Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Mencari Nasib Sial Sendiri


Bukan hanya Nola yang memperhatikan Chelsea. Tapi pihak lain juga sama. Chelsea memakai baju seksi yang menonjolkan lekukan tubuhnya. Berdandan cukup tebal dengan gaya wanita penghibur pada umumnya.


Belum lagi selalu harus menunjukkan senyum menggoda dan tingkah laku nakal untuk menyenangkan ayah gulanya.


Tapi ketika melihat senyumnya membeku dan kemudian agak kaku. Ada rasa takut di hati Chelsea saat melihat Nola. Gadis itu selalu beruntung. Selamat dari maut berulang kali. Bahkan hidup lebih baik darinya.


Kenapa dia harus hidup begitu menyedihkan tapi Nola sangat bahagia?


Bukan hanya memiliki suami yang berkuasa dan ayah kandung yang hebat, tapi sekarang juga hamil.


Nola masih cantik saat hamil. Bahkan jika dia buta, pria mana yang tidak akan tergoda olehnya.


Chelsea melihat Nola sedang menunggu sendirian di dekat eskalator. Dia berniat untuk menghampiri dan melihat lebih dekat. Sudah lama sekali dia tidak melihat.


Tangan yang memegang paling tas bahunya sedikit mengencang. Dia berjalan ragu-ragu ke arah Nola.


Dan Nola sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan Chelsea padanya. Apakah gadis itu masih ingin berdebat dan memarahi dia seperti dulu?


Halbert sedang pergi ke salah satu toko yang ada di lantai tiga. Ada lift di gedung pusat perbelanjaan. Namun Halbert memintanya menunggu sebentar.


Tak lama, Halbert memang keluar dari lift. Dia khawatir istrinya akan lama menunggu dan kakinya sakit menahan berat perutnya yang semakin besar.


Halbert melihat Chelsea menghampiri Nola dengan langkah tergesa-gesa. Pupil matanya sedikit menyempit ketika Chelsea yang berjarak beberapa langkah dari Nola mulai mengulurkan tangan untuk mendorong.


Nola sendiri tidak menyangka jika Chelsea memiliki keinginan untuk mencari masalahnya sendiri. Dia segera menghindar ke samping sebisa mungkin. Tapi dengan keadaan hamil besar seperti itu, Nola masih cukup lambat.


Chelsea berhasil mendorong bahunya hingga Nola kehilangan keseimbangan dan membentur pagar tangga eskalator di belakangnya.


Nola berteriak kaget dan pinggangnya sakit. Adegan ini mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang yang sibuk di sekitar.


"Nola!"


Halbert berlari cepat dan menendang Chelsea tanpa berpikir panjang. Membuat gadis itu jatuh membentur lantai. Dia membantu Nola yang kesakitan menyentuh pinggangnya. Wajahnya juga sedikit pucat.


"Sayang, di mana yang sakit?" tanya Halbert panik.


Nola yang berwajah pucat seperti merasakan reaksi di perutnya. "Perutku, perutku sakit," katanya agak terengah-engah.


Chelsea tidak peduli dia ditendang oleh Halbert. Bahkan jika pinggangnya sakit, ia lebih bahagia melihat Nola berjuang setengah mati menahan rasa sakit. Dia tertawa seperti orang gila yang akan mencelakai siapapun di sekitarnya.


"Nola, kamu memang pantas mati! Kamu gadis buta sialan! Jal*ng! Akulah yang harusnya menikmati semua kebahagiaan dan menikahi Halbert! Kenapa harus kamu?! Kenapa?!" teriaknya histeris.


Ekspresi Halbert berubah dingin dan dia tidak sabar untuk mencekik Chelsea di tempat. Dia harus membawa Nola ke rumah sakit saat ini. Tidak ada waktu untuk berurusan dengan Chelsea.


"Orang buta bahkan lebih baik darimu!" geramnya. "Siapa yang aku nikahi, bukan urusanmu sama sekali!"


Tak lama, seorang pria paruh baya datang tergesa-gesa ketika Chelsea bertingkah seperti orang gila. Dia tidak menyangka jika gadis itu akan mendorong seorang wanita hamil tanpa pikir panjang.


Awalnya pria paruh baya itu pikir Chelsea hanya ingin menyapa kenalan. Siapa tahu adegannya akan berubah drastis. Karena terkejut, dia terlambat untuk bereaksi sebelumnya.


