Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 51


“bangunlah, jangan duduk di lantai, kau bisa sakit” suara lembut pria itu membangunkan Merry dari lamunannya


Ia mendongakkan wajahnya dan melihat wajah tampan psikiater yang menanganinya selama ia masuk ke rehabilitasi mental.


“ayo bangun, jangan keras kepala”


Merry bangkit dan berpindah ke atas ranjangnya, merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Richard.


“apa yang kau pikirkan?”


Merry hanya diam, tatapan matanya kosong


“apa kau ingin menceritakan sesuatu? Anggap aku temanmu, kau bisa menceritakan apa pun padaku”


“aku rindu kekasihku”


“siapa kekasihmu?”


“Derren...”


Richard tersenyum, Richard yakin gadis ini berhalusinasi bukan karena Derren, sepertinya ia memiliki masa lalu yang lebih suram di banding cinta tak sampainya pada Derren.


“kau yakin kau mencintai Derren?”


Merry mengangguk dengan lemah


“apa dia cinta pertamamu?”


Tubuhnya tiba tiba menegang, air matanya tiba tiba mengalir dan ekspressi wajahnya yang kosong tiba tiba tampak begitu ketakutan dan sedih.


“maukah kau menolongku?” tanya Merry lemah


“tentu, aku akan menolongmu”


“bawa aku bertemu anakku”


“anakmu? Siapa anakmu?” Richard menduga Merry merhalusinasi juga tentang Crystal


Merry menggeleng lemah


“aku tidak tau namanya”


Hening


“aku belum pernah melihat wajahnya"


Richard melirik jam di pergelangan tangannya.


“aku akan memanggil perawat untuk memberimu obat”


“aku tidak berhalusinasi” kata Merry ia menatap wajah Richard tatapan matanya tidak kosong lagi


Dan Richard percaya, gadis itu telah kembali.


“istirahatlah, kau tidak perlu memaksakan dirimu”


Richard keluar dan perawat memberikan obat pada Merry, tidak lama Merry tertidur.


Sore hari Livia datang di tempat tinggal Derren dan Olivia, ia benar benar murka pada Derren! Melihat Olivia sedang tidur meringkuk bersama Crystal Livia langsung mulai mengeluarkan segala ganjalan yang telah ia tahan selama ini.


“kau tidak bisa menjaga Olivia kau membuatnya dalam bahaya!!” itu kalimat yang pertama kali terucap dari bibir Livia, ia menatap galak pada putra sulungnya sambil berdiri di depan Derren yang duduk di sofa, bagaimanapun Olivia adalah satu satunya peninggalan Danu, kakaknya, cinta pertamanya, Livia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sesuatu yang menyakitkan terjadi lagi pada Olivia.


Derren benar benar tidak berani menatap wajah ibunya yang tampak murka, mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya ia di bentak oleh ibunya.


Derren menundukkan wajahnya, ia menyadari kalau dirinya memang bersalah, ia tidak memungkiri itu. Ia membiarkan Olivia pergi, ia tak berusaha mengejar Olivia, ia tidak tau Olivia hamil, ia menyeret Olivia dalam masalah yang rumit, Olivia nyaris kehilangan nyawanya, Derren sadar ia memang bersalah.


Livia diam sejenak untuk mengatur emosinya, baru kali ini ia benar benar emosi karena salah satu putranya.


“Derren...” kali ini nada suara Livia sedikit melunak “jika sekali lagi kau melepaskan Olivia atau membuatnya terluka mommy yakin, Olivia secepatnya akan mendapatkan pria lain yang seribu kali lipat lebih baik darimu, seperti mommy menemukan daddy Naoki dan mommy berani bertaruh jika itu terjadi kau tidak akan pernah bisa lagi mendapatkan Olivia kembali meskipun kau menunggu seumur hidup” untuk pertama kali Livia membuka masa lalunya pada putranya


Derren masih diam dan menundukkan wajahnya, menyadari putranya yang tampak begitu merasa bersalah Livia mendekati putranya dan membelai rambut putranya yang telah dewasa, rasanya baru kemarin Derren ia lahirkan tapi waktu bergulir terlalu cepat, bayi mungilnya kini telah dewasa dan telah di panggil papa oleh putrinya.


“mommy tidak ingin kalian saling menyakiti, mulai sekarang apa pun masalahnya, segera bicarakan baik baik, kelak kau adalah kepala rumah tangga, kau harus tegas, dan terbuka pada istrimu, apa pun masalah kalian segera luruskan jangan pernah saling diam apalagi memendam masalah” Livia memberikan nasihatnya dengan nada penuh kasih sayang tidak lagi penuh amarah.


