Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
31


Alangkah terkejutnya Andrew saat ia pulang bekerja dan mendapati camelia, kekasihnya yang tengah mengandung putranya ia sedang bercinta dengan pria lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri di apartemen yang mereka tinggali.


Sejak saat itu hilang semua rasa cintanya pada camelia, tidak tersisa sedikitpun, hanya tertinggal rasa jijik, tapi bagaimanapun juga ia harus tetap bertanggung jawab pada janin yang di kandung camelia.


Andrew tetap membiayai kebutuhan camelia selama masa kehamilannya, menanggung biaya persalinannya dan membiayai putranya sampai saat ini.


Bahkan andrew juga telah membelikan rumah untuk ditinggali camelia dan putra mereka, namun karena sisi jalang camelia ia menjual rumah itu dan menghabiskan uangnya untuk berfoya foya, kemudian ia menitipkan putranya pada orang tua camelia.


Satu tahun yang lalu ibu dari camelia meninggal dunia dan camelia tidak tau lagi kemana menitipkan putranya, ia sering pulang dalam keadaan mabuk, dan memukuli putranya, tetangga yang merasa iba melihat keadaan putra camelia memutuskan untuk merawatnya.


Andrew sudah tau keadaan itu karena setidaknya 3 bulan sekali ia datang ke canada untuk melihat keadaan putranya, namun sejak ia menikahi livia ia belum pergi ke canada untuk menemui putranya.


Andrew takut livia mengetahui masa lalunya dan tidak bisa menerima richard putra andrew dan camelia hingga ia memilih untuk menutupinya.


Dan 3 bulan yang lalu setelah andrew memposting foto pernikahannya bersama livia di media sosial, wanita itu menghubunginya memaksa datang ke tokyo meminta uang terus menerus dan mengancamnya akan memberi tahu livia tentang masa lalu andrew, dan dengan bodohnya ia menuruti keinginan camelia untuk datang ke tokyo.


“apa mommy dan daddy tau tentang putramu?” itu hal pertama yang livia tanyakan


“Mereka tau, sejak pertama melihat camelia mommy langsung gak suka sama camelia, wanita licik kata mommy” jawab andrew jujur


“dimana putramu?”


“setiap pagi aku menjemputnya, aku membawanya ke perusahaan, lalu malam aku mengantarnya ke hotel, aku menyewa seorang pengasuh wanita untuk menjaganya selama di hotel, pengasuhnya ada di dalam bersama richie tadi malam” andrew menjelaskan


“terus kamu ngapain drew disitu sampai larut malam?” selidik livia dengan tatapan tajam


“tadi malam kami bertengkar aku berusaha bernegosiasi menyuruh camelia balik ke canada” jawab andrew jujur ia juga menjelaskan bahwa ia sering tidak bisa cepat kembali ke apartemen mereka karena camelia tidak ada bersama richard, wanita itu pergi bersama kekasihnya dan andrew tidak tega membiarkan richard hanya di temani pengasuhnya.


“terus dia mau?” livia mencari kebohongan di mata andrew


Andrew hanya menggeleng


"kamu mau balikan sama camelia demi richard?”


“terus istriku yang penyabar dan cantiknya kelewatan, yang aku kejar sampai hampir gila naik kereta api kelas ekonomi dari jakarta ke jogja mau di kemanakan?” jawab andrew di iringi tawa kecil


Livia mencubit lengan andrew "jangan cengengesan kamu drew, aku masih marah kamu gak jujur sama aku dari awal" kata livia sengit


"maaf istriku" kata andrew penuh kesungguhan


“terus kamu tau aku di hotel dari siapa?”


“aku ngikutin kamu” livia tentu saja bohong


“bohong livia”


“gak penting pokoknya bukan naoki yang kasih tau, jangan menduga dia jangan bawa bawa dia dalam masalah rumah tangga kita. Aku gak suka ya drew” kata kata livia mulai tidak kaku, namun andrew sebal karena livia selalu melindungi naoki dari prasangkanya.


