Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 45


Siang hari ketika mereka menemui Andrew di sebuah restoran, baik Olivia maupun Derren terkejut dengan seorang pria bermanik mata biru yang datang bersama Andrew.


Pria itu adalah pria yang bertemu Olivia di starbuck beberapa hari yang lalu.


“jadi kau Derren, maaf kemarin aku tidak mengenalmu, terakhir kita bertemu usiamu mungkin belum satu tahun, dan aku berusia 6 tahun” kata Richard


Derren masih bingung


“dia Richard anak angkat daddy dan mommy mu Livia, dulu kami wali dari Richard selama 17 tahun” kata Andrew


Mereka lantas berbagi cerita, Crystal juga sangat senang bertemu dengan andrew. Selalu begitu, Crystal selalu mudah akrab dengan siapa saja.


Ternyata Richard telah berada di London 2 tahun, ia bekerja di rumah sakit kepolisian, ia seorang psikiater.


Richard dan Derren mulai asik bertukar cerita tentang kesibukan masing masing dan kendala kendala dalam pekerjaan mereka, sedangkan andrew berbincang dengan Olivia seputar Crystal


“aku tidak menyangka secepat ini aku menjadi tua, tiba tiba memiliki seorang cucu secantik Crystal” kata andrew dengan kebahagiaan yang tampak di wajahnya


“daddy, Crystal secantik mommy Livia” kata Olivai


“iya, dia sangat mirip Livia” Andrew benar benar tidak menyangka, putranya dan putri Danu yang ia curigai sebagai cinta pertama Livia akhirnya memiliki ikatan. ‘Ini pasti bukan kebetulan semata, ini pasti ikatan takdir’ Batin Andrew


Olivia tersenyum bahagia dengan kehangatan yang kini menyelimuti dirinya dan Crystal.


“kapan kalian akan menikah?” tanya Andrew


“kami belum memutuskan tanggalnya, rencananya kami akan kembali ke Tokyo terlebih dulu, lalu ke Jakarta bertemu kakek dan nenek”


“oh itu bagus, beritahu tanggalnya kami akan menyusul ke Indonesia bertemu mommy Sofia, dan jika ada waktu pergilah ke Uzbekistan” kata andrew “akan kuberi tahu Nameera untuk datang agar ia bisa bertemu Crystal”


“baik, akan kami pikirkan nanti daddy”


Dua hari kemudian Olivia dan teman temannya berjanji untuk bertemu di sebuah kedai kopi milik Theo, Theo memiliki beberapa Cafe dan yang paling menjadi favorit mereka adalah yang terletak di sekitar jalan menuju Oxford University.


“akhirnya aku tenang, kau dan Derren memang sudah ditakdirkan” kata Theo “yaaa walaupun aku sedikit patah hati” kekeh Theo


“kau masih bisa bertemu Crystal, lagi pula kau ayah baptisnya” kata Olivia dengan wajah berseri.


“aku benar benar patah hati jika kalian menetap di Tokyo” kata Theo


“aku harap tidak ada lagi Olivia yang akan mengetuk pintu rumahku sambil menangis, 3 tahun yang lalu itu adalah yang terakhir” itu adalah murni harapan hati Miranda


“ku harap, karena aku akan terlalu jauh mengetuk rumahmu di roma” kata Olivia setengah bercanda.


“aku harap kau dan Crystal selalu bahagia Olivia” kata Louis dengan nada berat, ia tidak terlalu banyak bicara.


Tatapan matanya tampak frustasi dan terus tertuju pada Olivia.


“kalian berkata seolah olah aku akan menikah besok, Derren hanya melamarku, kemudian kami akan pergi ke Tokyo ia harus kembali bekerja dan keluarga kami ingin melihat Crystal lagi” keluh Olivia


“jadi kalian ingin tinggal di mana setelah menikah?”


“entahlah Miranda, kami belum membicarakannya dan aku juga ingin mengambil spesialis anak, aku belum memberitahu Derren masalah ini” kata Olivia


“lihat wajahmu Olivia, kau sangat merona, ya tuhan jatuh cinta memang menyenangkan” Miranda melirik Louis yang tidak biasanya.


“aku tidak jatuh cinta” elak Olivia


“bibirmu selalu berkata tidak, tapi sejak kembali dari tokyo 3 minggu yang lalu wajahmu selalu merona” Miranda sangat paham dengan Olivia.


