
Tidak berapa lama Olivia datang memanggil keduanya untuk makan malam,
Andrew terkejut melihat banyaknya masakan yang di olah Olivia, ia tau masakan itu pasti di bikin oleh Olivia karena Zakia tidak mungkin memasak, dan yang paling menarik perhatian Andrew adalah udang asam manis di antara semua yang di masak Olivia, ia tiba tiba ingat Livia menangis karena ia memasak udang asam manis!!! Sudut bibir Andrew terangkat, ia merindukan Livia, menyesal telah mengkhianatinya hingga kini.
“Olivia kau membuat banyak sekali masakan” kata Andrew
“karena besok kami akan ke Tokyo, jadi ku pikir lebih baik menghabiskan stok bahan masakan” Olivia menjawab
"jadi kau setiap hari memasak Olivia?"
"ya begitulah, Derren tidak terlalu suka makan di luar" jawab Olivia sopan
Mereka mulai menyantap makan malam, Andrew pernah bekerja menjadi juru masak ketika tinggal di Canada tentu saja ia bisa menilai seberapa kemampuan Olivia memasak
“Olivia kau bisa membuka usaha restoran jika kau mau”
Olivia tersipu “tidak daddy, aku hanya suka memasak saja, aku tidak percaya diri jika harus di jadikan bisnis”
“aku bisa membantumu jika kau ingin membuka restoran, Derren pikirkan hal itu”
“aku sudah mengusulkannya, Olivia masih belum mau” jawab Derren sambil menatap Olivia dengan perasaan bangga.
“Olivia daddy dulu bekerja sampingan menjadi seorang Chef ketika masih menjadi mahasiswa” Andrew mulai bercerita
“benarkah? Keren sekali” kata Olivia takjub
“ya, dan restoran milik keluarga kita menunya 50% buatanku sendiri”
Mata Olivia terbelalak kagum, ia tidak menyangka jika mertuanya adalah Chef
“jika kau mau aku bisa membimbingmu untuk meningkatkan kemampuan memasak”
“baik daddy akan aku pikirkan” jawab Olivia sopan
Zakia lebih banyak diam, hingga mereka selesai menyantap makan malam kemudian Andrew dan Zakia berpamitan untuk kembali.
Flash back
Cerita Miranda dan Richard.
Hari itu setelah menyelesaikan proses BAP (Berita acara pemeriksaan) sebagai saksi di kantor polisi Miranda dan Theo yang di dampingi oleh pengacara, proses BAP memakan waktu yang tidak sedikit, puluhan pertanyaan yang berulang ulang membuat Miranda merasa lelah karena pemeriksaan baru selesai setelah hampir tengah malam, benar benar pekerjaan menjadi polisi juga sangat melelahkan, mereka harus hati hati memeriksa sebuah kasus agar tidak salah tuduh dan merenggut hak azasi manusia.
“aku akan mengatarmu pulang” kata Richard tiba tiba
“tapi, aku membawa mobil”
“tidak baik seorang gadis menyetir tengah malam, berbahaya, biar nanti orangku yang akan mengantarkan mobilmu” kata Richard tenang “theo, serahkan Miranda padaku kau pulanglah”
“baik, ku serahkan Miranda padamu, tolong jaga dia dengan baik” jawab Theo “sampai jumpa Miranda Richard” Theo melambaikan tangannya.
Akhirnya Miranda menurut dan membiarkan Richard mengantarkannya, di perjalanan tidak banyak percakapan di antara mereka mungkin karena telah terlalu larut dan juga mereka sama sama lelah. Ketika tiba di area parkir apartemen saat Miranda hendak turun dari mobil Richard menarik pergelangan tangan Miranda.
“beri aku nomer ponselmu” kata Richard
Ragu ragu Miranda menyebutkan nomer ponselnya, setelah berterima kasih ia segera melesat ke dalam apartemennya dan mengubur dirinya di dalam selimut.
Paginya ia terbangun karena dering ponselnya, ternyata Richard yang menelefon dai mengatakan ada di bawah dan membawakan sarapan untuknya, Miranda akhirnya menyebutkan nomer unit yang ia tempati dan Richard benar benar datang dan mereka memakan sarapan berdua pagi itu.
Hingga seminggu kemudian mobil Miranda masih berada di area parkir kantor polisi sementara kuncinya di tangan Richard, pria itu seperti memanfaatkan kesempatan, ia dengan suka rela mengantar dan menjemput Miranda bekerja dan membawakan makan malam serta sarapan untuknya.
