Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Permusuhan Ayah & Anak


Berbeda dengan Kakek Jefford dan Solachen, keduanya segera mengambil alih bayi itu tanpa ragu. Bahkan rebutan. Solachen adalah kakek bayi itu, jadi yang pertama menggendongnya. Kakek Jefford harus mengalah.


Halbert tidak peduli. Dia melihat Nola sudah didorong ke ruang rawat VIP saat ini. Dia cemas. Gadis itu tampak pucat.


"Ayah, apakah Nola baik-baik saja?" tanyanya.


Solachen menyentuh denyut nadi di pergelangan tangan kiri gadis itu. "Jangan khawatir, dia hanya kehabisan energi saat melahirkan. Tubuhnya akan pulih seiring perawatan. Anak ini benar-benar rakus terhadap aura ibunya."


Dia tersenyum saat melihat wajah cucunya yang masih bayi merah. Bayi itu tidak lagi menangis saat ini, tapi tidur dengan tenang.


Kakek Jefford cemburu. "Kamu sudah cukup menggendongnya. Berikan padaku!"


"Hati-hati, jangan meremasnya." Solachen memberikan bayi itu padanya.


Halbert sama sekali tidak peduli. Dia duduk di depan ranjang Nola dan menunggunya siuman. Dia menahan rasa lelah dan kantuknya. Lagi pula ini sudah dini hari.


"Halbert, datanglah dan gendong anakmu. Jangan bilang kamu tidak menyukainya." Kakek Jefford menatapnya tidak suka.


"Ini bukan bayi perempuan ku," kata Halbert kesal.


Tanpa diduga, bayi laki-laki itu tiba-tiba saja menangis, seolah protes. Halbert semakin kesal dan wajahnya dingin. Dia memandang bayi itu mulai menangis kencang. Telinga nya mulai sakit.


Kakek Jefford ingin menggampar kepala cucunya saat ini. Ini cicitnya yang berharga. Laki-laki atau perempuan sama saja di matanya.


"Jangan memasang ekspresi jelek! Cepat gendong bayinya. Kamu bahkan lebih menyusahkan ibumu ketika lahir! Jika Nola melihatmu tidak suka seperti itu, kerja kerasnya sia-sia!"


Kakek Jefford tak tanggung-tanggung menusuk hati cucunya lebih dulu sebelum menerima kenyataan. Akan ada anak perempuan di masa depan. Kenapa harus datang sekarang?


Betapa miripnya anak ini dengan Halbert saat masih bayi. Kakek Jefford tentu saja merasa nostalgia.


"Anak ini mirip denganmu, Nak." Kakek Jefford memiliki tatapan lembut di matanya ketika memperhatikan bayi di gendongan nya.


Halbert terdiam. Tapi pada akhirnya dia mencoba menggendong anak itu dengan hati-hati agar tidak menyakitinya. Melihatnya menangis semakin kencang, Halbert khawatir akan menggangu istirahat Nola.


"Diam! Jika tidak, aku akan membuangmu ke tempat sampah!" ancam Halbert dengan suara dingin.


Bayi laki-laki itu perlahan mulai tenang dan tangisannya pun berhenti. Benar-benar mengerti apa yang dikatakannya.


Tanpa menunggu lama, Kakek Jefford menggampar kepala Halbert tanpa ragu.


"Buang ke tempat sampah?! Aku akan membuangku dulu dari rumah dan mencoretnya dari silsilah keluarga saat itu terjadi!" Kakek Jefford tahu Halbert hanya bercanda.


Halbert mengerang dalam hatinya. Tidak bisakah dia mendidik putranya sendiri? Dia khawatir putra ini hanya akan membuatnya sakit kepala di masa depan. Dia masih ingin menggendong anak perempuan, mengantarnya ke sekolah dan menghadiri rapat orangtua. Betapa bagusnya itu.


Kenapa harus anak laki-laki?


Solachen menghela napas lega. Dia harus menetap di negara ini agar bisa dekat dengan cucunya setiap hari.


"Sudahkah kalian mendiskusikan nama untuk anak ini?" tanyanya.


"Nola sudah memberinya nama jika yang lahir anak laki-laki atau perempuan. Namanya adalah Lucas Jefford."


"Nama ini juga baik-baik saja. Nola pasti sudah memberikan keberuntungan pada nama yang dipilihnya." Solachen mengangguk.


