
Setelah Halbert menutup panggilan telepon, dia mulai berpikir lebih jauh. Geng Kalajengking Hitam ini jelas wilayahnya cukup jauh dari kelompok mafianya. Di hari kerja, mereka tidak berani berurusan dengan dirinya.
Jadi kali ini mereka memfitnah, membuat rumor dan berpura-pura menjadi orang baik, pasti ada seseorang di belakang. Tapi siapa yang berani melawan keluarga Jefford nya?
Bukan hanya itu, bahkan hal ini masuk ke berita online. Asisten Jae dan Sekretaris Eli melaporkan hampir di waktu yang bersamaan. Desas-desus di internet tentang perusahaan Jefford juga mulai mencuat.
Kali ini Halbert tidak bisa duduk diam. Dia bangkit dan segera menuju perusahaan.
......................
Di kamar, Nola yang telah dibelikan ponsel pintar oleh Halbert mulai menelusuri internet. Akses internet di rumah sangat bagus sehingga tak butuh waktu lama untuk menyegarkan halaman berita.
Meski Nola buta secara fisik, mata batinnya masih terbuka. Pikirannya masih bisa menampilkan semua huruf dan gambar yang ada pada layar ponsel. Dia tak sengaja melihat berita tentang Halbert dan rumor keluarga Jefford. Lalu terkejut untuk sementara waktu.
"Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga Jefford?" gumamnya.
Lalu Nola memanggil pelayan untuk bertanya apakah Halbert ada di rumah atau tidak. Namun ternyata Halbert baru saja meninggalkan rumah dan pergi ke perusahaan. Kali ini Nola yakin jika Halbert akan mengurus masalah ini.
Setelah pelayan meninggalkan kamar, Nola tiba-tiba saja gemetar kesakitan dan ponselnya jatuh ke kasur. Dia mulai meringkuk, wajahnya pucat dan mimisannya kembali terjadi lagi.
Nola terkejut dan berpikir jika ini mungkin efek dari keberuntungan yang selalu dia gunakan untuk Halbert. Dia mulai bertanya-tanya tentang Geng Kalajengking Hitam. Namun mungkin Halbert tidak akan memberi tahunya. Jadi dia menghubungi Wickson diam-diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Halbert pulang ke rumah, hari sudah larut malam. Kepala pelayan bertanya apakah ada sesuatu yang ingin dimakan, mengingat jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Namun Halbert tidak berselera untuk makan. Dia pergi ke kamar.
Nola sudah tidur pulas sejak lama dan ponselnya berada di meja nakas. Gadis itu memakai baju tidur satin yang cukup tipis. Beberapa balutan luka terlihat tidak menyenangkannya mata. Halbert memeriksa tubuh nya sebentar untuk memastikan jika gadis itu tidak melukai dirinya sendiri.
Setelah itu, Halbert segera membersihkan diri dan berbaring di sampingnya. Tanpa diduga, Nola terbangun dan meraba sekitar. Dia menyentuh dada bidang Halbert yang terbungkus baju tidur.
"Jangan berpikir aku tidak bisa menyentuhmu bahkan jika kamu penuh perban seperti ini." Suara Halbert sedikit serak. "Tidur lagi."
Nola berkedip dengan rasa kantuk yang tersisa. "Halbert, kamu akhirnya pulang," ujarnya.
"Ya. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?"
"Ini Geng Kalajengking Hitam."
"Kamu baca beritanya?"
"Ya."
"Apa yang kamu pikirkan?" Halbert menatapnya.
"Aku tahu rumor itu tidak benar," jawab Nola datar.
Halbert dengan hati-hati memeluknya. "Kenapa kamu berpikir itu tidak benar?"
"Kamu tidak akan melakukannya secara terang-terangan," jawabnya lagi.
"Memang" Halbert terkekeh. "Orang jahat tidak akan melakukan tindakan kriminal secara terang-terangan. Jangan berpikiran aneh-aneh. Cepat tidur."
Nola akhirnya kembali tertidur setelah menghirup aroma parfum yang selalu dipakai Halbert.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa bekas tusukan dan sayatan masih terlihat agak samar. Terutama di dahi. Karena Nola memiliki poni, bekas luka sayatan di dahinya tidak terlihat.
