Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Nafsu Makan Meningkat


Pada akhirnya, Halbert dan Leon membicarakan tentang urusan Organisasi Supernatural Dunia. Sedangkan Nola mengeluarkan es krim jeruk dari freezer. Tiba-tiba saja dia ingin makan sesuatu yang dingin asam dan dingin.


Nola duduk di meja makan dan mulai menikmati semangkuk es krim jeruk. Setelah selesai makan es krim, Nola juga menyiapkan daun selada, mayonaise, saus cabai, irisan daging sapi segar dari kulkas, bawang bombai, bawang merah besar, merica dan garam.


Dapur apartemen di sini lengkap hingga pemanggangan daging pun tersedia. Nola ingin membuat irisan daging sapi panggang dengan bumbu sederhana yang dibalut dengan saus dan daun selada.


Ketika di toko bunga, dia makan camilan. Tapi dia belum makan yang lain.


Halbert dan Leon memang mendengar beberapa suara di dapur. Awalnya baik-baik saja tapi ketika mencium aroma daging, Halbert segera bangkit dan melangkah lebar ke dapur.


Leon berdecak ketika melihatnya terburu-buru. "Dasar suami yang protektif!"


Ketika Halbert tiba di dapur, dia melihat gadis itu berdiri di dekat pemanggangan, membolak-balik irisan daging sapi yang setengah matang. Dia melihat mangkuk es krim yang kosong, lalu mengerutkan kening.


"Berapa banyak es krim yang kamu makan?" tanyanya agak dalam.


"Semangkuk."


"Tidakkah perutmu sakit ketika makan banyak es krim? Ini sudah malam, jangan makan sesuatu yang dingin." Halbert tidak bisa memarahinya.


Nola mengelus perut buncitnya. "Anakku menginginkannya."


Halbert menghembuskan napas kasar. Lalu menghampirinya. "Jangan berdiri terus. Duduklah, aku akan memasak memanggangnya untukmu."


Melihat Halbert mengambil alih, Nola tidak lagi menolak. Dia duduk dengan tenang, memilih daun selada yang akan dimakan, mengiris bawang merah dan bawang bombai.


Leon ada akhirnya juga bergabung di dapur. "Tidak banyak makanan di kulkas yang mungkin kamu suka."


"Tidak juga. Aku aku makanan pedas." Karena itulah Nola menyiapkan saus cabai. Dia bertanya. "Apakah kamu punya saus wasabi? Saus wasabi juga pedas."


"Tidak. Aku tidak pernah membelinya." Leon menggelengkan kepala.


Halbert meletakkan piring berisi urusan daging sapi yang telah matang di depan Nola. "Saus cabai cukup. Jangan minta yang lain. Kamu sudah makan semangkuk es krim."


"Apa? Es krim?"


Leon bangkit dan membuka kulkas. Es krim yang semula penuh dalam wadah kini hanya menyisakan kurang dari setengahnya.


Pria itu mengerang. Es krim itu sering dia makan sebagai camilan tengah malam atau setidaknya ketika cuaca panas. Tapi dia tidak tahu jika gadis itu memiliki nafsu makan yang besar.


Wanita hamil sungguh merepotkan. Haruslah dia menikah dan memiliki anak di masa depan?


"Es krim ini tidak sedikit. Tidakkah mulutmu mati rasa saat makan terlalu banyak es krim?" Leon menatap Nola yang sudah membungkus irisan daging sapi panggang dengan daun selada.


Nola menggelengkan kepala. Ia jelas masih kurang. Tapi tidak sopan jika menghabiskan makanan di rumah orang lain. Halbert mungkin paham apa arti tatapan Nola terhadap kotak es krim itu, wajahnya sedikit dingin.


"Jangan makan lagi besok. Makanlah yang lain, asal tidak dengan es krim dan hot pot!" Halbert mulai mengaturnya.


"Tapi aku menginginkannya. Hot pot dan acar mentimun besok!" Nola keras kepala.


Halbert melihat tatapan tajam istrinya, hatinya yang semula marah kini mereda.


"Baik, makanlah. Tapi tidak banyak, okay?" Dia membujuk.


Nola mengangguk dan melanjutkan makan. Sepiring irisan daging sapi panggang habis olehnya dalam waktu yang singkat. Nola merasa mulai kenyang sekarang. Dia mengelus perutnya dengan puas.


