Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
40


“maksudmu derren dan joe sakit?” tanya livia polos, ia benar benar tidak mengerti


“tidak livia tidak...” kata tommy buru buru “hanya saja andrew menghawatirkan ke dua putranya memiliki riwayat penyakit jantung yang bisa saja di turunkan oleh andrew, hanya pemerikasaan agar lebih mudah di deteksi secara dini” tommy menjelaskan dengan hati hati agar livia mengerti dan tidak khawatir


“andrew sakit jantung?” livia terkejut sekali


“kau tidak tau?” tommy lebih terkejut


“andrew tidak pernah memberi tahuku” batin livia terasa sakit, ‘andrew berapa banyak rahasia yang ia sembunyikan di belakangku?’ batinnya kecewa


“andrew memiliki kelainan jantung sejak lahir, tapi ia udah melakukan transplantasi jantung di new york waktu itu ia berumur 21 tahun” tommy menjelaskan dan ternyata tommy adalah dokter spesialis jantung.


“tapi di dadanya tidak ada bekas luka operasinya” livia masih bingung


“itu karena andrew juga melakukan operasi plastik menghilangkan bekas luka di dadanya ke korea” jawab tommy


“tommy, kau tau kan sekarang aku dan andrew...”


"iya aku tau livia, dan zakia...."


Livia mengangguk kecil kemudian bertanya "zakia kenapa tommy?"


“zakia yang mendampingi andrew ketika ia operasi jantung, bahkan zakia juga yang mendapatkan orang yang memberikan jantungnya untuk andrew...............” tommy menceritakan panjang lebar


Livia mengangguk angguk mengerti. Ia tidak lagi menyalahkan zakia, livia justru kagum dengan yang di perbuat zakia untuk andrew meskipun zakia memporak porandakan rumah tangganya.


Wajar zakia sanggat mencintai andrew seperti pengakuan zakia pada livia dan wajar jika andrew tidak bisa melepas zakia selama zakia ada di jangkaun matanya.


“baiklah, di rumah sakit mana kau bekerja?” tanya livia


“japan international hospital”


“kami akan kesana hari ini juga untuk pemeriksaan” jawab livia tanpa pikir panjang, ia terlalu panik


“tidak harus terburu buru livia, bagaimana kalau besok pagi?” tanya tommy ia mengeluarkan kartu namanya “hubungi aku nanti sebelum datang. oke”


“baiklah” kata livia ia meraih kartu nama itu dan membacanya “tapi aku benar benar panik tommy, aku mungkin tidak akan bisa tidur malam ini” lajut livia dengan suara agak lemah lututnya bahkan serasa tidak mampu menopang tubuhnya


mengingat kesehatan kedua putranya


“tidur denganku mungkin bisa membuat kamu melupakan kekhawatiranmu” goda tommy tiba tiba


“ hahaha kamu pintar bercanda” livia tertawa ringan


“hahaha baiklah baiklah, jangan terlalu tegang” jawab tommy “livia apa kamu ada rencana menikah lagi?”


“terlalu cepat tommy, tentu saja mungkin aku menikah lagi jika tuhan menghendaki” livia terkejut dengan pertanyaan tommy tentunya, ia bahkan belum memikirkan ke arah sana.


“ya wanita secantik kamu, tidak ada yang mampu menolak pastinya” mata tommy menyapu wajah livia


“oh iya tommy, apakah selama kami tinggal di tokyo andrew sering mengeluh sakit? Dia tidak pernah cerita apaun padaku” segera livia mengalihkan pembicaraan yang mulai tidak menentu itu.


“tidak, andrew hanya satu kali mengeluh dadanya terasa sesak sepanjang menikah denganmu” kata tommy


Setelah tommy pergi, livia menggelangkan kepala, astagaaaa.... tentu saja livia berfikir jika tommy bukan sepupu andrew dan livia juga masih lajang ia akan mulai menebarkan pesona kecantiKannya di depan tommy, sayang sekali masa itu telah lewat, livia tersenyum sendiri. Livia memberitahu sekretarisnya meminta pembatalan jadwal kerjanya untuk besok pagi, ia akan membawa derren dan jonathan untuk medical chek up.


