
Pagi harinya
“hubby bangun” panggil livia sambil memandangi wajah suaminya jari jemari Livia membelai alis naoki yang rupawan, berpindah ke rambut naoki yang sedikit berantakan
“sebentar lagi sayang” kata naoki yang masih memejamkan matanya, ia benar benar masih mengantuk karena semalaman ia dan livia berjuang di atas ranjang.
Naoki meraih telapak tangan livia menangkupnya lalu meletakkan di wajahnya, kemudian menghirup aroma telapak tangan livia.
“kita akan ke candi borobudur kau harus bangun atau sakura akan berteriak” kata livia
“aku sudah bangun” guman naoki
“tapi matamu terpejam”
Naoki membawa tangan livia dan meletakkan antara kedua pahanya
“dia yang bangun” kata naoki
“hentai...” *mesum
Meskipun sedikit kesal pada tingkah suaminya yang benar benar berbeda dengan naoki yang dulu, namun tetap saja livia dengan senang hati menyelesaikan tugas pagi mereka.
“hubby, ai shite iru” kata livia setelah mereka terkulai lemas melakukan olah raga pagi.
“aku mencintaimu lebih mencintaimu” kata naoki mengecupi kening istrinya yang baru saja menyatakan cintanya “jangan ragu lagi livia, katankan kau mencintaiku sebanyak banyaknya”
“kau akan bosan mendengar” kata Livia sambil tersenyum
“tidak akan pernah, aku telah bersabar terlalu lama menunggumu mengucapkan kata kata itu”
Baru saja keadaan menjadi sedikit memanas kembali suara ketukan di pintu membuyarkan rencana dua insan yang di mabuk asmara itu. Naoki bangkit menyambar handuk lalu melingkarkan di pinggangnya, kemudian menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Ternyata sakura yang datang, naoki membuka sedikit pintu dan berdiri di depan pintu tak mengizinkan adiknya masuk. sakura tersenyum saat melihat banyak tanda kiss mark di dada dan bahu naoki, bahkan di leher juga ada walaupun samar samar.
“naoki oniisan, kami menunggumu restauran sejak tadi, cepatlah bersiap kita akan ke candi borobudur” keluh sakura
“20 meenit lagi kami akan turun”
“kau bisa melakukkannya lagi malam hari atau kami akan meninggalkan kalian” seru sakura sambil berlari menjauh.
Livia segera melesat dan membersihkan diri secara kilat di kamar mandi, naoki juga melakukan hal yang sama.
Ketika berdiri di depan cermin hendak memakai pakaiannya naoki melihat tanda kisa mark di sana sini, ‘kapan livia membuatnya?’ Batinnya
“livia....” panggil naoki
“cepat hubby sayang aku lapar” keluh livia
“ini....?” tunjuk naoki pada dada telanjangnya
“yaaa... saat di rumah orang tuaku jangan buka bajumu sembarangan, istrimu ini tidak suka” kata livia santai dengan tatapan nakal
“kau tidak tahan melihat dada telanjangku bukan?” tanya naoki menatap dengan tatapan yang tak kalah nakal wajah istrinya
“nah 100 buat anda naoki sama, cepat kenakan pakaianmu kita turun” livia benar benar lapar.
Mereka masih berada di yogyakarta hingga seminggu lamanya, mengisi waktu dengan berjalan jalan dan berburu kuliner. Akhirnya mereka tidak jadi berbulan madu karena selama mereka tinggal di yogyakarta hari hari yang mereka lalui lebih indah dari sekedar berbulan madu.
Danu sangat cepat akrab dengan naoki, setiap mereka berbicara seperti teman lama yang telah lama tak berjumpa, bahkan mereka merencanakan beberapa kerjasama bisnis.
Tentu saja mereka cocok sifat mereka hampir sama bahkan latar belakang pendidikan mereka sama.
Sakura sangat akrab dengan yudha mereka selalu bertengkar membuat kegaduhan, karena sakura yang paling muda di antara mereka sakura menjadi sangat di manja oleh yudha dan yang lainnya.
Sedangkan yukari ia selalu tenang ia lebih banyak berinteraksi dengan bunda yunita dan gendis, yudha tampak malu malu mendekati yukari.
Melihat itu livia menggoda yudha “mas yudha udah pernah di pakai belum karet yang di kasih livi?”