“terus putra kamu mau di gimanain masa di bawa ke perusahaan terus kan kasian kamunya kasian juga anaknya?”


“entahlah, aku juga bingung” andrew menekan pelipisnya


“drew, gini aja. Bawa ke sini biar sama aku dan mbak siti di rumah”


“tapi akan susah mbak siti gak bisa bahasa inggris livia”


“iya juga sih ya” livia berfikir “ya udah sama pengasuhnya yang sekarang aja sekalian” lanjut livia


“livia kamu yakin?”


“drew bawa aku ketemu richie” pinta livia


“livia.... puji tuhan, istriku emang yang terbaik” andrew meraih kedua tangan livia dan tanpa berhenti terus mengecup punggung tangannya. “sayang terima kasih”


Selepas perbincangan pagi itu mereka segera menuju hotel dimana richie berada. Sesampainya di hotel, pengasuh richard membukakan pintu, anak kecil berusia 5 tahun itu langsung menghambur ke dalam pelukan andrew


“daddy, apakkah kita akan pergi ke perusahaanmu lagi?” tanyanya riang


“apa kau suka?” tanya andrew


Pria kecil itu mengangguk, kemudian ia menatap livia


“richie ini livia istri daddy” andrew memperkenalkan livia pada putranya


“hai richie...” sapa livia” livia mengamati wajah richie dengan seksama.


“istri daddy? apakah kau juga mommyku?” tanyanya polos


“apa kau ingin memanggilku mommy?” tanya livia dengan nada hangat


“ya mommy livia” angguk pria kecil itu


“richie apakah kau mau tinggal bersama kami?” tanya andrew


“bersama daddy dan mommy livia?” tanyanya senang.


“apa kau mau?” tanya livia


"tentu” jawab nya bersemangat “mommy livia are you pregranant?” pria kecil itu menunjuk perut livia yang membuncit


“iya, mommy livia sedang hamil” jawab livia


“apakah itu adikku?”


“tentu saja ini adikmu, apa kau ingin menyentuhnya?”


malu malu richie menyentuh perut livia dengan tangan kecilnya, livia sangat gemas melihat richie yang sangat imut.


Andrew memerintahkkan pengasuh richard untuk mengemasi barang barang mereka.


“drew terus gimana ibunya richie?”


“dia gak mungkin perduli”


“jangan gitu drew, kita gak bisa membawa anaknya begitu aja seperti pencuri, setidaknya kasih tau dia dulu” pinta livia


Andrew makin kagum dengan semua yang di perbuat livia, bahkan richie langsung akrab hanya dengan sekali pertemuan dengan livia.


Andrew memanggil camelia dan menunggu wanita itu datang, selang setengah jam kemudian benar saja wanita itu datang, livia duduk di samping andrew dan camelia langsung duduk di kursi lain di ruangan itu.


“kami akan membawa richie tinggal bersama kami” kata nadrew


“kau tidak bisa membawanya charles” camelia selalu memanggil nama tengah andrew


“aku ayahnya aku berhak membawanya” jawab andrew dingin


“tidak aku tidak mengizinkannya” jawab camelia, wajahnya yang cantik namun terkesan sombong memandang livia dengan tatapan tidak suka yang tak bisa di sembunyikan


“aku tau, kau hanya khawatir aku tak memberimu uang lagi jika richie tinggal bersamaku” jawab andrew lebih dingin


“aku akan mengirimmu kembali ke canada” kata andrew “sekretarisku akan menghubungimu untuk mengurus semuanya” lanjutnya


“aku tidak akan kembali ke canada selama richie masih di sini”


“bukankah kau tidak pernah perduli dengannya? Ada apa kau tiba tiba perduli pada richie?”


