Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 17


Derren mulai melumat bibir Olivia, memberikan sentuhan sentuhan halus dan membawa Olivia ke atas ranjang dan berusaha memberikan pengalaman pertama terbaik untuk dirinya dan pujaan hatinya.


“jangan takut, aku akan hati hati” kata Derren saat ia melihat tatapan Olivia yang tampak sangat gugup dan ketakutan, ia berusaha meyakinkan gadisnya.


‘Olivia, you’re mine! Just mine!’ batin Derren, mulai sekarang gadis ini hanya akan menjadi miliknya, selamanya!


Beberapa kali Derren menyeka peluhnya, pandangan matanya juga tampak gugup. Ini pertama kali baginya, dan ternyata sulit!!! tidak mudah seperti di film dewasa yang telah ia tonton untuk mempelajari agar tidak mengecewakan Olivia.


“Derren stop it!” Olivia tak kalah gugup hingga suaranya bergetar, bukan hanya gugup namun rasa sakit di bawah sana benar benar membuatnya putus asa.


“Sayang percayalah padaku ok?!” jawab Derren setengah menggeram.


Pria itu terus berusaha menjebol dinding penghalang Olivia yang setengah menangis dan meronta berniat menendang Derren untuk tidak melanjutkan hal itu karena sakit yang luar biasa, Olivia sama sekali tidak tau jika harus sesakit itu. Kukunya bahkan menancap di lengan Derren, ia tak peduli. Air matanya mengalir karena nyeri yang tak tertahan, Derren terus menekan Olivia di bawah tubuhnya hingga dinding itu berhasil ia robek dan mereka berdua bergerak berirama.


“Olivia, aku mencintaimu” guman Derren berulang kali, tidak seperti yang di harapkan. Olivia hanya bungkam, tidak membalas ungkapan cinta Derren, ia hanya mengerang menahan sakit yang bercampur nikmat.


Pagi harinya Olivia terbangun dengan kepalanya berada di dada telanjang Derren, bibirnya menyunggingkan senyum, ia ingat bagaimana Derren yang dingin, tenang dan pendiam itu ternyata bisa terlihat sangat gugup.


“kau sudah bangun sayang?” tanya Derren


“mmmmmm” Olivia tidak ingin menatap wajah Derren ia sama sekali tidak bergerak


Derren berusaha duduk dan sebelah tangannya masih mendekap Olivia


“apa kau lapar?”


Olivia menggeleng


“kenapa sayang?”


Olivia menggeleng


“apa kau marah padaku karena aku menyakitimu?”


Olivia menggeleng lagi


Hening sesaat


“apa kau menyesal?” tanya Derren, nada suaranya sedikit gugup


Olivia mendongakkan sedikit wajahnya sambil tersipu malu


“aku, aku malu” kata Olivia lirih


Derren tersenyum


“Olivia aku milikmu, kenapa kau harus malu padaku?”


Olivia menggeleng lagi membuat Derren semakin gemas.


“kau cantik sekali Olivia, kau akan jadi milikku selamanya hanya milikku” kata Derren sambil menciumi pipi Olivia gemas karena ekspresinya yang malu malu.


Wajah Olivia semakin merona


“aku ingin ke kamar mandi” kata Olivia sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Derren lalu turun dari tempat tidur namun tidak di sangka ia seperti tidak lagi memiliki tenaga dan tulang, ia jatuh dan tak mampu lagi berdiri


Derren tertawa melihat Olivia jatuh seperti katak


“Derren kau jahat sekali, kau menyakitiku, lihat seluruh tubuhku terasa hancur” keluh Olivia sambil bersimpuh di lantai.


Derren mengangkat tubuh Olivia dan menggendongnya ala bridal style


“maafkan aku menyakitimu, tapi aku janji yang selanjutnya tidak akan sakit lagi” Derren menciumi pipi Olivia dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka sambil Derren terus menggoda Olivia.


Setelah selesai mandi dan sarapan Derren dan Olivia bekerja sama merapikan selimut di kamar yang berantakan karena pertempuran semalam mereka, saat melihat bercak merah di seprei putih Olivia segera menutupinya.


