Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Pelatihan Ganda


Elvada hanya menyarankan bagi Halbert melatih diri sebelum bertarung dengan Butler Flir. Belum lagi, Butler Flir lebih kuat saat ini. Hanya dengan kemampuan Halbert saja tidak akan cukup. Bahkan Nola yang memiliki kemampuan saja akan sedikit kewalahan.


Setidaknya, Nola mungkin bisa mengatasinya tapi selalu ada batasan dalam kekuatan.


"Berapa waktu yang tersisa saat ini?" Halbert mengerutkan kening, terlihat tenang tapi tak sabar untuk mencari mangsa yang tersembunyi.


"Setidaknya sebulan ... Sudah cukup untuk sebulan."


"Sebulan ...," gumam Halbert lalu mengangguk ringan. "Ini cukup."


Jaley Scott menatapnya sedikit sombong. "Nak, jangan terlalu percaya diri. Semuanya tidak semudah yang dibayangkan."


"Aku tahu." Halbert menjawab dengan acuh tak acuh.


"..." Aku tahu kamu tidak menganggap perkataanku dengan serius, batin Jaley Scott sedikit tidak senang.


Tetapi kemampuan seorang Esper Moros memang tak tertandingi. Aura kematian yang mencekik selalu berhasil membuat lawan bicaranya tertekan. Dikombinasikan dengan Nola seorang Esper Fortuna ... ini hanya keberuntungan ganda.


Setelah mendiskusikan apa yang harus dilakukan, Halbert dan Nola sepakat untuk pergi ke mansion keluarga Scott dan berlatih di sana. Nola juga memberi tahu ayahnya tentang hal ini di telepon.


Dalam waktu dekat, Solachen akan segera datang ke negara A dan mendampingi latihan mereka. Setidaknya ia tahu banyak.


Jaley Scott akhirnya menginap di rumah keluarga Jefford dan anak buahnya berjaga-jaga. Seandainya Butler Flir meninggalkan mata-mata atau sedangkan diam-diam dari Geng Kalajengking Hitam, mereka bisa mengatasinya dengan santai.


Pada malam harinya, Nola pergi ke dapur untuk memasak. Karena Butler Flir tidak ada, semua pelayan yang bertugas di dapur diperintahkan olehnya. Setidaknya Halbert memberikan arahan pada mereka.


"Jangan terlalu lelah. Sisanya serahkan pada juru masak nanti," kata Halbert pada istrinya.


"Jangan khawatir. Aku sudah lama tidak memasak sesuatu untukmu. Apa yang ingin kamu makan?" tanyanya.


Halbert juga merindukan masakan gadis itu. Memang, sudah cukup lama tidak makan masakannya secara khusus. Pria itu mencium pipinya dengan sedikit godaan.


"Aku ingin makan kamu malam ini," bisiknya.


Wajah gadis itu memerah. Dia segera menjauh dari pria itu dan melarikan diri ke dapur dengan malu. Untungnya tidak ada pelayan di sekitar sehingga percakapan keduanya tidak diketahui siapapun.


Halbert melihatnya melarikan diri mau tidak mau terkekeh.


Pelayan yang ada di dapur tentu saja tidak meremehkan Nola. Meski gadis itu buta, pelayan di sana tahu jika nyonya mudanya ini tidak sederhana. Jadi mereka segera bekerja sama memasak hidangan makan malam.


Memotong daging ayam, ikan dan juga daging sapi. Potong sayuran hingga membuat bumbu. Gadis itu sudah terbiasa. Kurang lebih satu jam kemudian, semua masakan selesai dan Nola serta pelayan menyajikan semua hidangan di atas meja.


Hidangannya tidak banyak tapi cukup banyak dan cukup untuk mengisi perut malam ini. Karena Kakek Jefford terluka sebelumnya, pria tua itu makan sesuatu dengan rasa yang lebih ringan. Jadi Nola memasak hidangan sup untuknya.


Adapun Halbert, dia lebih suka makan olahan daging di malam hari. Terutama untuk menjaga sosoknya yang sempurna. Jadi Nola membuat steak daging sapi untuknya.


Nola tidak makan banyak, begitu pula dengan Halbert. Setelah makan malam, mereka bicara sebentar sebelum akhirnya pasangan itu kembali ke kamar untuk istirahat.


Tentu saja tidak. Karena setelah menutup pintu kamar dan menguncinya, Halbert menjebak tubuh gadis itu di balik pintu dan mencium bibirnya dengan penuh semangat.


