Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
18


Sehari sebelum hari pernikahan Danu


Livia tertidur sepulang dari toko batik milik bundanya, Hari ini ia membantu bundanya mengurus toko batiknya dan berdiri sebagai kasir, tentu ia sangat kelelahan walaupun sebenarnya ia hanya berdiri 2 jam.


 


 


Orang tuanya memiliki beberapa toko batik ternama yang tersebar di beberapa mall di Yogyakarta, dan tersebar di beberapa mall seluruh Indonesia, juga beberapa toko oleh oleh khas Yogyakarta yang masih di kelola sendiri oleh Yunita dan suaminya, beberapa hotel dan restoran kelas menengah keatas yang kini di kelola Danu dan Yudha


 


 


Danu juga memiliki toko yang menjual berbagai macam produk elektronik dan Hardware komputer yang di rintis atas usahanya sendiri.


Livia terbangun karena ponselnya berdering ternyata Naoki yang memanggilnya, ‘aaah iya batinnya ia belum memberi Naoki kabar hari ini’


 


 


“sayangku, aku tertidur maafkan aku” sesal Livia


 


 


“tidak apa apa, bagaimana kabarmu? Apa kau makan dengan baik? kau bahagia berkumpul keluargamu?” tanya Naoki lembut


 


 


“tentu, aku sangat bahagia”


 


 


“baiklah, aku senang mendengarnya, aku merindukanmu sayang”


 


 


“aku juga merindukanmu” kata Livi serius


 


 


“Livia malam ini aku akan pergi ke Sidney” Naoki memberitahu Livia rencana kepergiannya


 


 


“jaga dirimu Naoki, sampai kapan kau berada di Sidney?”


 


 


“mungkin 2 minggu”


 


 


“oh Tuhaaan aku harap aku bisa ikut ke Sidney, Naoki terakhir kau membawaku pergi saat perjalanan bisnismu setahun yang lalu” gerutu Livia


 


 


“baiklah, maafkan aku, apa kau ingin menyusul?”


 


 


“benarkah?” Livia sangat senang tentunya


 


 


“baiklah, setelah urusanmu selesai di Indonesia segera susul aku ke Sidney” jawab Naoki,


 


 


“yataaaaaa arigatou Naoki” Livia bersorak dalam bahasa jepang,


 


 


“baiklah sampai jumpa di Sidney Livia-chan” jawab Naoki senang


 


 


“terimakasih Naoki-sama” Livia lebih senang tentunya.


 


 


Setelah bercerita tentang kegiatannya hari ini pada Naoki Livia mematikan sambungan telfon dari Naoki, ia melihat 2 panggilan tak terjawab dari andrew. Ia ragu ragu untuk memanggil andrew Kembali, sejak berpisah dengan andrew di bandara ia tak pernah menghiraukan panggilan pria itu, ia menikmati hari harinya bersama keluarganya dan tak memiliki minat lagi menghiraukan Andrew lagi pula setiap hendak memanggil kembali andrew ia teringat wajah Naoki yang membuat Livia tak berdaya dan merasa berdosa berkali kali menghianati pria yang dengan baik merawatnya.


 


 


Livia lelah memikirkan Andrew dan Naoki jadi ia memutuskan ia akan menunggu kesungguhan Andrew hingga besok, kemudian mengambil keputusan siapa pria yang akan ia pilih, Andrew atau Naoki.


 


 


Livia merebahkan tubuhnya dengan malas menatap langit langit kamarnya...


 


 


Sekali lagi jantungnya terasa di remas, di sisi lain ia merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya setiap kali bersama Andrew jantungnya terasa melompat lompat tak beraturan, berbeda jika berada di sisi Naoki, namun sekarang tiba tiba ia merasa sangat merindukan Naoki...


jika di pikir pikir oleh Livia sifat Naoki hampir sama dengan Danu, mereka berdua tidak akan berkata tidak apa pun permintaan Livia, tidak pernah marah terhadap apa pun kekacauan yang di buat Livia, cara memperlakukan Livia, kelembutannya, tutur katanya, cara menatap Livia. Livia justru makin merindukan Naoki....


 


 


Livia bangkit dari tempat tidurnya, tanpa sadar ia berjalan menuju kamar Danu dan mendorong pintu kamar kakaknya yang tak terkunci


 


 


Danu yang sedang duduk di atas ranjangnya sambil memandangi layar laptopnya terkejut melihat kedatangan Livia ke kamarnya, wajah Livia tampak muram.


 


 


Danu segera menutup laptopnya.


