Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Klan Penyihir (5)


Kebisingan itu akhirnya tidak bertahan lama. Wanita tua Kei segera menjadi tenang. Nyonya Nue yang memang ada di rumah hari ini, membuka pintu untuknya. Nyonya Nue tidak lagi tenggelam dalam mimpi buruknya.


Nyonya Nue melihat wanita tua Kei itu dengan ekspresi acuh tak acuh. “Oh, tumben sekali tamu langka datang ke tempat kecil seperti ini,” ucapnya.


Wanita tua Kei menggertakkan gigi. Mengingat kondisinya yang sekarang kurang menguntungkan, ia tidak bisa menunjukkannya di depan orang lain.


"Jangan berpura-pura! Kamu pasti senang kan melihatku menderita sekarang?" Wanita tua Kei hampir tak bisa menahan napas kemarahannya.


Nyonya Nue mengerutkan kening. "Saiyu Kei, jangan memfitnah orang. Kenapa aku harus senang dengan penderitaanmu? Bukankah selama ini kamu selalu bahagia dengan anak dan cucu? Jangan bandingkan diriku yang teraniaya. Ini bagai langit dan bumi, Tuhan punya mata!"


Saiyu Kei adalah nama wanita tua itu.


"Ini pasti kamu! Kamu yang membuat putraku menderita bukan?" Wanita tua Kei ingat bagaimana kondisi putranya saat ini. Mengingatkannya pada kondisi anak Nyonya Nue di masa lalu.


Nyonya Nue tertawa marah. "Kamu sungguh omong kosong! Bukankah semua ini karena kesalahanmu sendiri? Kenapa kamu menyalahkan orang lain? Putraku sudah mati karena kebodohanku sendiri. Sekarang giliranmu, jadi apa?"


"Kamu—" Wanita tua Kei sepertinya mengingat sesuatu dan wajahnya menjadi lebih pucat. Dia akhirnya tidak mau berdebat dan segera meninggalkan rumah.


Namun sebelum wanita tua Kei itu keluar pagar, Nyonya Nue kembali berkata. "Dulu putraku menjadi tumbal, kini giliran putramu sendiri. Apa yang kamu rasakan saat ini, sama seperti penderitaan ku di masa lalu. Aku berkata, Tuhan punya mata!"


Wanita tua Kei menegang di tempat tapi tidak berkata apa-apa dan berjalan lebih cepat. Nyonya Nue cemberut dan kembali masuk rumah, menutup pintu dengan keras. Ia hampir tertawa lepas hingga otot perutnya sakit. Pembalasan akhirnya akan segera tiba.


Nyonya Nue tidak khawatir jika pembalasan wanita tua Kei terhalang. Bagaimana pun juga hanya ada satu cara jika ingin mengakhiri perjanjian dengan iblis. Jika Matsuyama Kei tidak menjadi tumbal maka wanita tua itu sendiri yang akan menggantikannya.


Sementara itu, wanita tua Kei kembali ke rumah dengan linglung. Anggota keluarga lainnya juga datang untuk melihat apa yang terjadi dengan Matsuyama Kei. Namun wanita tua Kei berkata jika putranya sakit parah dan segera membawanya ke rumah sakit.


Namun wanita tua Kei tahu jika percuma saja datang ke rumah sakit. Sakit putranya tidak akan sembuh. Lalu dia memikirkan anak haram Matsuyama Kei yang kini masih berusia di bawah dua puluh tahun. Setelah Miyumi Kei meninggal, putranya membawa ibu dan anak itu ke rumah.


"Bu, bagaimana keadaan suamiku?" tanya menantunya.


Wanita tua Kei menghela napas dan menunjuk ekspresi sedih. Dia sudah tua dan rambutnya penuh uban. Wanita yang dibesarkan Matsuyama Kei di luar terawat dengan baik. Wanita tua Kei berpikir untuk menantunya itu membalas atas perawatan putranya selama ini.


Namun untuk menunjukkan citra ibu mertua yang baik, wanita tua Kei selalu lihai menyembunyikan keinginan besarnya.


"Aku baru saja menghubungi temanku dan menceritakan apa yang terjadi pada putraku. Temanku berkata mungkin dia terkena kejahatan. Malam ini, mari pergi ke kuil untuk membakar dupa dan menyembah dewa," jelasnya.


