak berniat menatap mereka, lalu kenapa harus mengirim diri sendiri ke mulut macan tutul?


Mereka semua segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa sadar, macan tutul yang bersantai di dahan pohon langsung bangkit. Lalu melompat dan mendarat tak jauh di depan mereka.


Jaley Scott bersiap dengan busur dan anak panahnya jika macan tutul itu berniat menyerang.


Tapi kenyataannya macan tutul supernatural tidak berniat untuk menyerang mereka, tapi malang bersuara lucu layaknya seekor kucing.


Orange yang melihat kucing besar itu mau tidak mau mengeong juga. Kemudian berlari menghampirinya. Nola merasakan Orange menghilang di sisinya mau tidak mau khawatir.


"Orange! Kembali!" teriaknya. Tanpa sadar Nola juga berlari mengejarnya.


Halbert yang hampir lengah berhasil menangkap lengannya, menariknya kembali ke belakang.


"Jangan gegabah. Kucing itu akan baik-baik saja."


Naluri seekor kucing tidak akan salah. Belum lagi keduanya sama-sama keluarga kucing. Mungkin kucing jingga itu merasakan sesuatu dari macan tutul yang terus bersuara hingga berlari menghampirinya.


Tentu saja dugaan itu memenuhi harapan Halbert. Orange bukan hanya tidak diserang oleh macan tutul, tapi justru kucing besar itu menjilat tubuhnya seperti membelai anaknya sendiri.


"Ini ... Apa yang terjadi?" Takahiro Ren belum pernah melihat kejadian seperti itu sebelumnya.


Jaley Scott seperti sedang menebak sesuatu. Tapi tidak menemukan jawaban yang pas. Pada akhirnya dia hanya diam saja. Macan tutul dan Orange seperti saling bersahutan selama beberapa waktu. Tak lama setelah itu, macan tutul beranjak pergi ke arah lain.


Orange berlari menghampiri Nola dan menyundul betis belakang gadis itu, memintanya untuk berjalan. Nola yang masih bingung dengan semua itu membuat Orange tidak sabar. Dia berlari ke depan dan menatap Nola, seolah-olah memintanya untuk pergi.


“Ikuti kucing itu. Dia ingin kamu mengikutinya,” kata Elvada.


Orange mendengar apa yang dikatakan Elvada dan berputar satu kali, menunjukkan rasa setuju. Sedangkan macan tutul yang berjalan lebih dulu sempat berhenti dan mengeong kecil pada mereka.


Apakah manusia berpikir terlalu lambat bahkan tak bisa mengerti bahasa tubuh kucing? Batinnya merasa jijik.


Sepertinya Halbert serta yang lain bisa memahami arti tatapan kucing besar itu, mau tidak mau merasa rumit di hatinya. Tentu saja kecuali Nola yang tidak bisa melihat ekspresinya.


Nola yang didesak kucing peliharaannya itu pun akhirnya mengikutinya. Tidak terlalu cepat atau terburu-buru. Intinya Halbert tidak mengizinkan Nola terlalu dekat dengan macan tutul meski berulang kali gadis itu menginginkannya.


Bukankah itu hanya macan tutul? Pria itu bahkan bisa membeli satu untuk dimainkan di rumah. Mengurus surat-surat untuk binatang yang dilindungi tentu tidak sulit baginya. Semakin jauh berjalan, mereka sepertinya mulai menyadari jika rerumputan semakin banyak dan tinggi.


Elvada menggelengkan kepala. Merasa lucu dengan tebakan pria asal negara J itu. “Imajinasimu terlalu kaya. Tidak heran negaramu terkenal dengan anime-nya.”


“Aku hanya berpikir untuk melarikan diri atau membunuh mereka jika itu terjadi,” ucap Takahiro Ren sedikit malu.


“Yakinlah jika macan tutul itu tidak akan memakan kita. Dia mungkin ingin menunjukkan sesuatu pada kita.”


Apa yang dikatakan Elvada memang benar. Macan tutul itu membawa mereka berlima ke sebuah batu yang besar. Bisa dikatakan sebagai bukit batu, penuh dengan sulur-sulur hijau dan juga rerumputan yang selalu tumbuh subur di musim penghujan.


Sekilas tidak ada yang spesial dengan bukit batu itu. Tapi ternyata ada sulur-sulur hijau yang menutupi mulut gua yang lumayan besar. Macau tutul itu memasuki gua dengan santai. Diikuti Orange. Sisanya juga tanpa sadar mengikutinya.


Karena di dalam gua sangat gelap, Takahiro Ren mengeluarkan senter dari dalam tas. Gua itu tidak dalam dan hanya sedalam beberapa meter saja. Tapi ternyata ada tiga kehidupan lain di dalam gua tersebut.


Macan tutul supernatural itu menghampiri kedua anaknya yang mungkin baru berusia tiga bulan. Induk macan tutul rebahan santai di dekat anaknya dan menyapa macan tutul jantan yang baru saja kembali.


Kedua anak macan tutul itu kembar dan tampak sangat menggemaskan. Belum lagi corak di tubuh mereka bukan hitam bulat, tapi sedikit menyerupai bentuk hati, walaupun tidak terlalu jelas.


Induk macan tutul menatap Nola serta keempat lainnya. Dia tidak bereaksi banyak.


“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Nola pada macan tutul jantan.


Orange menghampiri kedua anak macan tutul itu dan mulai menyapa satu sama lain. Walaupun baru berumur tiga bulan, anak macan tutul supernatural memiliki kecerdasannya sendiri. Ini bukan binatang buas biasa.


Induk macan tutul supernatural mendorong kedua anaknya untuk pergi ke arah Nola.


Karena mereka semua tidak mengerti apa maksudnya, Halbert meminta Raja kalajengking Hitam supernatural untuk menerjemahkan apa yang dikatakannya.


“Induk macan bilang, tolong bawa kedua anakku keluar dari tempat ini dan jangan sampai ditemukan orang-orang itu.” Raja Kalajengking Hitam supernatural secara alami mengatakan kembali apa yang dibilang kucing besar itu.


“Lalu ayah macan itu bilang jika keduanya tidak bisa lagi menjaga anak itu dan mungkin ini terakhir kalinya,” imbuhnya.


“Orang-orang itu? Siapa yang dimaksud? Tidak mungkin butler Flir, kan?” Jaley Scott mengerutkan kening.


Kemudian macan tutul jantan menghampiri sebuah batu tak jauh di sampingnya dan tampak menyentuh batu tersebut seperti mencoba menyingkirkannya.


Elvada menyadari ada sesuatu di balik batu itu. “Aku akan mencoba menyingkirkan batunya.”


Karena batu itu tidak terlalu besar, Elvada dengan mudah memindahkannya meski sedikit enggan dekat dengan macan tutul. Elvada terkejut karena di balik batu tersebut ada sesuatu yang tampak asing di matanya.


Terukir dua angka di permukaan tanah bebatuan yang sepertinya dibuat datar dengan sengaja. Dua angka itu seperti mewakili nomor urut tertentu.


“Datanglah dan lihat. Aku tidak mengerti hal seperti ini sama sekali.” Elvada menoleh dan menatap mereka.


Dia tidak lahir dan tumbuh di generasi yang sama dengan Halbert, Nola dan Takahiro Ren. Jadi dia tidak mengerti maksud dari dua angka itu.