
Dua hari kemudian Livia dan Naoki kembali ke Tokyo, mereka terkejut karena Jonathan ternyata ada di Tokyo
“Joe untuk apa kau kembali?”
“mommy aku ini putramu, apa aku tidak boleh kembali ke rumahku?”
“apa kau sedang libur?” tanya Livia
“tidak, hanya rindu kalian”
“kau pandai beralasan, kupikir kau rindu pacar pacarmu di Tokyo” Livia tau seperti apa putranta yang satu ini, ia berbeda dengan kedua saudara lelakinya.
“cih, gadis di London lebih sexy”
Livia menggelengkan kepalanya, benar benar Jonathan memang mewarisi mulut ayah kandungnya.
Ibunya telah datang namun masalah bukan terselesaikan! Wanita itu terus saja di rumah tidak pergi ke mana pun. Jonathan tidak memiliki cara untuk mengambil rambut ibunya. Tiba tiba ia mendapatkan ide, ia segera mengambil sebuah kunci mobil dan menuju area parkir yang berada di bawah tanah rumah mereka.
Ia menekan kunci Ferarri itu, namun Jonathan terkejut Ferarri berwarna merah itu kini telah berubah warna menjadi berwarna magenta.
Jonathan mengurungkan diri dan kembali ke dalam rumah,
“mommy.... kenapa Ferarri itu sekarang berwarna pink?” tanya Jonathan pada ibunya yang sedang duduk sambil mengotak atik ipadnya.
“Keiko adikmu yang menginginkannya, dan itu bukan warna pink Joe”
“sama saja”
“magenta, itu warna magenta kau harus bisa membedakan warna” kata Livia
“bukankah Keiko belum memiliki lisensi mengemudi, untuk apa ia merubah cat mobil” gerutu Jonathan
“kau seperti tidak tau adikmu, kau pakai saja Bentley, itu baru 1 munggu parkir di garasi kita”
“kau membeli lagi?”
“tidak, itu hadiah”
“daddy sering sekali menghabiskan uang hanya untuk membelikanmu hadiah”
“kami membeli private jet, dan mendapatkan hadiah sebuah Bentley”
Jonathan nyaris tak lagi mampu membuka mulutnya, ia menggelengkan kepalanya.
“kau hanya membelikanku sebuah BMW tapi kalian mampu membeli private jet” keluhnya
“beli saja mobil yang kau inginkan, pakai semua uangmu untuk membeli yang kau inginkan Joe”
“tapi setelah aku resmi menjadi CEO di salah satu perusahaan Tjiptadjaja group” Jonathan melanjutkan kata kata ibunya.
“kau memang putraku” Livia mengedipkan sebelah matanya sambil melemparkan sebuah kunci mobil
“terima kasih mommy” Jonathan menangkap kunci itu dan melesat menuju kediaman hana ibunya Tiffany
Sesampainya di tempat yang ia tuju, Vicky adik Tiffany yang membukakan pintu untuknya
“Jonathan gè-gè?” ia terkejut melihat siapa yang datang
“Vicky-chan apa mamamu ada di rumah?”
“mama berada di kantornya”
“Oh baiklah, aku akan ke sana”
“sampai jumpa Vicky-chan”
Vicky melambaikan tangannya pada Jonathan.
Sesampainya di perusahaan milik Hana, Jonathan mengeluh.
“tanteeee, kau harus mengenalkan aku pada receptionis di depan agar ia mengenaliku”
“hahaha... untuk apa Joe?”
“aku calon menantu masa depanmu tante” kata Jonathan percaya diri
“oh ya, tante senang sekali. Apa kau dan Tiffany telah berpacaran?”
“tidak, Tiffany menolakku berkali kali” jawab Jonathan jujur
“kau harus berusaha, anak gadis tante itu keras kepala” jawab Hana santai, “jadi untuk apa kau kesini?”
“tante tolong aku untuk mendapatkan rambut mommyku”
“jadi kau belum mendapatkannya?”
Jonathan menggeleng
“hal semudah itu kau tidak bisa? Bagaimana kau akan mengambil hati Tiffany” kekeh Hana
“mommyku pergi ke Kyoto lalu setelah kembali ia berada di rumah sepanjang hari, apa aku harus bersikap seperti pencuri mengendap endap ke kamarnya dimana rambutnya? apa di lantai? apa kamar mandi?”
