
Siangnya di kantin universitas Olivia dan Miranda sedang mengobrol sambil memakan nachos yang Olivia pesan
“ku rasa Merry itu benar benar gigih untuk mendekati sepupumu Derren” kata Miranda tiba tiba
Olivia mengerutkan keningnya
“ia sering mengunjungi sepupumu ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan sekotak makan malam”
“astaga, benarkah? gosip dari mana?” Olivia benar benar terkejut mendengarnya
“dia memamerkan di instagramnya, mereka juga praktik magang di rumah sakit yang sama”
“benarkah? Tapi Derren selalu makan malam masakanku di rumah” kata Olivia secara reflex
“kalau aku jadi kau aku tidak akan membiarkan sepupumu jatuhbke tangan gadis sok paling cantik dan sok paling kaya di kampus ini” kara Miranda dengan nada tidak suka
Olivia tertawa hambar, tentu saja ia tidak akan membiarkan kekasihnya jatuh ke tangan Merry maupun gadis lain. Tidak akan!!!
“kau benar benar penggosip sejati” kata Olivia “menurutmu apakah Derren menyukai Merry?” tanya Olivia dengan wajah muram
“entahlah, laki laki bisa saja berpura pura menolak tapi jika terus terusan di dekati ia akhirnya akan tergoda” kata Miranda serius
“benarkah?” Olivia menjadi tegang seketika
“aku yakin Derren akan tergoda jika Merry terus menerus menunjukkan sikap manis pada sepupumu itu”
Olivia menyeruput mocca late di gelasnya kemudian ia mengetuk-etukkan jari telunjuknya ke meja.
Suasana menjadi tegang seketika, Olivia bahkan tak berminat lagi dengan nacos di mejanya.
Tiba tiba seseorang datang dan langsung duduk di kursi samping Olivia
“Olivia.... boleh aku duduk di sini?”
Olivia menoleh pada pria yang datang tiba tiba
“Louis?” sapa Olivia
“gadis gadis manis apa yang kalian bicarakan?” tanya Louis
“Louis kenalkan ini temanku Miranda”
“hai Miranda, aku Louis”
“hai, senang berkenalan denganmu” kata Miranda sopan
Dan mereka bertiga mengobrol dengan santai hingga ponsel Olivia berdering, ternyata Jonathan memanggilnya.
“aku harus kembali lebih dulu, sepupuku telah menjemputku” kata Olivia sambil berdiri
“Derren menjemputmu? Katakan padanya untuk datang kesini, aku telah lama tidak bertemu dengannya” kata Louis
“bukan Derren, adiknya yang menjemputku” kata Olivia “sampai jumpa Miranda, Louis” Olivia melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
“Olivia sangat cantik” guman Louis tiba tiba
“ya, dia memang cantik. Kau menyukainya?”
“ku rasa hanya pria bodoh yang tidak menyukainya”
“Louis jika perlu bantuanku kau bisa menghubungiku, aku teman sekamarnya di asrama” kata Miranda serius
“hahaha” Louis tertawa renyah “aku takut Derren akan membunuhku jika adiknya ku dekati” mengingat Derren tampaknya menjaga adiknya dengan sangat ketat.
Di area parkir Olivia berjalan menuju BMW sport berwarna silver-grey, Jonathan berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu mobilnya nampak sedang mengobrol bersama Merry.
“Joe...” panggil Olivia
Jonathan menoleh dan tersenyum pada sepupunta
“Joe jadi kau datang untuk menjemput Olivia? Olivia kau sungguh beruntung hidupmu di kelilingi oleh banyak pria tampan” kata Merry dengan nada bercanda, namun bagi Olivia kata kata Merry sangat membosankan dan menyebalkan.
“....” Olivia tidak menanggapi
“haha Olivia jangan terlalu tegang, oh iya di mana Louis? Bukankah tadi pagi kau bersamanya dan di kantin juga tadi kulihat kau bersamanya?” Merry berusaha memprovokasi Olivia yang tak bereaksi sama sekali
Olivia hanya tersenyum kemudian membuka pintu mobil, dan duduk di kursi samping kemudi tanpa Ekspressi apa pun
“sampai jumpa Merry” kata Jonathan sambil membuka pintu mobil
“sampai jumpa Joe” jawab Merry dengan nada manis
“jangan pedulikan Merry” kata Jonathan ketika mobil telah melaju meninggalkan kawasan universitas
Olivia hanya diam sambil melihat ke arah jendela mobil di sampingnya
“kau menghawatirkan Merry yang selalu mendekati Derren bukan?”