Merasa tidak nyaman dengan kebaikan Richard, Miranda mencoba membicarakan ganjalan yang menganggu pikirannya.
“Richard aku tidak ingin merepotkanmu, aku akan mengambil mobilku sendiri” kata Miranda malam itu setelah mereka selesai makan malam
“tidak bukan begitu maksudku”
“kau memiliki kekasih?” tanya Richard to the point
Miranda terdiam, 'kekasih? Kekasih apa? dia menipuku'
“baiklah, maaf jika kehadiranku menganggu mu dan kekasihmu”
Ketika Richard hendak bangkit dari duduknya Miranda merasa hatinya takut kehilangan sesuatu.
“katakan apa motifmu mendekatiku?” kata Miranda langsung
“apa maksudmu?” tanya Richard bingung
“apa tujuan sesungguhnya kau mendekatiku?”
“tentu saja aku ingin menjadikanmu istriku, usiaku 30 tahun aku tidak ada waktu lagi bermain main”
Miranda mengatupkan bibirnya dan menundukkan wajahnya
“saat ini aku memiliki tunangan” gumannya “tapi aku akan mengakhirinya secepatnya” lanjutnya buru buru
Richard mengerutkan keningnya
“kenapa?”
Miranda mengepalkan tangannya
“dia membohongiku selama 2 tahun” Miranda kemudian menceritakan apa yang ia alami
“jadi kau menganggap aku menyukai Olivia? Dia itu calon istri adikku, mana mungkin aku melakukan hal keji seperti itu”
“adik?” Miranda bingung karena setau Miranda Derren adalah anak pertama, Olivia tidak pernah menceritakan tentang kakaknya Derren.
“aku adalah anak angkat Andrew ayahnya Derren dan Livia ibunya Derren” Richard menceritakan semua tentang hidupnya yang sebatang kara.
“aku memang pernah bertemu Olivia dulu sebelum aku tau ia calon istri Derren, pertama kali melihatnya aku kira ia gadis yang sedang putus asa, aku mengumpulkan barang belanjanya yang tercecer, ia tampak sedang memikirkan beban berat saat itu” kata Richard jujur ia tidak ingin ada lagi prasangka apa pun di masa depan.
“aku telah siap dan mapan secara financial namun aku belum memiliki tujuan hidup, saat melihatmu rasanya aku ingin membangun masa depan bersamamu, maksudku kau tidak harus menjawab sekarang, kau bisa pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan, namun jika kau hanya ingin mencoba coba saja menjalin hubungan denganku lebih baik kau menolakku” kata Richard tegas.
“Baik akan ku pikirkan beri aku waktu 1 minggu”
“terlalu lama, 48 jam, aku hanya memberimu waktu 48 jam”
Dan selama 48 jam pria itu terus mengikutinya ke mana pun Miranda pergi, bahkan ia juga menginap di apartemen itu, dengan kata lain pria itu tidak mengizinkan Miranda menolaknya.
Dan tidak di pungkiri jantung Miranda selama masa 48 jam melompat lompat tidak menentu setiap berdekatan dengan Richard, setiap tatapan mata mereka beradu bahkan saat mengingat nama atau wajahnya saja jantung Miranda terasa berdebar kencang.
Sebelum 48 jamnya berakhir Miranda menemui Louis di rumah sakit tempatnya bekerja, ia mereka menyelesaikan masalah mereka secara baik baik tanpa permusuhan maupun dendam.
Tentu saja Miranda merasakan sakit hati, ia hanya manusia biasa namun ia berusaha berlapang dada menganggap itu hanya bagian kecil perjalanan hidupnya. Malam itu Miranda mengembalikan cincin tunangannya pada Louis namun malam itu juga ia mendapatkan cincin yang baru dari Richard karena Ia memutuskan mengangguk untuk menjalin hubungan dengan Richard.
Cinta memang tak perlu menunggu lama, kadang ia datang sendiri tanpa kita cari....
Ada pepatah jepang yang mengatakan "pelajari rasa sakit karena menciptakan sesuatu, dan saat mempelajarinya putuskan untuk berbelas kasih pada orang lain"
TAP JEMPOL KALIAN READERS SHEYEEENG 😗😗😗😗👍👍👍👍
LOVE BUANGET POKOKNYA AMA READERS AKU YANG LOYAL SAMA JEMPOL DAN KOMEN 😍😍😍