Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 31


Derren menarik selimut yang membungkus tubuh Olivia, mulai menciumi punggungnya, beralih ke lehernya. Sentuhan itu membuat Olivia tak mampu menyembunyikan bahwa ia juga butuh sentuhan Derren.


Bibir mereka telah bertaut, ciuman penuh kerinduan yang membara mulai menenggelamkan dua sejoli itu, Ruangan itu tiba tiba menjadi terasa sangat panas dan membuat keduanya terpaksa menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka, tubuh mereka kini telah bersatu. Olivia tanpa terasa berkali kali menggumankan nama Derren.


Pinggul mereka telah bergerak berirama, panas menggelitik di perut Olivia hingga merasakan puncak berkali kali, Derren memang selalu membuatnya bertekuk lutut, Derren memang selalu mengerti bagaimana membuat tubuhnya melayang kehilangan kesadaran di bawah kendalinya.


Entah berapa kali Derren menjelajahi tubuhnya, hingga mereka terbangun saat matahari telah tinggi.


“damn it!!! Kita terlambat ke gereja” teriak Olivia sambil membuang selimutnya, turun dari atas ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan.


“tidak usah ke gereja, kita ke acara pestanya saja” kata Derren dengan nada santai


“Derren tapi....”


“lihat jam berapa?” Derren bangkit sambil mengenakan boxernya


Jam 11, pemberkatan pernikahan Jonathan dan Tiffany tentu saja sudah berakhir.


Dan keluarganya pasti akan..... oh tidak Olivia ingin sekali menangis. Pasti keluarganya tau kalau semalaman ia berada di dalam kamar Derren. Memalukan sekali!!!


“ini salahmu, kau membuatku kesiangan” omel Olivia


“maaf, Olivaku”


“aku bukan Oliviamu!” jawabnya ketus


“oh ya? Kau lupa? Kau hanya bisa menjadi milikku Olivia” Derren mendekati Olivia dan memeluk pinggang gadisnya dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Olivia


“Derren lepaskan”


“aku rindu kamu Oliviaku”


“Derren lepas...”


“tidak, kau tidak akan ku lepas lagi” geram Derren


“Derren kau berat”


“benarkah? Tadi malam aku di atasmu kau tidak bilang berat” goda Derren


“Derren!!!” wajah Olivia sudah merah merona


“baiklah, cepat mandi lalu kita sarapan dan bersiap ke pesta” kata Derren ambil mengecup kepala Olivia.


Olivia secepat kilat mengenakan pakaiannya dan berlari ke kamar Keiko. Membersihkan tubuhnya lalu memanggil Miranda untuk melihat Crystal.


‘oh sial’ perbedaan waktu


Di London masih terlalu pagi, Crystal tidak mungkin terjaga jam 3 pagi.


Olivia mengurungkan niatnya untuk melihat Crystal.


Olivia memakan sarapannya hanya berdua dengan Derren, Derren dengan telaten menyiapkan semua peralatan makan untuk Olivia, ia juga yang membuatkan sarapan untuk Olivia secara langsung.


Pelayan saling sikut melihat pemandangan itu, tuan mudanya yang seperti patung es beberapa tahun ini berubah menjadi pria hangat yang penuh kasih terhadap Olivia, ia sedang menyuapi Olivia


“Derren aku bisa makan sendiri” Olivia terus saja protes!


“jangan keras kepala”


“Derren aku bukan anak kecil”


“iya aku tau” jawab Derren penuh kasih sayang


“Derren aku tidak ingin di suapi”


“Ooliiviiaaa”


Mereka terus saja berdebat, namun tidak mengurangi kehangatan yang tampak begitu menyilaukan mata yang melihat, bahkan pelayan mengambil foto foto Derren dan Olivia secara diam diam dan mengirimkan pada Livia, nyonya besar mereka.


---


Di gereja tempat pengambilan sumpah pernikahan Jonathan dan Tiffany berlangsung, Tiffany di dampingi ayahnya menuju altar, ia tampak cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Wajahnya merona memancarkan kebahagiaan.


“Putriku, hari ini kau menjadi milik pria lain” goda ayah Tiffany


“papa, kau tetap pria terbaik dimuka bumi” bisik Tiffany


“aku bisa tenang karena menantuku ternyata dari kalangan terdekat kita”


Tiffany hanya tersenyum, ia sendiri benar benar tidak menyangka jika seumur hidupnya ternyata memang harus terikat dengan Jonathan.


Upacara pemberkatan pernikahan Jonathan dan Tiffany berlangsung khidmad.