“sifat utama wanita itu ingin di kejar, kau harus pandai mengambil hati Olivia, ingat kata kata mommy” kata Livia lagi


Derren mengangguk, Livia meraih kepala Derren dan merengkuhnya dalam pelukannya. Livia merasa selama ini ia juga salah, ia terlalu membiarkan Derren menyendiri, terlalu pendiam dan hanya fokus pada buku buku yang di bacanya, di dalam Derren ternyata sangat penakut.


“mommy maafkan aku” Derren terisak


“berjanjilah, jangan sakiti Olivia apa pun keadaannya, dan bisakah kau lebih terbuka pada mommy di masa depan? Jika kau tidak berani untuk berbicara pada Olivia diskusikan dulu pada mommy atau daddymu, jangan mengharapkan Joe, dia telah memiliki istri, ia kelak pasti akan sibuk dengan anak dan istrinya. Mommy dan daddymu akan selalu ada untuk membantumu memecahkan semua masalahmu”


pinta Livia


“aku mengerti mommy, aku berjanji” kata Derren


“mommy akan tinggal di sini beberapa hari untuk merawat Crystal dan Olivia, kau fokuslah bereskan urusanmu di sini lalu kita kembali ke Tokyo”


“terima kasih mommy, Olivia ingin kami menikah di sini” kata Derren mencoba terbuka


“itu ide yang bagus. baiklah, ayo siapkan makan malam, mommy akan membantumu” kata Livia sambil melepaskan pelukannya pada Derren.


Setelah membersihkan wajahnya anak dan ibu itu memasuki dapur dan mulai sibuk menyiapkan makan malam, nyatanya Livia hanya memotong sayur mencucinya dan duduk mengawasi sambil sesekali mereka berbicara masalah perusahaan.


Sementara di kamar Olivia terbangun dan mengecek jam di ponselnya, ia menggeliatkan badannya dan menciumi pipi Crystal yang masih terlelap kemudian turun dari ranjangnya. Ia langsung menuju dapur karena mendengar suara Derren yang sedang berbicara dengan seseorang dan sepertinya ia mengenali siapa pemilik suara itu.


“mommy....” Olivia langsung memanggil Livia begitu ia menangkap sosok wanita di dapur


“sayangku....” Livia langsung berdiri dan menghampiri Olivia, “bagaimana lukamu? Apa ada bagian lain yang sakit?” tanya Livia panik


“mommy, ini tidak dalam hanya tergores” jawab Olivia


“omong kosong, apa kau sudah memeriksakan ke dokter bedah plastik?”


“mommy tidak perlu sejauh itu, Olivia juga tidak memiliki riwayat keloid, tidak perlu khawatir” kata Olivia meyakinkan


“mommy tidak yakin, meskipun tidak ada keloid namun tetap saja akan berbekas”


“mommy kau terlalu khawatir, lambat laun bekasnya juga akan hilang” Olivia sangat bahagia sekarang, baginya luka di pipinya bukanlah apa apa karena ia akhirnya memiliki keluarganya kembali “mommy maafkan kami membuat seluruh keluarga panik”


“mmmm tidak sayang kau tidak salah, Derren yang salah, mulai sekarang jika Derren membuatmu tidak nyaman segera katakan pada mommy, biar mommy yang akan membereskannya, oke?”


Olivia mengangguk, ia memandangi wajah cantik tantenya, mertuanya.... ibunya... entahlah yang jelas wanita di depannya adalah orang tuanya.


Tidak berapa lama Keiko datang, tanpa peduli pada ibunya ia langsung mencari keberadaan Crystal, dan.... Crystal langsung di buat bangun karena ulah Keiko.


Dan.... beberapa menit kemudian datang beberapa orang membawa piano yang langsung di letakkan di tengah tengah ruang keluarga atas instruksi Keiko


“apa apaan kau Kei?” protes Derren


“aku dan granddad ingin Crystal belajar musik” jawab Keiko tidak peduli kakaknya setuju atau tidak, yang jelas ia harus memiliki alasan yang tepat agar bisa mengunjungi Crystal setiap saat.


Di meja makan Olivia dan Derren menyiapkan makan malam sedangkan Livia mengurus Crystal mandi dan mengganti pakaiannya, Keiko dan Lelya masih sibuk menyeting pianonya.


TAP JEMPOLNYA PLIS 😙😙😙😙