Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Teman Lama Noria


Seberapa senangnya Halbert saat Nola terbangun, mau tidak mau masih belum mendapatkan pengampunan gadis itu. Nola mungkin masih marah karena pilihannya sendiri untuk menjadi seorang ahli supernatural. Tapi sungguh, dia hanya ingin melindungi gadis itu dan juga kakeknya.


Hanya saja Halbert tidak bisa menjelaskan lebih banyak saat ini. Nola baru saja bangun dan pasti butuh sesuatu untuk dimakan. Perlahan Halbert melepaskan pelukannya dan tersenyum tidak berdaya. Keduanya lagi-lagi terdiam cukup lama hingga akhirnya pelayan mengetuk pintu kamarnya. Pelayan berkata jika sarapan sudah siap.


Halbert berpakaian cukup rapi. Karena dia tidak akan meninggalkan rumah, pakaiannya tidak seformal hari-hari biasanya. Ia tidak tinggal di kamar lebih lama meskipun ingin mengatakan sesuatu pada Nola. Pada akhirnya, Halbert hanya mengantarkan sarapan untuknya.


Di ruang makan, Halbert sarapan dengan tenang. Karena ia bangun pagi terlambat, Kakek Jefford dan Solachen sudah makan. Namun tak lama, Solachen datang dengan ekspresi tergesa-gesa.


“Halbert, apakah dia benar-benar sudah siuman?” tanyanya sedikit berkeringat dingin.


“Ya,” jawab pria itu langsung tersenyum pahit lagi. Istrinya masih marah padanya ketika bangun. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Solachen juga ingin melihat Nola dan memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Tapi mengingat jika Nola begitu tidak suka melihatnya, ia mengurungkan niatnya lagi. Bagus jika gadis itu siuman, ia bisa menghela napas lega.


Nola sudah tak sadarkan diri selama tiga bulan lamanya. Bukan waktu yang singkat. Solachen pada dasarnya memiliki kondisi tubuh yang buruk, kini jadi mudah jatuh sakit setelah dirangsang sesuatu. Bahkan jika dia hanya bisa melihat Nola dari jauh, itu sudah cukup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada siang hari, Nola pergi setelah pamit. Tapi Halbert yakin jika Nola tidak memiliki niat untuk melarikan diri atau meninggalkan rumah. Ia pergi dengan sopir keluarga yang bisa dipercaya. Halbert ingin membiarkan Nola membawa beberapa bodyguard, tapi gadis itu menolak. Ia ingin menemui seseorang secara rahasia, sehingga tidak nyaman membawa bodyguard.


Halbert hanya bisa mengizinkannya pergi dengan kelonggaran penjagaan hari ini, setidaknya untuk menenangkan Nola. Namun Halbert tetap tidak tenang sehingga meminta seseorang untuk memantaunya diam-diam dari kejauhan.


Saat ini, mobil yang membawa Nola telah memasuki jalan yang cukup sepi. Ada lebih banyak perumahan di kiri dan kanan jalan dana semakin sedikit mobil yang lewat. Sopir yang mengantar Nola ke tempat seperti itu cukup bingung. Namun ia hanya bisa mengikuti keinginan nyonya mudanya.


“Berhenti,” kata Nola setelah melihat salah satu rumah dengan nomor yang dicarinya.


Setelah mobil berhenti, Nola mengenakan kacamata hitam dan keluar dengan tenang. Menghampiri salah satu rumah bertingkat dua yang cukup mewah, Nola tanpa ragu membunyikan bel pintu dua kali. Tak lama setelah itu, seorang pelayan membukakan pintu.


Nola melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan melihatnya dengan bingung. Sebelum wanita itu mengatakan sesuatu, Nola sudah bicara lebih dulu.


Bibi Pelayan paruh baya itu terkejut setelah Nola menyebutkan nama lengkap nyonya rumahnya. Walaupun masih agak bingung, ia mengangguk. Tidak banyak orang yang memiliki hubungan dengan Nyonya Pearly selama beberapa tahun terakhir. Nyonya Pearly juga sering menolak tamu yang datang untuk mengunjunginya.


“Maaf, Nona. Apakah kamu memiliki janji dengan nyonya Pearly?” tanya pelayan itu.


Nola menggelengkan kepala. Tentu saja tidak ada. Ia datang ke sini hanya berdasarkan ingatan yang diperlihatkan kembali di mimpinya. Ia bertekad datang hari ini karena sangat penasaran dengan Nyonya Pearly. Tampaknya wanita itu harusnya hampir seusia dengan ibunya.


“Nona, nyonya Pearly jarang menerima tamu ….”


Nola menukasnya. “Katakan saja namaku, Nola Neilson. Dia harusnya tahu.”


“Kalau begitu, tolong tunggu sebentar,” kata Bibi Pelayan itu tersenyum sopan. Dia pergi menemui Nyonya Pearly terlebih lagi untuk menyampaikan nama gadis itu.


Di kamar yang cukup luas, seorang wanita paruh bawa sedang duduk di kursi goyang seraya merajut sebuah syal. Pintu kamarnya diketuk oleh pelayan, wanita itu membiarkannya masuk.


“Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu ….”


“Tolak saja,” tukas wanita itu yang tak lain adalah Nyonya Pearly. “Aku tidak ingin bertemu siapapun,” imbuhnya seraya fokus merajut lagi.


“Tapi, dia bilang namanya adalah Nola Neilson,” ujar Bibi Pelayan masih sedikit berharap jika nyonya rumahnya akan memiliki ekspresi berbeda kali ini.


Dan benar saja, tangan Nyonya Pearly yang sibuk merajut segera terhenti. Ia terkejut dan tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya menoleh pada Bibi Pelayan yang telah lama mengurus kebutuhan di rumahnya.


“Siapa katamu?”


“Wanita muda di luar itu memperkenalkan dirinya sebagai Nola Neilson ….”


Sebelum Bibi Pelayan menyelesaikan ucapannya, Nyonya Pearly sudah bangkit dari duduknya dan meletakkan syal yang sedang dibuatnya. Ia langsung meninggalkan kamar untuk melihatnya secara langsung.