Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 75


Seharusnya ia tidak membawa 5 bandit untuk melakukan kebejatan pada Merry!!! Seharusnya hanya dia yang menyentuh Merry!!!


Dave bangkit tanpa berkata apa apa.


Ia segera menuju rumah sakit di mana Merry menjalani rehabilitasi.


Cukup lama Dave menunggu Richard, ia kesulitan bertemu dokter yang menangani Merry karena ia tidak memiliki janji.


“aku ingin bertemu dr. Richard” kata Dave sekali lagi pada asisten Richard di depan ruang kerjanya


“maaf tuan, dr. Richard sedang menangani pasien”


jawab asisten yang verdiri di galik meja itu dengan ramah


Dave mendengus kesal, ini sudah ke sekian kalinya ia memohon.


“katakan padanya aku suami Merry pasiennya” kata Dave pada akhirnya


Perawat menatap Dave dengan pandangan menyelidik sambil mengerutkan keningnya, siapa pun tahu Merry belum menikah.


“baik akan saya sampaikan, silakan duduk Mr. Dave” kata asisten itu, bagaimanapun juga Merry adalah salah satu pasien yang di prioritaskan, pastilah yang mencarinya bukan orang orang sembarangan. Batin asisten itu, akhirnya ia menemui Richard dan menyampaikan kedatangan Dave.


Richard menatap dingin pada pria yang tertunduk lesu di depannya.


“Merry ingin bertemu denganmu dan meminta maaf pada ibumu” kata Richard


“Akulah yang harus meminta maaf”


“Aku akan bertanya dengannya terlebih dahulu, apakah ia siap bertemu denganmu atau ia perlu waktu mempersiapkan diri”


Dave menunduk dalam dalam, Richard membawa Dave menuju kamar di mana Merry berada.


Gadis itu sedang duduk sambil menekuk kedua kaki di lantai, memang itu menjadi kebiasaan Merry selain membaca Alkitab.


Richard tidak mengizinkan Merry membaca buku apa pun selain Alkitab, ia khawatir Merry berpikir terlalu keras jika membaca buku buku lain.


Richard duduk memekuk kakinya di depan Merry, sedangkan Dave ia menunggu di depan pintu mengintip keadaan Merry yang mengenaskan melalui celah kecil pintu yang tidak di tutup rapat.


“Merry...” panggil Richard untuk ke tiga kalinya.


Merry mendongak, tatapan matanya kosong, namun air matanya jelas mengotori wajah putihnya, rambutnya sedikit berantakan.


“Apa kau baik baik saja?”


Merry mengangguk


“Richard keluarkan aku dari sini” rintihnya


“Apa yang akan kau lakukan jika kau keluar?”


“Aku muak tempat ini” isaknya


“Aku mengerti” kata Richard dengan lembut “kau ingin mencari Dave?”


Dengan lemah ia mengangguk


“Apa kau siap bertemu dengannya?”


Ragu ragu Merry menggeleng


“Kenapa?” tanya Richard


Tubuh Merry menegang tiba tiba,


“Tidak Richard, aku tidak siap bertemu Dave” tangis Merry pecah kembali, Seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Richard memanggil perawat untuk memberikan suntikan obat penenang, dan Merry tertidur tak berdaya di atas ranjangnya, wajahnya putih pucat tanpa kehidupan.


“Kau lihat sendiri Dave, hasil perlakuanmu padanya, ia mungkin tidak akan bisa melupakannya seumur hidupnya”


“Izinkan aku menemaninya, hingga ia membuka matanya, aku bisa mengatasi, aku sangat mengenalnya”


Dave memohon


“Kau tidak mengenalnya, andai kau mengenalnya seharusnya kau tidak terburu buru mengambil keputusan membalas dendammu” jawab Richard dengan nada dingin.


“Beri aku kesempatan menebus dosaku”


“Baiklah, sekali ini kita coba dengan caramu” kata Richard mengalah meskipun ia tidak yakin bagaimana sikap Merry nanti ketika ia bangun melihat Dave berada di ruangan itu.


“panggil perawat yang berjaga di luar jika kau tak bisa menanganinya” kata Richard


Dave mengangguk mengerti.