"I Jonathan Tjiptadjaja, take you Zhao Tiffany, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness." Jonathan mengucapkan sumpah pernikahannya sambil memandang penuh tatapan romantis pada Tiffany.


Dan di balas dengan manis oleh Tiffany "I Zhao Tiffany, take you Jonnathan Tjiptadjaja, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness."


Kedua mempelai kemudian saling mencium sebagai pasangan yang sah.



“akhirnya aku menikahi temanku” bisik Jonathan seusai mereka berciuman.


“teman hidupku” kata Tiffany lirih dengan rona wajah bahagia



Jonathan menyapukan pandangan pada seluruh keluarga yang hadir di gereja, ia tak menemukan dua sosok yang ia cari.


Sudut bibir Jonathan terangkat, hatinya terasa bahagia.


Kebahagiaannya bahkan terasa dua kali lipat!!!


Setelah beberapa kali mengambil foto di gereja, mereka memasuki mobil untuk menuju gedung tempat pesta pernikahan di gelar.


“apa Olivia tidak mau juga datang ke pernikahan kita?” tanya Tiffany dengan nada sedih, rupanya ia juga mencari sosok Olivia


“dia datang, jangan khawatir istriku” kata Jonathan meyakinkan Tiffany sekaligus menggodanya.


“apa mereka akan berbaikan?”


“tergantung bagaimana kakakku yang bodoh itu, dia tidak bisa membujuk wanita” keluh Jonathan


“tentu saja, kakakmu Derren bukan play boy sepertimu, dia pria baik baik”


“ooooo.... kau mengatai suamimu?”


“aku hanya bicara sesuai fakta”


“apa kau ingin kita berdebat di hari pertama kita resmi menjadi suami istri?”


“kau yang memulai Joe” Tiffany tidak mau di salahksn


“aku?”


“ya kau memulai duluan” Tiffany memutar bola matanya tidak senang


“bagian kata mana? Tolong jelaskan padaku Mrs. Tjiptadjaja”


“kau mengatai kakakmu bodoh, padahal kau lebih bodoh”


“aku tidak bodoh, kau yang bodoh istriku, aku bisa menghamilimu berarti aku cerdas”


“kau memang sengaja bukan?” Tiffany bertanya dengan nada tidak senang


“ya tentu saja, jika tidak begitu mommyku tidak akan menikahkan kita secepat ini”


“kenapa kau tidak pakai pengaman?”


“kau tidak memintanya” jawab Jonathan sedikit terkeleh penuh kemenangan


“aku tidak mengerti hal hal seperti itu, kau menjebakku” Tiffany masih saja tidak terima dengan kehamilan mendadaknya.


“iya, aku memang menjebakmu tapi cukup lama kenapa baru saja menjadi bayi, padahal hampir setiap kita bertemu kita membuat bayi”


“kau....”


Jonathan menginjak rem mobilnya


“sudah sampai Mrs. Tjiptadjaja, apa kau masih ingin berdebat atau kau mau kita membuat bayi lagi di mobil?” goda Jonathan memotong ucapan Tiffany


“tidak, make up ku akan berantakan”


“Joe kau...”


Terlambat, bibir Tiffany sudah di segel dan tangan Jonathan sedang bermain main dengan jarinya di bagian vital tubuh Tiffany. Hingga Tiffany mendapatkan puncaknya, ia terengah engah mengatur nafasnya.


“bagaimana istriku? Apa itu cukup buat menunda?” goda Jonathan


“apa yang di tunda!” Tiffany benar benar kesal, bisa bisanya suaminya mengambil kesempatan! Wajahnya Tiffany semerah tomat masak!


“sabar sayang tunggu setelah pesta berakhir aku akan berikan semua pelayanan terbaik untukmu” goda Jonathan dengan seringai mesum pemuh kemenangam.


“Joe kau sangat mesum” Tiffany semakin di buat kesal karena suaminya bukan hanya mulutnya saja yang mesum, tangan dan seluruh perbuatannya juga sangat mesum! bahkan tatapan matanya saja mesum! Tiffany selalu kewalahan menghadapi pria ini setiap kali mereka hanya berdua!


“mulai sekarang panggil aku hubby kalau tidak gaun pengantin ini aku lepas disni?” kata Jonathan dengan nada mengancam, wajahnya sangat dekat dengan wajah Tiffany, bibirnya bahkan nyaris menempel di bibir Tiffany


“hubby....” terpaksa Tiffany menuruti ancaman suaminya, ia tentu tidak ingin di telanjangi suaminya di mobil, ia sangat tau untuk urusan kemesuman suaminya tidak pernah main main.