Halbert tidak lagi bicara. Nama Lucas baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola baru siuman saat pagi harinya. Dia bangun dalam keadaan linglung. Melihat perutnya rata, dia ingat tentang anak yang dilahirkannya.


"Sayang, kamu sudah bangun." Halbert duduk di samping tempat tidur, lega ketika melihat istrinya baik-baik saja.


"Halbert? Di mana anak kita?" tanyanya.


"Di sana." Halbert melihat tempat tidur bayi dengan mata menyipit. Lucas tidak rewel semalam tapi pasti lapar saat ini.


Ketika mendengar suara Nola, Lucas mulai menangis. Ingin minum ASI. Nola meminta Halbert untuk membawanya. Dia ingin menggendong anak itu.


Halbert tidak setuju. "Kamu baru saja bangun dan belum makan."


"Lucas juga ingin makan. Biarkan anak itu kenyang dulu. ASI ku melimpah." Nola tidak tega melihatnya menangis.


Halbert memandang dada Nola yang memang lebih berisi daripada sebelum hamil. Bisakah dia juga mencicipinya? Kenapa harus anak itu?


Namun Halbert menggendong Lucas dan menyerahkannya ke pelukan Nola dengan hati-hati. Ketika diberi makan, bayi laki-laki itu langsung mengisapnya dengan penuh semangat.


Halbert semakin tidak menyukai anak itu. Dia cemburu!


Setelah Lucas kenyang, Halbert mengambil alih bayi itu. Lucas tampak senang setelah minum susu dan perutnya kenyang. Tampaknya, menunjukkan permusuhan pada ayahnya.


Halbert meletakkan kembali Lucas di tempat tidur bayi. Lalu menghampiri Nola. Dia juga ingin mencicipinya. Tapi Nola seketika menahannya dengan wajah memerah.


"Apa yang kamu akan lakukan? Jangan main-main, ini di rumah sakit. Aku ingin makan sesuatu," kata Nola.


Halbert menunjukkan ekspresi menyedihkan. "Aku juga ingin."


"Halbert!" Nola semakin memerah dan memelototi pria itu.


Halbert tersenyum. "Kalau begitu tidak di rumah sakit. Aku akan mencobanya di rumah."


"Kamu!" Nola tidak tahu bagaimana Halbert begitu tak tahu malu sekarang. Dia tidak mau menyusui bayi besar!


Ketika yang lain tahu Nola sudah melahirkan, Sekretaris Eli datang dengan Asisten Jae dan tentu saja anak mereka, Jiyan. Ketika tahu anak laki-laki lahir, Asisten Jae tak berani tersenyum lebih.


Halbert pasti dalam suasana hati yang buruk saat ini. Jaley Scott juga datang mengunjunginya. Bukan hanya mereka, Leon, Suyue, Sean, Frangky, Elvada serta yang lain datang bergantian.


Mereka akhirnya memiliki tuan kecil.


Orange yang sudah lama tidak melihat Nola. Tapi dia tidak diizinkan memasuki rumah sakit. Jadi hanya bisa patuh menunggu di rumah.


Lucas memiliki rambut bergelombang hitam kecokelatan seperti Nola. Dan untuk matanya tentu saja pasti akan mirip dengan Halbert. Karena anak laki-laki yang lahir dari keturunan darah Whitemir tidak mewarisi mata buta supernatural.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa bulan kemudian, rumah keluarga Jefford sering berisik oleh tangisan dan tawa Lucas. Rasanya tidak lagi terlalu sepi seperti sebelumnya. Belum lagi, Solachen memutuskan untuk tinggal di negara A saat ini.


Sayangnya paman Nola—Wickson tidak bisa datang saat ini. Dia berada di negara yang sangat jauh.


Tanpa diduga, mantan tukang kebun keluarga Jefford lama yaitu Richard juga memutuskan bekerja kembali di sana. Kali ini tentu saja untuk melayani tuan kecil yang baru lahir. Akan lebih baik baginya untuk mengenang masa lalu melalui tuan kecil—Lucas.


Lucas memang memiliki mata seperti Halbert. Enam dari sepuluh, wajahnya mirip dengan Halbert. Sisanya mewarisi penampilan Nola.


Orange sering ditugaskan menjaga Lucas ketika Halbert ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu.


Seperti malam ini contohnya. Lucas tertidur di kamarnya sendiri. Orange dan Raja Kalajengking Hitam supernatural menjaganya. Solachen pergi untuk mengurus masalah lama. Dan Kakek Jefford juga masih di perusahaan.