
Jika bukan mantan pacar, lalu kenapa Asisten Jae mengatakannya? Halbert khawatir Nola melahirkan hal-hal yang tak masuk akal di pikirannya. Dia segera meluruskan topik ini.
Halbert tidak punya mantan pacar. Secara alami, beberapa wanita yang pernah dekat dengan Halbert bukankah kekasih atau mainannya. Melainkan hanya para wanita yang sengaja digunakan untuk mencari informasi. Halbert tak pernah memedulikan mereka sama sekali. Selama pekerjaan nya bagus, ia membayar mereka.
"Kalau begitu, besok kamu ikut denganku untuk melihatnya. Biarkan asisten Jae mengubah jadwal." Halbert terkekeh dan merasa jika istrinya cemburu. Ia tak mau bertanya apakah Nola cemburu atau tidak. Mulut wanita berkata tidak tapi hatinya berlawanan.
"Mengubah jadwal? Apakah tidak masalah?"
"Jangan khawatir. Aku bosnya. Jika mereka masih ingin bekerja sama, tentu saja harus mematuhi aturanku. Lagi pula, ini bukan Negara J, apa yang harus dikhawatirkan?"
Orang-orang Negara J tidak akan berbuat macam-macam di negara ini. Lagi pula, sebagian orang di negara ini tidak terlalu suka orang Asia, terutama negara yang memiliki mata sipit.
Tanpa disadari, hubungan Halbert dan Nola sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hotel VIP, seorang pria paruh baya bermata sipit sedang bicara di telepon dengan bahasa Inggris yang fasih. Dalam pembicaraan ini, ada sedikit kebingungan serta rasa kesal. Tapi pria paruh baya itu masih menahan diri dan mengatakan beberapa kata positif. Lalu tutup telepon.
Wajah pria paruh baya tersebut menjadi tidak sedap dipandang untuk sementara waktu.
"Ayah, bagaimana?" tanya seorang wanita bergaun selutut. Dia mengerutkan kening, merasakan firasat buruk.
"Miyumi, apakah kamu yakin Halbert akan mengingat mu?" tanya Matsuyama Kei, suaranya sedikit dingin.
Miyumi mengerutkan kening. Meski ia kadang takut dengan ayahnya yang terlalu ketat, ia hanya bisa mengangguk.
"Aku yakin dia pasti akan mengingatnya. Lagi pula, aku dulu bisa dianggap sebagai kekasihnya." Wanita bernama Miyumi Kei itu masih berusia 23 tahun. Ia adalah anak semata wayang dari keluarga Kei di Negara J.
Matsuyama Kei mendengkus dan menyimpan ponsel ke saku jasnya. "Aku tidak suka dengan orang berkulit putih itu, kita berbeda dari mereka. Tapi selama itu adalah Halbert, ayah bisa membuat pengecualian. Dia kaya dan berkuasa, pasti akan makmur di masa depan."
"Lalu kenapa Ayah kesal? Apakah ada sesuatu di pihak pria itu?"
"Halbert mengubah jadwal pertemuan menjadi di malam hari. Ia berkata jika istrinya juga akan ikut." Matsuyama merasa jika putrinya mulai marah, jadi berkata lagi. "Istrinya masih wanita buta dan secara alami bukan sosok yang sempurna. Kamu tidak perlu khawatir tentang ini."
"Ketika menikah bisa bercerai, kenapa tidak?"
Akhirnya Miyumi yakin jika ayahnya tidak keberatan merebut suami orang lain. Apakah ini terlalu kejam?
"Bersiaplah besok. Kamu istirahat, ayah akan pergi dulu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam berikutnya, semua dengan kesepakatan, Nola pergi dengan Halbert ke acara pertemuan. Miyumi memakai kimono dan tampak anggun saat berjalan. Dia bahkan tak bisa berjalan cepat. Sementara Nola yang memakai gaun selutut, memang sesuai dengan citranya, istri bangsawan yang dicintai suami.
Matsuyama Kei menghilangkan ketidakpuasan di hatinya saat ini.
Miyumi pernah menjadi informan Halbert di masa lalu. Walaupun keduanya bisa dianggap seperti orang pacaran, tapi bukan pacar.
"Tuan Kei, maaf bila Anda menunggu cukup lama," katanya.
"Tidak masalah, tidak masalah sama sekali. Lagi pula, kita memiliki banyak waktu luang." Matsuyama Kei menjadi lebih santai saat lalu tatapannya tertuju pada gadis bermata keabu-abuan.
Miyumi melihat Halbert datang, perasaannya campur aduk antara senang dan gugup. Dulu, Miyumi melihat Halbert di sebuah tempat dan keindahan bekerja sama. Pria itu selalu berkata apa adanya, tidak serius atau sembrono, tidak dingin atau hangat. Tapi sekali tersinggung, Halbert seperti raja iblis yang keluar dari lubang neraka gelap.
Matsuyama Kei sengaja tak sengaja tersenyum pada Nola. Dia berpikir pihak lain tidak bisa ekspresinya. "Ini Nyonya Jefford 'kan? Senang bertemu denganmu, Nyonya Muda," ujarnya. Kali ini, dia masih harus lembut.
Nola tersenyum datar tapi ia bisa merasakan jika pria paruh baya itu benar-benar memiliki ide buruk terhadap Halbert. "Halo, Tuan Kei. Selamat datang di Negara A," sapanya juga.
Nola melirik Miyumi yang telah berdiri tak jauh di belakang Matsuyama Kei. Sepertinya wanita itu adalah putrinya dan juga orang yang mengaku sebagai mantan pacar Halbert. Sepertinya Halbert bukan tipe pria seperti itu. Melihat tatapan Miyumi melihat agak malu-malu ke arah Halbert. Tanpa sadar Nola sedikit mengencang tangannya di lengan pria itu.
Halbert tidak mau berbasa-basi saat ini. Dia juga ingin tahu apa yang akan dilakukan Nola jika ditinggal berdua dengan Miyumi. Apakah gadis itu akan mempertahankan harga dirinya dan melawan atau hanya bisa meminta bantuannya.
Halbert menaikkan sebelah alisnya. "Oh, bagaimana jika kita bicara berdua lebih dulu untuk membahas semuanya. Istriku akan menemani putrimu di sini," katanya.
"Tentu saja, tentu saja." Matsuyama Kei tertawa kecil dan senang. Dia ingin membiarkan putrinya memberi pelajaran terhadap psikologis Nola. Posisi nyonya rumah keluarga Jefford hanya bisa menjadi milik putrinya, Miyumi Kei!