Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
34


3 hari kemudian andrew mengatakan ia harus pergi ke chengdu-china karena ada urusan bisnis selama 10 hari.


Pada kenyataannya di chengdu andrew hanya berguling guling di atas ranjang bersama zakia, menikmati tubuh zakia siang dan malam seperti dulu saat mereka muda.


Andrew memilih chengdu agar ia bebas dari rasa khawatir, belajar dari kejadian camelia hanya beberapa hari ia telah terpergok oleh livia jadi ia memilih menjauh dari tokyo untuk bermanin main sebentar.


Andrew yakin jika berada di tokyo ia pasti secepatnya bertemu naoki, sakura, hana ataupun yukari teman teman livia.


Livia sendiri sejak telah melahirkan sering berkeliaran di mall karena yang mengurus putra mereka sampai saat ini adalah bunda yunita.


“andrew, jika istrimu mengetahui kau berselingkuh pasti ia akan sangat kecewa” kata zakia berpura pura prihatin sebagai sesama wanita


“tidak, ia tidak akan tau asalkan kau berhati hati” kata andrew sambil mendekap tubuh zakia dari belakang


“suatu saat aku ingin menjadi istrimu” kata zakia lirih, Kali ini ucapan itu benar benar tulus dari dalam hatinya


“kita bicarakan itu nanti sayang” jawab andrew


Ada seringai jahat di ujung bibir andrew yang tak terlihat oleh zakia.


Jam 8 malam di Tokyo


Hana sedang menggendong bayi mungil milik livia sambil berbicara tidak karuan pada bayi yang tidak mengerti apa apa, sedangkan livia baru saja menyelesaiakan les bahasanya. Ia telah menguasai bahasa jepang dengan cepat, sekarang ia sedang belajar bahasa mandarin, prancis dan jerman.


“oh iya livia, Andrew lembur kok belum pulang?” tanya hana


“dia masih di chengdu masih ada urusan pekerjaan”


Sepersekian detik jantung hana seperti berhenti sejenak, apa iya dia salah lihat?


Kemarin di bandara haneda ia jelas jelas melihat andrew keluar dari pintu kedatangan Ia bersama seorang wanita, mungkin saja itu sekretarisnya, tapi mengapa andrew mengatakan ia masih di chengdu pada livia?


Hanna tidak mengucapkan apa apa, ia takut salah dan lagi pula dulu ia juga yang membawa livia pada andrew.


Persaan hana mulai merasakkan hal yang tidak nyaman, ia akan menyelidiki dulu untuk memastikannya.


Keesokan siangnya andrew kembali ke rumah dan wajahnya tampak sangat kelelahan, livia menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk andrew berendam menghilangkan penatnya.


“drew kok koper kamu gak ada isinya?” tanya livia saat membuka koper andrew untuk mengeluarkan pakaian kotor.


Andrew yang baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya memeluknya dan menciumi livia dengan lembut


“udah di antar sama Marco ke binatu semua” kata andrew berbohong, ia sendiri yang mengantarkan semua pakaiannya ke binatu bukan sekretarisnya marco, andrew takut bau parfum zakia menempel di pakaiannya.


“sayang tidur, besok aku ajak kamu belanja” kata andrew manis, ia tidak pernah semanis itu pada livia mengajak livia belanja? biasanya ia akan marah marah jika mengikuti livia belanja karena livia selalu berputrar putar tanpa arah dari satu counter ke counter lain, kadang bahkan mendatangi counter yang sama lebih dari sekali membuat andrew merasa pusing.


Malam itu andrew juga tidak rewel dan merengek mengeluhkan ‘puasa makan malam’ 40 harinya.


Seminggu berlalu sikap andrew berubah sangat manis, ia juga sangat patuh pada livia tidak pernah menentang apapun kata kata livia.


Livia tentu saja sangat senang suaminya menjadi lebih lembut dan penuh perhatian


“drew ini udah hampir 40 hari, kamu udah beli tiket kan buat bulan madu?” tanya livia


Deeeeegg....


Andrew terdiam sesaat, ia melupakannya. Ia terlalu asik bermain main dengan zakia yang sampai saat ini masih berada di tokyo dan tinggal tak jauh dari apartemen tempat tinggal mereka.


“iya gak mungkin aku lupa, aku dah nunggu lama buat bulan madu kita” andrew berbohong dengan manis “aku juga udah gak sabar”


Paginya andrew langsung membelikan tiket zakia dan memintanya kembali ke uzbekistan, ia juga membeli tiket dan akomodasi lain untuk pergi berbulan madu bersama livia.


“kenapa kau tiba tiba menyuruhku kembali ke uzbekistan?” tanya zakia dengan nada sedih yang di buat buat


“aku akan ke indonesia” jawab andrew berbohong “nanti jika aku kembali ke sini aku akan mengabarimu dan jangan hubungi aku dulu sampai aku yang menghubungimu, aku pergi bersama livia. Oke?”