“itu bukan urusanku Joe” jawab Olivia sedikit ketus
“kata katamu berlawanan dengan hatimu, Olivia wajahmu mencerminkan semua isi hatimu, kau terlihat sekali membenci Merry”
Olivia menghela nafas panjang dan menghembuskannya.
Tiba tiba ia merasa rumitnya cinta, ia mulai merasa posessive pada Derren. Perasaannya mulai tersiksa dengan ketakutan kehilangan pria yang dulu adalah musuh terbesarnya.
Derren hari ini kebetulan bertugas shift malam, setelah makan malam di tempat tinggalnya bersama Jonathan dan Olivia, ia bergegas pergi ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit ia bertemu Merry tepat di depan pintu instalasi gawat darurat.
“Derren, aku membawakanmu makan malam lagi” kata Merry sambil memberikan kotak makanan
“terima kasih, sebenarnya tidak perlu ini merepotkanmu” kata Derren sambil menerima benda yang di berikan oleh Merry
“Tidak aku senang membuatkannya, oh ya nanti jika kau telah selesai makan tolong kau titipkan tempatnya di recepcionis, orang suruhanku akan mengambilnya” mereka memang bertugas di rumah sakit yang sama namun jam kerja mereka kebetulan berbeda dan juga ruangan mereka juga berbeda.
“baiklah” kata Derren
“baikkah Derren sampai jumpa”
“sampai jumpa” kata Derren sambil melangkah masuk.
Seperti biasa ia memberikan isi kotak makan malam pada rekan sesama dokter magangnya, Derren sangat menjaga pola makannya, ia tidak akan pernah makan malam dua kali, terlebih lagi makan malam di tempat tinggalnya lebih nikmat di banding makan malam yang di bawakan Merry. Tentu saja makan bersama orang yang di cintai lebih menyenangkan di banding makan di rumah sakit dengan aroma desinfektan yang menyebar di mana mana.
Paginya ketika Derren kembali ke apartemen Olivia sedang memarinate daging untuk persiapan makan siang, karena kelasnya di mulai jam 2 siang tentunya ia lebih baik pergi ke kampus setelah ia makan siang.
“sayang dimana Joe?” tanya Derren sambil mendekati Olivia dan meletakkan dagunya di pundak Olivia
“Joe ada kelas pagi” jawab Olivia sambil melumuri daging dengan lada dan pala bubuk
“sayang aku lapar” rengek Derren
“apa Merry tidak membawakanmu sarapan?” tanya Olivia dengan nada sedikit sinis
“dia membawakanku makan malam”
“dan kau telah makan malam dua kali tapi kau masih merasa lapar?”
“aku tidak makan malam dua kali”
“kau membuang makanan?”
“tidak, ada banyak orang disana yang bersedia memakannya”
Olivia trsenyum senang, suasana hatinya yang buruk seketika menjadi kembali baik.
“dari mana kau tau Merry membawakanku makanan?”
“seluruh mahasiswa di fakultas kedokteran tau itu”
“biarkan saja mereka berasumsi, yang pasti aku hanya menyukai makan bersamamu”
“kau pandai merayu”
“sayang aku lapar” rengek Derren seperti seorang anak yang tidak diberi makan oleh ibunya
“baiklah, kau bersihkan tubuhmu dulu aku akan menyiapkan sarapanmu dokter” kata Olivia dengan nada riang
Olivia mencuci tangannya lalu memasukkan daging yang telah di marinate ke dalam lemari pendingin,
Kemudian menyajikan semangkuk bubur oat yang di taburi berry dan beberapa potong pisang lalu menyiapkan segelas susu hangat di meja untuk Derren.
“sayang, kenapa hanya satu?” tanya Derren
“aku sudah sarapan bersama Joe”
Dan dalam sekejap bubur oat itu telah berpindah ke perut Derren.
Setelah membersihkan peralatan makannya Derren menggosok giginya sementara Olivia berpindah tempat duduk dan mulai menonton televisi, Tiba tiba Derren datang dan meletakkan kepalanya di paha Olivia
“aku perlu tidur”
“kalau begitu tidurlah di kamar, posisi seperti itu tidak nyaman” kata Olivia sambil membelai rambut Derren, kemudian Olivia menundukkan kepalanya mengecup sebelah alis Derren yang tebal.
