
Olivia duduk di pangkuan Derren, meringkuk seperti anak kecil, lengannya melilit di pinggang, kedua sejoli itu tampak tidak peduli dengan posisi duduk mereka meskipun mereka berada di bangku penumpang. Sopir pribadi melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Tokyo pagi itu, sesekali Derren menciumi Olivia dan Olivia membiarkan suaminya melakukan apa pun atas tubuhnya.
“apa kau ingin aku menunggumu?” tanya Derren lembut ketika mereka tiba di depan gedung Fakultas Kedokteran, tempat dimana Olivia kembali melanjutkan studynya.
“papa, kita semakin sedikit memiliki waktu untuk Crystal, bagaimana jika kau temani Crystal saja?”
“baik, ingat jaga diri mu baik baik, jangan melakukan sesuatu yang membuatku khawatir” kata Derren sambil meraba perut Olivia yang masih rata.
Olivia mengangguk dan melahap bibir suaminya, mereka menikmati ciuman cukup lama tanpa memikirkan bagaimana sopir yang duduk di bangku kemudi menegang dengan adegan yang berulang ulang, nyonya dan tuannya setiap hari membuatnya nyaris pingsan karena iri melihat betapa mesranya hubungan mereka.
“Derren...” rengek Olivia ketika ciuman mereka berakhir
“ada apa sayang?” Derren menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Olivia
“aku enggan turun” guman Olivia, semenjak hamil moodnya selalu berubah ubah, ia lebih nyaman berada di samping suaminya, ia ingin terus melekat dan menghirup aroma Derren sepanjang waktu.
“apa kau ingin kembali?”
Olivia mengangguk ragu ragu,
“seharusnya aku tidak mendaftarkanmu secepat ini” sesal Derren, saat mendaftarkan Olivia ia sedang sedikit emosi tanpa memikirkan istrinya hamil muda, mood dan hormonnya sekarang tidak menentu.
Olivia menggeleng “tidak apa Derren, aku bisa mengatasi hormon sialan ini”
Derren meraih dengan lembut dagu Olivia, tatapan mereka beradu.
“maafkan aku” guman Derren lirih, ‘maaf, membuatmu mengalami kesulitan sepanjang hidup bersamaku’ batin Derren pahit, Olivia begitu manja sejak ia mengandung, Derren semakin merasa bersalah, ia tak mampu membayangkan seperti apa Olivia saat mengandung Crystal dan ia tak berada di sisi Olivia.
Bibir Olivia mengembangkan senyum tipis
“antarkan aku sampai kelas” rengek Olivia
“baiklah, dengan senang hati” kata Derren,
Olivia merapikan rambut dan pakaiannya, ketika sopir membukakan pintu mobil untuk keduanya Derren segera turun dan mengulurkan tangannya, membantu Olivia turun lalu bergandengan tangan menuju ruang kelas Olivia.
Tentu saja banyak mata tertuju pada mereka, terutama pada Derren. Aura tampannya menghipnotis pandangan para gadis yang melihatnya.
“segera hubungi aku setelah kelas selesai, Ok?”
Olivia mengangguk
“bodyguard mengawasimu dari jauh, ingat jangan membuatku khawatir”
“iya, aku mengerti tuan posessive” kekeh Olivia
Olivia memasuki kelasnya dan duduk di bangku yang masih kosong, setelah Dosen hadir barulah Derren benar benar meninggalkan tempat itu.
“Olivia...” bisik Arata, pria tengil yang duduk di sampingnya
“ya Arata”
“jadi itu tadi kekasihmu?” tanya Arata
Olivia tertawa tanpa suara
Ia kemudian menulis di secarik kertas
“dia suamiku” tulis Olivia
“hah?” Arata menulis di bawah tulisan Olivia
“kami memiliki seorang putri, usianya 3 tahun”
“kamu berbohong?” tanya Arata lagi, mereka masih menulis di kertas
“tidak, aku juga sedang hamil”
“kupikir kau masih gadis”
Olivia tertawa kembali tanpa suara
Di ruang kelas tersebut memang hanya ada 3 anak muda yaitu Olivia, Chihaya dan Arata, selebihnya usia mereka telah terbilang jauh.