Camelia hanya memiringkan bibirnya menyeringai dengan sinis


“aku tidak tau apa rencanamu, tapi tidak akan ku biarkan kau mengganggu kehidupan kami” ucap andrew dingin


“my wife ayo pulang” ajak andrew pada livia, ia sengaja menekankan kata wife depan camelia


Livia menyipitkan matanya dan tersenyum tak kalah licik pada camelia yang kini wajahnya menjadi tampak suram.


Beberapa hari telah berlalu, richie dan livia benar benar seperti ibu dan anak. livia bahkan kalap berbelanja segala sesuatu keperluan richie, hingga andrew hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka bahkan belum banyak membeli keperluan untuk bayi mereka karena livia menolak untuk mengetahui jenis kelamin calon bayi yang di kandungnya, jadi andrew tidak banyak membeli perlengkapan karena takut salah memilih warna.


Andrew sedang menciumi perut sambil di elus elus, setelah aktifitas mereka menjalankan rutinitas 'makan malam di ranjang' mereka


“apa anak daddy udah tidur?”


“belum daddy” sahut livia menirukan suara anak kecil


“benarkah?”


“beneran daddy, dedeknya masih ingi main sama daddy”


“mommynya yang pengen main apa dedenya?” tanya andrew sambil duduk dan bersandar di ranjang.


Livia bangkit dan duduk di paha suaminya, mengecup bibir andrew, kemudian menegakkan tubuhnya sedangkan andrew membelai tangan livia dengan sebelah tangannya, dan tangan yang lain membelai rambut livia yang indah tergerai di bahu istrinya


“aku mencintaimu istriku” sambil menatap wajah cantik istrinya


“drew kayanya kita harus mendaftarkan richie sekolah, aku prihatin drew umurnya 5 tahun tapi richie belum mengenal huruf” kata livia tanpa menjawab ucapan cinta andrew, ‘sudah biasa, apa dulu naoki juga di cuekin gini?’ batin andrew


Andrew menepis pikiran itu “camelia benar benar wanita sialan” gumannya kemudian


“kita perlu dokumen dokumen kewarga negaraan richard dan camelia membawanya, gimana kalau sementara kita sewa guru private dulu? ” tanya andrew


“itu juga bisa yang penting richie bisa belajar” kata Livia setuju “dan drew.... mungkin ini terlalu lancang tapi aku penasaran” kata livia ia turun dari pangkuan andrew dan membungkus tubuhnya dengan selimut


“tentang apa itu?”


“aku bingung drew, richie gak ada sedikitpun mirip miripnya sama kamu, kecuali jenis kelaminnya” kekeh livia kemudian melanjutkan “apa kamu pernah berpikir ke situ?”


Andrew terdiam, ia juga menyusul masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh livia dan memeluk tubuh istrinya.


“aku gak pernah mikir ke sana" guman andrew tiba tiba ia merasa ucapan livia ada benarnya jelas rambut andrew coklat, mata andrew coklat, camelia bermata abu abu, sedangkan richie bermata biru dengan rambut keemasan, hanya bagian bibirnya dan alis yang nampak mirip camelia.


“besok kita ke rumah sakit” lanjut andrew “terus gimana kalau dia bukan anakku?” tanya andrew


sedikit mengambang


“apa kamu tega membiarkan dia bersama ibu kandungnya yang gak perduli sama anaknya drew?”


“livia kamu gak keberatan? Meskipun richie bukan putraku?”


“kenapa harus keberatan aku juga anak adopsi ayah sama bundaku, tapi semuanya baik baik aja drew gak ada masalah dan aku juga gak perduli sama orang tua kandungku yang ninggalin aku di rumah sakit” jawab livia santai, ia meemang sedikitpun tidak ingin tau dengan kedua orang tua kandungnya.


Andrew mengecup rambut di kepala livia, ia sangat bersyukur mendapatkan livia sebagai istrinya.


Kemudian melumat bibir istrinya dan mereka melanjutkan makan malam di atas ranjang yang membuat tubuh mereka berkeringat dan terengah engah.