“temani aku tidur” rengek Derren manja
“kau manja sekali” gerutu Olivia, namun akhirnya Olivia menuruti kemauan kekasihnya dan membiarkan Derren memeluknya di atas ranjang.
Jam 12 siang Olivia terbangun, ia bergegas memasak daging yang telah di siapkannya menjadi semangkuk bistik daging mentega, setelah mereka berdua makan siang Derren mengambil kunci mobilnya
“sayang aku bisa pergi sendiri, kau tidurlah kembali, kelasku hanya 2 jam” kata Olivia
“kau keras kepala sekali” kata Derren sambil mengelus kepala Olivia
“kau harus ke rumah sakit lagi malam ini, kau perlu istirahat”
“aku sudah cukup tidur”
Akhirnya Derren mengantarkan Olivia namun Derren meminta Olivia yang mengemudikan mobil dan ia memejamkan matanya di kursi samping kemudi, dan menurunkan sandaran kursinya dengan nyaman. Olivia berulang kali melirik Derren yang mengaku telah cukup tidur namun faktanya ia tidak mampu membuka matanya.
“aku akan menunggu hingga kelasmu berakhir di mobil” kata Derren sambil membuka sebelah matanya
“baiklah, kau tidurlah” kata Olivia sambil menurunkan sedikit kaca jendela mobil di samping Derren.
Derren menarik pergelangan tangan Olivia sebelum gadis itu keluar dari mobil
“kau butuh sesuatu?” tanya Olivia
“kau belum menciumku”
Olivia tersenyum lalu mematuk bibir Derren namun Derren tidak menyia-nyiakan ia langsung melahap bibir Olivia.
“lipstick ku” keluh Olivia ketika ciuman panas yang hampir melewati batas itu terlepas.
“kau tidak perlu memakai lisptick Olivia”
“lipstick melindungi bibirku dari sengatan matahari” kilah Olivia
“kau pandai beralasan, aku tidak suka kau memakai make up”
“kau sangat pengatur” jawab Olivia sambil menarik kaca diatas kepalanya lalu mengoleskan tipis lipstick di bibirnya,
Derren tersenyum menyaksikan tingkah Olivia.
Baru saja Olivia menutup pintu mobil dan melangkahkan kakinya ia bertemu merry, buru buru ia menekan tombol lock pada control mobil yang ia pegang.
“Olivia....” panggil Merry
“ha... hai Merry” sapa Olivia canggung
“kau memakai mobil Derren?”
Olivia hanya tersenyum tipis ‘it’s none your business’ cibirnya dalam hati
“apa Derren ada di rumah?”
“Merry maaf kelasku akan segera di mulai, sampai jumpa” kata Olivia sambil berlari meninggalkan Merry tanpa menjawab pertanyaannya.
Merry tersenyum sinis
Ia berbalik menuju mobilnya lalu ia mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal Derren, pria incarannya. Sesampainya di lobi apartemen ia meminta petugas untuk menghubungkan interkom ke nomer tempat tinggal yang ia sebutkan namun sia sia tidak ada jawaban, ia berulang kali memanggil Derren melalui ponselnya namun Derren juga tidak menjawab.
Setelah bosan menunggu Merry memutuskan untuk pergi ke sebuah mall hanya untuk membuang rasa kesalnya dengan berbelanja.
Sementara di tempat Olivia menimba ilmu
Setelah menyelesaikan kelasnya Olivia bergegas kembali tanpa mengobrol terlebih dahulu bersama Miranda atau teman temannya yang lain. Karena sejak tadi Derren terus mengganggunya melalui pesan teks, rupanya pria itu bosan berada di dalam mobil Selama 2 jam. Tentu saja, siapa yang tidak bosan di dalam mobil terkurung dengan mesin mati, bahkan tidak bisa mendengarkan music dan menyalakan ac, Olivia benar benar menghukum Derren.
“sayangku apa kabarmu?” Tanya Olivia sambil menyalakan mesim mobil
Derren hanya diam sambil memasang kembali kaosnya.
“apa kau bosan?” tanya Olivia tanpa rasa bersalah
“kau menghukumku, apa salahku?” tanya Derren sambil menegakkan sandaran kursinya
“maafkan aku” kekeh Olivia sambil memundurkan mobilnya lalu menginjak pedal gasnya dan mobil itu meluncur dengan kecepatan sedang.
“kau bisa keluar, kenapa tidak keluar dan pergi ke kantin atau perpustakaan?” tanya Olivia heran
Derren tidak menjawab, ia justru mengotak atik ponselnya.