Cukup lama Dave menunggu Merry tak kunjung terbangun, tak henti hentinya Dave memandangi wajah pucat Merry, 10 tahun telah berlalu, gadis tomboy itu tumbuh dengan baik, ia tampak dewasa dan terlihat cantik dengan rambut panjangnya meskipun tampak berantakan dan tak terurus.


Jika ia bersabar membujuk Merry, mungkin semuanya tidak harus terjadi, ia juga menyayangi Merry, mungkin perasaan mereka sama, hanya karena ketakutan Dave ia menolak Merry mentah mentah.


Sekarang semua telah terjadi, bukan hanya Merry yang pernah melakukan kesalahan, ia juga melakukan kesalahan yang besar, Dave merasa ia adalah bajingan sesungguhnya.


Dave membelai rambut Merry, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya, gadis ini masih seperti dulu, ia terlaku banyak bergerak ketika tidur. Senyum tipis mengembang di bibir Dave mengingat 12 tahun yang lalu, masa remaja yang mereka lewati.


Sedangkan Merry, dalam tidurnya ia sedang kembali ke masa lalunya bersama Dave


“Dave, aku ingin suatu saat memiliki rumah di pesisir pantai, aku ingin berjemur di tepi pantai kapan pun aku mau, aku benci kulit pucatku”


Dave hanya tertawa kecil mendengar Merry mengatakan itu


“Kau akan tinggal di sini Merry, jika kau tinggal di pesisir pantai bagaimana rumah sakit yang akan kau warisi?”


“Aku tidak peduli, aku tidak ingin menjadi dokter” keluh Merry, ua tidak ingin menjadi dokter.


Dave hanya mengusap pucuk kepala Merry


“Dave setelah lulus sekolah menengah atas apa yang akan kau lakukan?” tanta Merry


“kau tidak ingin kuliah Dave?”


“aku tidak tertarik, aku ingin kursus otomotif saja”


“Ku rasa itu cocok untukmu”


“Benarkah begitu?”


Merry mengangguk sambil tersenyum manis “Dave hanya kau satu satunya keluargaku” gadis itu berguman


Dave tersenyum mendengar kata kata Merry, itu sudah berpuluh puluh kali ia katakan bahkan mungkin ratuan.


“Kenapa kau tersenyum Dave?” kesal Merry


“Cepatlah Dewasa dan berhenti bersikap konyol”


“Aku sudah dewasa, lihat, aku tumbuh tinggi” kata Merry sambil berjingkat berusaha menyamakan tinggi tubuhnya dengan Dave meskipun itu mustahil.


“Hati hati kau bisa jatuh” Dave menangkap tubuh Merry yang nyaris limbung, di dekapnya tubuh Merry seolah olah Merry adalah benda berharga yang tak boleh terluka sedikit pun.


Merry mencoba menyingkirkan tangan yang melingkar erat di pinggangnya, samar samar ia mencium aroma yang pernah ia kenal.


“Dave” gumannya, ia tak mampu membuka kedua kelopak matanya karena efek obat penenang yang masih tersisa, namun karena merasa kesulitan bernafas ia berusaha keras membuka matanya.


Samar samar ia melihat pria berambut hitam memeluknya erat, wajahnya berada di ceruk leher Merry membuat Merry tak mampu melihat wajah pria itu.


Namun Merry tahu siapa pria yang memeluknya.


Ia segera meronta dengan kasar dan menjerit membuat Dave terbangun hingga melepaskan pelukannya pada tubuh Merry.


Dave segera duduk begitu juga Merry.


Tatapan mereka beradu, tidak ada yang berbicara, namun terlihat jelas raut wajah Merry semakin pucat, ia bahkan menggigit bibirnya dengan keras dan tubuhnya bergetar hebat.


“Maafkan aku, Merry” itu yang pertama kali terucap dari bibir Dave


“Richard.....” jerit Merry “Richard.... tolong aku Richard” jeritnya lagi


“Merry tenanglah” pinta Dave dengan nada rendah


“Richard tolong aku, aku semakin gila, aku melihat Dave, Richard tolong aku berhalusinasi lagi” jeritnya.