“baiklah....” jawab zakia “andrew aku ingin sebuah mobil baru di uzbekistan, bisakah kau membelikan satu untukku seperti yang kau pakai?” tanya zakia, itu adalah mobil livia bugati chiron yang belum juga jadi di jual sampai saat ini.


“aku akan membelikanmu, kau urus sendiri saja nanti aku akan mentransfer uangnya” kata andrew enteng


“terima kasih” kata zakia tanpa malu malu ‘terima kasih camelia, kau akan mendapatkan bagianmu’ batinnya


Hari itu livia dan andrew bersiap siap akan pulang ke indonesia untuk menitipkan putra mereka derren charles tjiptadjaja kepada orang tua andrew, mereka akan berbulan madu tidak mungkin membawa serta seorang bayi.


Sejak melahirkan Livia benar benar hanya memompa asinya dan meletakkan di pendingin, kemudian menghangatkan jika derren lapar.


Sebenarnya itu merepotkan karena terlalu memakan waktu, lebih praktis jika derren langsung menyusu di nipple livia namun andrew menolak dan memberi tanda kiss mark setiap hari agar livia tidak menyusukan langsung payudaranya pada bayi mereka.


Selebihnya yunita yang mengurusi derren, livia mudah panik jika anaknya menangis ia akan ikut ikutan menangis, itu sebabnya yunita tidak tega meninggalkan tokyo dan membiarkan putrinya mengurus darren sendiri.


Sebelum berangkat ke new zeland ia harus pergi ke dokter kandungan secara sembunyi sembunyi untuk mendapatkan suntikan kontrasepsi, ia tidak ingin hamil lagi karena perbuatan andrew, ia belum siap untuk kembali menjadi gemuk. mereka akan pergi keberbagai tempat seperti vietnam, maladewa dan santorini.


Livia benar benar tidak mengerti kenapa suaminya yang mesum itu ternyata sangat bodoh, bahkan rencana perjalanan mereka selama sebulan tidak berurutan rutenya acak acakan. Kenapa ia memiliki suami yang hanya tau bekerja? Astagaaaaa...


Saat itu livia sedang berada di lounge ruang tunggu bandara untuk menuju aucland, livia memainkkan ponselnya sambil sesekali mengaduk greentea latte nya andrew sedang berkutat dengan macbooknya.


“livia???” sapa seorang pria yang berdiri di depan kursinya,


“harris???” livia terperanjat, ia ingin melarikan diri mendapati siapa pria tampan di depannya, tentu saja livia gugup, ia adalah mantan teman kencan 3 bulannya yang memberikan apartemen dan mobil ketika di jakarta. Livia menata ekspresinya agar andrew tidak curiga, andrew memang hanya diam namun livia tau pria itu mengawasinya dengan ekor matanya.


“apa kabar?” tanya harrris sambil mengulurkan tangannya


Livia dengan anggun bangkit dari duduknya dan menerima uluran tangan harris


Haris memperhatikan seluruh wajah dan tubuh livia dengan intesn membuat livia risih dan melepaskan tangannya dengan hati hati


“tambah cantik aja lo” kata harris jujur “mau kemana?”


“makasih, mau ke new zeland”


“kok sama, jam berapa penerbangannya?” tanya harris lagi


“14: 20” jawab livia malas berusaha menghindari agar pria itu tidak terus mengajaknya berbicara.


“berarti bareng dong” jawab harris senang


“oh ya harris kenalkan ini suamiku” kata livia mendekati andrew yang segera berdiri dan menyalami harris


“andrew tdiptajdaja suami livia tdjiptajdaja” kata andrew memeprkenalkan diri sambil menekankan kata tdjiptdjaja dan kata suami


Jelas ia takut melihat andrew pria itu jauh tidak sepadan dengannya.


Livia masih bersikap tenang, andrew juga demikian


Baru ketika mereka memasuki pesawat dan duduk di kursi mereka, andrew mulai mengintrogasinya.


“siapa?” bisik andre


“siapa drew?” livia berlagak polos


“yang tadi?” bisiknya lagi


“kan dia bilang teman aku jaman gaul drew” bisik livia


“yakin?” tanya andrew


“kok kamu jadi gitu? Lagian itu masa lalu kan? Aku juga gak pernah korek korek masa lalu kamu” nada suara livia menjadi kesal.


“iya tuan putri” selalu begini 1 kata andrew berubah menjadi 10 kata livia.


NEW ZELAND


“drew sakit kata livia” setibanya di hotel yang mereka sewa di new zeland, mereka baru saja selesai mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, livia hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya


“apanya yang sakit sayang?”


“ini...” tunjuk livia menunjuk buah dadanya yang membengkak karena air susunya tidak di keluarkan


“terus gimana?”


“coba cari di google drew”


Andrew dengan patuh menuruti kata istrinya


“harus di keluarin sayang” kata andrew dengan nada tidak yakin.


