Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Ayah dan Anak Perempuan Berdamai


Ada keheningan yang tiba-tiba. Di saat Halbert datang untuk menenangkan situasi, ia merasa ada sesuatu yang salah. Terlalu hening hingga Halbert berpikir jika Nola dan Solachen baru saja bertengkar hebat.


Bahkan Mark tidak bisa mengatur emosi di wajahnya. Sebelum Halbert mengatakan sesuatu, Nola sudah meninggalkan paviliun tanpa memedulikan keberadaannya sama sekali.


"Nola!" Halbert memanggilnya. Ia berniat untuk mengejarnya.


"Biarkan dia sendiri," kata Solachen.


Halbert mengerutkan kening. "Apakah kalian bertengkar kembali?" tanyanya.


Solachen menggelengkan kepala. Dia tertawa ringan dan hampir saja meneteskan air mata. Akhirnya ia bisa lega karena Nola mau mengakuinya sebagai seorang ayah sekarang. Mulai besok, mungkin hubungan keduanya bisa membaik.


Tanpa diduga, batu besar di hatinya bisa diangkat saat ini. Tapi di mata Halbert, mungkin Solachen terpukul dengan kata-kata kasar Nola hingga tak bisa mengendalikan emosinya.


"Aku akan menasihati Nola saat kembali nanti. Kamu tidak perlu khawatir tentang apapun," kata Halbert.


"Tidak perlu." Solachen berkata dengan nada ringan. "Justru aku berterima kasih padamu."


Halbert semakin bingung. Apa maksudnya?


Solachen hanya menceritakan secara singkat apa yang baru saja terjadi hingga dirinya tak bisa menahan diri untuk merasa lega. Setelah mengetahui semuanya, Halbert kembali ke rumah utama. Tapi dia masih tidak tahu bagaimana bicara dengan gadis itu.


Nola dan Solachen berdamai. Tapi bagaimana dengan dirinya? Nola masih marah pada Halbert dan tidak mau bicara sama sekali. Solachen memberikan beberapa trik untuk mendapatkan hati seorang wanita. Terutama saat mereka marah.


Mungkin Halbert harus mencobanya malam ini?


"Tuan Muda ... Tuan Muda!" Salah seorang pelayan datang tergesa-gesa. "Tuan Muda, Anda sedang sakit. Bagaimana bisa meniup angin malam? Butler telah membuat secangkir teh jahe merah untuk Anda."


"Aku baik-baik saja." Halbert tidak ingat jika dirinya sedang sakit saat ini. Dia naik ke lantai dua untuk menemukan Nola.


Di kamar, Nola ternyata sedang mandi. Halbert hanya bisa keluar dulu untuk meminum secangkir teh jahe merah. Bagaimana pun juga, dia tak bisa menjual kondisinya untuk meminta perhatian.


Butler Flir membawakan secangkir teh ke ruang kerja Halbert. "Apakah Tuan Muda belum berbaikan dengan nyonya rumah?" tanyanya.


"Belum. Nyonya rumahmu bukan gadis yang mudah dibujuk," kata Halbert seraya melirik Butler Flir sejenak. "Apakah ruang saluran air di kebun keluarga sudah diurus sampai selesai?" tanyanya.


Butler Flir sedikit terkejut lalu tersenyum sopan. "Jangan khawatir, semuanya diurus dengan baik. Tuan Muda bisa memeriksa kapan saja."


"Tempat itu mungkin bagus dijadikan gudang. Kebetulan, beberapa senjata bisa disimpan di sana."


"Tidak ada salahnya bukan?" Halbert tidak terlalu peduli.


"Memang tidak ada yang salah. Tapi jika diketahui oleh pemerintah setempat—"


"Tidak akan ada yang tahu jika tidak ada yang melaporkannya," tukas Halbert acuh tak acuh.


Butler Flir hanya bisa menggelengkan kepala, tidak berdaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, suasana di meja makan tampak tenang. Halbert yang masih sedikit tidak enak badan melihat jika hubungan Solachen dengan Nola terlihat lebih baik daripada biasanya. Solachen akan memberikan lauk pauk ke piring putrinya dan sesekali mengucapkan beberapa sepatah kata.


Tiba-tiba saja Halbert merasa cemburu tanpa alasan. Dialah yang harusnya melayani gadis itu, bukan Solachen. Bahkan jika pria itu adalah ayah kandung Nola, Halbert masih tidak rela.


Pada akhirnya, Halbert hanya pura-pura batuk untuk mengalihkan perhatian keduanya.


"Oh, menantuku sudah datang. Apakah demammu sudah turun?" tanya Solachen sedikit gembira.


"Tidak apa-apa, sudah lebih baik." Halbert menjawab dengan nada ringan. Dia duduk di samping Nola.


Kakek Jefford juga ada di meja makan saat ini dan sesekali akan mengobrol dengan Solachen. Meskipun begitu, Solachen tidak mengubah niatnya untuk kembali ke Negara S. Dia memang hampir kembali sebelum orang-orang dari Organisasi Supernatural Dunia bergerak kembali.


"Apakah kalian tidak berniat untuk tinggal di sini lebih lama?" tanya Kakek Jefford.


"Kami mungkin hanya akan tinggal di sini selama sebulan lagi." Solachen tanpa sadar melirik Nola dan tersenyum lembut. "Lagi pula, bisnis ku di Negara S harus diurus. Jika aku tidak kembali, tidak ada yang mengurusnya di sana."


Ia juga harus mengurus tubuhnya sendiri agar lebih baik. Jika tidak, bagaimana ia bisa melindungi putrinya di masa depan?


Kakek Yi masih sedikit enggan. "Nola baru saja bangun dan kamu sudah ingin kembali. Sayang sekali."


Awalnya Kakek Jefford ingin hubungan Nola dan Solachen menjadi lebih baik di masa depan. Jadi tinggal bersama bisa menciptakan lebih banyak peluang. Sayangnya Solachen juga bukan pria pengangguran.


"Jangan khawatir, selalu ada kesempatan untuk kembali di masa depan. Lagi pula, Halbert juga bisa menjaga putriku dengan baik."


Solachen belum menyelesaikan urusannya dengan keluarga Neilson. Mungkin sudah waktunya untuk membuka ingatan Tuan Neilson tentang Noria dan masalah lain. Dengan begitu di masa depan, keluarga Neilson tidak akan berani menganggu Nola.