Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Kunjungan Tak Terduga


Pada tengah malam, Nola terbangun karena memimpikan ibunya lagi. Sudah cukup lama dia tidak bermimpi tentang ibunya. Halbert yang berbaring di sebelahnya juga ikut terbangun karena terganggu oleh gerakan di samping.


"Ada apa?" Pria itu bertanya dengan nada mengantuk.


"Aku bermimpi saat aku masih kecil."


"Apakah kamu merindukan ibumu?"


"Ya."


"Mari pergi ke kuburannya besok." Halbert memikirkan sesuatu. "Besok kita juga akan mengunjungi makam kedua orangtuaku."


"Oke."


Nola juga ingin pergi ke tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibu mertuanya. Dia khawatir Halbert akan mengenang masa kecilnya yang sangat menyakitkan. Dia segera berbaring kali dan memeluknya.


Halbert mengecup keningnya. "Tidur. Ini masih tengah malam."


"Aku tidak bisa tidur lagi." Nola merasa lebih terjaga malam ini. Tiba-tiba saja dia merasa ada pergerakan di luar rumah, mau tidak mau kembali bangun.


Halbert tampak tidak senang. "Jika kamu tidak tidur, kita bisa melakukan olahraga tengah malam," godanya.


Mendadak Nola meminta Halbert untuk tidak bersuara. Ekspresinya langsung serius. Meski lampu di ruangan itu telah dimatikan, Halbert yang telah membangkitkan aura supernaturalnya bisa melihat dalam gelap.


"Ada apa?" bisiknya.


"Ada tamu tak diundang."


Nola berniat untuk turun dari tempat tidur untuk memeriksa. Namun Halbert mencegahnya.


"Tetaplah di sini dan aku akan pergi melihatnya." Halbert berinisiatif untuk pergi.


"Tapi—"


"Jangan khawatir, aku akan berhati-hati." Halbert tahu apa yang dipikirkannya.


Nola mungkin bisa memeriksa tanpa ketahuan oleh pihak lain. Tapi bukan berarti dia juga tidak mampu melakukannya. Sebagai seorang suami, dia harus maju lebih awal.


Pada akhirnya, Nola menyerah dan dia menunggu sendirian. Halbert meninggalkan kamar dengan hati-hati, memastikan jika Butler Flir tidak terlihat. Sepertinya, kepala pelayannya juga tidak ada di rumah. Pada tengah malam seperti itu, kenapa dia pergi?


Halbert bergerak seperti bayangan yang tak terlihat. Bahkan penjaga tersembunyi tidak menyadari kehadirannya. Memeriksa ke halaman belakang, Halbert melihat seorang pria berjubah hitam memegang lentera dan berjalan ke arah kebun.


Tidak ada apa-apa di kebun halaman belakang selain danau dan ... ruang saluran air bawah tanah. Karena Elvada sudah tidak ada di sana lagi, ruangan itu tidak pernah diurus lagi.


Halbert tidak bisa melihat siapa pria berjubah hitam itu karena terhalang oleh tudung. Namun dari perawakannya, jelas bukan Butler Flir. Dia tidak berniat mengikutinya tapi kembali ke kamar.


"Ada apa di luar?" tanya Nola.


"Seseorang memasuki kebun belakang. Tidak tahu apakah pergi ke danau atau ruang saluran air bawah tanah." Halbert mengerutkan kening.


"Apakah kamu mengenali sosoknya?"


Halbert menggelengkan kepala. "Dia setinggi kakek tapi agak gemuk sedikit," jawabnya kurang yakin.


"Agak gemuk? Ayo ikuti dia."


"Apakah kamu yakin? Ini tengah malam." Halbert tidak berniat mengikuti sosok itu. Ia sama sekali tidak peduli.


"Lalu di mana Butler Flir?"


"Dia juga tidak ada di rumah."


Butler Flir memang tidak ada di kamarnya. Hal ini membuat Nola tidak yakin ke mana perginya pengurus rumah tangga. Setahunya setelah makan malam, Butler Flir pergi untuk membeli sesuatu dan katanya akan kembali sebelum tengah malam. Tampaknya belum kembali hingga saat ini.


Mungkinkah terjadi sesuatu di perjalanan pulang? Meskipun Butler Flir tidak terlalu tua dari segi penampilan, namun tulang-tulang lamanya tidak bisa membohongi usia.


Keduanya pergi ke halaman belakang dan mengikuti arah pria berjubah hitam tadi pergi. Cuaca cukup dingin malam ini sehingga Halbert memintanya memakai jaket lebih dulu.


"Lihat, lihat, apakah itu dia?" Nola melihat sosok pria berjubah hitam itu melalui mata supernatural nya.


