Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 64


Mereka bangun pagi pagi sekali, setelah menikmati sarapan khas Jepang lalu membersihkan tubuh mereka, Derren akhirnya serius mengajari Olivia bahasa jepang dasar. Ia juga memberikan beberapa kosa kata sehari yang mudah di ingat, Olivia mulai menghafalkannya.


“mulai sekarang kita akan berbicara dengan bahasa jepang agar kau terbiasa”


“hai hai Derren-sama”


Derren justru tertawa lebar...


Belum pernah ada yang memanggilnya seperti itu karena namanya juga bukan dari nama jepang tentu saja itu tidak cocok, di rumah sakit ia hanya biasa dipanggil sensei.


“kenapa? Apa aku salah?” tanya Olivia polos


“tidak salah, hanya lucu saja” Derren benar tidak menduga ia dan Olivia melakukan hal konyol seperti ini.


“Derren-sama bagaimana jika kita bermain ski?”


“aku tidak yakin di sini ada area permainan ski, ayo kita tanyakan pada petugas hotel” kata Derren masih sedikit geli dengan cara Olivia memanggilnya Derren-sama, namun Olivia justru semakin menjadi jadi memanggilnya Derren-sama berulang ulang.


Mereka bersiap siap menggunakan jaket dan perlengkapan pakaian hangat mereka untuk meninggalkan kamar dan mulai menikmati pemandangan di desa shirakawago.



Shirakawago adalah nama sebuah desa yang terletak di Prefektur Gifu, Jepang.


Desa ini paling terkenal dengan adanya sebuah bagian desa kecil yang menjadi tempat berdirinya rumah-rumah tradisional Jepang yaitu gasshō-zukuri.


“sayang sekali tidak ada permainan ski di sini padahal aku ingin mencobanya” gerutu Olivia


“aku akan membawamu ke prancis nanti, kau bisa bermain ski sepuasnya di sana”


“benarkah?” tanya Olivia antusias


“cium aku dulu” pinta Derren


“tidak mau”


“kalau begitu tidak ada ski di prancis”


“Derren jangan mempermainkanku” keluh Olivia


“Aku seri...” Olivia meraih tengkuk Derren dan mendaratkan ciumannya di bibir Derren tanpa malu malu, mereka bahkan sedang berdiri di antara kerumunan warga di jalanan yang tertutup salju.


“kau sekarang pemberani sekali Mrs. Tjiptadjaja”


“itu demi ski di Prancis” kekeh Olivia


Derren meraih satu tangan Olivia dan menggenggamnya supaya tetap hangat, kehangatan mereka begitu terpancar bahkan mampu melelehkan salju yang menutupi tanah di shirakawago.


Paginya setelah sarapan Derren bergegas mengemasi barang bawaan mereka


“Derren bukankah kita akan menginap disni satu minggu?”


“disini membosankan, ayo kita pergi dari sini”


Olivia “....”


Membosankan bagaimana? Bukankah ini tempat pilihannya? Pilihan tanpa berkompromi terlebih dahulu.


Derren benar benar membawanya pergi menuju komatsu airport dan mereka terbang menuju Sapporo.


Perjalanan selama 1 jam 35 memit menggunakan Japan Air lines itu mendarat dengan sempurna.


Dan... ternyata Derren mengajak Olivia pindah ke hokkaido hanya untuk bermain ski.


Olivia meneluk pinggang Derren dengan perasaan bahagia.


“suamiku Derren-sama terima kasih” ucapnya ketika mereka sampai di hotel yang akan mereka tempati selama berada di Hokkaido


“apa ucapan terima kasih cukup?” tanya Derren menggoda


“aku akan membayar nanti malam berapa kali kau ingin?” tanya Olivia serius


“seperti malam pengantin pertama kita” bisik Derren


“aku akan mencicilnya, oke?” jawab Olivia dengan nada jahil, bahgaimana mungkin sebanyak itu? Ia tidak akan bisa bangun dan akan gagal bermain ski jika harus membayar sebanyak itu!!!