Setelah kelas berakhir Olivia, Arata dan Chihaya menuju kantin untuk sekedar mengobrol sambil makan untuk mengisi waktu luang mereka sembari menunggu kelas berikutnya.
Olivia tiba tiba merindukan sahabatnya Miranda, ia belum pernah bertemu Miranda lagi sejak terakhir kali mereka bertemu di roma saat pernikahan Miranda dan Richard.
“Olivia kau bekerja dimana?” tanya Arata
“Japan International Hospital” Jawab Olivia lalu menyeruput smothie instant yang ia beli,
“sugoi...” jawab Arata
Olivia hanya tersenyum simpul
“Olivia, apa suamimu memiliki saudara laki laki? Kenalkan aku, pasti saudaranya tampan kan seperti suamimu?” kata Chihaya
Olivia terkekeh
“adik iparku telah menikah” kata Olivia
“kalau saudara perempuan? Apa suamimu memiliki?” Tanya Arata dengan tingkah tengilnya
“apa kau tau Yamada Keiko?” tanya Olivia serius
“Keiko? Apa kau bersaudara dengannya?” tanya Chihaya
“coba kau buka media sosialnya” kata Olivia
Kedua orang yang baru Olivia kenal beberapa minggu itu serempak membuka ponsel mereka,
“astaga.... jadi kalian berkeluarga?” tata Chihaya
“iya...” jawab Olivia
“Olivia jadi kau mengenal suamimu saat kuliah di London?” tanya Arata
“tidak, kami mengenal sejak kecil, kami bersepupu” Olivia tersipu wajahnya memerah mengingat saat saat ia dan Derren di masa lalu
“Keiko akan berkolaborasi dengan grup band Trapped di jepang dua bulan lagi” guman Arata
“benarkah?” tanya Chihaya
“iya aku melihat di akun resmi Trapped”
“aku ingin melihat performa Keiko, sejak ia tinggal di London aku tidak pernah lagi melihatnya tampil di Tokyo” kata Chihaya “bagaimana jika kita menonton? Kau ajak suamimu” usul Chihaya
Olivia terkekeh
“sayang sekali” keluh Chihaya “lagu lagu Trapped sangat romantis”
“iya sayang sekali, padahal kita baru saja memiliki persatuan mahasiswa kawaii di sini”
Olivia tersedak liurnya sendiri mendengar kata kata yang di ucapkan Arata dengan nada tengil.
Teman barunya itu sangat tengil dan energik
Arata dengan serius menatap ponselnya, ia berulang kali memutar Video yang berisi Keiko dan Crystal bermain piano bersama, juga beberapa foto Crystal yang bergaya dengan imut di feed Instagram milik Keiko.
“jadi ini putrimu?” tanya Arata
Olivia mengangguk
“kawaii” kata Chihaya berbarengan dengan Arata
Olivia tersenyum manis, tak kalah manisnya dengan Crystal.
“Crystal sangat menggemaskan, bolehkah aku berteman dengannya?” tanya Arata dengan tatapan memohon
“jadi kau menyukai anak anak?”
“sangat”
“baiklah, mungkin nanti jika ada waktu”
Mereka melanjutkan obrolan mereka dan Arata mengambil beberapa foto selfie mereka dan mengunggahnya di story media sosialnya, Olivia segera merepostnya.
Sore harinya Derren datang bersama Crystal untuk menjemput Olivia, dari tatapan mata Derren yang dingin Olivia tahu, Derren tidak suka karena Olivia duduk di bangku bersama Arata dan Chihaya, kedua orang itu memutuskan menemani Olivia menunggu Derren datang menjemput Olivia.
