Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Tidak Sabar


Pamitnya Butler Flir ke kampung halamannya mengejutkan Halbert dan Nola. Keduanya tidak menyangka jika pihak lain lebih waspada setelah insiden penyerangan semalam. Mungkin Butler Flir merasa bahwa rencana semalam gagal. Dia pergi untuk menghindari sesuatu lebih dulu.


Layak menjadi kepala pelayan cerdas keluarga Jefford. Sayangnya ... kesetiaan Butler Flir mungkin tidak akan lama.


"Setelah bertahun-tahun menyamar di keluarga Jefford, dia mungkin mulai bosan." Halbert berkata dengan nada pelan.


Asisten Jae tidak tahu siapa yang dibicarakan oleh keduanya saat ini. Tapi mendengar kata Butler Flir dari mulut Nola sebelumnya, mungkin surat itu datang dari Butler Flir sendiri. Asisten Jae tidak tahu pasti tentang hal ini. Dia hanya diminta Kakek Jefford untuk mengantarkan surat tersebut pada Halbert.


Sepertinya ada masalah internal yang tidak bisa dianggap enteng. Asisten Jae telah bersama Halbert sejak beberapa tahun sebelumnya. Ia masih tahu karakter bosnya sendiri seperti apa.


“Lalu Bos, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.


Halbert melirik asistennya yang sedikit bodoh di tempat. “Tentu saja kembali bekerja jika gajimu tidak ingin hilang bulan ini,” jawabnya dengan nada datar tapi senyumnya seperti hantu yang menyeringai di kegelapan.


Asisten Jae merasa punggungnya berkeringat saat ini dan buru-buru meninggalkan kantor Halbert tanpa menoleh ke belakang. Apa yang lebih mengerikan daripada melihat hantu?


Tentu saja dia takut kehilangan gajinya. Melihat hantu tidak akan membuatnya miskin tapi kehilangan gaji bisa membuatnya makan barbeque di akhir bulan. Dia tidak terlalu kaya!


Nola mendengar suara langkah yang agak berantakan dan terburu-buru meninggalkan kantor, mau tidak mau melirik Halbert dengan mata abu-abunya.


“Apakah kamu sengaja menakutinya dengan kehilangan gaji?”


“Oh, tidak apa-apa. Siapa yang memintanya untuk datang di saat kita sedang berduaan?” Halbert agak pendendam. Ia merasa jika Asisten Jae terlalu lama sendiri sehingga harus membiarkannya berkencan bukan?


“Bagaimana jika kita melanjutkan yang tadi?”


“Jangan mengganti topik pembicaraan. Apa yang akan kamu lakukan dengan butler Flir?” Nola hanya tidak mau melakukannya di kantor.


“Itu masalah nanti.” Halbert tidak memedulikan ke mana Butler Flir pergi. Ia bisa membiarkan seseorang mencarinya nanti. Namun api yang hampir padam di perutnya kembali menyala.


Pria, jika belum dipuaskan, tubuhnya tidak bisa dipadamkan bisa begitu saja. Seberapa enggannya Nola, ia tidak bisa membujuknya sekarang. Mau tidak mau hanya bisa mengikuti kemauannya.


Halbert telah menyelesaikan pekerjaan pentingnya hari ini dan memiliki waktu untuk menemaninya. Ia membawa gadis itu ke ruang istirahat yang ada di kantornya.


Halbert menciumnya sebentar dan tidak tega melihatnya yang begitu kelelahan. Ia terlalu bersemangat sebelumnya dan membuat gadis itu kewalahan di bawahnya.


“Aku akan menyiapkan air mandi untukmu,” ucapnya lembut.


Halbert hanya bisa bangkit dari tempat tidur dan memakai jubah mandi. Sedangkan Nola yang merasa tubuhnya sakit di mana-mana tidak mau bergerak bebas. Tempat tidur berantakan tapi jejak kehangatan yang ditinggalkan keduanya masih tersisa di ruangan.


Keduanya mandi bersama dan istirahat sebentar. Lalu keduanya turun untuk makan malam. Halbert berniat untuk mengajak Nola ke sebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan. Tapi saat hendak pergi ke tempat parkir, keduanya melihat seorang pria berkemeja hitam menunggu di sana.


Halbert dan Nola mungkin sudah menebak siapa yang menunggu. Pihak lain sepertinya sudah tidak sabar untuk memulai rencananya. Namun meski demikian, Halbert masih berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Siapa kamu? Kamu karyawan dari departemen yang mana dan kenapa ada di sini?" Halbert langsung berwajah gelap, ia tidak melepaskan tangannya yang merangkul Nola.


Sin tersenyum pada mereka, tampak tidak berbahaya dan menggelengkan kepala. "Aku bukan karyawan perusahaan ini. Aku di sini sengaja untuk bertemu dengan kalian berdua," jawabnya.


"Menunggu? Apa ada hubungannya denganku?" Halbert menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, ini ada hubungannya denganmu, Tuan Muda Jefford." Sin sedikit ragu-ragu setelah melihat Halbert saat ini.


Halbert memiliki ekspresi lumpuh (datar) sepanjang hari. Dan sangat jarang sekali tertawa


"Katakan saja jika kamu memiliki sesuatu. Kami masih harus pergi." Halbert sedikit tidak sabar. Jika bukan karena rencananya, ia sudah lama ingin membunuh Sin.


"Kalau begitu, jangan sopan! Aku datang untuk membunuh kalian!" Ekspresi Sin yang penuh senyum tiba-tiba saja menjadi dingin dan mengerikan.


Pria itu menyeringai dan tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah pisau beracun dari lengan jubahnya. Ia segera bergegas ke arah Nola terlebih dahulu untuk melakukan serangan pertama.


Halbert tidak mengharapkan Sin akan bertindak langsung pada istrinya. Jelas dia marah. Tanpa rasa takut sedikitpun, Halbert menarik Nola ke belakang dan memblokir pisau beracun itu dengan tangan kosong.


"Sin dari Geng Kalajengking Hitam, kamu sangat berani untuk memulainya pada istriku!" Suara Halbert sepeda lonceng kematian di telinga Sin.