Saat keluar rumah, Nola memakai gaun lengan panjang. Kali ini Halbert akan menemaninya saat gadis itu ingin pergi ke suatu tempat. Dia tidak ingin masalah penculikan atau pengejaran Organsiasi Supernatural Dunia lolos dari matanya lagi.
Ketika menyusul Halbert ke perusahaan, Nola menggunakan elevator yang biasanya digunakan untuk para karyawan. Nola hanya ingin merasakan sensasi memasuki elevator karyawan alih-alih khusus untuk atasan atau orang-orang penting.
Di dalam elevator, bukan hanya ada Nola saja, tapi dua karyawan lainnya membungkuk sopan pada Nola. Mereka tahu bahwa Nola adalah istri bos mereka.
"Selamat siang, Nyonya Bos," sapa dua karyawan itu sopan.
Nola mengangguk. Dia memegang tingkat putihnya dengan tenang. "Siang, juga."
Tanpa sengaja, dia menatap dinding pintu elevator yang memang pada dasarnya memantulkan bayangan seperti cermin. Walaupun Nola buta, dia sepertinya melihat bayangan yang tercipta di pikirannya.
Samar-samar, Nola melihat seekor kalajengking raksasa di pantulan pintu elevator. Bayangan kalajengking tersebut terbentuk dari seorang karyawan wanita yang ada di samping Nola.
Nola terkejut. Pupil mata abu-abunya sedikit mengecil. Lalu tanpa diduga, kalajengking itu mengeluarkan desisan kecil dan bertindak seolah-olah akan menyerang Nola dari balik pantulan pintu elevator.
Sontak Nola langsung menjerit dan memejamkan mata. Dia seketika mundur ke belakang hingga menabrak dinding elevator. Dua karyawan wanita yang terlihat santai sebelumnya langsung terkejut. Keduanya melihat Nola seperti ketakutan, mau tidak mau langsung pucat.
Jika sesuatu terjadi pada Nola saat ini, keduanya bisa dalam masalah. Terlebih lagi Nola ada bersama mereka di elevator yang sama.
"Nyonya, apakah kamu baik-baik saja?" Keduanya segera membantu Nola berdiri dengan baik.
Gadis itu gemetar. Hidungnya juga mengeluarkan darah segar. Dia tidak memedulikan suara kedua karyawan yang bertanya padanya. Tapi diam-diam mencari bayangan kalajengking hitam di pantulan pintu elevator. Bayangan itu sudah menghilang.
Nola tiba-tiba saja memegang lengan karyawan wanita yang bertanya padanya berulang kali. Dia hanya menggelengkan kepala. Tapi wajahnya pucat.
Mau tidak mau, salah satu dari mereka segera menghubungi Sekretaris Eli dan menceritakan kondisi Nola saat ini.
Halbert sedang rapat dengan manajer dan dewan lainnya saat ini. Tapi selama menyangkut Nola, Halbert pasti tidak akan menolak.
Tak butuh waktu lama bagi Halbert untuk pergi ke lantai di mana Nola berada saat ini. Dia melihat Nola sudah memegang tisu penuh darah dan menutupi hidungnya beberapa kali. Dua karyawan wanita sedikit membungkuk pada Halbert dengan perasaan takut-takut.
Tapi Halbert tidak berkata banyak. Dia menatap kedua karyawan itu dengan serius. "Kalian tahu apa yang harus dilakukan?" tanyanya.
"Kamu ... Kami tahu, Bos. Masalah ini tidak akan bocor," jawab keduanya tampak gugup.
"Jika ada orang lain yang bertanya, katakan saja jika istriku sedang sakit mata," kata Halbert.
"Ya." Kedua karyawan wanita mengangguk. Punggung keduanya berkeringat dingin.
Menyaksikan Halbert membopong Nola menuju elevator karyawan, kedua karyawan wanita tadi langsung menghela napas lega.
"Menurutmu, apakah nyonya bos sedang sakit saat ini?"
"Entahlah. Mungkin dia sedang tidak enak badan," jawab karyawan wanita yang saat di elevator, Nola memegang lengannya dengan erat. Dia masih merasakan sakit di lengan kirinya. Mungkin memar?
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa, lenganku hanya sedikit sakit." Karyawan wanita itu hanya berpikir jika Nola terlalu terkejut sebelumnya sehingga tak sengaja meremas lengannya.