"Ya, itu dia." Halbert mengangguk. Lalu terkejut. "Kakek juga di sana."


Apa yang dilakukan pria tua itu di dekat danau dan masih mengobrol dengan sosok pria berjubah hitam. Keduanya tampak berbicara serius. Nola sama sekali tidak berniat untuk menonton.


Ketika pria berjubah hitam itu mengeluarkan sebuah pisau dari balik jubahnya, dia pun menyerang dengan menggunakan aura supernatural. Kejadian ini sangat cepat hingga tak membutuhkan pihak lain untuk bersiap lebih dulu dan jatuh ke danau.


"Berani menyerang Kakek!" Nola keluar dan langsung berlari menuju Kakek Jefford. Halbert menyusulnya.


Kakek Jefford terkejut dengan perubahan mendadak itu. Bahkan lebih terkejut lagi ketika pria berjubah hitam jatuh ke danau dengan lancar. Setelah cukup tenang, dia menatap Nola dan Halbert yang datang entah sejak kapan.


"Kalian? Kenapa kalian di sini?" tanyanya bingung.


"Kakek, kami melihat seseorang yang mencurigakan di halaman belakang dan kami mengikuti ke sini." Nola sangat khawatir dengan keadaan pria tua itu. "Kakek, apakah kamu baik-baik saja? Orang itu tidak menyakiti mu kan?"


Sebelum Kakek Jefford mengatakan sesuatu, terdengar seseorang mengumpat dari danau.


"Sialan! Siapa yang mendorong pria tua ini ke danau! Cepat bantu aku naik!"


Riak di danau membuat mereka semua mengalihkan perhatian. Suara pria tua itu cukup akrab di telinga Nola dan Halbert. Dan mau tidak mau berpikir keras untuk mengingatnya.


Kakek Jefford membantu pria berjubah hitam itu naik ke darat dan tubuhnya basah semua. Ketika tudung besarnya dibuka, Nola dan Halbert terkejut.


"Jaley Scott?" gumam Halbert.


Jaley Scott yang masih mendengar nya pun menatapnya dengan tidak puas. "Apa yang Jaley Scott? Kamu masih memanggilku kakek!"


Sudut mulut Halbert sedikit berkedut. Tampaknya mereka tidak saling akrab walaupun sudah mengenal satu sama lain sebelumnya.


Nola bahkan lebih terkejut ketika melihatnya. "Ini kamu! Kenapa kamu di sini?" tanyanya bingung. "Mungkinkah kamu kenal Kakek Jefford?"


Jaley Scott sedikit lebih baik ketika ditanya olehnya. "Tidak apa-apa. Senang melihat anggota keluarga Jefford lama masih hidup dengan baik. Aku hanya datang untuk menyapanya malam ini."


"Lalu ... kenapa kamu memegang pisau?"


"Ada apa? Kamu berpikir aku akan membunuhnya? Nak, imajinasi mu sangat kaya. Siapa itu Hagan Jefford? Pria tua yang telah berbisnis di dunia mafia masih tidak waspada dariku? Konyol!" ejeknya.


Nola sedikit malu. Ini juga benar. Tapi bagaimana pun juga Kakek Jefford tidak membangun aura supernatural di tubuhnya sehingga dia masih khawatir saat itu.


"Baiklah, jangan mempermalukan anak itu. Mereka tidak tahu. Emosimu sangat tidak terjaga. Bagaimana bisa keluar Whitemir berteman denganmu sebelumnya. Ini lebih konyol lagi." Kakek Jefford membela cucu menantunya.


"..." Jaley Scott menutup mulut. Siapa sangka mulut Kakek Jefford lebih beracun darinya.


Untungnya Jaley Scott tidak mempermalukan Nola lebih jauh lagi. "Aku pergi ke rumahmu untuk mengambil pisau dapur dan hendak membersihkan ikan. Kami berniat mengobrol sambil memanggang ikan."


Nola yang salah paham mau tidak mau menyentuh lengan baju tidur Halbert. "Lalu, apakah kalian sudah menangkap ikannya?"


Pertanyaan itu langsung membuat keduanya terdiam. Inilah masalahnya. Mereka telah memancing ikan sejak satu jam lalu tapi tidak ada satu pun ikan yang berenang ke arah umpan. Ikan-ikan itu seperti tahu ada manusia yang hendak memancing.


"Kalau begitu aku akan menangkap ikannya." Nola berniat untuk bergabung dengan mereka.


Jaley Scott menatap Nola dengan tidak percaya. "Bisakah kamu menangkap ikan dengan kemampuan keberuntunganmu?"