“De Derren, ku...ku rasa kita harus menggantinya” kata Olivia gugup


Derren tersenyum, ia melepas selimut yang di pegangnya dan mendekati Olivia lalu menciumi tengkuk Olivia


“bagaimana jika kita ulangi lagi?” bisik Derren


“ti.. tidak Derren, itu menyakitkan” kata Olivia malu malu


“aku akan lebih berhati hati dari pada tadi malam” bujuk Derren


“ti... tidak mau, kau menyakitiku”


“kita coba saja sedikit, jika masih sakit aku akan berhenti”


“kau janji?” tanya Olivia begitu polos


Derren mengangguk lalu mengecup bibir Olivia


“Aku mecintaimu Olivia, sangat mencintaimu”


“aku juga mencintaimu Derren” suara Olivia bergetar, ia gugup untuk mengatakan hal ini.


Wajahnya bahkan telah terbakar merah merona membuat Derren kembali merasa gemas. akhirnya mereka kembali bermain permainan genit, Derren memang berhati hati pada awalnya namun akhirnya menekannya lebih keras dari pada tadi malam, seperti binatang buas yang memangsa hasil buruannya dengan lahap. Tidak ada sedikit pun niat untuk berhenti seperti janjinya, Mereka menghabiskan waktu mereka berdua dengan baik hingga malam datang kembali.


Kesokan paginya Derren mengantar Olivia untuk pergi ke kampus sedangkan ia pergi ke rumah sakit seperti biasa.


Ketika Olivia sedang berada di kelas pesan singkat Derren masuk


“Mrs. Tjiptadjaja aku merindukanmu” isi pesan yang di kirim Derren disertai emoticon love dan cium


Wajah Olivia merona, ia kehilangan fokus belajarnya, ia terus membayangkan semua yang terjadi antara dirinya dan Derren 2 malam terakhir.


“aku kesulitan berjalan dengan normal, itu semua salahmu” jawaban Olivia


“nanti aku akan mengobatinya”


“bagaimana caranya?”


“kau akan lihat nanti”


“aku tidak percaya padamu!”


“kau tidak percaya padaku? Aku dokter, aku bisa mengobatimu”


“kau masih magang!”


“percayalah pada kemampuan kekasihmu ini, benarkah kau tak merindukanku?”


“aku merindukanmu sayangku” jawab Olivia disertai emoticon love


“selamat belajar sayangku” Derren mengakhiri pesan singkatnya.


Olivia baru saja selesai menyiapkan makan malam ketika Derren kembali dari rumah sakit, melihat Olivia di dapur tampak begitu cantik dengan celemek berwarna pink menempel di tubuhnya Derren menghamparinya dan mengecup kening Olivia.


“kau sudah seperti seorang istri yang menunggu suamimu pulang dari bekerja”


“Omong kosong, bukankah aku selalu memasak setiap malam selama di London, kau menjadi pandai merayu sekarang” Olivia dengan gemas mencubit perut Derren


“aku ingin segera menikahimu sayangku”


“Derren, kita masih anak anak” Olivia menjawab dengan manja


“anak anak yang bisa membuat anak?” tanya Derren menggoda, ia kini berdiri tepat di belakang Olivia yang sedang mencuci peralatan setelah memasak sedangkan tangan Derren berada di tepi meja wastafel mengunci tubuh Olivia.


“eeehheeemmmmm” Jonathan yang baru saja masuk dapur pura pura terbatuk.


Derren dengan santai menyingkirkan tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Olivia buru buru menyodorkan lap kering pada Derren untuk mengelap piring yang basah, Olivia juga mengarahkan sikunya ke pinggang Derren dengan wajah yang tampak kesal.


Suasana menjadi canggung tiba tiba.


Jonathan segera membuka pembicaraan untuk menyingkirkan kecanggungan


“Keiko akan tinggal di sini mulai minggu depan”


Tiba tiba Olivia merasa takut Keiko mungkin saja mencium hubungan antara Derren dan dirinya.


“oh ya?” kata Olivia “apa Keiko akan melanjutkan study di sini?”


“tidak” kata Jonathan “master Edward akan mengadakan konser dan Keiko akan tampil sebagai pianis pembuka konser”


“sungguh hebat...! Akhirnya keinginannya untuk tampil di panggung International akan terwujud” kata Olivia antusias melupakan kekhawatirannya, ia berkata sambil berlalu pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu untuk menjawab suara interkom yang berbunyi di dekat pintu masuk tempat tinggal mereka.


“kapan konsernya?” tanya Derren


“6 bulan yang akan datang”


“jadi ia akan tinggal di sini selama 6 bulan?”


“ya..... bersiap siaplah kau mengurus 2 gadis manja” ejek Jonathan pada kakaknya


“tidak masalah, 2 gadis manja lebih menyenangkan dari pada satu gadis mandiri yang tidak bisa di dekati” balas derren pada Jonathan dengan nada mengejek


“jangan terlalu percaya diri”


Tidak berapa lama Olivia masuk kembali sambil melepas celemeknya.


