
Orang-orang yang menjemput Halbert dan Nola tak lain adalah Suyue serta kedua pamannya. Keponakan dan paman ini tak pernah berpisah satu sama lain.
"Itu mereka! Paman Sumin, itu Bos!" Suyue mengarahkan senter ke arah Nola dan Halbert berada.
Kondisi pakaian keduanya tak terlalu baik.
Paman Sumin dan Paman Suchang bergegas menghampiri keduanya. Suyue memegang senter, berjalan sedikit lambat dari mereka.
"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Paman Sumin.
"Kami baik-baik saja. Siapa yang meminta kalian datang?"
"Ini tuan Scott."
"Pak tua itu masih tahu cara mengkhawatirkan orang," ejek Halbert tidak serius.
Paman Suchang sedikit ragu untuk bicara. "Sebenarnya ... Tuan Scott ingin datang secara langsung. Tapi ... dia sibuk dengan serigala hitam supernatural."
"Itu hanya seekor serigala. Apa yang perlu disibukkan?" Halbert mengerutkan kening.
"Tuan Scott masih ingin tahu bagaimana bisa kepala serigala itu botak."
"..." Orange yang menjadi pelaku tanpa meninggalkan bukti, mencoba untuk tak dilihat mereka.
Untungnya tak ada bekas cakaran di kepala anjing bau itu. Jika tidak, mereka pasti akan tahu itu aku, batin si kucing penuh rasa syukur.
Nola juga tidak mengungkapkan penyembunyian kucingnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halbert dan Nola diantar pulang oleh mereka. Lalu kembali ke organisasi karena sibuk.
Kakek Jefford melihat keduanya pulang, akhirnya menghela napas lega. Akhirnya pulang! Dia bisa tidur dengan tenang nanti.
"Bagaimana dengan kalian? Adakah luka serius? Dokter keluarga masih di sini. Jangan lupakan perawatan."
"Kami baik-baik saja Kakek. Ini hanya luka luar, tidak serius." Halbert menolak dirawat oleh dokter. Begitu pula dengan Nola.
Keduanya bukan orang biasa. Kakek Jefford tidak terlalu memaksa mereka.
"Bagaimana Sean dan yang lainnya?" tanya Nola.
"Mereka di kamar tamu. Sean yang paling parah hingga tubuhnya diperban menjadi mumi oleh dokter keluarga." Kakek Jefford tertawa santai saat memikirkan kejadian sebelumnya.
"Dibungkus seperti mumi? Apakah lukanya sangat parah?" Nola pasti akan merasa sangat bersalah jika ada orang-orang Halbert terluka berat karenanya.
Kakek Jefford menggelengkan kepala. "Sebenarnya hanya patah kaki dan lengan. Sisanya hanya luka memar. Namun Sean agak pemarah dan Dokter Keluarga juga pendendam. Jadi dia dibungkus pada saat itu juga."
"..." Halbert dan Nola akhirnya bisa mendengar Sean berteriak mengutuk Dokter Keluarga dari kamar tamu.
Melupakan Sean yang marah-marah, Nola membawa Halbert ke kamar. Keduanya membersihkan diri lebih dulu dan berganti pakaian bersih.
Halbert memeriksa kedua kaki gadis itu, ada banyak memar karena berlari sebelumnya. "Apakah ini sakit?"
"Tidak masalah. Luka kecil akan hilang besok. Tapi bagaimana denganmu? Buka bajumu. Biarkan aku mengobati semua lukanya." Nola tahu tubuh Halbert terdapat banyak goresan dan memar.
Halbert tidak menolak. Dia membuka jubah mandi longgarnya. Nola menutup matanya langsung.
"Hanya sampai pinggang! Jangan buka semua!" Gadis itu menggertakkan gigi. Halbert pasti sengaja menggodanya.
Halbert terkekeh. "Tapi ini sakit semua." Ia tidak berbohong.
"Aku tahu. Mari atasi dulu luka yang di atas ..." Wajah Nola memerah.
Puas menggodanya, Halbert tidak lagi bersikeras melepaskan jubah mandi. Dia hanya melepasnya sebatas pinggang.
Nola mengambil kotak obat-obatan rumah dari bawah ranjang. Melihat banyaknya memar merah dan ungu serta goresan, kepalanya kesemutan.
"Ini sangat banyak! Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?"
"Bukan apa-apa. Nanti hilang seiring waktu."
"Jangan!" Halbert menahan tangan Nola yang hendak menyentuh dadanya.
Ia tahu jika Nola akan mentransfer sebagian luka ke tubuhnya sendiri. Tapi dia tidak mau. Nola menatapnya dengan heran.