Derren terkekeh “hutangmu semakin menumpuk jika kau mencicilnya”


“kau senang sekali mengambil keuntungan dariku” keluh Olivia


“karena kau yang terlalu menggoda Olivia”


“omong kosong” kata Olivia sambil merebahkan tubuhnya dan memanggil ibu mertuanya melalui sambungan telefon.


“Crystal sedang tidur” kata Livia ibu mertuanya di seberang sana


“mommy apa Crystal membuatmu kesulitan?” tanya Olivia khawatir


“tidak, dia sangat patuh, oh iya dimana Derren?”


“dia ada, apa mommy ingin berbicara?”


“ya berikan ponsel padanya”


“mommy ingin bicara denganmu” kata Olivia sambil menyerahkan ponselnya


“mommy....” sapa Derren


“kalian dimana?” tanya Livia


“kami di Hokkaido”


“kenapa jauh sekali? Bukankah kalian hanya akan berbulan madu di shirakawa?”


“Olivia ingin bermain ski”


“bermain ski? Bagaimana jika ia lelah? Bagaimana jika ia sudah hamil?” suara Livia terdengar panik


“mommy kau selalu panik berlebihan”


“jaga dia baik baik, ingat pesan mommy”


“baik mommy”


Derren memituskan sambungan telefon dan meletakkan ponsel Olivia di meja.


“sepertinya kita harus memeriksakan kandunganmu”


“aku belum hamil... kau mengada ada”


“nanti saat kita kembali ke Tokyo saja” pinta Olivia, susminya pasti akan semakin cerewet jika ia hamil, Olivia yakin itu


“baiklah” Derren mengalah “aku ingin dua putra lagi”


“satu saja Derren” jawab Olivia dengan wajah cemberut


Derren terkekeh, di dunia ini tidak ada hal menggembirakan selain menggoda Olivia. Di masa lalu ia bahagia jika menggertak Olivia hingga gadis itu marah bahkan menangis.


Besok paginya mereka menuju area permainan ski di Niseko village, mereka menyewa satu orang instruktur untuk mengawasi dan memberikan arahan.


Derren dengan cepat menguasai teknik itu hanya dengan mendengarkan teori dari instruktur dan melihat instruktur mencontohkan sekali, sedangkan Olivia berulang kali terjatuh.


“bagaimana kau ini, aku tidak yakin kau bisa lolos ujian masuk ke Oxford University padahal kepandaianmu di bawah rata rata” ejek Derren


Olivia tentu saja kesal karena di ejek seperti itu.


“kita berpisah kamar malam ini...!” ancam Olivia telak


“jangan main main denganku Mrs. Tjiptadjaja” Derren mengangkat kedua alisnya lalu mendorong tongkat skinya, dan dengan kepercayaan diri penuh memamerkan kepandaian barunya.


Penasaran Olivia terus mencobanya meskipun puluhan kali terjatuh, akhirnya ia mampu melakukannya meskipun tidak selincah Derren.


Mereka terus asyik berseluncur di atas salju hingga melupakan makan siang mereka dan baru kembali sekitar pukul 3.


“Derren besok kita bermain ski lagi oke?” itu bukan permintaan Olivia tapi itu adalah perintah!


“baiklah, ingat untuk mencicil bayaranmu malam ini” sambil memasukkan gulungan sushi ke dalam mulutnya


“aku tidak sabar menunggu besok” seru Olivia, ia sangat antusias tak peduli dengan harga mahal yang harus di bayar.


Derren tersenyum melihat tingkah istrinya, seperti anak kecil ya g girang mendapatkan mainan baru.


Malamnya Olivia bahkan tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya terasa sakit, ia hampir tidak pernah lagi berolah raga 3 3 tahun terakhir, wajar saja seluruh otot otot tubuhnya menegang.


