
Di tenda, Nola yang benar-benar kelelahan segera memeluk leher Halbert dan meminta untuk berbaring. Pria itu tidak banyak melawan dan berbaring menyamping di sisinya. Wajah Nola agak pucat yang membuat Halbert khawatir.
"Apakah kamu terluka?" tanyanya.
"Aku hanya lelah." Nola masih melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Aku butuh kamu sekarang," gumamnya.
"Oh ..." Halbert terkekeh ringan. Apa yang dipikirkan pria dan wanita tentu saja berbeda. "Apa yang harus kulakukan?" Dia mencium kening gadis itu.
Nola tidak menjawab. Wajahnya yang pucat berangsur membaik tapi hanya sedikit saja. Dia menghirup aroma parfum yang bercampur maskulinitas di tubuh Halbert dan menyentuh jakunnya yang menonjol. Jakunnya bergerak ketika Halbert menelan saliva.
"Istriku," bisiknya.
Halbert jarang memanggilnya begitu dekat selayaknya suami dan istri. Semenjak dia jatuh cinta dengan gadis ini, emosinya banyak berubah. Dia tidak mau menyakitinya atau membuatnya menangis seperti di masa lalu.
Keduanya berciuman cukup lama. Khawatir tautan bibir keduanya menimbulkan suara, Halbert tidak berani bermain gila. Solachen dan Mark masih ada di tenda sebelah saat ini. Apa yang ingin keduanya lakukan sangatlah terbatas.
Tapi Nola tidak peduli. Dia mengambil langkah yang berani untuk duduk di atasnya.
"Hei!" Halbert tidak berdaya. Setiap gerakan Nola jelas memprovokasinya. "Apa yang ingin istriku lakukan?" bisiknya.
Nola tersenyum tapi wajahnya memerah karena malu. Dia mulai membuka pakaiannya sendiri hingga Halbert yang awalnya menahan diri untuk tenang tidak lagi berpura-pura acuh tak acuh.
Pria itu tahu Nola butuh energi untuk mengisi tubuhnya kembali. Dan satu-satunya cara tentu saja dengan melakukan hubungan suami-istri. Tapi melakukannya di tenda sungguh membuat semuanya terbatas.
Namun seberapa jernih pikiran Halbert, dia masih tidak bisa menolak godaan gadis itu dan memenuhi keinginannya. Keduanya sibuk selama beberapa waktu. Halbert tidak ingin Nola bersuara lebih keras sehingga sesekali akan membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Jangan terlalu keras," bisik pria itu. "Kamu tidak ingin ayahmu berpikir aku sangat buruk untukmu bukan?"
Nola tidak peduli dengan orang yang ada di tenda lain. Dia menjadi tidak senang sekarang sehingga tidak berselera lagi untuk melanjutkannya. Namun Halbert justru lebih kesal.
"Jangan membuat masalah." Halbert menekan gadis itu di bawahnya dan bergerak perlahan.
Semakin lama Halbert bergerak, Nola menjadi tidak nyaman. Dia ingin bersuara tapi Halbert masih menutupi mulutnya. Akhirnya, di saat Nola mendapatkan puncaknya, pria itu juga sama. Tapi karena Halbert tidak memakai pengaman saat ini, pria itu tidak berani menumpahkannya di dalam. Jika gadis itu hamil, urusannya repot.
Barulah setelah Nola tenang, Halbert menarik tangannya kembali. Nola mendapati haknya untuk berbicara.
"Kenapa kamu menariknya? Ini tidak memuaskan sama sekali," bisik gadis itu jengkel tapi juga malu. "Aku ... Aku dalam periode aman saat ini," imbuhnya.
"Kamu gadis yang berani. Dari mana mempelajari kata-kata vulgar seperti itu, hah?"
"Kamu yang mengajariku selama ini bukan?" Suara gadis itu mengecil.
Halbert tidak lagi berdebat ketika menyadari telah menembak di kakinya sendiri. "Ya, ini salahku," bisiknya. "Tidak lain kali, tapi kali ini situasi nya tidak terlalu tepat. Tidurlah, kamu lelah ...."
Halbert mengambil tisu basah dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Jika ini bukan di alam sekitar, dia pasti tidak akan bersikap lembut dengannya saat berc*nta.
"Halbert, aku punya hadiah untukmu." Gadis itu bergerak sedikit.
"Apa itu?"
"Kamu akan tahu saat bangun besok. Ingatlah untuk bersikap tenang."
