Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Tidak Bisa Mati


Beberapa orang yang diperintah Clive sebelumnya juga segera pergi setelah menghilangkan beberapa jejak. Dan Nola ditinggalkan sendirian di sana.


Gedung terbengkalai itu cukup jauh dari keramaian dan jarang bagi orang lain datang untuk melakukan kegiatan. Lagi pula, gedung terbengkalai sering kali dihuni oleh makhluk tak kasat mata.


Nola gemetar, melihat kepergian mereka dengan tatapan kosong. Mau tidak mau dia bergumam tidak jelas. Jangan salahkan dirinya karena kejam, dua orang yang telah dia anggap sebagai saudara bahkan ingin membunuhnya.


"Ingin aku mati? Tapi aku tidak bisa mati," gumamnya merasa ironis.


Ingin marah, tentu saja. Dia juga manusia yang memiliki perasaan. Tapi kembali lagi pada fakta lain bahwa dirinya tidak bisa marah. Atau jika tidak ... dia akan kehilangan kendali lagi.


Nola kehilangan banyak darah dan wajahnya semakin pucat. Dia menyentuh perutnya yang memiliki luka tusukan paling dalam, mau tidak mau menangis diam-diam.


"Halbert ...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Halbert yang gila-gilaan mencari keberadaan Nola merasakan panas di dadanya. Dia menyentuh liontin koi perak yang kini terasa panas. Mau tidak mau ekspresinya semakin dingin.


Dia menggenggam liontin tersebut sedikit lebih erat dan berusaha untuk memfokuskan diri. Gunakan naluri untuk menemukannya.


"Nola, kamu bertahan sebentar. Aku pasti akan segera menemukanmu," gumamnya.


"Bos, bukankah nyonya memiliki kalung pelacak di tubuhnya?" tanya Frangky yang juga ikut mencari.


"Sayangnya kalung itu dia lepas semalam dan dia lupa memakainya." Halbert mengeluarkan kalung pelacak dari saku jasnya. Kalung itu biasanya dipakai Nola pada hari-hari biasa. Tapi hari ini dia lupa memakainya lagi.


"Lalu ..." Frangky juga tidak berat.


"Temukan saja sebisa mungkin."


Hingga tak lama kemudian, Halbert mendapatkan berita dari anak buahnya. Ada sebuah mobil mencurigakan yang datang dan pergi dari lokasi tertentu dan mereka menemukan jejaknya hingga ke sebuah gedung terbengkalai.


Khawatir jika itu memang Nola, Halbert langsung pergi ke lokasi untuk memeriksanya lebih.


Benar saja, kali ini firasat nya mengatakan jika Nola ada di sana. Memeriksa beberapa lantai dengan hati-hati, Frangky kemudian berteriak jika Nola ditemukan. Tapi kondisinya sangat mengkhawatirkan.


"Nola!!" Halbert melihat gadis itu bersandar di dinding yang dingin dengan tubuh berdarah dan wajah pucat, jantungnya berdegup kencang.


Dia segera memeriksa semua luka di tubuhnya dan mau tidak mau berhati-hati untuk mengangkat tubuhnya.


Mata Nola cukup berat untuk terbuka ketika mendengar suara itu. Dia perlahan membuka matanya dan samar-samar melihat sosok jangkung yang datang dan membopongnya.


"Halbert," gumamnya.


"Aku di sini." Suara Halbert sedikit berdengung di pikiran gadis itu. "Kita akan segera pergi ke rumah sakit, jangan khawatir, tetaplah bertahan."


"Tidak ... Tidak apa-apa. Aku tidak akan mati, apapun yang terjadi, aku tidak bisa mati," gumamnya.


Halbert sedikit menyipitkan mata, tidak menjawab kata-katanya dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola segera ditangani oleh dokter ketika tiba karena penampilannya yang mudah untuk menarik perhatian. Belum lagi dengan banyak darah di tubuhnya, orang lain mengira dia mungkin sudah meninggal.


Ketika dokter menangani semua luka di tubuh gadis itu, Halbert menunggu dengan kedua tangan berkeringat dingin. Liontin koi perak di lehernya masih hangat. Untungnya dokter mengatakan jika kondisi Nola sudah melewati masa kritis.


"Ini sungguh keajaiban. Pasien menerima banyak luka tusukan di tubuh, terutama bagian perut dan dada. Tapi beruntungnya pasien bertahan hidup. Padahal dipastikan jika pasien telah bertahan dengan luka-luka seperti itu selama satu jam lebih," tutur dokter yang menanganinya.