Untunglah Derren tidak menyiksanya malam itu karena sepertinya suaminya juga mengalami hal yang sama, ia tampak kelelahan dan mereka tidur lebih awal.


Olivia terus berseluncur dengan nyaman, hari ini ia lebih rileks berdiri dia atas papan seluncurnya ia juga bisa menyusul Derren dan mereka saling ejek sambil berbalapan, bercanda bahkan berguling guling di atas salju karena keisengan Olivia.


Olivia berdiri di pinggir lintasan ski sambil memeriksa kameranya, ia beberapa kali mengambil foto Derren dari jauh. Tersenyum puas Olivia memasukkan kameranya ke dalam saku jaketnya.


Tiba tiba anak kecil yang berdiri di tidak jauh darinya tersungkur dan memegangi dadanya.


Olivia membuang tongkat dan papan skinya, ia meminta bantuan pria terdekat dengannya untuk mengangkat tubuh anak itu dan mengarahkan membawa ke dalam ruangan yang hangat.


Olivia memeriksa keadaan anak itu, melepas jaket dan membuka kancing pakaian yang di kenalannya,


Anak itu menderita sesak nafas, ia mendudukkan dan menginstruksikan untuk mengatur nafasnya panjang dan dalam perlahan lahan. Ia juga meminta tolong pada orang sekitar untuk mengambilkan air hangat, dan menginstruksikan orang orang agar tidak mengerumuninya.


Untunglah ada beberapa orang yang mengerti bahasa inggris,


‘sial’ batin Olivia ‘harus secepatnya menguasai berbahasa jepang’


Anak yang tiba tiba mengalami sesak nafas itu telah mampu bernafas dengan baik, Olivia meminta bantuan orang untuk menelfon ambulans dan ia membawa anak itu pergi ke klinik terdekat.


Setelah anak itu ditangani ia memanggil Derren dan memberitahu di mana ia berada.


Baru saja Olivia mematikan sambungan telfonnya serang pria masuk ke dalam ruang gawat darurat, tampaknya ia orang tua anak yang Olivia tolong.


5 menit kemudian pria itu menghampiri Olivia


“miss... apa anda yang menolong putra saya?” tanya pria beroerawakan tinggi dengan wajah khas jepang.


“benar, apa anda orang tuanya?”


“ya kenalkan nama saya Nakajima Takumi”


“baiklah tuan, saya harap anda tidak mengulangi kecerobohan anda meninggalkan putra anda, apalagi putra anda sepertinya memiliki alergi terhadap suhu dingin seharusnya anda tidak membawanya pergi untuk bermain ski”


“sayang....” belum sempat pria itu menyelesaikan pertanyaannya, suara Derren memanggil Olivia, ia sedikit berjalan dengan tergesa gesa


“tuan, saya harus pergi, suami saya telah menjemput” kata Olivia sopan “sampai jumpa”


“sampai jumpa nona” jawab Takumi pelan.


Olivia menjauhi tempat itu bersama Derren


“siapa pria itu?” tanya Derren saat mereka telah duduk di kursi penumpang taxi


“dia orang tua anak yang ku tolong”


“kalian berkenalan?”


“iya.... Takumi, atau siapa aku tidak begitu mengingatnya”


Derren mengerutkan keningnya ia tampak tidak senang


“kenapa kau tidak memanggilku tadi?”


“aku harus cepat, tidak ada waktu. Kau bukan seperti seorang tenaga medis saja” ejek Olivia


“apa kalian bertukar nomer ponsel?” selidik Derren yang tampaknya terpercik api cemburu


”tidak, percayalah padaku”


“apa kalian berjabat tangan?”


Olivia terkekeh “itu juga tidak, ya tuhanku kau pencemburu sekali”


“Olivia... kau milikku” geram Derren


“tentu saja, aku tau itu” Olivia mengecup bibir suaminya berusaha memadamkan api cemburu Derren dengan segera!


Derren tidak melepaskan kesempatan itu, mereka tenggelam dalam ciuman hangat penuh gairah yang menggebu gebu.