“oh iya ibuku mengatakan sweter yang rajut untuk Crystal telah selesai, aku akan mengantarkannya nanti” kata Theo


“Theo aku dan Crystal akan mengambilnya, sekalian aku bertemu ibumu, beliau pasti rindu Crystal” kata Olivia


“baiklah, ibuku memang selalu menanyakan kalian” kata Theo


Mereka melanjutkan perbincangan hingga senja telah mulai merayap, dan mereka membubarkan diri. Theo mengekori olivia hingga sampai ke mobilnya, ketika Olivia hendak membuka pintu mobilnya tiba tiba dua orang pria bertopeng memukul Theo hingga tersungkur dan secepat kilat menyergap Olivia membawanya lari.


Theo yang tersungkur di tanah bersusah payah bangun dan memegangi kepalanya dan berteriak, namun sia sia.


Olivia tellah di bawa bawa masuk ke dalam sebuah mobil hitam oleh kedua pria tersebut dan menghilang!!!


“Theo ada apa?” tanya Miranda yang datang tergopoh gopoh bersama Louis,


“Olivia di culik!” kata theo sambil masuk ke dalam Masserati milik Olivia


“aku akan menyusulnya” kata Theo


“kau tau kemana mereka?” tanya Louis


Theo urung menginjak pedal gasnya, ia baru sadar plat mobilnya pun ia tak mengingatnya, bagaimana mungkin?


“Miranda telfon Derren!!!! Cepat!!!!” Theo tampak sangat panik


Bergetar tangan Miranda menyentuh ponselnya untuk memanggil Derren, dan terbata bata ia menceritakan kronologi penculikan.


Namun Derren justru menjawab dengan nada sangat tenang


“baiklah, jangan khawatir Miranda aku akan mencarinya”


“apa apaan kau Derren bagaimana kau bisa setenang ini?” nada suara Miranda meninggi


Theo merebut ponsel dari tangan Miranda


“Derren, apa perlu aku menghubungi polisi?”


“Theo, tenanglah, biar aku yang menghubungi polisi” kata Derren tenang


“bagaimana kau bisa setenang itu? Olivia dalam bahaya!!!”


“beri aku nomer ponselmu, dan bawa Miranda bersamamu” kata Derren pelan.


“maksdumu?”


“ikuti saja instruksiku”


“baiklah”


Setelah menyalin nomer ponsel Derren segera ia mengembalikan ponsel Miranda.


“kita berpencar, Miranda kita ke tempat Derren, Crystal membutuhkanmu, Louis kau tolong cari info keberadaan Olivia” kata Theo dengan nada mengambang, ia masih merasa seperti mimpi. Olivia di culik saat berada tepat di depan matanya dan ia tak mampu berbuat apa apa.


Theo merasa ia sungguh tak berguna.


Sementara di dalam mobil Olivia di ikat tangannya dan di tutup matanya, kemudian ia mendengar suara wanita di dalam mobil itu.


Mengusap pergelangan tangannya dan menyuntikkan sesuatu yang membuat tubuh Olivia melemah kemudian sayup sayup jiwanya melayang. Kantuknya datang dan tubuhnya mulai kehilangan kesadaran ia terbawa mimpi. Namun sebelum hilang kesadarannya ia sempat merasakan, suntikan yang ia terima berasal dari seorang tenaga medis yang profesional.


Bahkan sangat profesional.


1 jam kemudian Olivia merasakan kesadarannya perlahan lahan mulai kembali, Ia mendengar sayup sayup suara seorang wanita sedang berbicara, Olivia memutuskan berpura pura masih tertidur meskipun posisinya sangat tidak nyaman. Karena posisinya duduk terikat di sebuah kursi.


“lepaskan dia, aku akan membawanya pergi sejauh mungkin, lepaskan dia ku mohon” suara itu saangat familiar di telinga Olivia


“tidak!!!! Dia mengambil Derren dan putriku”


“putri? Siapa putrimu?”


“Crystal adalah putriku, aku yang melahirkannya”


“omong kosong, kau terlalu banyak mengkhayal”


“aku tidak berkhayal, aku tidak gila”


“baiklah, baiklah, lepaskan Olivia, biarkan aku membawanya pergi sejauh mungkin. Dan kau , kau bisa memiliki Derren dan Crystal”


“hahahhaha.... tidak, dia harus mati”


“Merry, kumohon, aku sudah lelah menutupi semua ini, aku tidak bisa lagi berpura pura mencintai Miranda, 2 tahun berada disisinya menjadi bayangan, kesabaranku sudah cukup, sekarang biarkan aku membawa Olivia pergi oke?”


Olivia mendengar semua itu, ia membeku.


Louis, ia tau semua ini dan ia dengan sangat rapi menutupi kebohongannya. Ternyata salah satu orang terdekatnya adalah orang yang tidak bisa di percaya!


Olivia benar benar merasa kecewa.


TAP JEMPOL KALIAN 😑👆😏👍👍👍👍