“astaga Joe" Hana memijit pelipisnya "ku rasa ada rambutnya pasti yang tertinggal di sisirnya, kau bisa berpura pura duduk di meja riasnya. Ya tuhan, Joe itu mudah sekali” jawab Hana
Tidak menunggu lama Jonathan berpamitan untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Ia memasuki kamar ibunya dan benar saja di meja rias ada sebuah sisir yang lebih mirip dengan sikat, dan ia mendapatkan beberapa helai rambut berwarna coklat itu.
Malamnya keluarga itu berkumpul di ruang makan sambil mengobrol santai.
“Joe bagaimana hubungan Derren dengan Olivia? Apa mereka masih sering bertengkar?” tanya Livia
“tidak, mereka sudah dewasa” kata Jonathan santai
“oh ya?” kata Livia senang sambil melirik suaminya “bagaimana Tiffany apa kalian sering bertemu?”
“kekasihnya seorang pilot”
“kekasih?” Livia mengerutkan keningnya
“bukankah itu keponakan dari ayahnya?” kata Livia
Jonathan benar benar tersedak makanan yang ia telan
“mommy dengar ia berkebangsaan Rusia, suami Hana mempercayakan Tiffany pada keponakannya selama di London” Livia menjelasksn tanpa melihat ekspressi putranya yang suram
“mungkin saja mereka menjalin hubungan kan?” kata Jonathan tidak senang
Livia mengangkat kedua bahunya, “mereka berkeluarga, mommy rasa tidak mungkin” katanya yakin.
“oh ya mommy, benarkah kalian akan datang ke London kan untuk menyaksikan penampilan Keiko?” Jonathan mengalihkan pembicaraan menutupi kekesalan hatinya mengetahui ia telah termakan kebohongan Tiffany.
“tentu saja, kau tidak tau betapa hebohnya berita hiburan di jepang” kali ini Naoki yang berbicara
“kami akan ke London, mungkin grandmom Sofia juga akan menyusul” kata Livia
“jangan bilang mommy akan membawa semua orang ke London karena mau mencoba private jet kalian” kata Jonathan tidak yakin
“kau tau sendiri mommymu memang suka pamer” kekeh Naoki.
“sudah kuduga” Jonathan menimpali
“tidak masalah bukan? Lagi pula jika hanya kita bertiga yang menggunakan private jet itu namanya pemborosan” Livia tidak mau kalah.
“ya mommy selalu benar” jawab Jonathan tidak suka.
LONDON
Setelah mendapatkan rambut ibunya keesokan harinya Jonathan segera kembali ke London, ia tidak langsung kembali ke apartemennya, namun Jonathan memilih langsung menuju tempat tinggal Tiffany.
Sebenarnya ia ingin membuat perhitungan namun ia masih memiliki kepentingan lain yang lebih penting dari pada urusan pribadinya dengan Tiffany, ia akan mengurusnya nanti.
“apa kau mendapatkan rambut master Edward?” tanya Jonathan langsung
“master apa kabarmu?” tanya Jonathan
“kau lihat sendiri aku telah sehat, ada apa kalian tiba tiba datang?” tanya master Edward “kenapa tidak bersama Keiko?”
“kebetulan kami melewati mansionmu, aku ingin melihatmu” kata Jonathan
Mereka berbincang bincang sambil meminum teh sementara Tiffany ia akhirnya pergi ke studio lukis Herdiana, seperti biasa mereka larut dalam obrolan seputar lukisan.
Sementara Jonathan dan master Edward duduk di ruang perpustakaan master Edward, mereka bermain catur.
Karena Jonathan berada dalam konsentrasi yang buruk ia berulang kali di kalahkan oleh master Edward, Jonathan berulang kali terus saja mengacak acak rambutnya.
“kau tidak buruk, hanya saja kau tidak konsentrasi” kata master Edward
Jonathan hanya terkekeh, ia memang tidak bisa berkonsentrasi memikirkan cara mengambil rambut.
“ku pikir aku harus memotong rambutku sebelum acara konser berlangsung” kata master Edward
“ya, ku rasa rambutmu memang harus di rapikan, aku akan dengan senang hati menemanimu pergi ke tukang cukur” kata Jonathan, hatinya sangat gembira, lebih gembira dari pada mendapatkan sekotak harta karun
“baiklah, minggu depan ku rasa waktu yang tepat untuk memotong rambutku”
Jonathan memutar otaknya
“ku rasa aku juga ingin memotong rambutku menyamakan dengan gayamu, tapi minggu depan aku sangat sibuk, sayang sekali padahal aku ingin memotong rambutku bersamamu lalu memamerkan pada teman temanku, aku memotong rambutku bersama seorang master” kata Jonathan dengan nada kecewa.