“siapa yang mencarimu?” tanya Derren


“seseorang mengirimiku bunga” kata Olivia hati hati


“siapa?” tanya Derren dengan wajah suram


“dia tidak mencantumkan nama jadi aku katakan pada kurir kalau aku menolaknya”


Wajah Derren tampak lega, sudut bibirnya menyunggingkan senyum.


“jadi kau memiliki fans?” tanya Jonathan


Olivia mengangkat kedua bahunya bersamaan dan duduk di meja makan, mereka bertiga mulai menyantap makan malam.


Sore hari setelah kelasnya berakhir


Tiffany sedang menyelesaikan karya lukisnya, ketika tiba tiba Anastasya duduk di sampingnya. Wajah Anastasya menyiratkan permusuhan yang dalam.


“aku tidak mengira kau mencuri Joe dariku” gunan Anastasya dengan nada sinis


Tiffany menarik nafas dalam, ‘ini tidak seperti yang kau pikirkan Tasya!!!!’ jeritnya dalam hati


“terserah anggapanmu” jawab Tiffany dengan berat hati


“kau juga mengatakan kau tidak tertarik padanya tapi buktinya?”


“ku rasa aku tidak memiliki kewajiban menjelaskan apa pun padamu”


“kau sudah merencanakan semua ini kan?”


“omong kosong” jawab Tiffany, ia tak menyangka hubungannya dengan Anastasya berakhir seperti ini, memperebutkan pria? Menjijikkan sekali batin Tiffany.


Tiffany meletakkan kuasnya dan meninggalkan ruangan itu, ia memutuskan untuk menjauh dari Anastasya dari pada harus berdebat untuk urusan yang konyol.


Ia menyusuri koridor bangunan universitasnya, melangkah dengan gontai sambil menatap ujung sepatunya.


Sungguh ini bukan kemauannya, ia tidak ingin merusak pertemanannya dengan siapa pun, terlebih lagi Anastasya juga mempengaruhi beberapa teman di kampusnya untuk ikut memusuhinya.


---


Olivia dan Derren pergi untuk menjemput Keiko di air port, namun Derren justru membawa gadisnya ke apartemen mereka.


“sayang untuk apa kita kesini?”


“ada sesuatu yang harus ku kerjakan di sini” kata Derren santai sambil jari jarinya memasukkan kode akses pintu apartemen “ingat kode aksesnya tanggal lahirku dan tanggal lahirmu di kombinasikan dengan tahun”


“tahun?”


“kita lahir di tahun yang sama bukan?”


“iya kau lahir di bulan Februari dan aku di bulan November”


“gadis pintar” kata Derren sambil mengalungkan tangannya di pinggang Olivia


“jadi apa yang akan kau lakukan di sini?”


“menurutmu?” tanya Derren sambil menatap mata Olivia lalu dahinya di tempelkan ke dahi Olivia


“apa ada barangmu tertinggal di sini?” tanya Olivia polos


“kau naif sekali cintaku”


“.....?”


Derren melumat bibir Olivia, Olivia membeku sesaat dan menyadari apa tujuan Derren yang sesungguhnya, perlahan mereka terhanyut dalam permainan baru yang membuat mereka merasa begitu dekat dan memiliki satu sama lain, permainan yang di dominasi oleh Derren itu membuat Olivia selalu merasa benar benar bertekuk lutut di bawah kendali Derren.


“sebenarnya aku ingin tinggal berdua denganmu saja di sini agar bisa menikmati waktu seperti ini setiap hari” kata Derren saat telah menyelesaikan permainan mereka.


“kau menjadi sangat mesum Derren”


“kau selalu memakai pakaian sexy di rumah, aku tersiksa sepanjang hari setiap kau menggunakan pakaian seperti itu”


“dulu aku juga memakai pakaian seperti itu dan kau tidak masalah”


“siapa bilang tidak masalah? Hampir setiap minggu aku harus bekerja sendiri sambil membayangkanmu”


“kau pernah mengatakan tubuhku kurus tidak menarik” protes Olivia


“ya dulu tidak menarik, tapi sekarang tubuhmu meracuniku jiwaku Olivia” kata Derren yang telah membuat banyak jejak di tubuhnya, kecupan kecupan liar Derren di tubuhnya meninggalkan bercak merah yang tak terhitung.


“Derren kau sangat mesum....”