Dan bibir mereka kembali bertaut... tangan Jonathan mulai akan bergerilya, namun Tiffany tidak ingin membiarkan suaminya kelewatan ia menangkap pergelangan tangan suaminya dan menahannya.


Mereka menyudahi ciuman itu, setelah memperbaiki rambutnya Jonathan membukakan pintu mobil untuk istrinya dan menggandengnya membawa istrinya memasuki gedung di mana pesta akan di gelar sore ini.


Di kediaman orang tua Derren, setelah selesai makan Olivia telah di tunggu oleh seorang wanita yang telah di tugaskan menata rambut dan make upnnya.


‘berlebihan’ batin Olivia ia tidak biasa berpenampilan dengan terlalu banyak make up di wajahnya



Ketika keluar dari kamar Keiko ia telah di tunggu Derren yang memandang dengan kagum wajah dan tubuh Olivia.


Dan dengan penuh kasih sayang membawa Olivia menuntunnya menuruni tangga.


“kau terlihat sangat sexy” bisik Derren terlalu dekat di telinga Olivia


Olivia cemberut, ia tidak menjawab kata kata Derren.


‘mommymu yang memaksa aku memakai ini’ kesal Olivia dalam hati, bukan hanya karena gaun itu yang terlalu terbuka, tapi gaun itu juga senada dengan setelan jas yang di gunakan Derren. Gaun yang di kenakannya jelas bukan seragam bridesmaid!


Olivia merasa ia telah di kerjai habis habisan oleh keluarga mantan tunangannya.


Derren membukakan pintu mobil untuk Olivia, dan Olivia berjalan di belakang Derren, Derren berhenti dan memberikan kode agar Olivia menggandeng tangannya, Olivia menatap galak tanda protes tapi bukan keturunan Andrew Tjiptadjaja jika tidak pandai memaksa wanitanya. Derren menatap dengan tatapan mengintimidasi memaksa Olivia menuruti kemauannya.


Dengan canggung Olivia mengaitkan lengannya pada lengan Derren dan berjalan beriringan.


Dan semua mata keluarga dan tamu undangan kini berpindah menatap Derren dan Olivia!!!


Tampak sangat serasi, mereka benar benar sepasang dokter idaman, yang pria dengan postur tubuh tunggi dan tegap, berwajah tampan, tampak tegas, tenang dan berwibawa sedangkan wanita di sampingnya adalah wanita bertubuh ramping, cantik dan berwajah lembut, dengan mata sendu yang menggemaskan mereka tampak seperti pasangan yang saling melengkapi.


Olivia ingin sekali menggali tanah dan masuk ke dalamnya untuk bersembunyi, ya Tuhan, malu, canggung, kesal, semua jadi satu.


Menyadari sikap Olivia yang begitu tegang Derren bertanya


“kenapa?” tanya Derren lembut, aura wajah Derren tampak hangat berseri seri.


“aku ingin memberi selamat pada Joe kemudian pulang” jawab Olivia ketus


“ayo, memang lebih baik kita pulang dan bercinta di kamar” kata Derren setengah berbisik di telinga Olivia


Olivia reflek hendak menarik tangannya namun Derren menahannya dengan erat,


“jangan coba coba melepaskan tanganmu Olivia” geram Derren, ia bahakan menggigit giginya sendiri.


“aku takut kekasihmu melihat kita” tiba tiba Olivia ingat Merry, menurut logika Olivia, tentu saja Merry akan hadir karena ia kekasih Derren, mustahil ia tidak di undang bukan?


“kekasih?” Derren merasa bingung


Derren tidak memiliki waktu untuk menanggapi kecemburuan Olivia, Derren menganggap Olivia sedang mengada ada.


Begitu lengan Derren lengah Olivia langsung mengambil kesempatan dan melepaskan tangannya kemudian berjalan menghampiri pasangan pengantin yang sedang berbahagia


“Joe selamat, semoga bahagia” kata Olivia dengan wajah datar menyembunyikan kekesalan pada Jonathan


“bagaimana tadi malam?” bisik Jonathan pelan di telinga Olivia,


Wajah Olivia langsung merah merona, gugup. Namun ia segera menyembunyikan dengan memasang wajah cemberut, tidak menghiraukan kata kata Jonathan. Ia berpindah pada Tiffany yang berada di samping Jonathan, mereka segera berpelukan


“Tiffany, selamat untukmu semoga kalian selalu bahagia” kata Olivia tulus


“Olivia, terima kasih, aku doakan setelah ini kau segera menyusul” kata Tiffany, matanya melirik Pada Derren yang berdiri tak jauh dari mereka sedang berbicara dengan suami Sakura namun andangan mata Derren tak bisa lepas dari Olivia, sangat jelas terlihat.