"Kenapa kamu mendorongnya?! Apakah kamu gila?!" tanya pria patuh baya itu tampak tidak senang.


Halbert melihat pria itu dan sepertinya mengenali seseorang. "Karena dia adalah orangmu, maka urus dengan baik! Dia menyakiti istriku hari ini, jangan berpikir lepas dari tanggung jawab!"


Halbert buru-buru membopong Nola tanpa peduli berat atau tidak, lalu meninggalkan gedung perbelanjaan.


Pria paruh baya itu tergagap saat melihat Halbert hingga keringat dingin muncul di punggungnya.


Ini Halbert Jefford! Apakah dia menyinggung bos besar perusahaan ternama itu?


Berpikir jika dia akan segera berakhir di masa depan, pria paruh baya itu langsung menampar Chelsea dengan keras.


Chelsea berteriak kesakitan. Bekas tamparan langsung terlihat seketika.


"Lihat! Gara-gara kamu, aku akan berakhir di masa depan! Kamu harusnya beruntung aku masih mau menjadikanmu simpananku! Jika tidak, dengan identitas pela*ur mu, apakah kamu pikir kamu layak?!" teriaknya. Dia langsung menyeret Chelsea meninggalkan tempat itu. Dia sangat malu.


Chelsea setengah menangis dan berjuang. Tidak ada siapapun yang mau menolongnya lepas dari pria paruh baya yang cabul ini. Setibanya di rumah yang dibelikan oleh pria paruh baya itu padanya, kehidupan pasti akan lebih sulit.


Semua orang bahkan lebih jijik padanya. Bukan hanya mendorong Nola yang tengah hamil tujuh bulan, tapi juga ternyata seorang simpanan pria kaya.


Siapa yang suka ada pihak ketiga dalam hubungan pernikahan? Tidak ada!


Chelsea benar-benar mencari nasib sialnya sendiri.


Apa yang salah jika seorang gadis tunanetra mendapatkan pernikahan yang baik?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halbert tiba di rumah sakit dan mendesak dokter untuk memeriksa istrinya. Wajahnya juga agak pucat saat ini, membayangkan apanyang terjadi pada anak dalam kandungan.


Dokter tak berani menunda, membawa Nola ke ruang pemeriksaan. Butuh waktu cukup lama bagi dokter untuk memeriksanya. Dokter juga bertanya pada Nola awal mula kejadiannya.


Saat dokter keluar ruangan, Halbert sudah berdiri di dalamnya. Dokter itu mengelus dada karena terkejut. Ini benar-benar suami yang sangat protektif.


"Bagaimana dengan istri saya dan anak yang ada di perutnya?!" tanyanya agak galak.


Dokter itu tidak takut sama sekali, agak kesal tapi menahan diri. "Tenanglah, ini rumah sakit. Istri Anda baik-baik saja. Pinggangnya membentur pagar tangga eskalator sebelumnya, sedikit cedera tapi tidak memengaruhi anak dalam perutnya. Ini hanya sedikit gerakan kaget yang membuat pendarahan kecil."


"Bukankah pendarahan sangat serius?" Halbert tidak percaya.


Dokter menatapnya cukup dalam. "Anda dokternya atau saya dokternya? Pendarahan istri Anda tidak serius. Sudah berhenti. Hanya perlu beristirahat dan hindari kecelakaan serupa di masa depan. Usia kandungannya masih tujuh bulan. Jika terjadi sesuatu di masa dalam karena kecelakaan tak terduga, anak itu akan lahir prematur atau paling buruknya tidak selamat."


Jika keluarga pasien lebih galak, dokter yang satu ini juga bisa lebih galak.


Halbert tak bisa berkata-kata. Ia lega karena istrinya baik-baik saja. Tapi memikirkan ada kecelakaan serupa di masa depan, dia takut lagi hingga kedua tangannya kehilangan suhu hangat.


Ia hanya mengucapkan terima kasih pada dokter dan melihat istrinya dibawa ke ruang rawat VIP. Nola harus dirawat di rumah sakit selam satu hari lebih dulu untuk memastikan tak ada yang salah dengan tubuhnya.


"Maaf, aku harusnya tidak meninggalkanmu sendiri saat itu. Aku harusnya membawamu apapun yang terjadi," ucap Halbert seraya memegang tangan istrinya.


Nola merasakan gerakan di perutnya. Dia tahu anak itu harusnya baik-baik saja.


"Tidak, ini karena aku tidak hati-hati tentang apa yang akan dilakukan Chelsea."