Di sisi lain, tommy telah melihat livia puluhan kali di media sosial andrew, namun baru kali ini ia melihat secara langsung wanita itu, berbeda dengan di foto ternyata livia jauh lebih menarik aslinya sungguh luar biasa ia langsung mengagumi livia di atas segala galanya. Ia bahkan berdebar debar tak menentu menghadapi livia, nyaris tak mampu menyembunyikan bahwa ia telah terpesona oleh kecantikan livia, di perjalanan pulang tommy tersenyum sendiiri mengingat wajah cantik livia.


JAKARTA


“andrew jika kau terus mabuk mabukkan kau akan membahayakan kesehatanmu” kata zakia pagi itu saat menyiapkan sarapan untuk andrew


“kau tentu tau bukan jika penyakitku bisa saja membunuhku sewaktu waktu” jawab andrew dingin


“kau tau penyakitmu bisa membunuhmu kapan saja, tapi kau tidak menjaga dirimu dengan baik” jawab zakia malas


“aku bukan pria kaya lagi, 75 % hartaku kini menjadi milik livia dan putraku, kau pasti akan meninggalkanku, jika kau ingin menggugat cerai lakukan saja, aku akan memberikann 10% hartaku untuk putri kita lagi pula umurku tidak akan bisa panjang” kata andrew kemudian ia menggigit rotinya


Zakia tersenyum sinis, ‘bahkan jika tidak mendapatkan 10% harta itu tidak ingin lagi berada di sisimu’ cibir zakia


“Seingatku di new york bukankah operasi jantungmu telah berhasil?” tanya zakia serius, zakia dan sofia yang mendampingi operasi andrew saat itu


“tapi beberapa kali aku merasakan sakit dalam beberapa tahun ini” jawab andrew


“dan kau sekarang hanya mabuk mabukan untuk mempercepat kematianmu? Kau sangat bodoh andrew!” kata zakia kesal


“ya aku bodoh. aku merasa sangat berdosa pada livia, aku dulu mengejarnya seperti orang gila lalu aku menghianatinya hanya karena obsesiku padamu”


“kau sangat mencintainya?”


Andrew hanya diam memandangi gelas di tangannya


“kita bisa bercerai lalu kau bisa kejar livia lagi” zakia mengusulkan “aku percaya livia adalah wanita pemaaf”


“aku tidak berani melihatnya aku malu” jawab andrew “zakia maukah kau memaafkan aku?”


“andrew, aku takut pada tempramen tinggimu jujur aku takut kau menyakitiku” kata zakia jujur


“aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku” jawab andrew lemah


Tempramen andrew memang sangat tinggi namun selama bersama livia tempramennya sangat terkontrol, mungkin karena sifat manja dan manis livia serta rengekan rengekan livia yang cenderung kekanakan membuat sifat pemarah andrew hampir tidak pernah muncul ke permukaan.


“aku berjanji aku tidak akan berbuat seperti itu lagi”


“andrew aku tidak mengerti, dulu kau tidak seperti itu. Apa jantung barumu itu merubah dirimu?” tanya zakia serius


“aku juga tidak tau” jawab andrew mengambang


“apa livia tau kau pernah sakit jantung?”


“tidak ia tidak tau" jawab andrew “jadi kau akan menceraikanku?” tanya andrew hampa


“setelah kita bercerai kau bebas mengejar livia lagi”


“Tidak akan lagi”


“kenapa?”


Andrew menggeleng


‘hatinya tidak sepenuhnya ada padaku ada pria lain yang lebih pantas untuk livia’ jawab andrew dalam hatinya


“jika kau menceraikanku orang tuaku akan membunuhku” itu yang keluar dari mulutnya


“baiklah” jawab zakia, ia merasa iba pada andrew, bagaimanapun keretakan rumah tangga andrew adalah ulah dirinya “jika kau tidak ingin aku menceraikanmu, bisakah kita tinggal di uzbekistan?” tanya zakia hati hati


“akan ku pikirkan beri aku waktu" jawab andrew