Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Klan Penyihir (2)


Matsuyama Kei tidak berani melawan kata-katanya lagi. Terlebih lagi saat para penyihir pemuja iblis lain menatapnya dengan aneh, ia bingung. Wanita tua Kei tidak banyak berkata, hanya memperkenalkan putranya sebagai pengikut yang berikutnya.


Setelah mengitari kepala kambing yang ada dalam pola heksagram sebanyak tujuh kali, para anggota penyihir itu membawa keduanya ke sungai untuk berendam selama beberapa jam.


"Beberapa jam? Apakah kamu yakin?" Matsuyama Kei menatap salah satu anggota berjubah hitam dengan ekspresi tidak senang.


Namun pihak lain tampaknya tidak marah sama sekali. "Jika kamu menginginkan sesuatu, tentu saja mudah untuk memintanya di sini."


Semua anggota langsung melepaskan jubah, melucuti satu persatu pakaian hingga tanpa sehelai benang. Nola dsn Halbert yang ada di kegelapan terkejut saat melihatnya. Ternyata mereka harus berendam di air sungai tanpa sehelai benang pun.


Matsuyama Kei melihat beberapa pemuja pria dan wanita yang telanjang, mau tidak mau wajahnya sedikit memerah. Melihat wanita telanjang di depan matanya sendiri, siapa yang tidak bereaksi.


Namun yang membuat Matsuyama Kei terkejut, ibunya juga melakukan hal serupa. Ia bangun dari keterkejutan dan segera melakukan hal yang sama. Lalu turun ke air sungai yang sangat dingin. Ibunya sudah tua, bisakah dia bertahan berendam di air sungai yang sangat dingin?


Baru saja turun ke dalam sungai, Matsuyama Kei menggigil kedinginan. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, ia merasa ada sesuatu yang menyetrum tubuhnya.


Melihat kembali ibunya yang sama sekali tidak merasakan dingin, ia bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana bisa ibunya begitu tahan dingin?


Matsuyama Kei tidak bertanya dan hanya bertanya-tanya dalam hatinya. Awalnya ia merasakan kedinginan. Namun perlahan-lahan, rasa dingin itu menghilang, tergantikan oleh rasa hangat. Ia merasa air sungai itu hangat sepeda pemandian air panas.


Salah seorang anggota pemuja iblis akhirnya menatap Matsuyama Kei. "Pergi ke dekat air terjun dan jangan bergerak," titahnya.


Matsuyama Kei melihat air terjun setinggi kurang dari sepuluh meter, mau tidak mau terkejut. Air terjun di depan mereka memiliki air jernih dan selalu mengalir deras sepanjang tahun. Bahkan jika musim kekeringan terjadi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Matsuyama Kei kebingungan. Kenapa dia harus berendam di dekat air terjun?


"Lakukan saja dan jangan banyak bertanya." Anggota yang memintanya untuk berendam di dekat air terjun mengubah nada bicaranya menjadi tidak sabar.


Wanita tua Kei akhirnya menghela napas, menatap datar Matsuyama Kei. "Taati saja."


Karena ibunya berkata demikian, Matsuyama Kei akhirnya hanya bisa mengangguk. Dia berenang ke dekat air terjun hingga. Mendekati air terjun, suhu airnya kembali dingin seperti sebelumnya. Matsuyama Kei menjadi lebih bingung. Di dunia ini, hal-hal mistis ternyata masih ada.


Ketika Matsuyama Kei berada di dekat air terjun, semua anggota pemuja iblis tak terkecuali wanita tua Kei menangkupkan kedua tangan sambil memejamkan mata. Tapi itu hanya berselang kurang dari satu menit.


Ketua pemuja iblis malam itu sepertinya membaca mantra. Matsuyama Kei merinding diam-diam, rasanya suasana di sekitar menjadi lebih dingin dari biasa.


Matsuyama Kei mencoba meraih udara untuk kembali ke permukaan. Namun rasanya seperti ada sesuatu yang menariknya terus ke dasar sungai.


Pada akhirnya, Matsuyama Kei tidak tahan lagi. Dia membuka mulutnya hingga semua air masuk ke paru-paru. Barulah setelah itu, ia tampak tak sadarkan diri untuk beberapa saat.


Di kegelapan, Nola dan Halbert memperhatikan apa yang terjadi. Terutama gadis itu harus menggunakan mata yang terlatih untuk melihatnya.,


"Napas Matsuyama Kei tidak terdeteksi lagi," bisiknya.


"Dia sudah mati?" Halbert mengerut kening, tidak mempercayainya sejak.


Sebelum Nola menjawab, ia merasakan napas Matsuyama Kei telah kembali. Untuk sesaat, Nola merasa bingung. Jelas bahwa itu bukan tipuan.


"Ada apa?" Halbert menepuk bahunya.


"Bukan apa-apa."


Nola tidak bercerita banyak untuk saat ini. Setelah memastikan sesuatu, ia akhirnya membawa Halbert untuk meninggal tempat itu. Walaupun Halbert penasaran, ia benar-benar tidak banyak bertanya saat kembali ke apartemen.


Barulah setelah tiba di apartemen, Nola berani untuk bicara. "Matsuyama Kei sudah mati," katanya.


"Yang di sungai tadi—"


"Itu asli," tukasnya. "Namun jiwanya sudah bukan lagi milik Matsuyama Kei. Jiwanya telah diambil. Roh mana pun yang menggantikannya pasti iblis."


"Kebangkitan setelah kematian?" Halbert terkejut.


"Lebih dari itu, tapi juga membuat perjanjian yang lebih dalam dengan iblis. Ini merepotkan. Jika menghadapi klan penyihir saja bisa memakan waktu yang cukup lama maka menghadapi iblis bahkan lebih lama," jelasnya serius.


"Lalu, apa yang dilakukan keduanya di hutan tadi?"


"Seharusnya penyembahan kepada iblis disertai dengan penyambutan anggota baru." Nola menebak. "Jika kita ingin berurusan dengan keduanya, maka harus menemukan mantan anggota klan penyihir atau mantan pemuja iblis."


"Serahkan padaku. Masalah ini akan segera diatasi. "