“sekarang kau harus melakukan tugasmu, dan jika ada Joe di rumah tolong jangan pakai pakaian sexy atau aku akan memakanmu di depan Joe” kata Derren sambil tangannya berada di dada Olivia yang kenyal


“Jonathan tidak mungkin berbuat mesum padaku” Olivia menangkap telapak tangan Derren dan berusaha menghentikan sentuhan Derren yang membuat Olivia ingin merasakan lebih.


“dalam hatinya bisa saja juga menginginkanmu, apalagi melihat tubuhmu yang mengagumkan, aku yakin semua pria pasti menginginkan ini” Derren menangkup kembali benda kenyal yang terasa sangat pas dengan ukuran telapak tangannya


“astaga sayang kau bahkan mencurigai adikmu sendiri” Olivia menyentuh kening Derren dengan punggung telapak tangannya


“Olivia, apa yang kau lakukan padaku? Rasa cintaku padamu jujur membuatku takut, aku takut sekali kehilanganmu, aku takut keluarga memisahkan kita, dan yang palin aku takutkan.... aku takut kau berpaling dariku” Derren menyatukan dahinya pada dahi Olivia, berbicara dengan nada pelan seolah semua ucapannya keluar dari lubuk hati yang terdalam.


“kau terlalu banyak berpikir Derren” Olivia justru menanggapi dengan santai “ayo pesawat Keiko mungkin telah mendarat” Olivia gugup menghadapi kata kata manis Derren, ia mengalihkan pembicaraan.


“kita masih banyak memiliki waktu untuk bercinta, jadwal pesawat Keiko mendarat pukul 12 malam, setelah ia melewati imigrasi chek baru kita jemput Keiko”


“kau benar benar licik Derren”


“aku licik untuk menikmati waktu bersama kekasihku” kata Derren sambil tangannya kembali bergerilya menyusuri bagian bagian sensitif di tubuh Olivia, dan Olivia akhirnya menyerah dan membiarkan Derren melakukan hal hal yang yang di inginkannya karena ia juga menyukai kenikmatan yang membuat perutnya terasa menggelitik.


Keiko datang bersama satu asistennya, gadis 16 tahun itu tampak bersemangat.


“Olivia oneesan aku merindukanmu” teriak Keiko dengan manja saat melihat derren datang menjemputnya


“Keiko aku juga merindukanmu” Olivia memeluk Keiko dengan gembira


“neee Olivia oneesan mulai malam ini kita akan tidur bersama selama 6 bulan” kata Keiko setelah mereka berada dalam mobil


“Kei menyenangkan sekali” kata Olivia sambil membalikkan badannya ke belakang untuk berbicara dengan keiko yang duduk di kursi belakang


“kita bisa pergi ke salon, berbelanja dan berjalan jalan di London sepuasnya”


Belum lagi Olivia menjawab Derren telah lebih dahulu menyahut dengan nada dingin


“akan ku kirim kau kembali ke Tokyo jika kau menyalah gunakan izin dari mommy di sini”


“oniisan kau sungguh tidak memiliki masa muda” ejek Keiko


Olivia tersenyum tipis sambil melirik kekasihnya


“apa maksudnu?”


“kau hanya membaca buku dan belajar apa kau tidak bosan?”


“kenapa aku harus bosan?”


“oniisan apa kau tidak tertarik untuk berpacaran? Kau kalah dari Joe oniisan”


“anak di bawah 17 tahun tidak pantas berbicara masalah pacar”


Keiko merapatkan bibirnya dengan ekspresi kesal.


“Olivia, apa kau mengantuk?” tanya Derren pada Olivia yang duduk di sampingnya karena ia beberapa kali menguap.


Olivia mengangguk


“tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti” kata Derren dengan nada sangat lembut


Keiko mengerutkan kening karena tidak seperti biasa kakaknya Derren begitu baik pada Olivia, Keiko dan Lalya asistennya bahkan saling berpandangan jarena heran.


Tentu saja Olivia terasa sangat lelah karena Derren berulang kali membuatnya berada di bawah kuasa Derren dari pukul 1 siang hingga malam datang, Derren bahkan hanya memberinya kesempatan untuk makan malam dan kemudian menyerangnya lagi.


Derren menyeringai, sudut matanya melirik Olivia yang kelelahan, sebenarnya ia tidak ingin membangunkan Olivia ketika mereka telah tiba di basemen parkir apartemen tempat tinggal mereka namun mengingat Keiko ada di antara mereka Derren terpaksa membangunkan gadis kesayangannya.


YEYEYE 😅😅😅😅


DERREN OH DERREN 😁😁😁


TAP JEMPOL KALIAN 👍👍👍