“bohong kamu drew pasti akal akalan kamu” livia lebih tidak yakin lagi


Akhirnya dengan bantuan google, mereka mencoba saran konyol itu.


“masih sakit?” tanya andrew


“tidak buruk, kamu untung banyak drew“ jawab livia "gimana drew kenyang?" goda livia


"aku bukan derren" jawab andrew sambil menggigit livia


"andrew, sakit" livia menjauhkan kepala suaminya.


Sementara andrew ua tertawa senang.


Dan mereka memulai hubungan suami istri yang telah lama tertunda.


Andrew berbaring di samping tubuh livia


“sayang” andrew memiringkan tubuhnya pada livia dan menopang kepalanya dengan sebelah tangannya “aku gak yakin darren lahir dari sini” kata andrew sambil menunjuk bagian intim livia" kayanya ada lubang lain” lanjutnya


“emang kenapa drew?” tanya livia heran


“habis rasanya masih sempit banget kaya dulu, masa buat melahirkan lewat situ aku gak yakin” andrew berkata jujur, milik istrinya lebih sempit dan nikmat di banding milik zakia.


“terus darren lahir lewat belakang gitu kaya telur ayam?” kekeh livia


“malam ini kita bikin adiknya darren sampe pagi” kata andrew mulai mencumbui livia kembali dan memulai permainan memabukkan lagi dan lagi seolah tidak pernah puas.


Mereka tertidur setelah lewat jam 5 pagi, ketika bangun telah lewat siang hari andrew mendapati tubuh livia demam, suhunya sangat tinggi andrew memanggil dokter ke hotel dan dokter mengatakan itu efek dari asi yang tidak di keluarkan, jadi dokter hanya memberi obat penurun panas dan penahan rasa sakit, dokter juga mengatakan demam dan sakit di payudara livia akan hilang setelah dua hari.


Livia sangat kecewa karena rencana bulan madunya gagal karena demam, beberapa tempat gagal ia kunjungi gara gara demamnya. Untungnya ia sempat mengunjungi pinguin pinguin dan berfoto meskipun hasilnya tidak memuaskan.


“tahun depan kita ke sini setelah kamu melahirkan lagi” bisik andrew letiika melihat istrinya cemberut saat hendak meninggalkan auclkland menuju yunani, untuk berbulan madu di santorini.


Livia menyeringai “jadi kalo aku gak kasih anak aku gak di ajak jalan jalan gitu drew?”


“ya enggak lah sayang, apa sih yang enggak buat kamu, yang penting kamu bahagia mau ke new zeland tiap bulan juga aku ikut” bujuk andrew manis.


SANTORINI


Bulan madu versi andrew yang hanya tinggal di kamar untuk mengerang sepanjang hari. Hanya beberapa jam mereka meninggalkan hotel untuk berburu foto dan makanan, harus melalui perdebatan alot untuk menyeret andrew keluar dari kamar.


Untuk mendapatkan foto foto indah livia tadinya ingin menyewa fotografer tetapi tidak di izinkan oleh andrew karena andrew sangat ahli dalam bidang ini, namun sekali lagi tidak ada yang gratis. Livia harus membayar dengan tubuhnya hingga suaminya setuju untuk melepaskannya.


Pagi harinya livia terbangun karena suara ponsel di meja, andrew tidak terlihat berada di samping tempat tidurnya, namun livia mendengar suara air di kamar mandi, semula livia enggan bangun dari tidurnya karena ia masih mengantuk, suaminya membuat seluruh tubuhnya terasa sakit.


Namun dering dari ponsel andrew terus terusan terdengar dan benar benar mengganggu.


Livia bangkit dan mengambil ponsel itu dan menyeret layar untuk menjawab


“hallo...” sapa livia sopan


“hallo...” sapa suara wanita di sebrang sana


“maaf saya istrinya andrew, dia sedang berada di kamar mandi”


“sampaikan padanya saya zakia mencarinya” kata suara di sebrang sana dengan nada tidak ramah


“baiklah akan saya sampaikan” jawab livia sopan, tidak ada kecurigaan karena livia berpikir positif.


Livia merebahkan tubuhnya kembali walaupun ia tak bisa lagi memejamkan mata.


“drew tadi ibu zakia telfon” kata livia memberi tahu andrew dengan polosnya


Andrew tentu saja terkejut dan sangat takut zakia mengatakan sesuatu pada livia.


“apa katanya?” tanya andrew lembut sambil duduk di tepi ranjang dan menciumi bahu telanjang livia


“gak ada cuma bilang ibu itu cari kamu” livia benar benar mengira zakia teman bisnis yang mencari suaminya untuk urusan bisnis


“oh, nanti aku suruh sekretarisku menghubungi zakia” jawab andrew lega. ‘sialan, apa satu buah bugati chiron belum cukup untuk membayar tubuhnya 3 minggu’ batin andrew