Beberapa perawat datang untuk menenangkan Merry, tentu saja Richard tidak ada karena waktunya sudah hampir tengah malam, pria itu tentu sedang tidur meringkuk memeluk istrinya di tempat tidurnya yang hangat.


Merry menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, akhir akhir ini ia memang tidak pernah lagi berhalusinasi, tepatnya setelah ia memberanikan diri menceritakan semua yang pernah ia alami pada Richard kondisinya sebenarnya semakin membaik.


Namun kata Richard penyakitnya belum bisa di katakan sembuh, karena Merry masih sering kehilangan jiwanya, gadis itu masih sering melamun dan tatapan matanya juga kosong, di tambah lagi ia sering mencoba bunuh diri karena putus asa ingin keluar dari tempat itu.


“Sebaiknya anda keluar, biarkan pasien menenangkan dirinya dulu” kata seorang perawat.


“Baiklah” kata Dave dengan patuh


Dave menunggu di luar, sementara perawat menenangkan dan membujuk Merry untuk tidur kembali


Akhirnya Dave memutuskan mencari penginapan di sekitar rumah sakit karena kepalanya teras berdenyut, ia telah beberapa hari tidak tidur karena memikirkan Merry, dan ia juga baru beberapa menit tertidur saat memeluk tubuh Merry. Namun tidak di sangka gadis itu justru mengira ia sedang berhalusinasi dan justru berteriak ketakutan saat melihat dirinya.


“Richard, aku berhalusinasi lagi tadi malam” kata Merry sambil duduk bersila di atas ranjangnya saat Richard memeriksa keadaannya pagi itu.


Richard duduk sambil menulis beberapa perkembangan Merry, sudah satu tahun lebih ia mengamati perkembangan Merry, satu satunya kemajuannya adalah gadis itu tidak berhalusinasi lagi setelah menceritakan pemerkosaan yang dialaminya, dengan berbagi beban pikiran dengan orang lain yang dapat di percaya sedikitnya dapat meringankan beban pikiran meskipun kadang orang lain tak mampu banyak menolong kita.


Richard meletakkan pena yang berada di antara jemarinya, ia tersenyum lembut kepada Merry


“Bagaimana jika itu adalah nyata?”


“Tidak Richard, ku rasa aku memang sudah gila, aku berhalusinasi lagi” kata Merry dengan tatapan murung


“Jika aku katakan itu nyata, apa kau percaya?”


Tubuh Merry menegang, lembut tangannya mendekap tubuhnya sendiri seolah olah sedang merasakan kembali pelukan Dave tadi malam sambil memejamkan matanya, Dan wajahnya yang pucat sedikit tampak merona.


Richard bisa membaca ekspressi itu, “Kau ingin bertemu dengannya lagi?”


Merry menggeleng


“Kenapa?”


“Keadaanku sangat menyedihkan, aku tidak ingin dia melihat betapa menyedihkannya aku saat ini”


“Kau merindukannya bukan?”


Ragu ragu Merry mengangguk


“Richard, di mana barang barangku?” tanya Merry tiba tiba


“Barang? Barang apa?” tanya Richard tampak bingung


“Aku perlu make up dan pakaian bagus untuk bertemu Dave, aku tidak mungkin menemuinya menggunakan pakaian seragam rumah sakit seperti ini, ia akan tahu kalau aku gila Richard”


Richard terkekeh


“siapa bilang kau gila? Tidak ada yang gila, kau hanya menenangkan diri di sini, seragammu ku rasa tidak buruk, kau hanya perlu menata rambutmu agar rapi, perawat bisa membantumu”


kata Richard dengan nada hsngat.


Merry tampak berpikir sejenak sambil memandangi pakaiannya, akhirnya ia mengangguk dan menuruti saran dari Richard.


SELAMAT PAGI 😄😄😄


KALAU HARI INI UP LAMBAT MAAFKAN YAH, ITU PERBUATAN TIM REVIEW BUKAN PERBUATAN AUTHOR. HEHEHEE.


TAP JEMPOLNYA DAN JANGAN LUPA KOMEN 😚😚😚