“haha, kau bisa saja” kata Olivia, tentu saja ia 'tidak mungkin menikah secepatnya? Dengan siapa?' batinnya


“aku ingin kita memiliki anak yang umurnya tidak jauh berbeda seperti keluarga kita” kata Tiffany


Olivia hanya tertawa hambar mendengar kata kata Tiffany, keinginan Tiffany itu sebenarnya telah terwujud. Olivia merasa hatinya seperti terbelah dua. Andai Crystal ada di sini sekarang bersamanya dan....


Ayahnya, ya ayahnya...


“baiklah, Tiffany aku akan menyapa keluarga yang lain” Olivia berpamitan pada Tiffany tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang membuat sesak perasaannya, Namun Tiffany menahannya,


”Kita belum mengambil foto berdua” kata Tiffany


”oh benar aku melupakannya” kekeh Olivia


Olivia menyapa keluarganya satu persatu, tak henti hentinya keluarganya menciuminya penuh kerinduan namun setelahnya ia terkena omelan karena menghilang terlalu lama.


“Olivia, akhirnya kau datang” kali ini giliran Yudha! Adik kandung ayahnya, Yudha mengajak keponakannya ke tempat yang agak sepi dan berbicara berdua


“om Yudha, Olivia kangen om, Olivia udah selesai magang dan mulai praktek” kata Olivia


Yudha memandang keponakannya dengan tatapan mata iba.


“syukurlah, om juga kangen kamu, bagaimana kabar Crystal?”


“dia semakin lucu”


Yudha mengetahui keberadaan Crystal karena melihat semua laporan laporan keuangan dari tansaksi Olivia selama keponakannya tinggal di London, pembelian satu unit mobil expander, pembayaran sewa apartemen, pemeriksaan kehamilan, biaya rumah sakit dan bersalin, tentu saja Yudha curiga dan meminta pengacara mendiang kakaknya Danu untuk menyelidiki. Dan benar saja tidak lama berselang Olivia meminta bantuan pengacara untuk mengurus dokumen kelahiran Crystal, Yudha beberapa kali menemui Olivia dan Crystal.


“om Olivia mohon jangan sampai ada yang tau”


“sampai kapan mau disembunyikan?”


“sampai Olivia punya karir yang bagus om”


“dia harus mengenal keluarganya” kata Yudha


“Olivia janji, secepatnya” kata Olivia


“om pegang janjimu, atau om yang jemput kalian”


“om jangan, baiklah Olivia janji” Olivia memohon dengan serius


“makin cepat makin baik, keluarga Tjiptadjaja pasti tidak senang jika kau terlalu menyembunyikan keturunan mereka”


“Olivia janji”


Dari jauh Derren menatap Olivia tajam, mata coklatnya seperti elang yang sedang mengincar mangsanya.


Jonathan dan Tiffany menghampiri Derren


“kau belum memberi kami ucapan selamat” kata Jonathan dengan nada sengit


“selamat Joe, Tiffany, kalian ingin kado pernikahan apa dariku?” kata Derren dingin, acuh, tidak ada semangat, bahkan seperti tidak tulus.


Tiffany mengernyit “terima kasih, apapun kami terima” mau tidak mau ia harus berterima kasih demi kesopanan.


“kau menatapnya seakan akan ia akan lari” kata Jonathan sambil ikut menatap Olivia


Derren hanya diam, tak sedikit pun bergeming


“terus saja tatap dia tanpa berusaha membuatnya kembali, dan kau akan menyesal karena Olivia mungkin akan segera dinikahi pria lain secepatnya, aku tau ia memiliki kekasih di London” kata Jonathan memulai profokasinya


Rahang Derren mengeras ia beralih menatap mata Jonathan dengan tatapan tidak suka, matanya menyipit.


TADINYA SERIES INI AUTHOR KIRA CUMA ADA 45 CHAPTER, KARENA NGETIKNYA TU GAK PERCHAPTER TAPI SEDAPATNYA AJA, KALAU MAU UPDATE BARU DI COPY PASTE SEPERLUNYA,


DAN TERNYATA MASIH BANYAK 😅😅😅


MUDAH MUDAHAN KALIAN GAK BOSEN BACANYA READERS KESAYANGAN😙😙😙😙


PEPEEEEETTTTTT AYO DERREN PEPET OLIVIA!!!!


TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚😚😚😚