 


 


“Livi ada apa?” tanya Danu


 


 


“Livi mau tidur di sini, boleh?” tanya Livia dengan gaya manja pada Danu


 


 


“hhhmmm sini” kata Danu sambil menepuk bantal di sampingnya dan meletakkan laptopnya di atas nakas samping tempat tidurnya


.


 


 


Livia naik ke atas ranjang Danu dan segera meringkuk memeluk pinggang Danu tanpa mengatakan apa apa lagi.


Cukup lama Danu membiarkan Livia dengan posisinya hingga nafas Livia berubah menjadi pelan dan teratur.


 


 


Dulu Livia sering tidur bersamanya, dengan posisi yang sama memeluk pinggangnya hingga pagi, lalu ketika ia mengetahui kenyataan bahwa ia bukan adik kandung Danu dan Yudha gadis itu sedikit menjaga jarak dengan Danu, ia tak pernah lagi masuk ke kamar Danu kecuali ibu atau ayah menyuruhnya memanggil Danu.


 


 


Danu menghela nafas dalam, ia membelai rambut Livia lalu menutupi tubuh adiknya dengan selimut dan mematikan lampu kemudian berbaring sambil memeluk adiknya, mengecup kening adiknya.


 


 


Ketika pagi Danu terbangun dan tidak mendapati adiknya di sampingnya, Danu tersenyum pahit.


 


 


JAKARTA


 


 


Andrew mencoba menghubungi Livia namun ponsel gadis itu sibuk, gadis itu tidak pernah menjawab panggilan telfonnya sejak berpisah di bandara Jakarta, Andrew sangat kesal ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Livia setiap mereka bersama Livia seperti anak kucing yang jinak, tapi setiap kali mereka kembali terpisah Livia seketika tak pernah menghiraukannya sama sekali.


 


 


Andrew membuka aplikasi pemesanan tiket, dan semakin frustasi karena penerbangan pertama untuk besok pagi ke Yogyakarta telah full.


“sialaaaaannnn” teriak Andrew dari dalam kamarnya, ini sudah jam 6 sore dan tidak ada waktu lagi.


 


 


YOGYAKARTA


 


 


Pagi itu Livia berdampingan dengan Yudha menghadiri upacara pengambilan sumpah pernikahan Danu dan gendis di gereja, gaun yang di kenakan Livia serasi dengan jas yang di kenakan Yudha membuat mereka tampak sepasang kekasih.


 


 


 


 


Setelah upacara pemberkatan selesai Livia dengan jahil meminjam buket bunga yang di pegang gendis dan meminta Danu untuk mengambil foto Livia dan Yudha, Yudha dan Livia memang memiliki tingkat pembuat onar yang akut sehingga dengan senang hati Yudha mendukung keusilan Livia yang berpura pura menjadi pasangan Livia, kadang kedua orang tua mereka tidak percaya bahwa mereka hanya kembar dalam dokumen, sifat jahil mereka bahkan identik.


 


 


Ia akan memposting foto itu nanti dengan menaruh stiker di wajah Yudha, pasti menyenangkan batinnya, tidak apa sedikit menghibur hati yang baru saja di permainkan pria seperti Andrew pikirnya


 


 


Mereka menuju hotel tempat resepsi pernikahan Danu dan gendis di laksanakan, Livia mengganti gaunnya dengan kebaya yang telah di pesannya, ia tidak mengenakan riasan mencolok, hanya membayar hairdo profesional untuk menata rambutnya.


 


 


Bukan hanya para tamu undangan pria yang memandang Livia karena kagum, bahkan gadis gadis juga mengagumi kecantikan Livia, tak terkecuali Danu, ia adalah pria pertama yang jatuh cinta pada Livia, ia telah merawat Livia sejak kecil, ia memandangi Livia dari jauh dengan senyum tipis. adiknya sangat cantik, andai Livia bukan adiknya tentu saja sekarang posisi mempelai wanita di sampingnya bukanlah gendis tapi Livia batin Danu


 


 


Sementara Livia dan Yudha terus saja berdebat, Livia kesal karena Yudha terus saja mengekorinya hingga ia tak bisa mendekati para pria tampan yang hadir di pesta pernikahan Danu.