Halbert tidak berkata lebih banyak dan mengucapkan terima kasih padanya.


Keesokan paginya, Nola siuman dengan tubuh penuh perban. Dahinya sedikit sakit. Barulah dia menyadari jika saat ini berada di rumah sakit. Dia mengetahuinya berdasarkan bau obat yang menguar di udara.


Sayangnya ketika siuman, tidak ada orang lain di ruang rawat VIP. Dia melihat sekeliling dengan tatapan kosong dan menebak jika ruangan tersebut cukup luas.


Untungnya salah seorang perawat yang menjaganya segera menghubungi dokter jika pasien sudah siuman. Dokter memastikan jika kondisi Nola baik-baik saja sekarang sehingga Halbert bisa masuk dan bicara dengannya.


"Halbert," ucapnya ketika mendengar suara langkah yang tenang mendekatinya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, aku tidak bisa mati." Nola tersenyum lemah dan menurunkan kelopak matanya.


"Sepertinya kamu sangat percaya diri untuk tidak mati." Halbert tersenyum dingin namun Nola tidak bisa melihat ekspresinya saat ini. "Kenapa kamu tidak melawan mereka dan membiarkan dirimu dilukai seperti ini? Aku yakin kamu mampu melawan mereka bukan?!"


"Aku hanya tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin marah dan membunuh mereka."


"Jadi kamu lebih suka diperlakukan seperti ini? Lalu kenapa kamu tidak mati pada akhirnya? Atau karena kamu tahu bahwa kematian yang diharapkan tidak akan pernah ada, jadi dengan tenang dan bodohnya menerima siksaan mereka? Nola, apakah kamu sadar, mereka yang kamu anggap keluarga ingin kamu mati sejak lama!"


Suara Halbert penuh kebencian. Dia selalu bertanya-tanya sepanjang malam, kenapa gadis itu tidak melawan mereka dan justru berakhir dengan banyak luka tusukan seperti itu.


Tapi setelah melihatnya hari ini, dia tahu bahwa Nola tidak marah sama sekali. Jadi Halbert mengepalkan kedua tangannya dan berpikir jika gadis itu sangat bodoh.


Diamnya gadis itu semakin membuat Halbert tidak sabar. "Katakan padaku, seberapa bodohnya dirimu sekarang? Kamu mengolok-olok hidupmu sendiri di tangan mereka. Kamu benar-benar luar biasa."


Nola menggigit bibir bawahnya dan tubuhnya sedikit gemetar. "Sudah kubilang, aku tidak bisa mati! Aku tidak bisa mati seberapa kerasnya aku mencoba!" teriaknya agak serak. "Seberapa banyak aku mencoba untuk bunuh diri, selalu ada saja keberuntungan yang membuatku selamat! Aku lelah dengan semua itu. Jadi biarkan saja!"


Pada akhirnya Nola merasa sesak napas dan dia meraung padanya. Dia meluapkan kekesalannya selama ini. Jika dia bisa mati dengan mudah, sejak lama mungkin sudah menyusul ibunya. Dia tidak perlu repot-repot menjalani kehidupan yang pahit seperti ini.


Orang lain mengira dia mungkin kuat menjalani kehidupan seperti itu. Tapi siapa yang tahu bukan? Dia sangat frustasi dengan dirinya sendiri hingga ingin bunuh diri. Tapi selalu gagal dan gagal lagi. Selalu ada kekuatan aneh yang menariknya dari jurang kematian. Dan lagi-lagi dia masih bisa bernafas di dunia ini.


"Menurutmu kenapa aku melawan mereka. Jika mereka dalam kecelakaan, bukankah ayah akan marah padaku? Dia pasti marah padaku nanti. Jadi biarkan saja."


Nola merasakan sakit di perutnya yang baru saja menjalani operasi kemarin. Jadi dia segera menenangkan diri tapi air matanya tak bisa berhenti mengalir.


Jika kematian begitu mudah untuk dicapai, dia ingin mati hari ini juga.


Halbert mendengarkan dengan saksama tapi dia juga marah sungguhan kali ini. Dia menggeram sedikit dan menusuk titik sakit di hati gadis itu.


"Nola, angan-angan memiliki keluarga yang bahagia adalah delusimu sendiri!"