
Nola dibawa ke kantor Halbert dan meminta Sekretaris Eli untuk mengambil tisu. Gadis itu duduk di sofa tanpa perlawanan dan membiarkan Halbert melakukan apapun yang diinginkan.
Wajah Nola masih pucat tapi kali ini pikiran dan hatinya sudah tenang.
Saat Asisten Jae datang, Halbert menatapnya. "Apakah rekaman CCTV di elevator sudah diperiksa?"
"Sudah. Aku sudah menghubungkannya dengan laptop Bos."
"Ya." Halbert mengelap mimisan gadis itu lebih dulu lalu memeriksa rekaman CCTV di elevator yang dimasuki Nola.
Dari awal, tampaknya tidak ada yang salah. Nola masuk elevator bersama dua karyawan wanita. Lalu perlahan elevator naik. Tak lama, ekspresi Nola tampak berubah kaku, setelah itu menjerit dan memejamkan mata seolah-olah ada sesuatu yang mengejutkannya.
Nola mundur ke belakang dan menabrak dinding elevator. Kemudian dua karyawan wanita membantunya dengan penuh kepanikan. Salah satu dari mereka menelepon seseorang. Mungkin saat itu menelepon Sekretaris Eli.
Dari awal sampai akhir tidak ada yang salah. Halbert tidak bisa melihat apa yang dilihat gadis itu.
Halbert mau tak mau melihat Nola yang kini diam seribu bahasa. Wajahnya yang pucat mungkin mengingatkannya akan sesuatu di elevator.
"Apa yang kamu lihat saat di elevator?" tanyanya ringan.
Halbert duduk di samping Nola. Mimisan gadis itu sudah berhenti. Dia menggunakan tisu basah untuk mengelap sisa darah di wajahnya.
Setelah mendengar Halbert bertanya, Nola ragu-ragu untuk menjawab. Kedua tangannya memeras gaun dengan gelisah. Apakah Halbert akan percaya dengan apa yang dikatakannya?
"Ada apa? Kamu tidak mau membiarkannya denganku?" Halbert menyipitkan mata.
"Bukan ... Bukan seperti itu. Hanya saja aku tidak tahu apakah kamu akan mempercayainya atau tidak," jawab Nola langsung mengembuskan napas frustasi.
"Katakan saja. Memangnya hal aneh apa yang belum kamu tunjukkan selama ini? Bukankah semuanya sudah terbiasa?" Halbert merangkulnya untuk menenangkan gadis itu.
Halbert masih ingat apa yang dikatakan dokter keluarga beberapa hari yang lalu. Bahkan bisa dianggap sebagai menegurnya. Namun sebagai dokter, Dokter Arnold memiliki wewenang untuk menasihati pasien.
Di mata Dokter Arnold, Nola sudah menjadi pasien psikiater. Meskipun dirinya bukan seorang psikolog, tentu saja tahu dasar-dasar pencegahan dan penanganan.
Akhirnya Nola mau mengatakan apa yang dilihatnya secara mata batin. "Aku melihat seekor kalajengking hitam pada bayangan pintu elevator. Bayangan kalajengking hitam itu muncul dari tubuh salah satu karyawan yang ada di sampingku waktu itu. Kamu mau percaya atau tidak, aku tidak terlalu ... memikirkannya."
"Kalajengking hitam?" Halbert menyipitkan mata. "Menurutmu, apa artinya itu?" tanyanya datar.
"Artinya, orang itu ... memiliki aura dari si pemilik kalajengking hitam. Entah itu ditanam secara sengaja untuk memata-matai atau ... hanya korban tertentu. Mereka yang memiliki tanda ini berarti dilindungi pihak lain."
Menurut Nola, salah satu dari karyawan wanita di elevator tadi memelihara kalajengking hitam yang bersifat spiritual.
Halbert tidak berkata lagi untuk sementara waktu. Dalam pikirannya hanya ada satu kata yaitu ada mata-mata di perusahaannya. Mungkinkah Geng Kalajengking Hitam bergerak untuk mengacau di perusahaannya?
Jika benar seorang mata-mata dikirim ke perusahaannya, maka ... tidak ada yang bisa lolos dari jaring. Orang-orang yang berani melawan garis bawahnya sudah dijemput oleh malaikat maut!
"Bagaimana aku harus mempercayaimu? Haruskah aku memanggil seseorang untuk menginformasi?"
Nola menggigit bibir bawahnya dan mau tidak mau merekomendasikan seseorang. "Panggil saja seorang master Supernatural untuk ini," katanya.
"Supernatural? Adakah hal-hal seperti itu di dunia ini?"
"Ada."
Nola tiba-tiba saja meminta Halbert untuk mengeluarkan ponselnya. Pria itu memberikan ponselnya sendiri dan melihat Nola nomor telepon di daftar kontak.
Nomor telepon asing itu tidak ada di daftar kontaknya sejak awal. Jadi Nola mencoba mengingat nomor telepon seseorang.
Setelah mengetik serangkaian nomor, Nola memberikan ponsel itu pada Halbert. "Orang ini bisa dipercayai. Dia juga kenalan pamanku."
Halbert hanya menyimpan nomor telepon itu lebih dulu dan akan meneleponnya tadi. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan serius. Langsung bangkit dari duduknya ketika melihat seekor kalajengking hitam muncul di atas mejanya.
Dia ingin menggunakan kakinya untuk membunuh kalajengking hitam itu tapi Nola segera mencegahnya tanpa berpikir panjang.
"Tidak bisa membunuhnya! Jika dibunuh, kita akan ketahuan!" teriak Nola.
"Apa maksudmu?!" Halbert tidak tahu bagaimana bisa kalajengking hitam tiba-tiba muncul di atas meja. Apakah matanya sedikit rabun akhir-akhir ini?
Nola memegang tangan Halbert, tampak waspada. Di khawatir Halbert langsung menginjak kalajengking hitam itu hingga mati atau menembaknya dengan pistol. Intinya tidak bisa dibunuh sekarang.
"Aku ... Aku sengaja memeras aura dari salah satu karyawan wanita di elevator itu untuk mengeluarkan kalajengking penjaga ini. Kalajengking hitam ini terhubung dengan tuan aslinya. Jika terjadi sesuatu pada kalajengking, pihak lain akan tahu bahwa dirinya ketahuan. Jadi ... Tolong jangan lakukan apapun untuk saat ini," jelas Nola agak panik.
Dia tidak yakin apakah Halbert akan percaya atau tidak. Yang penting jelaskan saja dulu.