Pria tua itu meletakkan bidak caturnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, tidak lama kemudian Edward datang dan telah memakai mantel tebalnya.
“hei anak muda, apa yang kau tunggu?” tanya master Edward dengan nada ceria
Jonathan segera mengerti dan mengikuti langkah kaki pria tua yang ia yakini adalah kakeknya.
Satu masalah terselesaikan, akhirnya Jonathan bisa menghela nafas lega meskipun ia mengorbankan gaya rambutnya menjadi terlihat sedikit tidak cocok dengan gayanya. Gaya itu terlalu tua!!!
Hingga 2 Hari sebelum konser ‘AKHIR PERJALANAN’ berlangsung, Livia, naoki dan Kenzo telah berada di London. Derren diminta oleh Jonathan mengajak ibunya untuk mengunjungi kediaman master Edward pollini, sementara Jonathan dan Keiko serta Tiffany mereka telah menunggu di mansion master Edward,
Minus Olivia karena kebetulan ia ada jadwal kelas hingga sore.
Keiko telah di beritahu sejak awal oleh Jonathan agar adik perempuannya tidak membuat kehebohan yang tidak perlu saat moment pertemuan ibunya bertemu orang tua kandungnya.
Ketika memasuki area mansion Livia merasa langsung jatuh cinta dengan taman yang menghiasi area mansion, meskipun ini adalah awal musim gugur namun masih ada sisa sisa dedaunan dan bunga bunga yang masih bertahan.
“putriku.....” Herdiana langsung memeluk Livia begitu Livia menginjakkan kaki di ruang tamu, penuh haru karena Herdiana langsung menangis tanpa bisa berkata kata.
Livia hanya tertegun, ia memandangi wajah Naoki dengan mimik tidak mengerti ia kemudian memandang wajah master Edward.
“sayang beliau adalah ibu kandungmu dan master Edward dia adalah ayahmu” kata Naoki menjelaskan pada istrinya.
Livia masih tertegun, Kenzo tampak kebingungan, Derren juga membatu.
“Grandmom” panggil Jonathan pada Herdiana, Herdiana membelai pundak cucunya.
Herdiana menuntun Livia yang lingling menuju ruang keluarga, mendudukkan putrinya dan ia duduk di sebelahnya, Naoki duduk besama master Edward mertuanya. Jonathan berdiri di belakang Naoki bersama Derren, sedang Keiko duduk bersama Tiffany.
“mommy” kata Jonathan “maaf kami menyelidikimu, aku dan Tiffany, grandmom, granddad, maafkan aku yang memaksamu mencukur rambutmu” lanjut Jonathan
“kau benar benar cucuku, kalian benar benar cucuku, ya tuhan aku sangat bahagia”
“kau pasti membenci kami” kata Herdiana di sla isakannya sambil menggenggam tangan Livia.
Livia juga terisak, ia tak mampu berkata apa pun, seribu pertanyaan menyeruak di benaknya tanpa mampu ia ungkapkan.
“saat kami muda, kami sama sama jatuh cinta, orang tua Herdiana adalah salah satu orang kaya raya di Yogyakarta, mereka menentang hubungan kami karena saat itu aku hanya seorang mahasiswa fakultas seni, jaman dulu seniman dianggap tidak akan bisa mencari nafkah” Edward memulai ceritanya
“Tapi kami tetap pada pendirian kami, kami menikah”
“Ketika Herdiana hamil, ia di dibawa oleh keluarganya untuk kembali ke Indonesia. Mereka mengatakan telah menerima pernikahan kami, dan ingin Herdiana melahirkan di Indonesia, mereka ingin melihat cucu mereka, tidak di sangka, mereka mengatakan putri kami telah meninggal” terputus putus pria tua itu menceritakan perjalanan cintanya dengan istrinya
“Mau bagaimana lagi kami mau tidak mau harus percaya karena memang para perawat membawa bayi yang meninggal dan memberikan pada Herdiana, saat itu Herdiana terus bersikukuh bayinya masih hidup, bayi yang di tangannya bukan bayi milik kami tapi para perawat terus meyakinkannya” Edward menghela nafas
“Semua adalah salahku, saat itu aku baru saja bekerja menjadi asisten dosen dan bekerja paruh waktu di sebuah restoran sebagai seorang pemain piano amatiran membiarkan Herdiana di bawa ke Indonesia sedangkan aku lebih mementingkan meniti karirku terlebih dahulu. Andai aku tidak menyetujui Herdiana kembali pergi ke Indonesia, kau tidak akan berpisah dari kami putriku” Kata Edward sambil menyeka air matanya
Naoki merangkul mertuanya. Mengelus punggung tua yang tampak bergetar itu untuk menenangkannya.