Setelah berciuman, napas Halbert sedikit terburu-buru. Dia menggigit ringan salah satu daun telinganya.


"Malam ini kamu tidak bisa lari," bisiknya.


Nola juga tidak berniat untuk menolaknya. Dia cukup lelah hari ini karena menggunakan banyak aura supernatural. Dia tiba-tiba saja menginginkan pria di depannya. Meski begitu, wajahnya masih memerah karena malu.


Gerakan pria itu lembut teratur, menikmatinya perlahan-lahan hingga berbagai gaya telah dicoba. Nola mencoba menahan suaranya agar tidak bocor keluar kamar. Karena malam ini bukan hanya ada Kakek Jefford tapi juga Jaley Scott.


Sesekali gadis itu akan meremas selimut atau bantal bahkan seprai. Terkadang dia akan menggigit bantal setiap kali Halbert bergerak.


Setelah waktu berjalan cukup lama, keduanya sama-sama mendapatkan puncaknya masing-masing.


Keduanya sibuk untuk sementara waktu dan tidak cukup untuk melakukannya satu kali. Bagi seorang pria, rasanya tidak cukup jika hanya melakukannya satu kali.


Barulah setelah cukup ronde, Halbert tidak menyiksanya lagi.


"Aku lelah," gumam gadis itu penuh keringat.


"Baiklah, sudah selesai." Halbert berbaring di sampingnya dengan posisi menopang kepala.


Gadis di pelukannya sudah banjir keringat. Tak terkecuali dirinya. Namun dibandingkan Nola yang kelelahan, Halbert tampak lebih berenergi.


"Tidurlah setelah mandi lebih dulu. Jika tidak, tubuhmu lengket nanti," ucap Halbert.


Nola memeluknya. "Kakiku lemas. Ini salahmu."


"Bagaimana ini salahku? Ini jelas kemampuanku membuatmu puas," godanya. Tapi sebelum Nola mengatakan sesuatu, pria itu berkata lagi. "Aku akan membawamu mandi. Kamu santai saja dan tidurlah."


Halbert bangkit dan menyiapkan air hangat di bak mandi. Lalu membawa Nola yang setengah tertidur ke sana dan bersihkan ....


Setelah mandi, keduanya melanjutkan istirahat. Rasanya tubuh lebih segar setelah mandi. Memandangi wajah yang tertidur lelap itu, Halbert tak bisa menahan diri untuk menyentuh wajah halusnya.


"Nola, aku ingin kita punya anak di masa depan ...."


Keesokan paginya, Nola bangun dengan tubuh kesakitan. Rasanya baru saja melakukan sesuatu yang menguras banyak tenaga. Meski begitu, aura supernatural di tubuhnya telah terisi kembali.


Halbert berbaring di sampingnya dan masih tertidur. Ketika tidur, wajah pria itu seperti pangeran yang tenang dan tidak berbahaya.


Merasakan gerakan di sampingnya, Halbert juga terbangun. Ini masih pagi dan jam digital menunjukkan pukul enam.


"Jangan terburu-buru, tidurlah lagi," katanya segera memeluk istrinya agar tidak bangun dari tempat tidur.


"Kakek mungkin akan mengira kita berdua malas."


"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan mengatskan apapun. Keduanya mungkin tidak berharap kita keluar terlalu pagi. Tunggu agak siang."


"Tidakkah kamu sibuk hari ini?"


"Perusahaan ada Jae yang mengurusnya. Jangan khawatir."


Halbert memang melewatkan banyak jadwal kesibukan hariannya di perusahaan. Kontrak kerja samaratusan juta atau miliaran dollar terlewatkan begitu saja. Bukannya dia meremehkan semua uang itu tapi tak ada yang sepebting istrinya saat ini.


Nola tidak bersikeras untuk bangun dan tidur selama satu jam lagi.


Pada akhirnya, pasangan itu baru keluar kamar setelah lewat pukul tujuh dan tentu saja melewatkan sarapan. Namun untuk menghargai kedua anak muda itu, Kakek Jefford dan Jaley Scott belum makan. Kedua pria tua itu hanya makan sesuatu yang ringan untuk mengisi perut.


"Pelatihan ganda malam tadi pasti sangat melelahkan. Kakek telah meminta pelayan untuk menyiapkan makanan bergizi pagi ini." Kakek Jefford tersenyum saat melihat keduanya turun.


Nola sedikit memerah setelah mendengarnya. Kakeknya ternyata benar-benar tahu.