
Miyumi Kei meninggalkan gereja tanpa menoleh lagi. Dia mengumpat sepanjang jalan hingga tanpa sadar menabrak seseorang. Miyumi Kei yang pada dasarnya sedang dalam suasana hati yang buruk, akhirnya membentak orang.
"Apakah kamu buta? Masih menabrak orang ketika jalan begitu lebar? Dasar pria miskin!"
Pria asing yang tak sengaja bertabrakan dengannya mengerutkan kening dengan jijik. Wanita ini yang pertama berjalan cepat tanpa memperhatikan jalan. Lalu menyalahkannya saat tak sengaja menabrak orang?
Melihat jika wajah Miyumi Kei yang tertutupi make up terdapat eritema yang aneh, ia bahkan lebih jijik. Belum lagi, gadis ini masih bermata sipit, seharusnya menjadi orang Asia.
"Kamu seorang wanita Asia yang jelek yang mengatakan orang lain miskin. Apakah kamu sudah bercermin dan melihat seperti apa wajahmu yang seperti monster?" Pria itu balik mengejeknya, lalu buru-buru pergi seolah-olah melihat sesuatu yang patut dijauhi.
Miyumi Kei menyentuh wajahnya yang sakit. Dia juga merasakan gatal yang membuatnya ingin menggaruk. Namun saat digaruk justru menimbulkan benjolan kecil berisi nanah yang bau.
Dia ingin menjerit marah tapi tidak tahan dilihat oleh banyak orang. Tak lama kemudian, Matsuyama Kei mengejarnya.
"Mi-chan, berhentilah membuat masalah dan mari kembali. Kita pikirkan cara lain."
Matsuyama Kei khawatir ada kenalan di jalan dan segera membawa putrinya pulang. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh pendeta paruh baya itu. Walaupun agak konyol baginya, namun sepertinya kondisi Miyumi Kei ini mungkin kesialan.
Seseorang sengaja melemparkan kesialan padanya.
"Mi-chan, katakan pada Ayah, apakah kamu menyinggung orang sebelumnya?" tanyanya.
Halbert dan Nola tidak mungkin memiliki kemampuan seperti itu. Miyumi Kei juga berpikir demikian, lagi pula, Halbert tidak akan menggunakan cara tercela untuk berurusan dengannya.
Ia mungkin memiliki beberapa kesalahpahaman dengan beberapa wanita di lingkaran kaya, tapi apakah mereka senekat itu untuk menghancurkannya?
"Tidak, bagaimana mungkin?"
Matsuyama Kei merasa harus memeriksa satu persatu dari orang-orang itu. Tapi tidak mungkin. Buang-buang waktu. Kondisi Miyumi Kei tidak bisa ditunda lebih jauh. Dia hanya bisa pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi nya.
Justru dokter berkata jika kondisi Miyumi Kei hanyalah alergi dari makanan tertentu. Dokter hanya memberikan obat untuk meringankan alerginya.
Ketika pulang ke rumah, Miyumi Kei hampir frustasi. Datang ke pendeta malah memintanya untuk melepaskan gelang.
"Mi-chan, bagaimana jika gelang itu benar-benar seperti yang dikatakan pendeta?" tanya Matsuyama Kei sedikit takut. Jika semua ini akan menjadi kenyataan.
Miyumi Kei pergi ke kamar. Matsuyama Kei terlihat gelisah tidak menentu. Ia tidak pernah segelisah ini sebelumnya. Jika benar gelang itu membawa nasib sial untuk putrinya, maka harus disingkirkan bukan?
Untuk memastikan, Matsuyama Kei memilih untuk menghubungi ibunya yang ada di negara J. Dia pergi ke ruang belajar, menutup pintu dengan hati-hati setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
"Bu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," katanya sedikit pelan.
Terdengar batuk ringan wanita tua di seberang telepon. "Ada apa?"
"Tentang gelang jimat yang ibu berikan pada Mi-chan," jawabnya.
"Ada masalah apa lagi sekarang? Bukankah semuanya baik-baik saja?"
"Pendeta berkata jika Mi-chan dilempari nasib sial oleh seseorang tapi tidak tahu siapa orang itu. Gelang yang ibu berikan padanya membuat semuanya menjadi lebih sial. Wajah Mi-chan gatal-gatal dan kemerahan. Ketika digaruk langsung bernanah. Pendeta meminta gelang itu untuk dilepas," tuturnya menjelaskan situasi.
Kini terdengar helaan napas tidak senang di seberang telepon. "Kenapa begitu banyak hal-hal aneh terjadi? Jika dia tidak mampu mengendalikan gelang, maka dia tidak cocok. Kamu bisa melepas nya saja kali ini."
Ekspresi Matsuyama Kei sedikit berubah. "Bu, dia putriku juga."
"Dia putrimu, aku ingat. Tapi jangan lupa, dia hanyalah alat kita di negara A. Setelah dia gagal mendekati keluarga Jefford, semuanya sia-sia. Aku tidak membutuhkannya lagi. Gelang itu adalah langkah terakhir aku membantunya. Tapi masih gagal bukan?"
Matsuyama Kei tidak mengatakan apa-apa. Ibunya benar. Semuanya sudah gagal dan sia-sia. Walaupun dia menyayangkan Miyumi Kei sebagai putrinya yang telah dibesarkan selama ini, tapi wajah keluarga besar lebih penting.
Halbert adalah seorang mafia, dia kejam dan licik. Jika Halbert tahu bahwa keluarga Kei pernah terlibat dalam urusan kelompok Yakuza untuk melawan kelompok mafianya, bukankah itu bencana?
Miyumi Kei terlibat waktu itu dan tahu seluk beluknya. Jika Miyumi Kei kegiatan kesabaran karena dia hanya digunakan sebagai alat, bukankah akan mengkhianatinya dan memberi tahu Halbert semua konspirasi?
Matsuyama Kei dan ibunya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Maka satu-satunya cara adalah membunuh Miyumi Kei.
"Nak, bunuh dia, maka semuanya baik-baik saja."
...****************...