“Livi jangan macam macam...!” yudha tampak kesal pada adiknya
“cari istri aja biar gak repot pake itu” kekeh livia “30 tahun loh mas 30 tahun” kata livia mengingatkan umur mereka
“menurut livi gimana kalau mas deketin.....” mata yudha mengarah pada yukari
“Serius? Livi setuju banget....”
“tergantung dia mau apa gak”
“kejar terus sampe dapat, kalo perlu bantuan livi bilang aja”
TOKYO
Ketika sampai di tokyo livia dan naoki kembali mengadakan makan malam untuk pernikahan mereka, mengundang seluruh karyawan dari kedua perusahaan serta teman temannya tujuannya untuk mengumumkan pernikahan mereka.
malam itu di tengah tengah acara makan malam para karyawan
“sayang apa arti VL-STAR?” tanya livia setelah sekian lama memendam rasa ingin taunya
“Livia bintang kehidupanku” jawab naoki sambil memandang wajah cantik istrinya
“hubby kurasa terlalu banyak bintang di langit” livia merasa suaminya terlalu berlebihan
“tapi hatiku hanya untuk 1 bintang”
“kau pandai merayu” wajah livia merah padam, ternyata suaminya memang sangat romantis, ia bahkan menamai perusahaan dengan intial namanya.
“benarkah?”
“aku juga mencintaimu”
Beberapa hari kemudian livia baru saja memarkirkan bugati chironnya di parkiran perusahaannya, mobil yang selalu menjadi perdebatan antara ia dan andrew dulu nyatanya sampai saat ini masih ada, livia sering memakai bugatinya saat ada pertemuan penting.
“ohayou mama” sapa livia sopan karena yang berdiri di depannya adalah mama mertuanya yang tidak menganggap dirinya.
“siapa yang kau panggil mama?” jawab wanita itu dengan ketus “kau membuang buang uang naoki untuk membeli mobil sampah” lanjutnya
“mama mari kita bicara sambil minum teh di dalam” kata livia mengajak ibu nya naoki untuk ke ruangannya, sebenarnya midori nama ibu naoki agak heran ternyata livia bisa berbahasa jepang dengan baik meskipun logatnya aneh.
Sesampainya di ruangan kerjanya livia meminta sekretarisnya untuk membuatkan teh untuk mereka berdua, kemudian duduk dengan anggun baru Setelah teh yang di pesan livia datang ia mengajak kembali mertuanya berbicara
“mama ada perlu apa kau datang kemari? Kau bisa memanggil naoki dan kami akan berkunjung ke rumahmu, jika seperti ini kami jadi seperti anak durhaka” kata livia sopan
“kalian menikah diam diam, apa yang kau rencanakan wanita licik?”
“nama saya livia putri tjiptadjaja, mama bisa memanggil saya livia” kata livia
“tinggalkan naoki putraku...!"
“saya tidak akan meninggalkan dia mama, sekarang dia suami saya yang sah di mata hukum negara jepang dan indonesia” jawab livia ramah
“apa yang kau inginkan? Berapa uang yang kau inginkan?”
“maaf mama, mama bisa mengecek siapa keluarga tdjiptadjaja, apa saja bisnisnya, seberapa kaya kami, saya tidak perlu uang dari keluarga yamada” kata livia dengan sangat ramah namun terkesan sombong
“jaga bicaramu...!” desis midori mulai emosi
“mama jangan terlalu banyak marah, saya khawatir kerutan di wajahmu akan bertambah” kata livia menenangkan “dan satu lagi mama, mobil yang saya pakai itu dibeli bukan dengan uang suami saya, apa kau ingin melihat dokumen dokumen pembeliannya dari mana uangnya?” tanya livia ramah.
Midori dengan kesal meninggalkan ruangan livia tanpa berpamitan.
Sedangkan livia ia terduduk lemas, cukup membuat emosi menghadapi wanita tua keras kepala, sepertinya ia harus menyiapkan mental kapan saja , bisa saja mama mertunaya datang dan menyerangnya kembali.
Kini mereka menempati apartemen naoki karena naoki tidak mau tinggal di apartemen livia, di sana pasti banyak kenangan livia dan andrew, sebenarnya naoki telah membelikan sebuah rumah yang cukup mewah untuk livia dan anak anak mereka, namun rumah itu masih dalam tahap renovasi, livia terlalu cerewet mengatur dan berulang kali mengganti tema ruangan. Naoki mendesak desain interior untuk mempercepat renovasi rumah mereka agar derren dan jonathan leluasa bergerak dan bermain.