Sopir yang mengemudikan mobil tentu saja menegang melihat adegan di belakangnya namun ia harus tetap fokus pada pekerjaannya.


Hari berikutnya mereka tidak lagi bbermain ski karena Derren takut Olivia bertemu pria itu lagi, jadi mereka menghabiskan waktu mereka di Sapporo dengan belajar bahasa jepang.


Malam harinya mereka pergi untuk menikmati Keindahan Toyako Onsen Illumination Tunnel


Terowongan sepanjang 70 meter yang didekorasi dengan 400.000 lampu hias kecil yang dibuat melingkar ini menghadirkan suasana yang romantis dan mengagumkan. Wisatawan bisa menikmati keindahaan terowongan ini saat Toyako Onsen Illumination Tunnel yang diadakan mulai dari bulan November hingga Februari.


Dan hari terakhir berada di Sapporo mereka mengunjungi danau onsen Hokkaido dikenal sebagai destinasi yang memiliki pemandiaan air panas terbaik di Jepang. Keindahan lampu-lampu perahu nelayan saat menyusuri selat menjadi pemandangan yang melengkapi suasana saat berendam.


Resor Yunakawa Onsen juga menyediakan berbagai macam pilihan penginapan untuk para wisatawan yang ingin berkunjung. Menginap akan terasa semakin menyenangkan karena atmosfir Yunakawa Onsen yang unik dan menakjubkan.


-----


Sementara Tiffany dan Jonathan mereka juga pergi untuk baby moon, mereka tidak sempat honeymoon karena huru hara Olivia dan Derren menyita perhatian keluarga, lagi pula saat itu Tiffany sedang hamil muda tidak berani melakukan perjalanan jauh yang mungkin melelahkan.


Mereka berada di Bali dan juga berencana untuk pergi ke Yogyakarta untuk mengunjungi nenek dan kakek Tiffany.


Di bali Tiffany duduk di tepi pantai dengan topi besar melindungi wajahnya dari sengatan matahari, ia menyesal tidak membawa alat lukisnya!!!



Tiffany menyeruput air kelapa muda yang terasa sangat menyegarkan tenggorokannya. Sementara di sampingnya suaminya seakan mesin pembuat uang, ia masih berkutat dengan laptopnya meskipun mereka sedang berlibur, suaminya bahkan masih membawa asistennya.


“Joe ada berapa istrimu?” tanya Tiffany dengan nada sarkasnya


“hanya ada satu, apa kau ingin aku memiliki beberapa?”


“dua sudah cukup”


“benarkah?” tanya Jonathan dengan nada antusias


“ya....”


“apa kau mengizinkan aku memiliki lagi satu?”


“bukankah kau sedang meraba raba istri keduamu?” tanya Tiffany sengit


Jonathan mengernyit, ternyata kali ini istrinya sedang cemburu pada laptopnya.


“hanya tinggal sedikit, beri aku waktu 10 menit lagi oke?” Jonathan meminta pengertian istrinya



Tiffany tidak menggubrisnya.


Ia bangkit dari duduknya dan memutuskan berjalan jalan di atas pasir di tepi pantai.


Tiffany berjalan sambil menikmati hembusan angin pantai yang menyejukkan kulitnya...Ia kemudian berhenti dan membiarkan ombak menjolati telapak kakinya.


Tiba tiba lengan hangat yang sangat ia kenal merengkuh tubuhnya dari belakang


“darling.... i love you” bisik Jonathan tepat di telinga Tiffany


“mmmmm” Tiffany tidak menjawab ia hanya menikmati suasana indah itu.


Jonathan meraba perut buncit istrinya dan mengelus penuh kasih sayang, kemudian bibirnya mengecup pipi Tiffany. “sebaiknya kita kembali ke hotel, aku khawatir kau masuk angin”


“sebentar lagi Joe”


“baik, 15 menit lagi” kata Jonathan


Kemudian dua sejoli itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menyusuri pantai.