“apa kau perlu mobil sayang?” tanya Derren tiba tiba
“tidak perlu, lagi pula di London ada banyak bus, kereta dan taxi” jawab Olivia santai
“kau bukan seperti Olivia yang manja sekarang”
Olivia tersenyum pahit, kepada siapa ia harus bermanja? Kedua orang tuanya telah tiada. Semua orang memiliki keluarganya masing masing, bahkan nenek dan kakeknya juga hanya sibuk merawat Ayumi dan Shizuku di Tokyo. Sedangkan keluarga dari mendiang ibunya, mereka hanya orang orang biasa tidak sekaya keluarga Artajaya, tidak mungkin Olivia merengek kasih sayang dan perhatian pada mereka. Satu satunya jalan Olivia hanya harus hidup di atas kakinya sendiri.
“bukankah kau tidak menyukai gadis manja?” kata Olivia dengan nada sedikit menggoda
Derren memainkan ujung rambut Olivia lalu menciuminya
“gadis manja yang merampok hatiku, saat pertama kali aku mencium bibirmu” guman Derren
Olivia mengerutkan kening
“seorang gadis manja yang ternyata pandai memasak, seorang gadis manja yang ternyata cerdas dan memiliki ambisi tinggi, Olivia kau sanggat spesial”
“Derren pertama kali kau menciumku? maksudmu?” tanya Olivia sedikit bingung.
“sayang bagaimana kalau kita ke borough market, kita bisa belanja bahan makanan segar di sana” Derren mengalihkan pembicaraan, ia tak mungkin membuka aibnya sendiri mencuri ciuman saat Olivia mabuk.
“aku tidak terlalu hafal jalan ke sana, kau saja yang menyetir” kata Olivia, sambil meminggirkan mobilnya untuk bertukar posisi
Dan di sebuah bantley berwarna silver melaju dengan santai di jalan pengemudi mobil itu melihat Olivia dan Derren yang bertukar posisi. Merry si pengemudi mobil mewah itu ia segera mengikuti ke mana maybach hitam itu melaju.
Sesampainya di borough market adalah pasar grosir dan retail tertua dan terbesar yang terletak di southwark, London. Pasar itu hanya buka sampai jam 6 sore.
Di sana banyak menjual bahan bahan makanan segar dan berwarna warni.
Mereka berbelanja beberapa sayuran dan buah buahan segar, Derren dan Olivia juga beberapa kali berfoto bersama dan Olivia mengunggah ke akun media sosialnya.
“Derren lihat ini...” Olivia meenu juk toko bahan bahan sayur segar
Derren mengikuti dan Olivia mulai memilih, setelah membayar mereka berjalan kembali
“Derren... di sini sayurnya lebih baik dari yang di sana”
“beli lagi saja” kata Derren
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Olivia membeli lagi.
Terus seperti itu hingga kantong belanja mereka menggunung.
“Derren kenapa kau tidak memperingatkanku?”
“kau lucu saat lapar mata” kata Derren terkekeh
“kau ini...” keluh Olivia sambil tangannya kembali memilih bunga kol berwarna warni yang mungkin hanya ada di Eropa, ia bertanya kepada penjualnya “nyonya apa ada yang berwarna pink?”
“nona tidak ada bunga kol berwarna pink, sayang sekali”
“oooh sayang sekali” jawab Olivia tampak kecewa
Derren terkekeh kembali, ia menggelengkan kepalanya melihat betapa gilanya Olivia pada warna pink.
Selama berbelanja, Derren memperlakukan Olivia dengan sangat baik dan tidak jarang Derren merangkulnya dan mengecup pucuk kepala Olivia sambil mereka sesekali tertawa bahagia.
Merry yang mengawasi dari jauh semakin mengerti, mengapa Derren begitu sulit ia dekati dan mengapa Olivia selalu bersikap seakan akan ia adalah musuhnya.
Merry menyimpulkan di antara dirinya dan Olivia, mereka memang saingan cinta yang sesungguhnya.
Merry tersenyum pahit,
‘lihat saja Olivia, aku tidak akan membiarkan pria yang ku incar selama bertahun tahun lepas begitu saja, Derren pasti menjadi milikku’ cibirnya dalam hati.
SIAP SIAP AJA OLIVIA NRNEK SIHIR MENANTI DI DEPANMU
SEPERTI JANJI AUTHOR HARI INI POSTING 2 CHAPTER 😊😊
JANGAN LUPA JEMPOL KALIAN 👍😊💖💖💖💖💖💖💖💖