“Crystal...” sapa Olivia
“mama...” kata Crystal ia ingin merambat berpindah ke bahu Olivia namun Derren melarang
“mama lelah Crystal”
Olivia menciumi pipi Crystal bergantian
“Chihaya, Arata, kami pergi dulu sampai jumpa” pamit Olivia pada kedua temannya
“sampai jumpa Olivia dan Crystal kawaii” kata Arata dengan nada tengil
Chihaya melambaikan tangannya
Derren semakin dingin menatap Olivia matanya sedikit menyipit, Olivia berpura pura tidak peka.
Ketika mereka telah memasuki mobil Olivia dan Crystal mereka saling bercanda sedangkan Derren terus saja memandang Olivia dengan tatapan dingin hingga mereka tiba di tempat tinggal mereka, setelah membersihkan tubuhnya Olivia dan Crystal menonton acara kartun kesukaan Crystal sambil menunggu pelayan menyiapkan makan malam mereka.
“papa... ayo kesini” panggil Olivia dengan nada manjanya pada Derren yang duduk di sofa agak jauh dari dirinya dan Crystal
Derren mendekat dengan ekspressi wajah masih datar
“papa duduklah di sini” pinta Olivia sambil menepuk sofa di sampingnya
Derren seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, ia menurut dengan semua yang diinstruksikan Olivia
“papa baby ingin di peluk” rengek Olivia
Derren meraih pinggang Olivia dan membawa Olivia kedalam pelukannya tanpa berkata apa pun.
“papa, baby tidak suka jika kau cemberut” rengek Olivia
“Olivia” geram Derren “jangan bertingkah”
Olivia memajukan bibirnya, ia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Derren yang sedang terbakar cemburu, dalam hatinya tertawa geli melihat tingkah suaminya.
“jadi, kau tidak menyayangiku dan baby lagi? tidak ingin memanjakan kami?” Livia memansang ekspressi sedih sebaik mungkin
“tidak begitu” Derren tiba riba merasa bersalah membuat Olivia tampak sedih
“kau mengabaikanku” keluh Olivia
“Olivia akunsedang cemburu” geram Derren, namun ekspressi dinginnya telah hancur karena melihat wajah sedih Olivia.
“cemburu? Pada siapa?” tanya Olivia polos
“kau mengunggah foto bersama pria, kau duduk bersama pria itu tadi” geram Dereen sambil menggeretakkan giginya
Olivia mencubit pinggang suaminya
“kau posessive sekali”
“kau milikku Olivia”
“seluruh dunia juga tau papa” Olivia mendengus “aku sedih jika kau tidak percaya padaku” lirih Olivia mengatakan itu
“maaf, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku” kata Derren sambil mengecup bibir Olivia
Olivia tidak membiarkan kecupan bibir Derren terlewatkan, ia melumat bibir tipis suaminya, menyapu bersih kecemburuan suaminya yang sama sekali tak berdasar.
Mereka terhanyut dalam ciuman yang membara mereka bahkan lupa Crystal ada di antara mereka.
“papa...” rengek Crystal
Olivia dan Derren tergagap, Olivia menjauhkan tubuhnya mendorong dada Derren dan wajahnya terbakar merah merona.
“tuan putri ada apa?” tanya Derren sebiasa mungkin menyembunyikan kegugupannya
“Crystal ingin di cium seperti mama” pinta Crystal
“....” Derren dan Olivia saling tatap kemudian mereka justru tertawa bahagia
“come” kata Derren
Gadis kecil itu mendekat, Derren mencium sebelah pipi Crystal dan Olivia juga mencium sebelah pipi Crystal yang lainnya. tak lupa Olivia mengulang adegan tersebut untuk mengabadikan momen indah itu lalu memunggahnya di media sosial miliknya.
FROM AUTHOR : PENGEN DIMANDIIN PAPA DERREN 😏
SELAMAT PAGI 😙😙😙