Ketika mereka kembali ke hotel, kamar hotel di penuhi dengan bunga bunga bahkan air bath tube juga di hiasi dengan bunga.


“hubby... kau menyiapkan ini?”


“kau suka?”


“tentu saja... aku menyukainya... sangat”


“ayo... kita ambil fotomu dan calon putra kita sebanyak mungkin” ajak Jonathan.



Mereka mulai larut dalam kebahagiaan mereka, mengambil foto Tiffany dalam berbagai pose daN sudut, kemudian setelah membersihkan tubuh mereka dengan santai mereka berdua berendam dalam bath tube yang berisi bunga bunga sambil mengobrol dan melakukan hal hal gila lainnya.


Bagi Tiffany meskipun suaminya adalah pria menyebalkan karena tingkahnya yang sok tampan tetapi ia tau Jonathan adalah pria yang sangat bertanggung jawab romantis dan penyayang keluarga, ia sendiri telah menyaksikan betapa banyak pria yang sekarang bersamanya berkorban tenaga dan waktu untuk saudara saudaranya, untuk ibunya dan juga untuk dirinya.


Setidaknya meskipun sifat playboynya mengkhawatirkan namun untuk urusan keluarga Jonathan selalu berada di barisan terdepan.


“apa yang kau pikirkan?” tanya Jonathan


Tiffany yang masih di atas tubuhnya hanya menggeleng sambil tersenyum,


“kau ingin lagi?”


Tiffany mengusap pipi suaminya dengan sentuhan lembut


“kenapa kau sangat mesum Joe...”


“kau membuatku gila Tiffany” kata Jonathan sambil memandang mata istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang


“kau benar benar perayu”


“aku tidak merayu, tapi itu kenyataan yang kurasakan”


Tiffany memerah,


“andai aku tau kau gadis yang akan menjadi jodohku, aku akan menjaga kelakuanku dulu” sesal Jonathan


Tiffany mengecup bibir suaminya


“kau belum terlambat sayang” katanta lembut


Jonathan meraba perut istrinya,


“aku akan memulainya” geram Jonathan, itu bukan memulai memperbaiki kelakuannya namun memulai menggerakkan pinggulnya lagi!!!


Mereka menyudahinya setelah beberapa kali di dalam bath tube, kemudian mereka kembali pergi keluar dari hotel menuju sebuah restoran yang ternyata juga telah di pesan Jonathan dengan makan malam romantis!!!


Tidak sia sia Tiffany memiliki suami mantan playboy! Benar benar suaminya adalah pria yang romantis!


“untuk istriku tersayang yang akan memberiku seorang putra yang hebat” kata Jonathan sambil memberikan seikat bunga mawar merah pada Tiffany


Tiffany tersenyum bahagia...


“terima kasih hubby”


Tiffany sedikit berjinjit mencium bibir Jonathan


“katakan kau ingin hadiah apa?”


“kau pilihkan saja”


“aku tidak pandai memilih, aku takut kau tidak menyukainya” kata Jonathan, ia ingat betapa banyaknya membelikan Crystal mainan namun tak satu pun yang di sukai Crystal.


Tiffany tampak berpikir keras


“aku tidak tau” tentu saja ia tidak tau barang apa yang harus ia pilih, ia bisa membeli apa saja dengan kartu bank dengan limit tidak terbatas di tangannya.


“belikan aku kucing” pinta Tiffany tiba tiba


“kucing? Sayang kau tidak bercanda?” tanya Jonathan penuh kebingungan


“aku ingin memiliki kucing seperti Luna” rengek Tiffany


‘apa semua wanita seaneh wanita wanita di keluarganya?’ batin Jonathan.


“baiklah” akhirnya Jonathan meng iyakan.



TAP TAP JEMPOL KALIAN 😍😍


SATU SATU LAGI YA AUTHOR MASIH BELUM PULANG KE RUMAH SOALNYA 😄