Menantunya juga mengkhawatirkan kondisi Matsuyama Kei. Belum lagi, pria itu membiayai hidup putranya dengan baik. Jika kehilangannya, dia juga akan diusir. Belum lagi status putranya adalah anak haram.


"Sekalian bawa anak itu juga untuk memberkati ayahnya."


"Aku tahu, Bu."


Namun untuk itu semua, wanita tua Kei harus melakukan perjanjian lain dengan klan penyihir.


“Kamu jaga suamimu di sini, aku akan kembali dulu dan mengatur segalanya.” Wanita tua Kei berencana untuk menemui anggota pemuja iblis lainnya.


“Baik, Bu.” Menantunya mengangguk patuh.


Wanita tua Kei kembali dengan cepat dan berpakaian rapi sebelum akhirnya pergi ke suatu tempat untuk melakukan perjanjian. Dia pergi ke salah satu kuil terbengkalai yang ada di pinggir kota dan bertemu dengan salah seorang anggota. Ia menceritakan tentang apa yang terjadi.


Memang bahwa Matsuyama Kei terpilih untuk ditumbalkan karena kecocokkannya terhadap selera “Yang Mulia”. Namun tidak diberitahukan pada wanita tua Kei sebelumnya. Awalnya anggota yang dipanggil itu sedikit curiga, namun mengingat jika sebelumnya wanita tua Kei tahu tentang kematian anak Nyonya Nue, ia menyingkirkan kecurigaan.


“Putramu telah terikat dengan iblis sebelumnya dan klan penyihir kami tahu bahwa dia adalah tumbal berikutnya. Wanita Tua Kei, kamu harus tahu bahwa aturan kami tidak bisa dilanggar. Jika keinginanmu ingin terwujud, maka kamu harus mengorbankan sesuatu. Sebelumnya cucu perempuanmu menjadi tumbal yang tidak diminta jadi kali ini, kami akan memberimu kelonggaran,” jelas anggota berpakaian serba hitam itu. Dia adalah seorang wanita muda dengan riasan ala gothic.


Wanita tua Kei menghela napas dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. “Aku memiliki cucu laki-laki yang masih terhubung darah dengan putraku. Bisakah itu ditukar lebih dulu?”


“Apakah kamu bermaksud untuk menukarnya lebih dulu dan mencari tumbal yang cocok?” tebak orang wanita itu.


Wanita tua Kei mengangguk. “Apakah ini bisa dilakukan?”


Wanita itu tersenyum dingin dan tidak tahu apa yang ada di pikirannya. “Tidak masalah, selama tumbalnya masih ada dan tidak dibatalkan, semuanya baik-baik saja.”


“Kalau begitu, malam ini aku akan membawa cucu dan menantuku ke sini. bisakah klan penyihir mengatur segalanya.”


“Tentu saja tidak masalah. Kamu jangan khawatir.”


“Kalau begitu aku akan pergi dulu.”


Setelah wanita tua Kei meninggalkan kuil yang terbengkalai itu, wanita berpakaian serba hitam dan berdandan ala gothic itu menyeringai. Sungguh keluarga yang menarik. Wanita tua Kei bukan hanya mengorbankan beberapa anggota keluarga lainnya, tapi bahkan cucunya sendiri tak bisa lepas. Namun wanita tua Kei masih menyayangi putranya.


Tak lama setelah wanita tua Kei pergi, seorang pria berjubah hitam muncul dari balik pintu kuil dan bersandar di kusen dengan melipat kedua tangan di dada. Wanita itu hanya meliriknya dengan cuek.


“Sejak kapan kamu begitu mudah untuk menyetujui keinginan anggota kelas rendah dengan begitu mudah?” tanya pria itu dengan senyum mengejek.


“Bukankah ini menarik? Omong-omong, apakah kamu sudah menyelidikinya?”


Pria itu mengangguk ringan. “Kemungkinan besar orang yang membakar ruang bawah tanah keluarga Kei adalah seorang ahli supernatural. Kemampuan pihak lain harusnya tidak rendah, kita harus berhati-hati.”


“Sudahkah kamu memberi tahu pemimpin tentang ini?”