"Luka ini jika di tubuhku akan pulih lebih cepat. Aku akan baik-baik saja."
"Tidak, jangan lakukan itu. Bukankah sia-sia bagiku untuk membunuh Helliu jika pada akhirnya kamu yang terluka?"
Nola terdiam.
"Oleskan saja obatnya. Jangan curang dengan diam-diam menarik sebagian lukaku." Halbert menatapnya serius.
Nola dikalahkan oleh keinginan kuatnya dan mengangguk. "Baiklah, aku tahu."
Gadis itu mulai mengoleskan obat sedikit demi sedikit. Halbert akan mengerutkan kening sesekali. Bahkan menghela napas panjang. Bohong jika tidak sakit. Dia juga manusia.
Ketika gadis itu meniup luka-luka di dadanya, rasa dingin dan hangat bercampur menjadi satu. Halbert tak bisa menahan diri untuk mengangkat dagu Nola dan mencium bibirnya. Jelas Nola tidak menyangka Halbert akan memberinya ciuman.
“Halbert!” Nola memelototinya. Wajahnya sedikit memerah seolah-olah suhu di dalam kamar lebih panas.
“Aku tak bisa menahannya. kamu terlalu cantik.”
Nola yang masih malu akhirnya menekan salah satu luka memar di dada pria itu. Halbert sedikit meringis.
“Sayang, itu sakit,” ucapnya lemah. “Kamu harus merawatku dengan sangat baik, okay?”
“Okay, aku akan merawatmu dengan baik. Kita melewatkan makan malam. Aku lapar.” Nola tanpa sadar menyentuh perutnya yang keroncongan.
Halbert juga mendengar perut istrinya berbunyi, mau tidak mau tertawa ringan. Nola kembali memerah dan kali ini dia menyentuh beberapa memar di tubuhnya sebagai hukuman.
“Kamu masih berani tertawa! Aku tidak akan merawatmu!” ancamnya.
“Maaf, aku tidak serius,” kata Halbert. “Aku juga lapar, ayo turun dan makan sesuatu.”
Halbert memakai baju tidur couple. Keduanya keluar kamar. Sebelum pergi ke ruang makan, Nola penasaran dengan kondisi Sean saat ini.
Di kamar tamu yang luas, beberapa anak buah Halbert tengah beristirahat. Mereka lebih suka rebahan di lantai beralaskan karpet bulu yang lembut. Adapun Sean, dia di tempat tidur dengan tubuh yang mengkhawatirkan.
"Bos!" Frangky tahu Halbert sudah kembali sebelumnya. Namun tak berani mengganggunya.
Halbert mengangguk. "Apakah ada korban jiwa?"
Frangky menggelengkan kepala. "Semuanya selamat, hanya terluka."
"Kalau begitu bagus. Biaya perawatan akan ditanggung olehku."
"Terima kasih, Bos!" Anak buahnya yang lain merasa terharu. Uang saku mereka masih aman di kantong.
Sean mungkin yang paling sial hari ini. "Bos, bagaimana denganku? Apakah kamu yakin dokter keluarga itu berkualitas? Lihat apa yang dia lakukan padaku? Membuatku malu untuk keluar!"
Nola menggunakan mata supernatural untuk melihat keadaan Sean. Meski di mata Nola hanya gambaran hitam dan putih, kndisi Sean cukup lucu.
Bagian lengan dan kaki yang patah diperban. Ia tidak perlu ke rumah sakit karena semua fasilitas dimiliki keluarga Jefford.
Sebenarnya patah lengan dan kaki pria itu tidak terlalu serius. Sehingga Dokter Keluarga juga menanganinya dengan mudah.
Nola menahan tawa saat melihat Sean penuh perban. Bahkan Orange yang lewat tak bisa menahan diri, tertawa lepas.
"Meow!! Ini sangat jahat, meow! Apakah kamu sedang diawetkan menjadi mumi, meow!" Orange menggoyangkan ekornya dengan gembira, masih tertawa.
"..." Sean tak bisa mengutuk kucing itu. Orange masih milik Nyonya Bos!
Karena suara Orange yang lucu, mereka tak bisa menahan tawa.
"Apakah kalian sudah makan?" tanya Nola mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja belum. Kami tidak akan makan sebelum kalian kembali." Sean sedikit mengeluh.
"Kalau begitu biarkan butler Cello mengatur makan malam buat kalian." Halbert mengangguk. Anak buahnya belum makan, bagaimana bisa dia makan dengan santai?