Selain itu, Halbert tidak merasakan tubuhnya terkuras oleh aura apapun. Justru tubuhnya menjadi lebih nyaman. Setelah membereskan sisanya, dia berbaring di samping Nola.
"Selamat malam," gumamnya. Tidak tahu hadiah apa yang dimaksud Nola, dia akan menunggunya besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Halbert yang bermimpi panjang semalam terbangun pada pukul lima pagi. Dia berkeringat dingin hingga membuat Nola yang memeluknya merasa tidak nyaman. Tapi untungnya gadis itu tidak mudah bangun setelah percintaan semalam.
Halbert terdiam untuk waktu yang cukup lama dan memikirkan tentang mimpi itu. Dia teringat dengan apa yang dikatakan nakal sebelumnya tentang hadiah yang dimaksud.
Menatap wajah gadis di pelukannya, Halbert sedikit tidak berdaya. Dia merapikan poni yang berantakan.
"Apakah ini yang kamu maksud dengan hadiah? Kamu juga melihat semuanya?" bisiknya.
Nola tidak mendengarnya sama sekali. Halbert mengecup keningnya. Dia semakin yakin dan percaya diri sekarang untuk melibatkan Nola di mafia bawah tanah.
"Terima kasih. Tanpamu, mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan kebenaran nya sama sekali," bisiknya. "Keputusan kakek agar aku menikahimu tidak salah. Aku adalah pria yang beruntung bukan?"
Halbert bicara pada dirinya sendiri. Dia tidak berminat lagi untuk tidur. Setelah mendapatkan ingatan masa lalu yang sengaja diberikan oleh Nola, Halbert sedang berpikir keras saat ini.
Geng Kalajengking Hitam pasti akan dia hancurkan di masa depan. Tapi dia tidak menyangka jika bos geng di belakang layar yang selama ini menggagalkan rencananya, berkeliaran di sekitar dirinya sendiri.
Tanpa sadar, tatapan Halbert berubah dingin. Dia menyembunyikan kekejamannya sendiri di balik sosoknya sebagai seorang pemimpin di perusahaan.
Halbert ingin bangun lebih awal untuk membaut sarapan. Rupanya Nola sendiri dibangunkan olehnya. Gadis itu memeluknya lagi untuk tidur.
"Tidurlah sendiri, ini masih pagi. Aku akan membuat api unggun untuk memasak nanti," kata pria itu.
"Aku ingin mandi." Nola merasa tidak nyaman saat tubuhnya kotor. Semalam setelah berhubungan, dia enggan untuk bergerak lagi.
Halbert tersenyum dan sepertinya memikirkan sesuatu. "Mari pulang saja kalau begitu dan lanjutkan yang semalam."
Tangan pria itu sengaja menyentuh daging lembut Nola dan meremasnya agak kencang. Gadis itu mengerang ringan dan langsung memerah. Apa yang dilakukan Halbert agak kasar saat ini. Dia mungkin tidak bangun dasi tempat tidur nanti.
Tapi karena dia sangat ingin mandi saat ini, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kemah.
Halbert memberi tahu Mark dan Solachen tentang ini. Peralatan kemah mereka akan diurus oleh pelayan nanti. Halbert dan Nola sudah kembali ke rumah. Keduanya segera mandi di bawah pancuran air panas.
Di sanalah, Halbert melanjutkan apa yang terjadi semalam. Karena kali ini lebih bebas dan tidak ada orang lain di sekitar, gerakannya menjadi lebih buas. Tidak peduli seberapa keduanya Nola mengeluarkan suara, Halbert menikmati ekspresinya.
"Bukankah semalam kamu tidak puas denganku? Bagaimana dengan sekarang?" bisik pria itu setelah menyalurkan hasrat di tubuhnya sendiri.
Seperti yang diinginkan gadis itu, Halbert mengeluarkan semuanya di dalam miliknya. Dia juga sedikit menger*ng dan menikmati sensasi kepuasan di tubuhnya sendiri.
Nola tidak menjawab karena pikirannya terlalu kacau saat ini. Tubuhnya lemas dan ingin sekali berendam air panas. Tapi pria itu belum selesai. Setelah puas melakukannya dari belakang, pria itu kembali menyentuhnya dari depan.
Nola terjepit di antara dinding dan tubuh pria itu. Walaupun pancuran air tidak lagi mengenai tubuh keduanya tapi cukup meredam suara ambigu di kamar mandi.