"Aku kenyang," katanya.


Kedua pria di meja makan itu akhirnya menghela napas lega. Terutama Halbert. Nafsu makan istrinya semakin meningkat sesuai dengan perutnya yang membesar setiap bulan.


Nola menatap keduanya. "Apakah pembicara kalian sudah selesai?"


"Ya, mati kita pulang jika kamu kenyang."


"Tidak, mari kita pulang. Bukankah kamu kenyang?" Halbert mengerutkan kening.


"Aku kenyang di sini. Pasti akan lapar lagi di restoran."


"..." Halbert tidak bisa berkata-kata.


Ini sudah malam dan harusnya Nola istirahat di rumah setelah makan malam. Tapi Halbert tidak menyangka jika gadis itu masih ingin pergi ke restoran untuk makan.


Pasangan itu pamit pada Leon dan meninggalkan apartemen. Orange sudah tidur lagi saat masuk mobil.


Restoran yang dipilih Nola tak jauh dari letak toko bunga Leon sebelumnya. Ia memesan udang dengan saus pedas asam manis. Karena tidak terlalu lapar, Nola tidak memesan yang lain. Sisanya Halbert menghabiskan semuanya. Dia juga belum makan malam.


Barulah setelah keinginan Nola terpenuhi, dia lelah dan ingin pulang.


Keduanya baru pulang saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kakek Jefford sampai khawatir menunggu di rumah. Pria tua itu tidak berniat menelepon karena tahu cucunya sudah keluar perusahaan lebih awal.


Barulah setelah melihat keduanya baik-baik saja dan malam mal di luar, Kakek Jefford bisa istirahat dengan tenang.


Halbert menyiapkan segelas susu kehamilan untuk Nola sebelum tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola memiliki nafsu makan yang besar selama beberapa hari belakangan. Porsi makannya yang semula sedikit bertambah sepanjang waktu.


Kali ini, dia sedikit gemuk, tapi Halbert sama sekali tidak merasa istrinya jelek. Wajar saja menjadi gemuk saat hamil bukan? Mungkin selama persalinan tidak akan terlalu menyakitkan.


"Kenapa kamu selalu menatapku seperti itu? Apakah aku jelek?" tanyanya.


"Tidak." Pria itu menggelengkan kepala. "Ini lebih berisi. Bagus."


Nola terlalu kurus sebelumnya.


"Aku jelas gemuk. Lihat kakiku, rasanya agak sakit." Nola mengalami kesulitan berjalan akhir-akhir ini karena pahanya yang agak bengkak akibat kehamilannya.


Halbert sering memijat betis dan pahanya untuk membuat otot-otot tubuh rileks. Sesekali Nola akan berkeliling rumah atau berjalan-jalan di taman belakang agar tidak menjadi pemalas.


"Bentuk tubuhmu akan kembali setelah melahirkan nanti. Jangan khawatir, ini benar-benar tidak gemuk, hanya sedikit berisi. Tidak percaya? Lihatlah sendiri."


Halbert mengambil cermin kecil dan menunjukkannya pada Nola.


Gadis itu menyentuh wajahnya yang agak bulat. Ini memang berisi tapi tidak gemuk. Ia bisa merasakan jika wajahnya masih cantik seperti biasanya.


Nola menghela napas lega. Dia pikir Halbert akan mengira dirinya gemuk lalu tidak menyukainya lagi.


"Aku bosan di rumah. Maukah kamu menemaniku belanja sore nanti," katanya.


Ini masih siang hari. Dia terlalu malas keluar rumah.


Halbert mengelus kepalanya. "Tentu saja. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Jika bosan, baca buku atau nonton TV."


Dia pergi ke ruang belajar untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Ada sore harinya, cuaca tidak lagi sepanas di siang hari. Nola mengajak Halbert berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar.


Halbert yang awalnya tidak suka berbelanja, kini menjadi lebih sabar saat menemani gadis itu.


Tanpa diduga, Nola akan melihat seseorang yang telah lama tidak terlihat. Musuh di jalan sempit.


Bukankah itu Chelsea? Setelah tinggal terlalu lama di dunia malam, gadis itu sepertinya berhasil mendapatkan seorang ayah gula untuk membesarkannya.