Apartemen itu kini terasa sangat ramai dan terasa menjadi agak sempit karena bertambah 2 asisten rumah tangga, 2 balita, 2 pengasuh belum lagi sakura yang selalu datang dan sering menginap.
Setiap hari sakura Bermain dengan derren dan jonathan sambil melakukan video call dengan yudha dan berisik sekali, naoki sering mengusir sakura namun livia selalu membela sakura dan berujung menarahi naoki.
3 bulan kemudian
Livia dan naoki baru saja kembali dari guangzhou, seperti dulu livia gemar sekali mengikuti kemanapun naoki pergi untuk berbisnis, itulah sebabnya livia merasa tidak perlu berbulan madu, mereka bisa memanfaatkan perjalanan bisnis naoki di selingi liburan, sebenarnya naoki menjadi tidak konsentrasi, namun ia tidak bisa berkata tidak jika livia meminta.
Setelah menyapa kedua putranya, livia pergi mandi kemudian tanpa melepas handuknya ia merebahkan tubuhnya hingga tertidur, beberapa hari ini ia sangat mudah lelah dan tidak bergairah untuk makan.
Ketika naoki masuk ke kamar melihat istrinya tergolek di atas ranjang ia mengira istrinya pinsan.
“Livia apa yang terjadi?” naoki meraba keningnya, suhunya normal
Ia menggoyangkan tubuh istrinya hingga livia membuka matanya
“kenapa tidur seperti ini? Kau bisa masuk angin, pakai dulu bajumu” kata naoki “apa kau merasa tidak enak badan?” tanya naoki
“hubby aku merasa lemas” rengek livia manja, sekarang ia hanya bisa merengek jika berduaan dengan naoki di dalam kamar.
Livia menjatuhkan handuknya, dan meraba dadanya sendiri
“tubuhku hangat tapi hanya di sini ku pikir aku sedang sakit” katanya lagi
Naoki dengan hati hati meraba payudara istrinya, benar saja batin naoki
“kita ke dokter kandungan” kata naoki cepat, dan ia segera mengambilkkan pakaian beserta underware untuk livia, dan membantu memakaikannya
“hubby tidak masuk akal kenapa kita ke dokter obgyn?” tanya livia
“sayang kau hamil...!” kata naoki bersemangat
“aku? Dari mana kau tau? Apa kau peramal?” tanya livia setengah mengejek tebakan naoki
“aku ingat saat kau hamil derren, tubuhmu hangat seperti ini di bagian dada dan saat aku memasukimu, kau lebih hangat di dalam, apa kau mau aku mengecek lagi?” tanya naoki menggoda, dan memang itu faktanya beberapa hari ia merasakan bagian dalam tubuh livia lebih hangat dari pada biasanya
“ecchi” kekeh livia
“derren dan joe akan memiliki adik” naoki sangat bersemangat
Mereka keluar dari kamar, naoki menggenggam erat tangan livia
“sakura jaga derren dan joe, aku akan membawa oneesanmu ke dokter”
“apa dia sakit?” tanya sakura panik
“oneesanmu hamil sakura”
“oneesan? Hamil? Yukata, omedeto oneesan oniisan” sakura memeluk tubuh livia
*syukurlah, selamat
“terima kasih sakura” kata livia senang.
Sekembalinya dari dokter kandungan naoki berubah menjadi pria cerewet, ia berulang kali memarahi sopirnya untuk tidak terlalu cepat mengemudikan mobil, bahkan sopirnya kini hanya menyetir dengan kecepatan 20 km perjam membuat livia sangat bosan.
“hubby kau berlebihan, stop bertingkah konyol, aku hanya hamil bukan patah tulang, kecepatan mobil tidak berpengaruh” kata livia sebal dengan tingkah suaminya namun di sisi lain sangat bahagia dan kagum dengan naoki, pria yang paling mengerti dirinya, bahkan ia masih ingat tanda tanda tubuhnya jika hamil, Livia saja tidak pernah memperhatikan saat ia hamil derren dan jonathan anggota tubuh tertentunya berubah menjadi hangat atau tidak
Naoki tidak perduli yang ia perdulikan hanya kebahagiaannya karena di dalam rahim livia ada janin darinya, ia tak perduli livia yang menggerutu, naoki terus mengelus dan menciumi perut rata livia sementara livia mulai merasa kesal dan ingin mengikat tangan suaminya karena suaminya terlalu menempel di tubuhnya.