“mommy” kata Livia, benar atau tidak perkataan master Edward ia tidak peduli, ia menyingkirkan semua pikiran negatifnya.
Livia memeluk ibunya, mereka menangis, Livia menumpahkan segala kesakitan hatinya, kerinduan terhadap seorang ibu yang selama ini ia pendam. Yang pasti sekarang jika benar cerita Edward berarti ia bukan anak yang tidak di inginkan oleh kedua orang tuanya. Biar lah semua menjadi misteri, entah ia sengaja di tukar atau di buang oleh neneknya sendiri, itu tidak mungkin lagi di selidiki karena mungkin juga kedua orang tua Herdiana juga telah tiada.
Livia tidak ingin mengorek sampai sejauh itu, yang terpenting orang tua kandung yang ia cari selama ini berada di depan matanya, keluarganya telah lengkap!
Edward mendekati putrinya, membelai rambut putrinya.
Livia bangkit dan memeluk ayah kandungnya.
Terharu, bahagia, sedih, marah Livia tidak tau perasaan mana yang yang kini ia rasakan.
Setelah suasana tenang, mereka duduk dengan santai sambil meminum teh mereka
“grandmom dari mana kau tau kalau mommyku adalah putrimu? Padahal kami belum memberitahumu” Keiko tiba tiba bertanya
“Keiko, seorang ibu tidak akan mungkin salah mengenali wajah anaknya, meskipun seribu tahun berpisah” kata Herdiana menjawab pertanyaan cucunya dengan nada yang sangat lembut,
Livia kembali terkejut, jadi orang tuanya bahkan tidak tau kejutan yang di siapkan oleh cucu cucu mereka, air mata Livia jatuh kembali dari kelopak matsnya.
Kemudian Jonathan menceritakan semua bagaimana awal rasa ingin tahunya, dan siapa saja yang membantunya.
“Tiffany, kau benar benar seperti Hana, kau memang putrinya” kata Naoki pada Tiffany.
“tidak uncle, aku tidak melakukan apa pun, Joe yang melakukan semua sendiri” kata Tiffany sopan
“terima kasih, Joe Tiffany” kata Naoki pada Jonathan dan Tiffany
“kalian tidak berterima kasih padaku?” tanya sekaligus protes Keiko
Semua yang berada di ruangan itu terkekeh karena Keiko.
Derren yang berdiri bersebelahan dengan Jonathan berbisik
“kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kalian main curang”
“aku juga ingin memberimu kejutan, kau bisa menikahi kekasihmu, Olivia kita tidak ada hubungan darah dengan Olivia” bisik Jonathan dengan nada menggoda kakaknya
“aku akan memberikanmu hadiah” kata Derren
“bujuk saja Tiffany agar ia mau menjadi kekasihku”
“aku lebih baik membelikanmu 1 unit mobil atau apartemen” jawab Derren datar, tanpa minat.
Derren kembali ke apartemennya sendirian, Livia dan Naoki tentu memilih tinggal di mansion itu. Jonathan, ia harus mengantarkan Tiffany
Keiko dan Kenzo?
Jangan di tanya, terutama Keiko, ia langsung melebih lebihkan kasih sayang neneknya, ia mulai di perlakukan bak seorang putri di mansion itu. Kenzo tentu tidak mau kalah dari kakak perempuannya. Mereka berdua saling berebut kasih sayang nenek dan kakek kandung mereka seperti anak kecil!!!
Baru saja menginjakkan kaki di tempat tinggalnya Derren langsung masuk ke dalam kamar Olivia, ia langsung memeluk Olivia menciumi pipinya kanan dan kiri tanpa henti.
Olivia yang kebingungan dengan perlakuan Derren mendorong dada Derren berusaha menjauhkan tubuhnya. Terlebih lagi saat ini kedua orang tua Derren ada di London.
“Derren hentikan, kau menyakitiku” protes Olivia karena bulu bulu di wajah Derren mengenai wajahnya, kulitnya terasa tertusuk.
Derren menggenggam telapak tangan Olivia dan mengecupnya berkali kali, Olivia menjadi semakin risih.
“Derren kau kenapa?” tanya Olivia heran
********UP SETIAP JAM 8 MALAM 👍😁
JANGAN KHAWATIR GAK UP ATAU NUNGGU REVIEW LAMA 😍😍😍
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN 👍😁💖💖💖💖******