Seminggu kemudian


“sir, di bawah ada seorang wanita berambut pirang mengaku sebagai kekasih anda bersikeras ingin bertemu” kata sekretaris andrew


“biarkan dia masuk” jawab andrew


Tidak lama camelia masuk ke ruangan andrew di antar oleh sekretaris, ia langsung duduk di sofa ruangan kerja andrew tanpa memperdulikan andrew yang masih duduk di kursi kerjanya


“dimana anakku?” tanya camelia “aku ingin bertemu dengannya” lanjutnya


“akhirnya kau datang mencariku” balas andrew dingin


“aku mencari anakku, bukan kau” ia mengambil bungkus rokok dan mengambil sebatang, menyelipkan di antara bibirnya


“ruanganku bukan club, jangan merokok disini” andrew memperingatkan dengan nada dingin


“kau sekarang seperti pria suci” kesal camelia sambil melemparkan rokoknya ke atas meja di depannya.


“jadi ada perlu apa kau kesini? Apa uangmu telah habis?”


“ya kau mengerti”


“camelia, ku peringatkan kau, selama richi bersama istriku aku tidak akan memberikanmu uang 1 senpun” kata andrew memperingatkan wanita di depannya “kau tidak merawatnya dengan benar, kau tidak memberinya pendidikan”


“kau meninggalkanku, kau tidak tau betapa sulitnya aku merawatnya sendiri” kilah camelia


“ku rasa aku bukan pria bodoh yang mau bertahan dengan wanita yang tidur dengan pria lain, bahkan bercinta di aparteman yang di bayar olehku” jawab andrew dingin


“aku hanya melakukannya hanya sekali charles, sahabatmu merayuku” elak camelia lagi


“oh ya? Aku yakin kau bahkan lupa nama nama pria yang pernah tidur denganmu, bahkan.....” andrew berhenti sebentar “aku kira kau bahkan tidak tau siapa ayah biologis dari richard”


“tentu saja kau ayahnya” camelia setengah berteriak wajahnya menjadi gelap ‘tentu saja richie anak sahabatmu itu’ cibirnya dalam hati


Andrew bangkit dari duduknya berjalan menuju sofa yang berada tepat di hadapan camelia dan mendudukkan pantatnya sambil membuka amplop di tangannya lalu meletakkan ketas itu di meja


“bacalah” kata andrew singkat sambil menyilangkan kakinya dengan anggun


Camelia membaca yang tertulis di atas kertas itu, raut wajahnya semakin gelap


“aku telah menguji dna richie, dia jelas bukan putraku” andrew berbicara dengan santai


“aku menawarkanmu kesepakatan, kau bawa richie keluar dari negara ini kembali ke canada aku akan tetap membiayayi pendidikannya dan kebutuhannya ia akan tinggal di asrama sekolah agar hidupnya terjamin, atau kau serahkan ia padaku dan istriku, kami akan merawatnya dan mengadopsinya, ku pastikan hidupnya lebih baik dari pada ia bersamamu”


Camelia hanya diam karena semua kebohongannya selama ini telah terungkap.


“pikirkan, aku memberimu batas waktu beberapa hari, jika tidak ada keperluan lagi kau bisa keluar dari sini”


"dia anakmu!" camelia masih berusaha bersikukuh dengan kebohongannya "kau memalsukan ini charles!" ia merobek dengan kasar kertas di tangannya


"aku tidak punya waktu untuk bermain main" jawab andrew dingin "pergilah sebelum aku memanggilkan petugas keamanan" lanjutnya sambil bangkit dari sofa dan kembali duduk di kursi kerjanya


Camelia keluar dari ruangan andrew dengan marah, sambil melangkah dengan kesal ia terus memeras otaknya agar menemukan cara mendapatkan andrew kembali, bukan andrew tepatnya adalah uangnya.