 


 


“nyebelin banget sih mas Yudha, nempel nempel Livi terus bikin Livi gak bisa pedekate sama cowok deh” keluh Livia pada Yudha


 


 


“kaya ada yang mau deketin Livi aja” ejek Yudha


 


 


“eeh mas Yudha sembarangan, coba aja deh mas Yudha bentar aja ke jauhin Livi pasti banyak yang deketin Livi” kata Livia dengan nada sombonh


 


 


“gaya banget kaya cantik aja” ejek Yudha


 


 


Livia kesal dan mencubiti lengan Yudha dengan gemas, Yudha meringis sambil menangkap tangan Livia dan mereka tertawa gembira.


 


 


“mas besok ke gunung kidul yuk, terus besoknya Prambanan trus Borobudur” pinta Livia


 


 


“kerjaan ku diapain?”


 


 


“nanti Livi bantu kerja”


 


 


“bantu ngerusuh ?”


 


 


“serius mas masa gak percaya sih sama Livi yang bisa selesaikan kuliah 3 tahun masuk pake jalur khusus?” Livia memang selalu unggul di bidang akademis, Yudha bahkan selalu mengejarnya mati matian hanya agar tidak di ejek oleh Livia


 


 


“males banget jalan jalan panas” elak Yudha


 


 


“Livi aduin ke mas Danu” ancam Livia “mas Yudha gak mau temanin Livi nge vlog”


 


 


“vloger gak jelas, subscribernya dikit aja gaya”


 


 


“biarin, tapi isinya jalan jalan semua di luar negri" jawab Livia bangga


 


 


"pameeeeer" kata Yudha sambil tertawa ringan “pokoknya aku males gak akan kemana nana, minta aja temanin followers kamu tuh atau mas Danu, pasti mas Danu mau nemenin, walaupun pasti bawa mbak gendis, itung itung Livi jadi obat nyamuk”goda Yudha pada Livia, ia tau pasti adiknya aakan segera berubah moodnya.


 


 


 


 


“nyebelin banget sih mas Yudha” Livia mulai menganggap serius ejekan Yudha dan berlari ke arah di mana orang tua mereka berada untuk mendatangi ayah


 


 


‘tukang ngadu’ batin Yudha


 


 


Yudha dengan cepat mengejarnya dan menarik tangan livia, seperti pasangan yang sedang bertengkar.


 


 


“ayaaaah...." rengek Livia benar dugaan Yudha


 


 


“gapapa yah, Livia ngambek nih di goda dikit” bisik Yudha sambil membawa Livia pergi sebelum ia terkena khotbah ayahnya


 


 


“iya mas Yudha temanin kalau perlu kita ke bali sekalian” bujuk Yudha ia takut ayahnya memarahinya karena Livia sangat pandai membalikkan fakta di depan Danu dan ayahnya.


 


 


“serius?” mata Livia langsung berbinar


 


 


“iya janji”


 


 


“oke besok gunung kidul, lusa ke Borobudur sama Prambanan dan lusanya lagi ke bali, fix....!” seru Livia senang sementara Yudha merasa sangat bodoh dan menyesal dengan kecerobohannya ia telah salah bicara menjanjikan sesuatu pada Livia adiknya.


 


 


Malam itu Livia mengurung diri di dalam kamar hotel di mana seluruh keluarganya menginap, ia ingin meratapi nasibnya, hari ini Andrew berjanji untuk menggagalkan pernikahannya, namun pria itu sama sekali tidak muncul, hanya karena Livia mengacuhkan panggilannya atau karena ia memang sejak awal hanya ingin bermain main dengan Livia?


 


 


Ternyata Hanya seperti itu cinta Andrew yang selalu ia bisikkan dengan mudah, Padahal hari ini Livia menantikan momen di mana andrew datang di gereja dan mencarinya, ia sepenuh hati mengharapkan andrew benar benar datang dan meyakinkannya bahwa andrew mencintai Livia, pertaruhan dalam hatinya hanya satu, jika andrew datang hari ini membuktikan kata katanya maka Livia akan melepas Naoki, Livia percaya jika Andrew datang hari ini maka Andrew adalah pria yang tepat untuknya.


Ia membolak balik aplikasi instagramnya, kemudian memposting fotonya bersama Yudha menutupi wajah Yudha dengan stiker dan menulis hastag #bride #lol


 


 


Segera ponselnya penuh dengan notifikasi pesan, dan Livia mengacuhkannya.


 


 


Ia tidak dalam kedaan mood, dan lagi pula teman teman terdekatnya pasti tau itu adalah Yudha kakaknya


 


 


Kemudian Livia memeriksa kontak di ponselnya untuk memblokir kontak Andrew.


Livia merebahkan tubuhnya, air matanya mulai mengalir...


Kenapa semua pria yang ia cintai tak mampu ia raih???